
Paris akhirnya tidur di atas ranjang yang sama dengan Biema. Ini kedua kalinya. Paris gelisah. Apalagi tampak punggung polos Biema di sampingnya. Berbeda dengan saat tidur di kamar Biema sewaktu menginap di rumah mertua. Kali ini Biema tahu isi hatinya dan sebaliknya. Suasana seperti ini memang membuat gelisah.
Merasa Paris masih terjaga, Biema menengok ke belakang. "Kamu belum tidur?"
"Tidak."
"Tidurlah Paris. Kamu tidak lelah?" tanya Biema masih hanya menengokkan kepalanya saja tanpa merubah posisi tidur miringnya.
"Tentu saja aku lelah, tapi aku tidak mau tidur. Aku harus membuka mata," ujar Paris bertekad. Mendengar ini Biema pun menggulingkan tubuhnya dan tidur menyamping menghadap Paris. Tubuh Paris berjingkat dan spontan bergerak mundur.
"Jangan memaksakan diri. Aku tidak mungkin menerkam kamu. Aku tidak akan gegabah untuk langsung ingin bercinta denganmu."
Blush!
Rona merah menjalari wajah Paris hingga leher. Bercinta? Paris melebarkan matanya sekilas saat kata itu meluncur dengan lancar dari bibir Biema. Ini pertama kalinya Biema terbuka soal hubungan suami istri di atas ranjang. Paris sedikit terkejut.
Biema mulai terang-terangan mengatakan bahwa ia ingin bercinta dengannya. Meskipun Paris kadang tahu bahwa ada indikasi untuk kesana, tapi pengakuan ini sungguh mengejutkan.
"Aku selalu menantikannya. Setiap saat-saat bersamamu aku tersiksa, tapi aku harus tahan." Sedikit menyeringai, Biema mengatakan itu. Mengakui dia ingin begituan dengan Paris.
Mendengar itu Paris mengerjapkan mata. "Kamu begitu ingin bercinta denganku?" tanya Paris tanpa sadar.
"Tentu saja. Kamu orang yang aku cintai. Kamu juga istriku. Tidak ada hal lain yang melarangku melakukannya kecuali adalah aku sendiri."
"Kenapa?"
"Sudah aku katakan. Meskipun aku sangat ingin melakukannya, aku pasti akan coba menghindarinya. Aku tahu ini belum waktunya. Keadaan kamu juga tidak memungkinkan untuk melakukan penyatuan. Sekolah kamu haruslah selesai dulu," ujar Biema dengan mata sayu. Terdengar pasrah.
"Jadi kamu rela menunggu?" selidik Paris.
"Tidak rela. Sa-ngat tidak rela. Sebenarnya aku tidak rela. Aku hanya menahan diri." Biema sampai mengatakan tidak rela berulang-ulang. Itu menunjukkan ketidakrelaannya yang hakiki.
"Kamu berjuang dengan keras."
"Ya. Paris. Setiap melihatmu, aku ingin melakukannya. Aku tersiksa karena menahan diri. Hingga terasa sakit di bawah sana karena menahan untuk tidak melakukan pelepasan. Aku menunggu tubuh kamu siap menerima benihku." Selain kata-kata, Biema juga menambahkan ekspresi tersiksa di wajahnya. Itu nyata. Bukan kedok semata.
Mata Paris berkabut. Merasa iba. Tangannya terulur menyentuh pipi Biema. Menatap bibir pria itu lalu mengecupnya. Hanya sebentar, kemudian melepaskan. Paris merasa tersentuh Biema menghargainya. Jadi dia memberi kecupan itu untuk hadiah. Sayangnya hadiah kecil itu punya dampak yang begitu dahsyat bagi Biema.
"Jika begini, aku jadi semakin ingin melahapmu," ujar Biema serak karena menggeram. Bola mata pria ini juga mulai berkabut hasrat.
Paris mendelik mendengar geraman tertahan Biema barusan. "Jangan," kata Paris menahan tubuh Biema. "Jangan lakukan," tegas Paris lagi.
Mendadak gadis ini menyelusupkan kedua tangannya pada bawah lengan Biema. Biema terkejut. Paris memaksakan diri memeluknya yang bertelanjang dada ini. Meskipun tubuhnya sudah sempat memeluk Paris dengan bertelanjang dada, jika gadis ini sendiri yang memeluknya pasti rasanya berbeda. Biema menggeliat. Hasratnya dahaga.
