Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Menyimpan cerita



Langkah gadis ini gontai setelah mendapat berita bahwa dirinya di drop out dari sekolah. Dia tidak langsung menuju ke kelas, tetapi terduduk di kursi yang terbuat dari beton di taman sekolah. Duduk termenung mengingat lagi perkataan wakil kepala sekolah tadi.


Sekarang waktu ujian kedua. Sepertinya masih berlangsung. Sebenarnya dia masih bisa menyusul meskipun hanya beberapa soal yang bisa di jawab. Namun, semangatnya luruh karena berita barusan. Juga ... wakil kepala sekolah sudah memberikan perintah untuk pulang.


Aku di keluarkan dari sekolah? tanya Paris lagi. Dia terus saja mengulang kalimat itu.


Helaan napas panjang terdengar dari bibir gadis ini. Sungguh dia tidak menduga akan dikeluarkan dari sekolah sebelum ujian negara selesai. Karena hanya tinggal sedikit lagi dia lulus sekolah. Jika biasanya Paris hampir-hampir membenci sekolah, kali ini dia sangat ingin bersekolah. Dia tidak menduga bahwa cerita soal status menikahnya akan di ketahui pihak sekolah, tepat saat dirinya sedang menjalani ujian negara.


Apakah ada orang yang datang ke pesta pernikahannya yang tertutup itu dan membocorkan rahasia? Sungguh tidak mungkin sepertinya. Karena jika begitu, tidak akan menunggu waktu yang lama status menikahnya akan segera ketahuan.


Paris berpikir dengan keras. Apakah ini murni hanya ulah Priski lagi untuk membuatku kesal dan jatuh? Menakjubkan sekali jika Priski begitu bersungguh-sungguh ingin menjatuhkannya. Gadis itu sangat gila.


Paris mulai merasa nyalinya ciut. Meskipun hatinya sudah terpikat pada Biema, tapi jika soal pernikahan ini terkuak sebelum waktu dia lulus sekolah ... itu sangat tidak menyenangkan.


Mungkin dia patut protes pada bunda atau Biema. Dua pelaku yang membuat dirinya sekarang terjebak dalam masalah di sekolah saat ini. Namun buat apa marah? Toh dirinya sekarang mencintai Biema. Bahkan menikmati kehidupan rumah tangga dengan pria itu. Jika sekarang memberitahu bunda, itu akan sia-sia. Beliau pernah mengaku tidak apa-apa jika dirinya tidak lulus asal bisa menikah dengan Biema. Bukankah itu konyol? Namun begitu adanya.


Paris berjingkat kaget saat mendengar derap langkah kaki di lorong. Sepertinya ada yang sudah menyelesaikan ujian. Lambat laun derap langkah kaki itu terdengar semakin bergemuruh. Jika seperti ini, bisa di pastikan sudah banyak anak-anak yang menyelesaikan ujian dan berada di lorong.


Paris masih diam sambil menimbang-nimbang apa yang akan di lakukannya. Ponsel dan tas dia titipkan pada Sandra tadi. Sekarang dia tidak bisa menghubungi siapapun. Dia bimbang. Mau segera ke kelas atau masih tetap di tempatnya. Nyalinya yang sudah ciut kini tambah menyusut. Membuatnya tidak bisa segera memutuskan apa yang akan di lakukan segera.


Paris melirik saat beberapa anak melintas di depannya. Mereka menoleh sekilas dan berbisik-bisik ketika mendapati gadis ini di sini. Mereka masih seperti itu. Tidak berubah.


Akhirnya Paris mengambil keputusan. Tubuhnya berdiri dan berjalan hendak menuju ke kelas. Saat melewati lorong sekolah, semua mata melihat Paris dengan raut wajah tidak suka. Seperti biasanya. Paris sudah terbiasa.


Langkah gadis ini tetap bergerak menuju ke kelas. Tidak peduli dengan tatapan yang mengandung kebencian dari mereka. Dirinya juga sudah terbiasa dengan mulut mereka yang mengatakan bahwa dirinya adalah cewek panggilan karena foto dia dan Biema. Itu lucu menurutnya. Padahal saat itu dia sedang makan siang di hotel.


Langkahnya semakin dalam menuju ke kelasnya. Dari arah kelasnya, Sandra muncul dengan membawa tas ransel miliknya. Wajahnya sudah cemas dan panik


"Kenapa baru muncul? Kamu enggak ikut ujian?" tanya Sandra dengan suara menggebu-gebu yang di tahan. Suaranya di buat pelan agar tidak mengundang perhatian anak-anak yang keluar dari kelas. Namun, mereka sudah terlanjur menoleh. Bukan karena suara Sandra, tapi memang mereka sudah menjadikan Paris sebagai bahan tontonan mereka.


