Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Awasi dia


Bola mata Biema mencoba meneliti lagi siapa pria yang sedang bersama Paris. Rupanya Biema tidak terlalu mengenal pria itu.


Sekarang tubuh Biema sudah berada di dekat mereka.


"Paris." Suara Biema segera mengonyak kesenangan obrolan mereka berdua. Paris menoleh ke belakang. Lei juga ikut melihat ke arah Biema. Tubuhnya membungkuk sedikit memberi sikap hormat dan santun ketika tahu yang datang adalah atasannya.


Bola mata Biema melirik sebentar ke arah Lei. Kepalanya mengangguk menerima sapaan pria itu.


"Kamu karyawan baru?" tanya Biema pada Lei. Paris melihat ke arah mereka berdua.


"Bukan. Saya karyawan magang di bagian printing. Sekarang saya ikut dalam tim persiapan pesta perusahaan besok," ujar Lei dengan sopan.


"Karyawan magang, ya ... " Setelah mengatakan itu, Biema langsung mengganti arah pandang ke Paris. "Kenapa berada di sini?" tanya Biema dengan suara rendah dan tegas.


"Aku mencoba untuk lihat-lihat. Enggak sengaja juga sih nemu tempat berlangsungnya acara yang kamu maksud itu. Niatnya ya sekedar jalan. Bukankah kamu bilang aku harus membantu persiapan acara?" tanya Paris heran. Menurut penuturan Biema tadi, dia di ajak ke sini untuk membantu persiapan pesta ultah perusahaan. "Jadi tepatlah, jika aku akhirnya ada di sini."


Tanpa permisi Lei berjalan menjauh dari mereka berdua. Dia sedikit heran dengan ke akraban Paris dan atasannya, tapi Lei mencoba mengabaikan.


"Ya, tapi kamu harus kesini bersamaku. Mereka tidak akan tahu siapa kamu kalau berkeliling sendirian," sahut Biema sedikit memberi tekanan pada kalimatnya. Bola matanya melirik tajam ke arah punggung Lei yang berjalan menjauh. Sepertinya kalimat itu sengaja di tujukan untuk Lei.


Paris sendiri mengernyitkan dahi merasa aneh kalau berjalan sendirian itu di larang. Dia tidak sadar bahwa mengobrol dengan Lei, membuat Biema gusar.


"Ya. Kadang berkeliling sendirian di sini membuatku aku lupa jalan awalnya." Paris menangkap maksud Biema. Walaupun itu salah. "Aku bisa tersesat." Paris berbisik merasa itu konyol. Biema tersenyum. Bola matanya melirik ke arah Lei lagi.


Di dalam hati Paris gugup juga. Entah kenapa dia tidak ingin Biema tahu bahwa Lei adalah mantannya. Dia ... takut Biema marah.


"Ayo, aku temani kamu berkeliling," ajak Biema sambil memutar badan Paris untuk menghadap ke jalan yang akan di datangi mereka. Tangan Biema mendorong bahu Paris lembut.


Lei yang masih berada di sana_ meskipun agak jauh dari mereka, melirik. Tangan Biema yang mendorong punggung itu membuatnya ingat akan dirinya sendiri. Saat menjadi kekasih gadis itu.



Fikar muncul lagi di ruangan Biema saat Paris tengah ke toilet. "Cari tahu siapa pria yang magang di kantor ini. Aku ingin tahu dia siapa."


"Pria magang?" tanya Fikar heran. Tiba-tiba saja Biema ingin tahu karyawan magang. "Untuk mendapat kontrak pegawai tetap? Aku salut kamu begitu peduli pada karyawan magang seperti mereka." Fikar mengacungkan jempol. Namun saat melihat raut wajah gelap milik Biema, Fikar sadar bahwa dia keliru mengartikannya.


"Bukan. Aku sedang melihat dia bersama Paris dan begitu akrab. Kenapa bisa pria itu dengan mudah membuat Paris tersenyum. Padahal di depanku, gadis itu sangat jarang tersenyum." Biema menunjukkan raut wajah kesalnya. Fikar mengangguk. "Aku ingin tahu siapa dia," lanjut Biema.


"Pria magang yang mana?" tanya Fikar.


"Apa aku harus dengan rinci mencari dia itu karyawan magang yang mana dan mengatakan padamu? Lalu gunanya aku membayarmu apa?" tanya Biema sengit. Walaupun dia tidak mengerti orang yang mana yang Biema maksud, tapi dia sudah mendapat kejelasan kegunaan dia bekerja di sini dari mulut Biema dengan sengit. Dia harus bisa mencarinya.


