
"Aku mencarimu," ujar Biema mulai membicarakan tujuan dirinya. Paris mau melihat ke arah Biema kali ini.
"Ya. Melihatmu sampai harus kesini, itu berarti kamu sedang mencariku," ujar Paris sambil mengangguk. Dia tahu pria ini pasti menuju kesini karena mencarinya. Bahkan melibatkan kakaknya demi menemukannya.
"Aku tahu kamu marah," ujar Biema.
"Tidak," potong Paris cepat. Bola matanya menatap Biema tajam. Dia tidak mau di tuduh marah walaupun memang tadi sempat naik darah saat berpikir kalau pria ini menikahinya hanya karena ajakan menikahnya di tolak oleh orang yang di cintainya.
"Benarkah? Lalu kenapa kamu pergi saat aku bicara dengan Mela tadi?"
"Aku tidak berhak berada di sana saat kamu sedang bicara hal pribadi dengan Mela." Paris mengatakan dengan tegas sambil mencondongkan badannya kedepan. Menunjukkan bahwa dirinya hanya orang baru yang tidak perlu ikut dalam perbincangan pribadi mereka.
"Itu bukan hal pribadi lagi bagiku, Paris."
"Entahlah. Aku merasa itu sangat pribadi. Aku tidak berhak tahu." Lalu kembali duduk bersandar kursi sambil menghela napas.
"Jika kamu bukan siapa-siapa, kamu memang tidak berhak mengurusi hal semacam itu, tapi ... kamu sekarang istriku." Mendengar Biema menyebut kata 'istri', tubuh Paris jadi merinding. Kata itu masih belum bisa di terima.
"Aku memang pernah mengajak Mela menikah." Biema mengaku. Paris mengambil gelas jus dan meminumnya. Dia melihat ke arah meja-meja lain. "Itu menyakitimu?"
"Sudah ku bilang aku tidak marah. Jadi ... jelas itu semua tidak menyakitiku," ujar Paris menegaskan. Kali ini juga lewat sorotan matanya dia mengatakan itu benar.
Biema menatap istrinya agak lama. Dia ingin tetap membahas soal kepergian Paris yang tiba-tiba juga kata-kata Mela soal dia yang mengajak menikah. Namun melihat Paris bersikeras membantah dia tidak marah, Biema memilih tidak mau membahas lagi.
"Syukurlah jika kamu tidak terluka karena omongan Mela." Biema menghela napas dan menyeruput jus alpukat di atas meja. Sesaat suasana hening.
"Jadi dia ... orang yang pernah kamu cintai dulu?" tanya Paris pelan, tapi mampu membuat Biema terhenyak. Gadis ini membantah pergi tanpa pamit karena dia dan Mela. Namun saat ini dia juga ingin tahu soal itu. "Hanya sekedar bertanya. Tidak terlalu penasaran. Jika kamu tidak ingin cerita tidak apa-apa." Paris bersikap enggan lagi sambil mengibaskan tangan.
"Ya. Dia memang orang yang pernah aku cintai." Biema kembali mengakui. Paris mengangguk paham. Kini setelah sempat ngobrol sama Arga, rasa marah Paris berkurang. Dia merasa jika setiap orang pasti punya masa lalu. Termasuk Biema.
Lalu soal dirinya yang sempat marah di rasa kurang pas. Ketika bibirnya bicara secara blak-blakan soal dirinya yang hanya terpaksa mau di nikahi, Biema tidak bereaksi banyak. Pria itu tetap memperlakukan dirinya dengan baik. Tidak seperti dirinya.
Namun, dia tetap sebal jika dia hanya sebuah pelarian saja. Itu terasaaa ... kurang keren!
"Aku senang melihatmu baik-baik saja. Aku cemas tadi, Paris." Manik mata Paris melirik. Saat ini wajah Biema memang terlihat lega. Berbeda dengan tadi. Wajah itu memang sempat panik dan cemas.
"Aku tangguh. Aku akan selalu baik-baik saja," kata Paris membanggakan diri.
"Aku tahu. Aku tahu itu." Biema tersenyum. Kemudian tiba-tiba tangannya terulur dan mengusap pucuk kepala Paris.
"Eh?" Paris terhenyak. Dia menatap Biema lagi dengan bola matanya. "Lepaskan tanganmu," ujar Paris pelan. Biema melepaskan tangannya sambil tersenyum. Gadis ini selalu saja mulai tampak garang saat dia mulai menyentuhnya.
"Aku mengerti. Mau nambah donat lagi?" tawar Biema melihat donat itu tinggal dua buah. Paris menggeleng. Kini mulutnya penuh dengan donat.
