Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Terguncang


Kala itu di pantry. Tepatnya di lantai pantry. Kaos dan celana tergulung tidak rapi di sana. Sepertinya milik seorang wanita. Lalu mata Mela bergeser ke arah berikutnya. Yang ia temukan adalah, pakaian dalam. Sepertinya satu set, tapi di temukan terpisah dengan posisi tidak beraturan. Mela mengerjap. Dia tidak jadi memungutnya. Tentu tidak. Mela menarik lagi tangannya yang sudah terulur tadi.


Wanita ini berdiri dengan cepat. Manik matanya beredar ke area sekitar pantry. Kontainer berisi bubuk cokelat terbuka. Tutupnya tergeletak di sebelahnya. Bubuk cokelatnya juga tercecer di atas meja dan lantai. Mungkin saat Paris gugup meracik karena godaan Biema.


Teko air yang sedikit miring di atas kompor dan gelas berisi susu cokelat yang tinggal setengah. Barang- barang yang ada di atas meja makan mengumpul di satu tempat dekat tepi meja dengan posisi tidak beraturan. Sepertinya sengaja di geser dengan cepat dan terburu-buru. Mela memejamkan mata sekejap. Dia paham bahwa ada pergulatan panas di sini tadi.


Langkahnya segera mendekat ke sofa. Dia tidak harus berada di sana lebih lama. Di area tempat kejadian perkara. Dia mendadak marah. Bukan soal kenapa mereka melakukannya di sini, atau kenapa jejak pergulatan panas itu masih berserakan di lantai. Namun lebih kepada perasaan malu.


Dia malu atas pikiran 'panas' yang terlintas barusan. Apalagi dia syok dengan kenyataan yang dia temukan. Biema. Pria itu. Lelaki yang di kenalnya dulu adalah pria polos dan sedikit kaku itu nyatanya bisa melakukan hal itu dengan sangat mengejutkan. Di pantry. Mereka melakukannya di pantry!


Semuanya membuat Mela mendadak merapatkan tubuh. Ternyata Biema itu sedikit wow dan mungkin menakutkan saat melakukan hal itu menurutnya. Hingga pemikiran Mela sampai pada ketangkasan tubuh mereka saat berkelahi. Itu kecocokan yang akhirnya membuat mereka berdua berada pada ritme yang sama.


"K-kamu melakukannya di pantry?" ulang Fikar dengan sangat terkejut. Biema hanya mengangkat bahu. Tidak menjawab dengan pasti pertanyaannya. Fikar serasa menjadi linglung. Sepertinya dia juga terguncang seperti Mela. Wanita ini melirik Fikar yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Biema tidak peduli dengan kondisi jiwa mereka berdua yang terguncang. Dia hanya tersenyum tipis.


"Maaf, Paris tidak bisa melayani tamu dengan baik. Aku yakin dia belum bisa bergerak dan lunglai. Padahal ini adalah hari pertama Mela datang ke sini. Maafkan istriku," ujar Biema dengan gaya maskulinnya.


"Meskipun dia bisa bangun, aku rasa dia tidak sempat membuatkan sesuatu. Keadaan di sana sangat kacau." Mela menunjuk pantry dengan dagunya. Mencemooh pria ini sudah bersikap sembrono.


"Oh, iya. Aku lupa merapikannya." Biema tersenyum tipis paham apa yang di maksud Mela. Padahal dia tidak melakukannya dengan sengaja. Dia hanya terlupa karena ingin segera mandi. Juga akhirnya kalah dengan bel pintu yang berbunyi. Itu semua karena kedatangan mereka berdua.


Hanya Fikar satu-satunya yang tidak tahu keadaan di pantry. Cukup info dari Mela saja sudah membuatnya syok.


"Aku bisa memesankan sesuatu jika kalian butuh makan dan minum." Biema berusaha menjadi tuan rumah yang baik karena nyonya rumah sedang tidak bisa di ganggu.


"Tidak perlu. Aku akan pulang," tolak Mela. Barusan dia melihat ke arah ponselnya dengan wajah terkejut. Biema tahu itu tapi tidak bereaksi apa-apa.