Biema tahu itu. Gadis ini hanya berusaha menghiburnya yang sudah setengah jiwa menahan diri.
"Sepertinya aku tidak bisa. Aku ingin melakukannya sekarang," lirih Biema di dekat telinga Paris.
"Tidak! Jangan! Harus bisa! Bisa!" teriak Paris panik dan takut. Secara spontan lengan Paris mempererat pelukannya, hingga pipinya menempel pada dada Biema. Tubuh Paris merapat erat pada dada Biema. Bibir Biema tersenyum melihat ini. Lalu lengannya ikut memeluk erat tubuh gadis-nya.
"Janji ya, setiap malam peluk aku seperti ini."
"Hah? Setiap malam?" tanya Paris terkejut sambil menjauhkan pipinya dari dada Biema. Mendongak seraya mengerutkan kening mempertanyakan kalimat Biema barusan.
"He-eh." Biema mengangguk dengan polosnya.
"Kenapa setiap malam, Biem? Aku enggak janji seperti itu," protes Paris.
"Aku yang membuat janji. Aku yang memutuskan," tegas Biema tidak adil. Paris mendengkus dan memutar bola matanya kesal. Kemudian menipiskan bibir. Biema mulai menunjukkan kepemimpinannya. Ya. Biema adalah kepala keluarga. "Karena malam-malamku harus di isi dengan pelukanmu Paris. Jika tidak, aku akan tersiksa sendiri menahan keperkasaanku menegang karena ingin menjamahmu."
Tuing! Kosa kata baru yang membuat tubuh meremang terdengar lagi. Paris diam tidak membantah.
Aaargg! Pembicaraan apa ini? Benih. Bercinta. Pelepasan. Keperkasaan. Apa itu semua? Kenapa mendadak aku dan Biema jadi membahas topik area dewasa itu? Jika begini terus ... bisa-bisa tanpa sadar, aku sendiri yang mulai menjamah Biema. Mulai menerkamnya. Lama-lama aku juga ingin melakukannya sebelum waktunya. Tidaaakkk! Ini bahaya. Bahaya!
"Kenapa? Kamu tidak setuju?" tanya Biema yang melihat Paris menghela napas berat.
"Tidak. Sudah. Ayo kita tidur. Aku besok harus sekolah." Paris pasrah dan memilih kembali memeluk Biema erat.
"Aku juga boleh melakukannya sedikit?" tawar Biema di sela-sela pelukan. Mendadak tubuh pria ini bergerak turun untuk mensejajarkan kepalanya pada leher Paris. Pria ini ingin mencumbu di area sensitif itu.
"Biem ...." ucap Paris meminta pria ini kembali pada posisinya yang tadi. Namun pria ini lebih dulu mengecup bawah dagu Paris. Membuat Paris menggeliat. Melihat itu Biema tersenyum. Biema menambah lagi ciumannya. "Biem ..." lirih Paris mirip ******* seraya menahan kepala Biema mendekat ke arah lehernya lagi.
"Aku tahu. Aku tidak akan melakukannya lebih dari ini." Biema menarik tubuhnya untuk kembali ke posisi semula. Lalu memilih memeluk Paris. "Biar aku saja yang memelukmu. Ayo tidur. Sepertinya kamu mengantuk."
"Ya. Aku sangat mengantuk," ujar Paris dengan suara yang semakin tenggelam. Biema mengecup pucuk kepala Paris dan menutup mata kemudian. Mereka berdua mulai tertidur lelap.
Sandra sudah tidak sabar menunggu kedatangan kakak ipar tercinta. Dia sudah sejak tadi berdiri di depan gerbang. Sengaja tidak masuk ke dalam sekolah karena ingin segera bertemu Paris. Kaki Sandra bergerak ke kanan dan ke kiri. Mencoba menenangkan gelisah yang sejak tadi menggelayutinya.
Ponsel Paris sejak tadi pagi tidak bisa di hubungi. Sepertinya mati. Padahal Sandra sudah mengirim gambar hasil screen shoot dalam grup chat anak-anak sekolah.
Saat itu sebuah mobil tidak asing muncul tidak jauh dari tempat Sandra berdiri. Sebenarnya Sandra tahu itu mobil siapa, tapi yang menjadi pertanyaan adalah ... kenapa sekarang Paris bersama kakaknya pagi ini? Bukankah Paris memberitahunya soal kebijakan baru antar jemput itu.
Sesaat gelisah tadi hilang berganti rasa penasaran.