
Malam ini Paris bermain game playstation sendirian di sofa. Suara khas juicer terdengar menderu dari arah pantry. Rupanya Biema berada di sana sedang membuat jus. Tidak ada lagi selain jus favorit mereka berdua. Jus alpukat dengan susu cokelat yang melimpah. Juicer itu ******* alpukat mentega yang begitu enak sampai halus.
"Biem, enggak mau nemenin aku main game?" tawar Paris dengan wajah mengerut serius menatap layar. Dia tidak menoleh ke arah Biema. Karena dia harus fokus pada game final fantasy yang sedang di mainkannya.
"Kenapa enggak belajar? Bukannya besok waktunya kamu ujian." Biema mengingatkan sambil tetap menatap ke arah juicer dan kompor tanam di sebelahnya. Dia sedang membuat sesuatu selain jus.
"Belajar kok. Nanti. Kalau main game-nya sudah selesai," jawab Paris serius. Namun di telinga Biema, jelas ini jawaban asal-asalan. Pria itu menengok ke belakang dengan cepat. Memandang Paris yang sedang memasang wajah kekanak-kanakannya di depan layar, lalu menggelengkan kepala. Merasa itu tidak tepat.
Suara ceret air di atas kompor tanam berwarna hitam mengkilat terdengar. Entah apalagi yang di buat pria ini. Dia menuangkan air panas pada mug bergambar karakter anime kesukaannya, Portgas D. Ace.
Bersamaan dengan itu, suara juicer juga berhenti. Setelah menyelesaikan minuman pada mug tadi, Pria ini menuang jus ke dalam gelas yang sudah di lumuri susu kental manis rasa cokelat. Setelah itu, Biema membawa dua minuman berbeda itu ke depan sofa. Dimana Paris asyik bermain playstation.
"Minumanmu."
"Aku juga di buatkan jus?" tanya Paris menoleh sekilas. Dia tidak mau ketinggalan pertarungan karakter pilihannya.
"Bukan. Ini cokelat panas."
"Terima kasih. Taruh di atas meja," ujar Paris masih tanpa menoleh. Dia masih saja menggerakkan stik playstation hingga menimbulkan bunyi-bunyian dari alat yang di pegangnya. Biema meletakkan mug itu di atas meja.
"Kamu harus belajar dan segera tidur," nasehat Biema.
"Aku masih sibuk nih," bantah Paris.
"Kamu harus belajar jika ingin lulus, Paris." Biema mengulangi kalimatnya. Dia sedang memarahi Paris seperti pada adiknya, Sandra. Namun bukan dengan teriakan. Biema tidak mungkin melakukannya.
Kemudian pria ini duduk di ujung sofa. Namun karena sofa ini tidak terlalu panjang, hanya tiga seat dengan panjang yang tidak seberapa, Biema mampu menyentuh Paris dengan lengannya.
"Aku akan lulus, kok. Pasti. Aku seringkali beruntung." Paris mengatakannya dengan keyakinan yang tinggi.
"Karena keberuntungan?" Biema tergelak. "Jadi selama ini kamu tidak pernah belajar?"
"Aku hanya membaca buku sekilas." Paris mejawab dengan santai.
Biema menggelengkan kepala. "Jangan mengandalkan itu. Keberuntungan tidak selalu datang saat kita mau. Jadi bisa saja kamu tidak akan lulus sekolah karena tidak beruntung, Paris."
"Jangan mendoakan hal yang buruk padaku, dong," protes Paris.
"Tidak mungkin aku mendoakanmu dengan harapan-harapan yang tidak baik, tapi ... ini hanya sebuah nasehat. Bagaimana kedepannya nanti jika kamu tidak lulus SMA?" Biema mulai serius. Namun keseriusannya bertujuan lain. Itu semua karena 'puasa'-nya saja. Hanya karena itu. Bukan murni soal pendidikan.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak lulus?" tanya Paris tidak peduli. Biema menghela napas.
"Aku lulus atau enggak lulus, bukannya itu sama saja, Biem." Paris melanjutkan kalimatnya.