Saat itu, ada beberapa teman Paris yang juga sedang nongkrong di mall. Mereka melintas di depan outlet tempat Paris dan Biema.
"Eh, bukannya itu Paris?" Seorang cewek melihat ke dalam outlet. Dua teman lainnya yang sedang berjalan di samping ikut menoleh.
"Mana?" Mereka celingukan mencari gadis yang di maksud temannya.
"Ituuuu ... yang lagi sama pria berjas," tunjuk dia geregetan karena teman-temannya tidak bisa menemukan Paris. Setelah berusaha meneliti lagi yang di maksud temannya, mereka baru bisa melihat bahwa itu Paris.
"Eh, iya. Dia Paris. Waduh, romantis banget sampai yang laki mengusap pipi segala. Jadi mirip drama korea."
"Tua? Bapak-bapak maksudnya?"
"Iya. Liatin deh." Semua melihat ke arah pria yang duduk dengan setelan jas.
"Bukan bapak-bapak. Itu om-om kali ..."
"Ya ... bisa jadi bapak muda."
"Putus dari Kak Lei jadi pindah ngejar om-om gitu. Seleranya jadi berubah sangat drastis. Sepertinya om-om kaya."
"Hei, dia kan anak orang kaya juga. Kenapa pula ngejar om-om kaya."
"Justru karena dia kaya, jadi nyari yang kaya juga dong."
"Memang beneran si Paris itu kaya?"
"Enggak tahu. Kata teman sekelasnya sih, gitu."
Malam ini Paris lagi nonton tv di sofa. Sementara Biema mengerjakan sesuatu di laptopnya. Dia duduk tepat di sofa sebelah kanan Paris. Tidak seperti hari-hari biasanya. Kali ini Biema sudah ada di rumah.
Sejak kejadian Mela waktu itu, Biema sering berada di rumah. Seringkali dia membawa pekerjaan pulang seperti kali ini.
"Pemilik perusahaan kenapa susah payah membawa pekerjaan pulang?" tanya Paris iseng.
"Belum. Aku belum menjadi pemilik perusahaan. Aku masih seorang pegawai di sana," sahut Biema tanpa memindahkan pandangan dari laptop. "Maka dari itu aku harus tetap giat bekerja. Lagipula ... " Biema mendongak memandang Paris yang juga sedang memandangnya. Bola mata Paris mengerjap. "Lagipula aku punya seorang istri yang harus aku biayai hidupnya. Jadi aku harus lebih rajin kedepannya."
Sial. Nih laki pintar banget bikin ge-er.
"Biayai apaan? Uang saku saja enggak ada. Aku bahkan dapat uang dari bunda," sungut Paris sambil memeluk bantal sofa.
"Kamu mau aku sendiri yang memberimu uang saku? Uang belanja?" tanya Biema.
"Tentu saja. Katanya kamu mau membiayai hidupku?" tantang Paris.
"Oke. Mulai sekarang, kamu bisa meminta padaku langsung jika butuh uang." Paris hanya mendengkus melihat Biema bersikeras menjadi suami yang baik.
Ya. Dia memang perlu menunjukkan pada Mela bahwa menjadi istrinya sungguhlah membahagiakan. Dia mau pamer, cibir Paris dalam hati.
Ponsel Biema berdering. Tangan Biema meraihnya dari atas meja.
"Halo, Ma." Rupanya itu mama Biema. Paris memindahkan matanya untuk melihat tv. Membiarkan Biema berbincang di telepon. "Iya ... kabar aku baik. Paris?" Mendengar namanya di sebut, Biema menoleh pada Paris. "Mama mau bicara sama Paris?" Bola mata melebar dan hendak kabur. "Dia ada di sampingku. Iya ...." Namun Biema sudah menyodorkan ponselnya pada gadis itu.
Dalam hati Paris mendecih. Namun akhirnya dia menerima sodoran ponsel dari Biema tanpa berkata-kata.
"Iya. Halo, Ma." Paris berusah berbicara secara wajar sebagai seorang menantu. "Aku dan Biema ... eh, kak Biema selalu sehat." Paris gugup. Buatnya tidak enak di dengar saja saat menyebut Biema yang berumur sama dengan Arga hanya dengan nama. Mendengar sebutan kak, Biema terkejut. Sebenarnya bukan hanya Biema yang terkejut, Paris sendiri dalam hati heboh bibirnya menyebut embel-embel 'kak' di depan nama Biema.
Bola mata Biema terus saja memandangi Paris yang tengah berbincang di telepon. Bibirnya tersenyum. Sepertinya dia tergelitik mendengar Paris menyebutnya kak Biema.