Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Antara dua pria



Sepanjang acara makan siang ini, Biema tidak pernah menjauh barang sedikitpun dari sisi Paris. Dia selalu berada di samping gadis itu. Lei tidak berniat selalu melihat mereka, tapi ia terus saja si suguhi sikap mesra Biema pada istrinya yang duduk tepat di depan matanya.


Fikar sendiri sudah terbiasa dengan kemesraan itu, tapi kali ini ia perlu menggelengkan kepala karena Biema berlebihan. Walaupun sesungguhnya mesra pada istri sebanyak apapun tidak pantas disebut berlebihan. Karena itu hukumnya wajib.


"Makanmu belepotan," ujar Biema sambil menyentuh ujung bibir Paris dan menyekanya tanpa tisu. Bola mata Paris mengerjap. Ia langsung mengambil tisu di dalam tasnya. Lalu ganti menyeka tangan Biema.


"Bersihkan pakai tisu," ujar Paris memberitahu. Biema hanya mengangguk saja. Lei memperhatikan sebentar. Lalu menyuapkan makanannya lagi.


"Aku ke toilet dulu," ujar Paris meminta ijin.


"Aku antar."


"Tidak. Aku hanya ke toilet."


"Kenapa?"


"Ini toilet wanita, Biem.," sahut Paris geregetan.


"Bukannya kita sudah terbiasa dengan itu," tutur Biema membuat Paris mendelik. Lalu pergi tanpa bicara lagi. Biema tergelak pelan. Setelah kepergian Paris ini, tinggallah mereka berdua. Lei dan Biema. Karena Fikar pindah meja sebentar karena ada seorang saudara yang tidak sengaja bertemu tadi.


"Kenapa kamu sengaja menerima undangan makan siangku?" tanya Biema tiba-tiba. Cara bicara informal yang membuat Lei menelaah sejenak. Itu tidak biasa. Namun wajah dengan rahang tegas itu tidak sedang bercanda.


"Maaf, saya hanya ... "


"Bicaralah dengan santai. Saat ini kita hanya berdua. Kita bicara sebagai laki-laki." Lei kembali diam.


"Maaf. Saya tidak bisa melakukannya. Saya hanya seorang pegawai magang. Saya tidak pantas bersikap kurang ajar kepada Anda."


"Aku rasa kamu sudah bersikap berani sejak tadi. Sejak pertama kamu setuju makan siang denganku."


"Saya tidak tahu apa maksud Anda."


"Kamu tahu aku tidak suka kedekatanmu dengan Paris. Aku hanya mengujimu. Tidak kusangka kamu mengikuti ujian yang aku berikan." Lei mengerjap. Seakan takjub dan terpana dengan kalimat putra pemilik perusahaan tempat ia magang.


"Saya minta maaf jika kedekatan saya yang tidak berarti dengan istri Anda, membuat Anda gusar," kata Lei. Biema menatap pria ini lurus-lurus. "Anda tidak perlu curiga soal itu. Kita hanya dekat dalam sebuah hubungan pertemanan. Hanya itu."


"Kamu mantan kekasih Paris. Tentu aku tidak bisa dengan tenang saat kalian berdua," desis Biema sangat geram. Dia tidak lagi memperhatikan siapa dirinya. Lei tersenyum mendengar Biema membicarakan ini. Ketenangan Biema terusik oleh senyuman itu.


"Saya salut pada Anda. Sekarang Anda sengaja membuang harga diri Anda sebagai atasan saya untuk menanyakan lebih jauh hubungan saya dengan istri Anda. Pasti cinta Anda pada istri Anda sangatlah besar. Hingga Anda tidak mempedulikan diri sendiri." Biema mengerjap. Kalimat Lei sangat tidak terduga. Bahunya yang tadi tegang karena geram kini turun perlahan. Sedikit merasa sejuk karena Lei tidak sengaja bertingkah demi membuatnya marah.


"Saya juga merasa tersanjung dengan ujian yang Anda berikan tadi. Itu menunjukkan bahwa Anda tidak memandang rendah orang seperti saya. Justru Anda memandang saya sebagai saingan yang jika orang lain melihat, itu sangat tidak mungkin. Saya sendiri merasa, tidak mungkin orang seperti saya bisa di anggap sebagai saingan dari pria yang nyaris sempurna seperti Anda. Jadi saya ucapkan terima kasih sudah memandang saya sebagai orang yang perlu di perhitungkan."