"Oke. Hmm ... pria magang ya." Akhirnya Fikar bersikap seolah dia mengerti. Fikar mengangguk-anggukan kepala mencari-cari karyawan magang yang bisa di ingat oleh otaknya. Namun ingatannya menjadi cemerlang secara mendadak.


Dia ingat soal pria yang pernah berbincang dengan istri atasannya ini. Satu-satunya pria selain Biema dan dirinya yang mengobrol dengan Paris adalah dia. "Jika itu karyawan magang, mungkin bagian printing ...," gumam Fikar. Biema menengok karena tertarik. Apakah dia tampan, tinggi, dan tegap?" tebak Fikar melanjutkan kalimatnya sambil menjulurkan ujung telunjuknya sesaat.


Biema melihat Fikar dengan mata enggan. "Aku tidak tahu apa dia tampan atau tidak, tapi menurutku dia biasa saja. Sangat biasa." Biema mengatakan kata terakhir dengan tekanan. Tidak suka Fikar mengatakan ketampanan pria lain yang sudah membuatnya resah di depannya.


"Oh, oke. Mungkin dia memang sangat biasa saja," ralat Fikar segera.


"Ehh, itu ... Aku pernah melihat mereka berdua berbincang sebelum hari ini. Hari dimana Mela bertemu Paris kedua kali di ruanganmu. Aku menemukan Paris sedang berbincang dengannya. Apakah mungkin dia?" tanya Fikar ragu dan takut. Takut bahwa kemungkinan itu benar.


"Apa?! Jadi kamu sudah tahu bahwa Paris mengenal pria magang itu?!" tanya Biema murka. Fikar mengangguk pelan dengan menelan ludah. "Kenapa kamu tidak memberitahuku Fikar?!"


"A-aku pikir itu tidak penting. Lagipula saat itu aku belum tahu kalau ternyata kamu mencintai Paris. Bukannya kamu juga tidak terlalu peduli pada hal-hal semacam itu, dulu ..." Fikar tidak salah. Biema memang masih ragu saat itu akan mencintai Paris seperti sekarang atau tidak.


Biema memejamkan mata. Mengepalkan tangan dan menggeram kesal merasa perkataan Fikar benar. Kemudian tangannya mengusap dahi dan rambutnya. Biema terlihat sangat frustasi.


"Oke, abaikan itu. Jadi kamu tahu siapa dia?" tanya Biema membuat keputusan untuk tidak menyalahkan asisten setianya ini.


"Tidak banyak. Aku hanya tahu wajah dan namanya karena sering ikut memantau karyawan magang itu. Nama karyawan magang itu adalah Lei. Seingatku, Paris pernah bilang kalau pria itu adalah kakak kelasnya di SMA dulu."


"Kamu bertanya pada Paris?" Biema melihat heran.


"Benar."


"Kakak kelas, ya .... " Biema mengangguk-anggukkan kepala. "Awasi karyawan itu," perintah Biema serius. Lebih serius daripada saat membahas pekerjaan.


"Siap." Fikar langsung menerima perintah dengan lantang.


Paris masuk ke ruangan, tepat setelah mereka selesai membicarakan Lei.


"Kamu masih ingin di sini atau pulang?" tanya Biema bersikap tidak pernah membicarakan soal Lei.


"Kamu masih ada acara lain setelah ini?" Paris balik bertanya sebelum menjawab pertanyaan Biema. "Aku lihat kamu bersiap pergi." Paris melihat Biema sudah merapikan meja kerjanya.


"Ya. Aku akan minum-minum dengan Fikar."


"Di klub malam?" selidik Paris.


"Bukan. Hanya di sebuah restoran."


"Oh ...." Nada suara Paris terdengar lega.


"Kamu berpikir aku akan kesana dan membuat kekacauan sepertimu?" Biema sedang mengejeknya. Mengingatkan dia akan insiden di klub malam bersama Asha. Paris meringis.


"Oh, malam di klub yang mengharu biru itu?" sindir Fikar.


"Ya. Wajahku jadi biru karena ulahnya," ujar Biema seraya menunjuk Paris dengan remeh.


"Kamu masih saja mengingat soal itu. Cih, dasar pendendam," gerutu Paris. Biema tersenyum.


"Tidak. Aku tidak ke klub malam. Ini hanya acara minum dan makan. Aku juga akan mengajak tim persiapan pesta besok untuk ikut. Sedikit bersenang-senang karena ini akhir pekan."