Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Bagi Paris dan Biema


Paris berada di kamar mandi untuk mencuci muka karena ini waktunya menjelang tidur. Wajahnya menatap cermin sambil mengerut. Memijit wajahnya perlahan lalu membilasnya. Kemudian ia berkumur dan memuntahkan air bekas kumuran ke dalam wastafel.


"Panggilan? Kenapa harus aku memanggil nama Biema dengan nama lain ... Bukannya nama Biema juga sudah cukup keren," gumam Paris berbicara di depan cermin. Mendadak pintu kamar mandi terbuka. Biema muncul di belakangnya.


"Aku pikir pintu kamar mandi tidak terkunci adalah kode darimu," ujar Biema terlihat kecewa.


"Kode? Kode apaan?" tanya Paris bingung.


"Kode suami istri," sahut Biema datar. Paris mendelik. Pria ini mengambil facial wash dan mengeluarkan beberapa sentimeter krem ke atas telapak tangannya.


"Ih, kamu tuh selalu saja ke arah sana."


"My Pie," ucap Biema datar ke arah cermin di depan mereka.


"Apa?"


"Bukannya kamu mau memanggilku, My Pie?" tanya Biema sambil menggosokkan krem di telapak tangannya.


"Aku hanya bercanda. Jangan di ambil serius."


"Aku suka." Setelah mengatakan itu Biema mengusap wajahnya dengan krem di tangannya yang sudah berbusa banyak.


"Aku enggak suka." Paris menegaskan. Biema mulai mengusap krem yang berbusa di wajahnya. Setelah itu di bilas dengan air.


"Lalu kenapa menyebut My Pie tadi?"


"Aku kan bilang bercanda. Masa iya aku manggil kamu My Pie."


"Jadi mau manggil apa di depan bunda?"


"Om Biema?"


"Apa aku setua itu, jadi kamu panggil aku om?" mengambil handuk khusus untuk wajah di lemari kecil yang menempel di dinding dekat cermin. Tiba-tiba Paris memeluk pinggang pria ini dari belakang. Biema sedikit terkejut karena tidak pernah menerima pelukan dari belakang oleh Paris. Tangannya yang mengusap wajah sempat terhenti. Namun dia berusaha biasa saja. Karena tidak ingin membuang momen manis yang mungkin saja di lakukan Paris dengan tidak sadar.


"My Sugar Daddy ...," ucap Paris sambil menempelkan kepalanya pada punggung Biema.


"Berhenti membuat panggilan yang aneh-aneh," protes Biema. Paris tertawa mendengar Biema protes.


"Jujur, aku enggak tahu harus panggil kamu apa kecuali nama kamu. Bagiku memanggilmu dengan nyaman itu sudah merupakan suatu anugrah. Aku yang dulunya terbiasa kesal padamu karena memilih menjadikanku istrimu, sekarang justru menyukai saat mendengar nama kamu di sebut oleh bibirku sendiri. Biema. Dari sana aku mengerti bahwa aku memang menyukaimu." Paris mempererat pelukannya. Tangan Biema mengusap lengan Paris dengan lembut.


"Aku juga tidak mempermasalahkan soal panggilan nama itu. Buatku di panggil oleh bibirmu saja juga suatu hal indah bagiku. Itu berarti kamu mengakui keberadaanku." Biema mengatakan itu seraya memandang cermin. Paris menggerakkan kepalanya melihat pria ini dari samping.


Biema tersenyum seraya meletakkan handuk basah itu di pinggiran wastafel. Lalu memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Paris.


"Panggil aku sesuka hatimu selama di hatimu ada aku, aku tidak masalah. Apalagi saat kita melakukannya. Aku jelas ingin namaku di teriakkan oleh bibirmu," bisik Biema sambil mengecup leher Paris. Gadis ini memicingkan mata merasakan gelenyar akibat ulah Biema.


"Berhenti. Aku mau tidur. Besok masih ujian. Jangan mengacaukan jadwalku." Biema merunduk sambil menyelusupkan tangannya di balik lutut Paris. Lalu menggendong tubuh gadis ini. Sontak membuat Paris memekik karena terkejut. "Hei! Kamu janji tidak akan melakukannya. Aku bisa tersiksa tahu!" protes Paris.


"Tidak. Aku sudah janji tidak akan mengganggumu. Aku hanya mengantarmu ke kamar tidur."