"Ehem ...." Biema berdeham. Dia membetulkan letak duduknya. Satu persatu kalimat pria yang lebih muda darinya ini sangat menakjubkan di telinganya. Atmosfir di sekitar Biema berubah. Bukan lagi rasa ingin marah yang ada. "Rupanya kamu cukup cakap saat berbicara," ujar Biema. "Sepertinya kamu sudah terbiasa menghadapi pria sepertiku."


"Jika begitu, aku benar menganggap kamu sainganku. Siapapun kamu, karena kamu sudah pernah menaklukan hati Paris, aku yakin kamu bukan orang biasa."


"Saya jelas orang biasa Tuan. Yang istimewa itu tentu nona Paris. Istri Anda. Dia bisa membuat pria sanggup melakukan apa saja demi dirinya." Lei mengatakan ini untuk Biema. Yang ia tahu dari pegawai perusahaan, Biema adalah orang tenang yang sangat dewasa. Namun pria ini berubah kekanak-kanakan saat berurusan dengan Paris.


"Ya, seperti aku. Dia sudah menaklukanku," ujar Biema mengaku sambil menyandarkan punggungnya pada badan sofa.


"Maafkan saya jika saya lancang. Yakinlah istri Anda tidak akan bertingkah macam-macam karena dia pasti sangat mencintai Anda. Terlebih hanya bicara dengan saya yang tidak sebanding dengan Anda. Meskipun ada kata mantan di antara saya dan istri Anda," ujar Lei. Biema mendengus mendengar kalimat Lei.


"Kamu memang cukup lancang, tapi sudahlah." Biema menjadi lebih lunak karena kalimat-kalimat Lei. Dia sungguh-sungguh mengubur rasa amarah yang memuncak tadi. Berpikir ulang untuk membenci seseorang karena cemburu. Tangannya mengambil gelas minuman dingin, lalu meneguknya.


Paris datang kemudian. Dua pasang mata itu menoleh ke arahnya serentak.


"Semua baik-baik saja? Meja dan sofa masih utuh?" tanya Paris menyindir Biema. Dia sudah kembali dari toilet.


"Tentu saja. Semua tetap berada di tempat masing-masing," sahut Biema lebih tenang. Paris tertegun. Sesaat tadi pria ini begitu berlebihan dan kekanak-kanakan. Sekarang dia berubah kembali seperti sedia kala.


"Baguslah," Jawab Paris lantas duduk di samping Biema. Tidak lama setelah Paris datang, Fikar juga ikut kembali.


"Kalian berdua akhirnya kembali juga," gumam Biema.


"Berdua?" tanya Fikar tidak paham kalau Paris juga pergi. Pria ini melihat Paris.


"Aku pergi ke toilet barusan." Merasa ditanya oleh tatapan Fikar, Paris langsung memberitahu.


Mendengar itu Fikar langsung berseru, "Jadi kalian hanya berdua tadi?"


"Hentikan pertanyaan semacam itu," desis Biema tahu maksud mereka berdua. Lei tersenyum pelan.


"Oh, maaf. Barusan hanya pertanyaan spontan," ujar Fikar.


"Spontan ya ... Aku tahu apa yang kamu fikirkan Fikar," timpal Paris sambil tersenyum dan menjentikkan jari ke arah Fikar. Pria ini langsung mengangguk dengan pasti ke arah Paris.


Tentu saja mereka berdua berpikir demikian. Mereka tahu bahwa Biema tidak cocok dengan Lei karena status pria muda ini adalah mantan kekasih Paris. Biema cemburu tentang itu. Makanya sungguh aneh jika tidak terjadi apa-apa saat Biema dan Lei hanya berdua.


Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang bercokol di otak Paris dan Fikar soal, 'ada kejadian apa tadi?' di antara Biema Lei, mereka tetap membungkam mulut.


Setelah pembayaran di lakukan, mereka keluar dari outlet itu.


"Ada rencana bekerja dengan perusahaan lain setelah selesai magang?" tanya Biema tiba-tiba. Atmosfir yang begitu berbeda dari biasanya. Lebih ramah, sejuk, dan damai. Tidak ada perseteruan yang di munculkan oleh Biema.