Apalagi saat mendengar Paris sengaja di panggil di pertengahan ujian, hingga baru muncul sekarang. Mereka juga ingin tahu ada apa dengan gadis ini. Karena ujian negara adalah penting. Namun gadis ini menghilang dan tidak mengikuti ujian.


"Iya. Besok bisa di lanjut," ujar Paris berbohong. Dia tidak ingin iparnya khawatir.


"Bisa di lanjut? Aneh banget." Sandra mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Paris. "Memangnya bisa? Bukannya ujian negara itu tidak bisa di ulang." Sandra berpikir keras soal ini. Paris menelan ludah pelan.


"Hehehehe ... Begitu, ya." Paris sengaja bermuka bodoh.


"Begitu gimana ..." Sandra geregetan melihat sikap kurang antusias dari kakak iparnya ini. Paris mengangkat bahu. Dia tidak tahu apalagi yang harus di katakan.


"Tasku," pinta Paris dengan mengulurkan tangan. Sandra melepas ransel yang bertengger di punggungnya. Lalu menyerahkannya ke Paris.


"Lebih baik kita ke kantor guru dan tanya soal ujian kamu," ujar Sandra.


"Enggak perlu. Lebih baik kita pulang saja." Paris mencegah gadis ini melangkah menuju ruang guru. Memilih mendorong punggung Sandra untuk menuju gerbang sekolah.


"Biar besok saja." Paris mendorong lebih keras tubuh Sandra yang memaksa ke ruang guru menuju lorong keluar sekolah. Sandra kalah dan terpaksa mengikuti iparnya.


Ada nada panggilan masuk dari ponsel Paris. Tangan Paris merogoh ponsel dalam tas. Lalu melihat ke layar ponsel yang menyala. Kakinya berhenti. Ada nama Biema di sana. Sandra melirik saat wajah Paris semringah. Meskipun saat ini sedang bersedih, gadis ini langsung berbunga-bunga melihat nama Biema tertera di layar ponsel.


"Halo Paris ...," sapa Biema di seberang sana. Suara ini menyejukkan hati Paris.


"Ya, Biem." Bibir Paris tersenyum.


"Aku tidak bisa menjemputmu. Aku harus ke kantor cabang sekarang," ujar Biema dengan suara panik yang sangat kentara.


"Apa ada masalah?" tanya Paris ikut terbawa suasana tegang dari suara pria itu.


"Sepertinya. Maaf, Paris ... Aku tidak bisa menjemput kamu. Aku harap kamu tidak marah."


"Tidak. Tidak apa-apa. Aku mengerti. Cepatlah berangkat. Aku bisa pulang sendiri. Bisa juga ikut Sandra pulang lagi." Paris berusaha terdengar tenang untuk menyemangati pria itu. Dia tersenyum. Sementara itu Sandra terus saja melihatnya.


"Terima kasih pengertian kamu. Nanti aku akan cepat pulang. Tunggu aku ya," ujar Biema lega.


"Ya. Pasti. Aku pasti menunggumu." Paris menutup ponsel seraya menghela napas panjang.


"Ada apa?" tanya Sandra yang sejak tadi memperhatikan kakak iparnya.


"Biema enggak bisa jemput karena ada masalah di kantor cabang," jelas Paris.


"Masalah apa?"


"Aku kurang paham, tapi sepertinya genting. Karena dia terdengar terburu-buru juga."


"Semoga bisa cepat di tangani," harap Sandra.


"Aku juga berharap begitu." Harapan itu juga di inginkan Paris.


"Kamu ikut aku pulang?” tawar Sandra.


"Tidak. Aku minta tolong antar pulang ke apartemen saja."


"Oke. Baiklah." Mereka telah sampai di gerbang sekolah. Berdiri di sana, menunggu kedatangan sopir rumah keluarga Sandra. "Aku masih penasaran kamu di ruang guru tadi." Sandra teringat lagi soal itu. Dia belum mendapatkan jawaban pasti soal itu.


"Tidak perlu penasaran." Paris mengibaskan tangannya di depan wajah Sandra.


"Itu tidak mungkin. Tidak mungkin aku tidak penasaran. Bagaimana bisa kamu melewatkan ujian negara yang penting sekali." Sandra menunjukkan raut wajah tidak percaya. Akhirnya Paris memilih tersenyum tipis menyembunyikan kesedihannya. Dia ingin menghindari pertanyaan Sandra.