Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Sakit



Dengan meminta bantuan pada sopir keluarga mertuanya, Paris tiba di apartemen. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa di depan tv setelah melempar tas ransel. Memejamkan mata memikirkan tentang dirinya yang di keluarkan dari sekolah. Sebenarnya ia ingin cerita ke Biema soal sekolah. Namun pria itu juga sedang gundah perkara pekerjaannya. Dia tidak bisa berkeluh kesah sekarang. Itu harus di pendam sampai pria itu pulang nanti.


"Apa sebaiknya aku telepon bunda." Paris berpikir sambil menatap langit-langit apartemen. "Yap. Benar. Aku harus menelepon bunda untuk mengatakan tentang ini. Bukannya bunda yang punya ide menikah kilat ini." Paris bangkit dari rebahannya dan ganti posisi dengan tengkurap. Paris memang perlu bicara soal keluarnya perintah drop out untuknya pada bunda.


Jari Paris menekan nomor telepon bunda. Mesin penjawab otomatis dari layanan ponsel seluler menjawab bahwa nomor itu tidak bisa di hubungi. Kemungkinan ponsel bunda mati. Lalu dia mencoba menghubungi rumah. Lama sekali Paris menunggu, tapi tidak ada seorangpun yang menerima panggilan teleponnya. "Kemana semua orang di rumah? Kenapa tidak ada yang mengangkat telepon?" Kening Paris berkerut seraya melihat ke arah layar ponselnya. Lalu Paris berinisiatif menelepon Asha. Jarinya mencari nama itu di daftar kontak.


Paris sudah menekan tombol panggil. Seperti tadi. Nada tunggu terus terdengar berdering di sana tanpa ada orang yang mengangkatnya. Paris menekan tombol panggil berulang kali. Berharap Asha mengangkat ponselnya. Di tunggu hingga beberapa menit, Asha tidak kunjung menerima panggilan telepon.


Paris menghentikan panggilan telepon keluar.


"Kenapa kak Asha juga tidak menerima teleponku? Apa dia sedang sibuk dengan bayi Arash?" Paris berusaha menerka-nerka sendiri alasan tidak ada yang mengangkat teleponnya.


Lalu kemana bunda? Kenapa bahkan Buk Sumi juga tidak mengangkat telepon? Bermacam pertanyaan berkelebat di benaknya. Gadis ini berganti posisi dari tengkurap menjadi duduk bersila kaki. Tangannya tidak menyerah untuk menekan papan tuts di ponsel demi mendapat komunikasi dengan salah satu penghuni rumah keluarganya.


Paris kembali menekan nomor telepon rumah. Setelah dering kedua, telepon di angkat.


"Halo. Kediaman Tuan Hendarto," ujar suara di sana. Itu suara Bik Sumi.


"Halo Bik Sumi. Ini Paris."


"Non Paris." Suara Bik Sumi terdengar bahagia. "Lama Nona enggak muncul di rumah. Bibik kangen."


"Iya. Aku belum sempat ke sana karena jadwal ujian padat." Paris sengaja memberi alasan sekedar untuk mengisi pertanyaan dari pekerja di rumah keluarganya. "Bibik pasti kangen dengan aku yang ribet di rumah ya ...."


"Bukan. Bukan begitu." Bik Sumi jadi merasa tidak enak sama nona mudanya.


Paris ketawa mendengar Bik Sumi gugup. "Ia, iya. Enggak perlu jadi keder gitu dong. Tadi aku menelfon kok lama enggak ada yang angkat ya, Bik? Orang-orang pada kemana?"


"Kan ke rumah sakit, Non."


"Rumah sakit?" Kening Paris mengerut.Apa Nona belum tahu, kalau Tuan sedang sakit?" tanya Bik Sumi heran.


Paris langsung bangkit dari duduknya dengan terperangah. "A-ayah, sakit?" Paris berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Dia bertanya dengan gagap.


"I-iya Non," jawab Bik Sumi langsung menyadari bahwa dia tidak seharusnya bicara soal itu pada putri keluarga Hendarto ini. Pembantu senior ini memukul sendiri kepalanya dengan geregetan. Menyesal sudah menyampaikan berita sedih kepada nona mudanya yang belum tahu keadaan ayahnya sekarang. "M-maaf, Non. Bibik seharusnya tidak perlu memberitahu soal itu. Jika begini nona akan sedih."