"Sama saja bagaimana maksud kamu?" tanya Biema heran. Dia menyeruput jus yang di pegangnya sambil sesekali lihat Paris dan permainan yang di gemari gadis ini.
"Entah lulus atau tidak, masa depanku adalah tetap menjadi istri kamu bukan? Memangnya kalau aku lulus nanti akan ganti suami? Enggak kan?" ujar Paris membiarkan game-nya sejenak karena menoleh pada Biema. Matanya menatap dengan hangat pada pria itu.
Di tatap Paris seperti itu, Biema terpaku. Sangat jarang sekali gadis SMA di depannya menatap seperti ini. Hingga membuat Biema tersihir.
"Aku akan tetap di sini untukmu. Bagaimanapun aku nantinya, aku akan tetap mendampingimu. Melayanimu sepenuh hati. Dimanapun kamu berada. Benar begitu, bukan?" Walaupun Paris mengatakan kalimat ini dengan gayanya yang santai, tapi sepertinya ia sungguh-sungguh saat mengatakannya. Kemudian Paris balik lagi lihat ke depan. Untung saja karakter dalam game-nya tidak binasa. "Walau aku enggak lulus sekolah sekalipun, kamu tetap mau sama aku kan?"
Biema makin tertegun mendengar kalimat-kalimat Paris. Namun sejurus kemudian, wajah Biema seketika berubah lebih cerah. Bibirnya tersenyum hangat. Lalu mengulurkan tangan, mengelus kepala gadis ini.
"Tentu saja. Itu memang benar. Walaupun kamu tidak lulus, kamu masih dan tetap menjadi istriku. Dan akan begitu selamanya." Paris menipiskan bibir. Ada rasa hangat di hatinya. Dia suka sekali saat tangan besar pria ini mengelus kepalanya dengan sayang. "Namun lebih baik istriku adalah gadis yang punya ijazah lulus SMA. Minimal itulah. Bukankah itu lebih keren?" ujar Biema sambil menatap Paris jenaka.
"Yahhhh ... Itu lebih keren, sih." Paris luluh dengan usapan itu. "Baiklah. Aku akan belajar. Meskipun aku sendiri tidak paham yang akan di pelajari apa. Yang penting aku akan membaca buku paket sesuai jadwal ujian," ujar Paris dengan menarik kedua alisnya ke atas. Tangannya menekan tombol off pada konsol playstation.
Plok! Biema menepuk tangannya sendiri. "Oke. Silakan ambil buku. Aku akan ke kamar dan kembali," ujar Biema beranjak berdiri.
"Kembali? Tunggu." Paris mencegah pria itu pergi. Biema berhenti.
"Ada apa?"
"Jadi kamu akan menemaniku belajar?" tanya Paris dengan matanya menyipit sebelah. Sepertinya tidak setuju dengan keputusan Biema.
"Ya." Biema justru menjawab dengan santai.
"Tidak. Aku tidak mau. Kamu tidak harus menemani aku," ujar Paris menolak. "Silakan kamu pergi tidur." Paris menjulurkan tangannya mengarah ke kamar Biema sendiri. Memersilakan pria ini untuk menuju kesana.
"Aku tidak akan tidur jika kamu tidak belajar." Biema menolak dengan tegas.
"Hei, kamu kok mirip bunda, sih. Maksa-maksanya persis pula." Paris komat-kamit mencibir Biema.
"Ini bukan memaksa. Aku kasih kamu support untuk belajar karena aku sayang sama kamu. Daripada sendirian, lebih baik aku temani kan?" Biema menjelaskan. Paris yang awalnya sedikit menunduk sambil menggerutu, kini mendongak mendengar kalimat pria ini.
Aku sayang kamu? Busyet. Kalimat itu membuatku panas dingin. Ah, Biema.
"Sudah. Mikir apa kamu. Sana ambil buku untuk di pelajari." Biema memberi perintah. Paris diam.
Tapi ... Kalau belajar di temani dia kan enggak enak. Siapa tahu dia bawel soal ini dan itu.