"Kamu hanya membawakan buah itu ke sini?Aku rasa kalau hanya itu Fikar bisa mengantarkannya." Biema tidak menduga wanita ini akan cepat pergi. Bukan ingin Mela tinggal lebih lama, tapi ini sangat singkat. Seperti hanya menonton kekacauan pantry karena 'pertarungannya' lalu pergi begitu saja. Mela berdiri.


"Kamu mau pulang?" tanya Fikar heran.


"Ya," sahut Mela menengok ke arah Fikar sejenak. Lalu melihat ke Biema lagi. "Rupanya percuma aku memaksa khawatir padamu. Sekarang aku yakin kamu sudah sangat sehat, Biem. Aku salah mencemaskan kamu," ujar Mela.


"Ya. Sepertinya." Biema tidak membantah. Menurutnya memang sungguh sia-sia Mela mencemaskan dirinya. "Ayo aku antar ke pintu." Mela tidak mengatakan apa-apa hanya berjalan saja menuju pintu. "Lebih baik kamu mencemaskan orang lain saja," ujar Biema. Ini sebuah nasehat. Mela mendengus sambil berdiri. Bersiap untuk pulang. "Itu nasehatku sebagai teman," ujar Biema dengan wajah bersahabat. Fikar yang tadi sempat syok dan kehilangan jiwanya sejenak kini menoleh pada Mela.


"Tentu saja sebagai teman. Jangan berpikir aku peduli padamu karena mengharapkanmu, Biem ..." sungut Mela.


"Oh, tidak. Aku tidak pernah memikirkan apapun tentangmu. Entah apapun itu. Tidak. Aku terlalu sibuk dengan memikirkan Paris, istriku," ujar Biema seperti mencibir. Mela mendengus lagi.


"Kalimat itu sangat menusuk di dengar. Oke aku pulang. Salam buat Paris. Selamat sudah membuat Biema liar seperti itu," kata Mela yang sangat bisa Biema pahami artinya. Karena bola mata Mela melirik ke arah pantry sekilas. Namun setelah mengucap itu, Mela jadi malu sendiri.


"Tidak. Aku tidak butuh di antar olehnya." Mela menolak.


"Lalu?" Biema heran.


"Aku di jemput seseorang." Tanpa sadar bibir Mela tersenyum.


"Seorang pria?" tebak Biema ikut senang.


"Aku tidak akan memberitahumu. Itu area pribadi."


"Oh begitu," respon Biema sambil mengangguk mengerti.


"Sudah aku pergi," pamit Mela.


"Di luar hujan, Mel. Bawa payung tadi." Biema hendak masuk mengambil payung yang biasa ada di dalam mobil kantor yang di bawa Fikar. Kepala Mela menggeleng.


"Dia tahu harus melakukan apa. Jadi aku tidak mungkin kehujanan." Ada nada bangga di sana.


"Bagus kalau begitu." Biema merespon kalimat positif itu. Kemudian Mela lenyap dalam pintu lift. Di dalam, Fikar langsung menatap Biema lurus-lurus. "Ada apa? Kenapa kamu tidak bersiap pulang?" Langsung saja Biema berniat mengusir pria ini.


"Kamu pria sejati," puji Fikar tiba-tiba. Jempolnya terangkat dengan tegas.


"Pujian apa ini?" tanya Biema tidak tahu maksud temannya. Dia mendekati sofa dan duduk dengan nyaman. Pria itu ikut duduk di sana.


"Aku tidak tahu ada apa di sana, tapi aku sangat mengerti kemungkinan-kemungkinan apa yang membuat Mela syok." Biema mendengus mendengar Fikar berlagak bicara dengan serius. "Aku salut kamu melakukannya di sana," ujar Fikar dengan bola mata melebar.


"Berhenti bicara dan segera pulang," usir Biema pada Fikar.


"Aku belum selesai menanyaimu, Biem."


"Tidak ada pertanyaan lagi. Segera pergi. Aku kecewa kamu tidak begitu kompeten. Hanya seorang Mela saja kamu tidak bisa mencegahnya datang ke apartemenku," desis Biema menajamkan tatapannya.


"Maaf soal itu. Maafkan aku." Fikar langsung bersikap seperti bawahan. Dia tidak bisa bertanya lebih lanjut tentang momen Biema dan Paris.