
Setelah tidak masuk sekolah karena acara menginap di rumah orangtua Biema, kemudian di susul saat Biema masuk rumah sakit, total Paris tidak masuk sekolah adalah empat hari. Namun bagi Paris, itu serasa sudah satu bulan. Dia sudah sangat lama menemani Biema dari pagi hingga malam.
Pagi ini dia sudah bisa berangkat sekolah karena Biema sudah pulih. Biema tetap mengantar gadis ini. Seperti biasa, Paris meminta Biema menurunkannya sebelum gerbang sekolah.
"Eh, itu Paris. Dia keluar dari mobil mewah." Seseorang, dari sekolah yang sama dengan Paris, tengah memergoki Paris yang barusan turun dari mobil milik Biema. Mereka langsung menyoroti gerak-gerik Paris.
"Jadi benar, yang kita lihat di mall itu adalah Paris?"
"Oh, yang di mall itu yah?" Mereka teringat lagi saat menemukan Paris sedang berduaan dengan seorang pria. Yang lain mengangguk.
"Wah ... ini berita baru. Paris turun dari mobil seorang pria yang terlihat seperti om-om yang sudah menikah, pagi hari!"
"Kenapa memangnya kalau pagi hari?"
"Ih, kamu pura-pura polos yah?" gerutu temannya. Yang di ejek hanya cengengesan. "Itu berarti mereka menginap."
"Kenapa jadi menginap? Bisa saja kan kalau pria itu muncul pagi-pagi di depan rumah Paris dan mengantarnya ke sekolah."
"Hei, mana mungkin begitu. Pria itu pria dewasa." Obrolan soal Paris berhenti saat gadis itu melintasi mereka. Kepala Paris menoleh ke arah mereka. Insting Paris yang merasa mereka habis membicarakan dirinya muncul. Namun mereka segera ganti topik pembicaraan dengan begitu natural. Hingga Paris langsung pergi tanpa berlama-lama di sana.
"Fyuuhh ... itu anak. Kayak preman aja kalau melihat."
"Iya. Mentang-mentang dia anak baru."
"Bukannya itu dulu saat dia masih kelas dua. Kalau sekarang sih, bukan anak baru lagi."
Sandra memutar tubuhnya untuk melihat ke arah kakak iparnya.
"Hei, gimana kabar kak Biema?" tanya Sandra.
"Sehat."
"Syukurlah. Di rumah mama kepikiran terus sama kakak. Padahal waktu di jenguk aja dia sudah sehat."
"Orang itu enggak akan kenapa-kenapa. Karena sifat jahilnya di atas rata-rata orang normal. Dia itu enggak normal." Dengan menggerutu Paris mengeluarkan buku-bukunya. Sekarang pergantian mata pelajaran, tapi guru pembimbing masih belum muncul. Jadi waktu berharga ini di manfaatkan oleh anak-anak yang lain buat main dan ngobrol.
"Kakakku jahil?" tanya Sandra seperti terheran-heran.
"Sangat." Paris begitu yakin hingga matanya membulat gemas.
"Aku baru tahu kak Biema begitu." Sandra heran. Merasa ini sebuah kejutan.
"Kenapa baru tahu? Dia kan kakakmu, San."
"Iya, tapi di rumah itu ... kak Biema bukanlah orang yang jahil dan kekanak-kanakan. Dia sedikit pendiam dan disiplin."
"Pendiam? Dia jauh dari kata pendiam." Paris protes.
"Emmm ... " Sandra mengangguk-anggukkan kepala. "Berarti sekarang kakak sudah berubah. Mungkin itu sejak bertemu denganmu."
"Oh, ya? Sepertinya sifat jahilnya sudah mendarah daging." Sandra terkekeh. Paris hanya mencebik.
"Kalian bertengkar?"
"Aku? Enggak. Kenapa?" Paris melebarkan mata.
"Mama bilang kak Mela muncul di rumah saat kamu menginap itu."
"Oh, itu. Bukannya itu bukan hal baru lagi yang bisa di jadikan bahan pertengkaran."
"Kamu mulai berpikir secara dewasa. Kak Biema merubahmu." Rona takjub tergambar jelas di wajah Sandra.
"Hei, bukan begitu. Aku tidak harus selalu marah-marah ketika Biema bersama Mela. Bukannya dia teman masa kecilnya?"
"Jadi kamu enggak cemburu jika kak Biema terlihat bersama seorang wanita?"
"Eh, kenapa jadi bahas soal itu." Paris mendadak gugup. Tangan Paris mengibas di depan wajah Sandra. "Bahas yang lain."
