Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Hotel


"Kali aja itu penting," imbuh Sandra yang secara tidak langsung memaksa Paris untuk membuka pesan. Akhirnya Paris melihat ke ponselnya. Ada empat chat baru di layar notifikasi yang belum terbuka.


"Maaf."


"Kamu tidak terkena masalah karena plester itu?"


"Aku harap tidak."


"Aku janji tidak akan melakukan itu lagi." Pesan beruntun semua muncul dari Biema. Jika di awal chat, pria ini terkesan menggoda. Di beberapa chat terakhir, pria ini justru mengirim kalimat-kalimat yang lembut.


"Ya." Paris hanya membalas dengan dua huruf. Akhirnya Paris menjadi lunak sedikit dengan kalimat-kalimat lembut milik Biema.


"Mungkin aku akan mencoba dengan cara lain, agar tidak ada jejak yang membekas. Namun kamu dan aku tetap merasa nikmat." Pesan Biema selanjutnya.


"Cih." Paris berdecih. Sedikit mencemooh pesan yang terakhir di kirim Biema padanya. Namun kali ini bibirnya bukan menggeram kesal. Ujung bibirnya terangkat membingkai senyum. Paris bahagia? Sepertinya begitu. Karena dia tidak berhenti menahan senyum yang di rasanya kurang tepat. Namun apa daya. Dia memang sedang tersipu dengan kata-kata Biema.


Paris membalas dengan emot tidak peduli. Dia tidak ingin laki-laki itu tahu bahwa dirinya tersipu malu.


Sialan. Aku pasti sudah terpikat pada pria tua itu. Kenapa aku justru tidak bisa menahan bibirku untuk tidak tersenyum. Bukannya dia mengatakan suatu hal yang aneh. Nikmat? Dasar. Memangnya aku menikmatinya, hingga tahu rasanya nikmat?


Umpatan itu tidak sama dengan raut wajah yang di lihat Sandra. Paris sedang tersenyum senang. Merayakan euforia hatinya dengan diam-diam. Itu terlihat menggelikan bagi Sandra.


"Kamu kenapa, Paris? Masih sehat, bukan?" ejek Sandra. Paris melirik ke Sandra dengan tajam.


"Apa sih? Tentu saja sehat. Sangat sehat."


Di lain tempat, Biema menghembus napas lega. Biema sudah kalang kabut saat godaannya tadi tidak di balas dengan pesan apapun. Mengira Paris semakin marah. Jadi setelah dapat balasan pesan meski hanya dua kata, Biema mulai tenang. Lalu dengan iseng tingkat tinggi dia mengirimi Paris pesan 'menjurus' lagi.


Walaupun Paris membalas dengan emot tidak peduli, tapi Biema berpikir lain. Menurutnya gadis itu sudah termakan umpannya. Paris tidak marah. Hanya berpura-pura marah. Karena kalau memang gadis itu benar marah, dia tidak akan membalas pesan walau hanya dengan emot sekalipun.


Saat itu Fikar masuk ke dalam ruangan. Tepat saat Biema sedang tersenyum sendiri karena merasa menang dari Paris. Biema menyuruh Fikar masuk dengan jarinya, lalu laki-laki itu tetap menatap ke arah ponselnya.


"Aku ingin segera menjemputnya dari sekolah dan pulang." Tiba-tiba saja Biema bicara seperti itu. Namun karena Biema menyebut sekolah, Fikar tahu. Bahwa yang di maksud Biema adalah iatri kecilnya, Paris.


"Oh, Paris ya ..."


"Benar. Sepertinya aku harus pulang lebih awal nih." Biema memberi tahu Fikar soal keinginannya.


"Pulang awal? Lagi?" Biema mengangguk. "Bukannya kemarin sudah pulang lebih awal?" tanya Fikar heran.


"Benar. Kamu keberatan?" tanya Biema menatap Fikar lurus.


"Tentu saja tidak. Silakan." Sebagai bawahan, tentu saja Fikar tidak bisa melarang Biema yang jadi atasannya. Jadi dia terpaksa mengiyakan. Biema tersenyum senang.


Di tempat Paris dan Sandra mengobrol.


"Aku rasa orang yang mengambil foto aku dan Biema, merekayasa jam pengambilan foto yang sebenarnya." Paris berpendapat.


"Kenapa?"


"Aku dan Biema berada di depan pintu apartemen bukan jam sebelas malam. Itu sekitar jam 6 an. Saat Biema baru pulang kerja. Kalau jam sebelas sih, aku sudah ada di dalam," terang Paris dengan bola mata melirik ke arah lain. Sepertinya dia masih terbayang-bayang semalam.