"Baiklah." Pria itu menggendongnya menuju ke kamar tidur. Perlahan Paris menyentuh garis pipi Biema. Lalu mengecup pipinya dengan cepat. Kaki Biema berhenti.


"Apa itu?" tanya Biema.


"Aku suka panggilan sederhana itu." Biema melanjutkan lagi langkahnya menuju kamar. Saat pria itu hendak meletakkan tubuh Paris di atas ranjang, dia juga menghadiahi kecupan manis untuk Paris.


"Kamu meniru," tuding Paris menunjuk Biema.


"Aku hanya memberi balasan atas kecupanmu yang manis." Biema tersenyum dan menjauh dari ranjang. Menuju ke lemari pakaian. Membuka kaosnya. Sementara Paris melihat punggung Biema yang menggairahkan.


"Jangan melihatku seperti itu. Karena kamu bisa saja tidak bisa mengendalikan diri dan mengganggu jadwal istirahat mu." Biema tahu bahwa istri kecilnya sedang memandangi punggungnya yang telanjang.


Ughh ... Paris menggeram. Lalu menipiskan bibir kesal. Menggelengkan kepala, membuang apapun yang ada di pikirannya barusan. Padahal aku berada sangat dekat dengan punggung bagus itu, tapi aku harus bertahan demi kenyamanan otak dan jantung ku saat mengerjakan ujian.


Paris menyiapkan tubuhnya dengan benar untuk tidur. Dia mengambil guling dan memeluknya sambil menghadap dinding. Mendadak lengan kuat menarik tubuhnya membuat Paris gagal memejamkan mata.


Sesaat napasnya tercekat. Bola matanya membulat melihat pemandangan indah di depannya. Biema tersenyum tipis. Tubuhnya terekspos dengan sempurna karena tidak tertutup apapun. Bahkan dia hanya memakai celana pendek.


"Aku masih boleh memelukmu, kan?" tanya Biema.


"Ah, ya ... Itu saja boleh," sahut Paris. Kenapa hanya memeluk? gerutu Paris di dalam hati. Biema memeluknya. Paris memejamkan mata dengan aroma tubuh maskulin milik Biema di hidungnya. "Kamu bau."


"Benarkah?" tanya Biema terkejut.


"Bau seorang pria yang aku cintai. Aku suka. Bikin betah," ujar Paris melanjutkan. Kali ini dia membuka mata seraya mendongak. Biema mencubit hidung gadis ini karena geregetan. Lalu memeluk tubuh Paris dengan gemas.


"Aku tidak tahu sejak kapan istri kecilku suka menggombal." Biema menggelengkan kepala tidak percaya.


"Bukannya sejak jadi istri kamu?"


"Benarkah? Aku tidak tahu."


"Anggap saja begitu. Karena aku begini cuma ke kamu."


"Harus. Awas saja kalau kamu menggemaskan seperti itu ke orang lain.


"Enggak mungkin."



Biema bermaksud langsung pulang seusai mengantarkan istrinya. Namun saat mobilnya berhenti di lampu merah ia melihat seseorang di pinggir jalan. Matanya menyipit merasa kenal dengan pria itu. Ia sedang berdiri di dekat seorang pria paruh baya. Siapa ya?


Awalnya Biema akan pergi begitu saja ketika lampu sudah hijau. Namun ia mulai ingat. Juna!


Tangannya membelokkan kemudi ke tempat ia melihat bocah itu. Walaupun harus memutar, Biema tidak urung untuk tetap menghampiri Juna. Sedikit kesulitan untuk segera sampai pada tempat Juna berada karena ini jam sibuk. Sekitar pukul 7 lebih.


Setelah melalui jalanan yang macet, akhirnya Biema berhasil memberhentikan mobilnya di tempat Juna berada. Biema melihat bocah itu masih berdiri di dekat sebuah mobil berwarna hitam. Biema turun dari mobil dan berjalan mendekat.


"Apa kamu bilang?! Tolong pindahkan mobilnya?!" tanya pria paruh baya itu dengan keras. Semua orang yang ada di sana melihat dengan takut. Tidak ada yang berani mendekat. Tiba-tiba saja tangan pria paruh baya itu melayangkan sebuah tamparan.


"Berhenti," ujar Biema seraya menangkap tangan milik pria tua itu. Juna menoleh dengan heran.