"Bawel. Aku bilang bahas yang lain, San." Seorang guru pembimbing mata pelajaran masuk. Hingga Sandra menghentikan pertanyaannya. Paris menghela napas lega.
Aku sepertinya akan marah dan kesal jika Biema terlihat sedang bersama seorang wanita. Pasti itu.
Biema mengecek ponselnya berulangkali, tapi tidak ada pesan apapun yang datang dari Paris. Berhari-hari di temani oleh Paris membuat Biema ketagihan. Pria ini jadi kecanduan melihat wajah gadis itu. Hingga membuatnya gelisah.
Fikar yang sedari tadi menemani Biema, jadi terusik. Bola matanya terus saja melihat ke arah atasannya ini.
"Kamu memerlukan sesuatu?" tanya Fikar dengan kepedulian level seratus persen.
Biema yang sejak tadi menunduk, sekarang mendongak. "Tidak."
"Apa kamu menunggu seseorang?"
"Tidak."
"Apa kamu ..."
"Berhenti. Apa tujuan pertanyaanmu itu Fikar?" tanya Biema gusar.
"Aku peduli. Aku melihatmu gelisah. Jadi aku berinisiatif membantumu," jawab Fikar dengan raut wajah polos.
"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku butuh Paris."
Fikar terdiam. Mendengar pria itu mengatakan kalimat barusan, Fikar tidak bisa berkata-kata. "Sepertinya indra pendengaranku sedang buruk hari ini." Fikar berusaha mengorek telinganya. Dia yakin gendang telinganya sedang rusak. Dia mendengar kalimat aneh dari mulut Biema.
"Jangan mengejekku. Aku memang mengatakan itu." Biema sadar kalimatnya terdengar aneh.
"Kamu mengatakan apa?" tanya Fikar ingin Biema mengulang kalimat yang tadi di ucapkannya. Bibir Biema menipis kesal mendengar pertanyaan Fikar.
"Aku butuh Paris. Aku butuh istriku," ujar Biema tetap mengulang pertanyaannya tadi meski geram. Fikar menatap Biema lurus.
"Wow. Aku benar-benar mendengar kalimat itu. Kalimat posesif. Kamu mulai benar-benar mencintainya." Fikar takjub hingga saat mengatakan kalimat ini, raut wajahnya begitu datar. Fikar tampak syok.
"Hapus raut wajah menyebalkanmu itu, Fikar. Kamu seperti sedang menyaksikan parade orang aneh," gerutu Biema.
"Ya. Aku memang sedang menonton orang aneh. Kamu jadi aneh. Apa aku telah salah duga kalau pernikahanmu adalah keterpaksaan?" tanya Fikar jadi penasaran. "Karena yang aku tahu, hatimu selalu terikat oleh Mela. Namun apa ini? Aku menemukan benih-benih cinta."
"Aku memang mencintai Mela. Itu sebelum aku bertemu Paris."
"Jadi ... kamu benar-benar mencintai gadis SMA itu?" selidik Fikar.
"Ya. Yang kurasakan sekarang iya. Aku sendiri terkejut bisa melupakan Mela secepat mungkin."
"Aku tahu," ujar Fikar menaikkan alisnya. Dia tahu pria ini begitu tergila-gila dengan perempuan yang punya banyak pengalaman hidup itu. "Tapi ... kamu bilang pernikahan ini adalah buah perjodohan mamamu dan keluarga Paris."
"Aku memang di jodohkan. Mama yang ingin aku kenal dengan gadis itu. Sepertinya mama tahu soal aku yang di tolak Mela. Hingga beliau
memaksaku mengenal Paris yang sangat berbeda dengan Mela."
"Jadi perjodohan ini ide mamamu?"
"Ya. Beliau pernah berkata padaku, "Jangan membiarkan hatimu lelah menunggu ketidakpastian hati seseorang." mungkin itu nasehat mama untukku tidak menunggu Mela mencintaiku."
"Itu benar. Jika tidak pasti, kita harusnya pergi dan cari yang lain. Begitu bodoh jika menunggu sangat lama seseorang membuka hatinya." Biema merasa itu ejekan untuknya. "Aku bukan sedang mengejekmu, Biem," ralat Fikar segera. Dia tahu Biema merasa itu makian untuk dirinya.
Tring!
Nada pesan masuk dari ponsel Biema. Ada nama Paris di sana. Raut wajah Biema langsung berubah ceria.
"Aku mau ke kantormu."
Sungguh suatu kejutan tidak terduga gadis itu mau datang ke kantornya tanpa di minta. Walapun sempat ke kantor mendadak. Saat membawa bekal makan siang dari mertuanya. Ini pertama kalinya gadis itu sengaja memberitahu lewat ponsel soal kedatangannya.