"Hmm ... Pintar juga sih yang bikin gosip. Dengan begitu orang berpikir kamu berada di sana malam-malam jika lihat waktunya." Sandra paham. Paris mengangguk. "Trus gimana tindakan kamu soal gosip ini?"


"Selama sebatas mereka semua nyinyir dan melihatku dengan jijik dan semacamnya itu sih, aku enggak peduli. Besok juga sudah ujian. Tinggal nunggu waktu lulus, aku enggak akan ketemu mereka lagi."


"Kalau kamu ketemu mereka saat sudah lulus entar gimana? Trus mereka ngatain kamu wanita panggilan." Ketakutan Sandra berlebihan.


"Untuk ke depannya justru aku tambah enggak peduli. Karena Biema yang jadi suamiku, maka dia juga pasti lebih percaya aku daripada mereka."


"Kak Biema? Kok kak Biema. Aku sedang bertanya soal kamu."


"Iya aku tahu. Dia pasti ngerti jika aku ceritakan awal gosip itu muncul. Bukannya itu semua karena Biema sendiri?"



Waktu yang di tunggu-tunggu Biema telah tiba, yaitu jam pulang sekolah. Gadis itu barusan muncul saat Biema juga baru saja tiba. Perlahan Paris melangkahkan kaki menuju mobil Biema. Sebelum sampai pada mobilnya, Biema sudah keluar dari mobil. Sengaja membukakan pintu untuk Paris.


"Siang, Paris," sapa Biema saat gadis itu sampai di depannya.


"Siang ...," sahut Paris enggan mendongak. Bukan karena marah. Pria ini terus saja memandangnya dengan sorot mata berbinar-binar. Paris tidak mampu menerima sorot mata berkilau itu. Setelah menutup pintu, Biema kembali ke dalam mobil.


Keyakinan anak-anak sekolah semakin besar. Biema yang keluar dari mobil menjadi sorotan. Dari setelan jas yang di pakai Biema, menjelaskan bahwa pria itu sama dengan pria yang ada di dalam gosip panas di seantero sekolah.


"Kamu ingin kemana, Paris?" tanya Biema di dalam mobil.


"Pulang."


"Tidak ingin ke tempat lain?" tawar Biema.


"Tumben sekali kamu mau mengajakku ke tempat lain. Biasanya langsung pulang."


"Aku ingin menyenangkanmu." Biema menoleh sebentar ke samping lalu melihat ke depan lagi.


"Terserah." Paris melihat ke arah jalanan. Bersandar pada dinding mobil.


"Soal pesan tadi ...."


Paris tersentak kaget mendengar Biema membahas itu. "T-tidak. Abaikan pesan dariku. Aku hanya salah kirim. Salah kirim." Paris langsung menoleh ke Biema dan memberikan klarifikasi terkait pesan yang ia kirim tanpa pikir panjang itu.


"Salah kirim?" Biema mengerjap. "Bagaimana mungkin?"


"Tentu saja mungkin. Aku kesal karena plester tidak bermutu milikmu ini. Hingga akhirnya membuatku teledor." Paris menunjuk ke arah plester di lehernya dengan geram.


"Pink? Seingatku aku memberimu plester dengan warna cokelat."


"Sandra yang memberi. Ini menggantikan plester jelekmu," sahut Paris dengan kembali duduk bersandar pada badan kursi mobil.


"Iya. Aku keliru." Biema memilih mengalah dan mengaku salah. "Kita mau kemana? Hari ini aku tidak kembali ke kantor. Aku serahkan semua ke Fikar. Tidak ada hal penting, jadi aku bebas keluar."


"Terserah."


"Kalau begitu kita ke hotel saja," usul Biema.


"Hotel?" tanya Paris dengan dag-dig-dug tidak karuan.


"Ya," jawab Biema mantap. Paris meremas tangannya sendiri karena resah yang menyerangnya.


Kenapa mendadak pria ini mengajak ku ke hotel? Biema akan melakukan metode lainnnya di sana, sekarang? Pikiran mesum menyerangnya.


Aarggh! Kenapa belakangan ini aku jadi mesum sih?! Pasti karena pria ini.


Mobil melaju ke jalan besar. Menuju hotel yang di pilih Biema.


Cekrek!


Klik!


Foto yang baru saja di buat di kirim langsung ke seseorang oleh si pemotret.


"Jadi mereka mainnya ke hotel juga ... Wah, wah. Kalau ini sih enggak perlu di rekayasa juga, mereka memang beneran sedang 'main-main'," ujar Priski.