Terlanjur. Paris terlanjur tahu.


"Enggak apa-apa. Jangan merasa bersalah, Bik. Aku memang harusnya tahu.” Paris berusaha menenangkan pembantu senior ini meskipun dirinya sendiri tidak tenang. Dia yang masih terkejut tentu saja berpura-pura baik-baik saja dalam hal ini. Gadis ini melakukan itu untuk membuat Bik Sumi tidak perlu merasa bersalah. "Ayah di rawat dimana?" tanya Parisp pelan dengan tangan sedikit gemetaran.


"Di rumah sakit Semoga Sehat, Non."


"Iya, Non." Selepas perbincangan terakhir ini, Paris kembali menghela napas panjang. Berita sedih kedua datang kepadanya. Ayah sakit. Kaki Paris segera melangkah menuju kamar dan mengganti seragam. Memesan ojek online sambil berjalan ke pantry untuk meminum air.


...----------------...


Paris mengambil langkah sedikit cepat menuju ke lobi rumah sakit. Mencari meja petugas untuk bertanya.


"Permisi, Mbak." Paris mendekat saat melihat meja petugas di tengah-tengah lobi. Salah satu petugas itu mendongak seraya tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, mbak. Bisa tanya pasien dengan nama Hendarto?”


"Bisa sebutkan kapan masuk pertama kali ke rumah sakit ini?"


"Hari ini."


"Sebentar saya lihat dulu, yah ..."


"Ya." Paris mengangguk. Petugas itu menundukkan pandangan. Melihat ke arah layar komputer di depannya. Berusaha berfokus pada deretan nama di sana.


"Tuan Hendarto berada di kamar perawatan VVIP. Silakan ke lantai 5." Petugas itu memberitahu arah pada Paris.


"Oke. Terima kasih." Paris menuju pintu lift. Kebetulan di depan lift kosong, hingga dia bisa segera masuk tanpa perlu berdesakan. Sepanjang lift bergerak menuju ke lantai lima, Paris gelisah. Berkali-kali ia menghela napas panjang guna melepas sesak yang bercokol di hatinya sekarang.


Kakinya segera melangkah keluar dari pintu lift sesaat setelah lift berhenti di lantai lima.


Paris segera menuju ke area kamar yang di maksud. Langkahnya kembali cepat karena ingin segera bertemu dengan keluarganya. Di taman kecil yang berada tepat di sebuah pintu, terlihat Asha tengah menggendong Arash. Sepertinya bayi itu sulit tidur hingga perlu di perlakukan secara intens. Kepala kakak iparnya itu menoleh tanpa sengaja ke arah Paris. Dari bola matanya yang sedikit melebar, Paris tahu bahwa Asha terkejut melihat kedatangannya.


Telunjuk Paris menunjuk ke arah pintu tanpa mengeluarkan suara. Dia tahu Arash butuh ketenangan untuk tidur. Itu berarti bayi itu sempat rewel karena susah tidur tadi. Makanya Paris berusaha tidak menggunakan suara, agar bayi kecil tidak terganggu.


Asha paham gadis ini sudah tahu soal ayahnya yang sakit. Maka dari itu ia mengangguk menanggapi pertanyaan Paris lewat telunjuknya. Menyatakan bahwa memang ayah mertua berada di dalam.


Setelah mendapat informasi, kaki Paris melangkah mendekat ke arah pintu. Tangannya memegang handle pintu dan membukanya. Mama yang tengah duduk di sofa dekat ranjang menoleh.


"Paris ...," lirih bunda terhenyak kaget. Sekretaris tuan Hendarto yang juga ada di dalam ruangan membungkuk sedikit melihat nona mudanya muncul. Paris tersenyum tipis menanggapi bunda dan pegawai ayahnya, lalu segera menoleh ke arah ranjang. Dimana tuan Hendarto terbaring.


Kakinya mendekat ke samping ranjang. Wajah pria paruh baya itu terlihat pucat. Ini pertama kalinya ayah terbaring di rumah sakit dengan kondisi lemah seperti ini. Ayah termasuk orang bugar yang jarang sekali sakit. Jika saat ini beliau terbaring lemah di sini, itu menunjukkan bahwa beliau sudah sangat lelah.