Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tamu untuk Biema



"Kamu tidak akan mengatakan aku mata-mata jika kamu tidak punya niat apa-apa selain menemuinya hanya sebagai sopan santun," kata Fikar menyimpulkan.


"Berhenti mencurigaiku." Biema sudah merapikan dasi dan setelan jasnya. Dia kini bersiap turun ke lantai bawah untuk menemui Mela.


"Aku pantas curiga, jika ini hubungannya dengan wanita itu. Bukannya kamu begitu terobsesi dengannya." Biema yang sudah melangkah mendekati pintu yang berada di belakang Desta, melirik. Sorot matanya tajam.


"Itu dulu."


"Kamu bisa katakan itu dengan mudah dengan mulutmu, tapi sorot matamu tidak," ujar Desta membukakan pintu untuk atasannya ini.


"Berhenti membaca gerak-gerikku. Jika ikut aku, tutup mulutmu sekarang juga," desis Fikar.


"Oke. Aku akan tutup mulut. Silakan ..." Fikar akhirnya menutup mulutnya dan mempersilakan Biema keluar.


Di lantai bawah, Mela tengah duduk di sofa tunggu. Dia terlihat begitu cantik dengan setelan blus dan rok di bawah lutut. Tampilan wanita mapan ada pada dirinya. Sepatu tinggi berwarna anggun, menambah bagusnya penampilan Mela.


"Dia masih cantik," gumam Fikar mendahului Biema. Tanpa di beritahupun, Biema tahu. Penampilan wanita itu semakin mempesona dan indah. Dalam hati Biema mengagumi tampilan wanita ini.


"Mela," panggil Biema pelan. Perempuan itu menoleh. Bibirnya tersenyum. Majalah fashion di pangkuannya di tutup. Lalu dia beranjak berdiri seraya memutar tubuh.


"Semoga kedatanganku tidak mengganggu waktu kerjamu," ucap Mela anggun.


"Tidak." Fikar melirik pada Biema. Seakan mencibir jawabannya. Dia pasti tahu bahwa tadi pria ini masih bekerja. Setelah mendengar bahwa Mela datang, dia segera berkemas untuk menemuinya.


"Benarkah? Syukurlah. Halo, Fikar," sapa Mela pada pria di samping Biema.


"Halo," jawab Fikar datar dan ramah tanpa mengurangi kesopanannya. Disini dia adalah bawahan Biema dan Mela adalah tamu Biema.


"Kalian masih tampak serasi." Mela memandang dua pria ini dengan tersenyum simpul. Ya. Karena mereka berdua begitu dekat dan akrab, julukan pasangan serasi menempel pada mereka saat bangku sekolah. Mereka bertiga adalah teman satu sekolah dulu.


"Ya. Biema tidak bisa lepas dariku," ujar Fikar berkelakar. Mela tergelak. Biema hanya menanggapi dengan lirikan.


"Ada perlu apa?" tanya Biema.


"Kamu langsung pada intinya ya?" Mela melihat Biema manis.


"Tentu saja Biema begitu. Karena sangat langka melihatmu muncul di sini." Fikar ikut bicara.


"Untuk sekarang mungkin iya, tapi dulu bukannya aku sering datang ke perusahaan keluargamu ini ...." kata Mela sambil mengedarkan pandangannya ke lobby.


Wanita ini memang sempat sering muncul di sini. Pikiran Biema sempat kembali ke masa itu. Masa dia bersama Mela. Dulu.


"Aku berniat mengajakmu sarapan pagi tadi. Ternyata kamu ada keperluan lain. Apakah karena kamu sedang bersama soulmate-mu ini?" tunjuk Mela pada Fikar sambil tersenyum jenaka.


Biema hanya tersenyum tipis. Dia tidak menjawab iya atau tidak. Fikar sedikit bingung. Hanya saja dia berusaha mengikuti alur cerita yang di buat Biema.


"Kamu mau makan siang denganku?" tawar Mela. Fikar melirik ke arah temannya. Dia menunggu respon Biema yang terkesan sangat lambat. Seperti masih perlu berpikir panjang.


"Fikar juga akan makan siang denganku," ujar Biema yang membuat Fikar terperanjat kaget. Siang ini dia tidak jadwal ada jadwal makan siang bersama. Makanya saat Biema mengatakan itu, Fikar mengkerjap-kerjapkan matanya karena heran. Dua kali dia di buat heran dan bingung oleh kalimat-kalimat yang di utarakan Biema.


"Fikar bisa ikut makan siang bersama kita. Karena aku juga akan membicarakan sebuah pekerjaan." Mela melihat ke arah Fikar.


Kali ini Biema menoleh pada Fikar. Wajah pria itu masih di sertai oleh sebuah senyum.


"Baiklah jika Fikar bisa ikut." Biema setuju.


"Aku membawa mobil sendiri. Kita bisa bertemu di cafe Sherlock." Mela memberitahu tempat mereka makan siang.


"Baiklah."


"Oke Mela." Fikar melambaikan tangan pada wanita itu dengan ceria. "Dia tetap anggun. Siapa yang pada akhirnya akan jadi pendampingnya yah?" Fikar sebenarnya sedang mengajak Biema berdiskusi, tapi pria di sebelahnya justru terdiam dengan mata terus saja memandang punggung wanita itu. Hingga wanita itu lenyap di pintu keluar perusahaan.


Fikar mengamati Biema dengan seksama.


"Kenapa?" tanya Fikar.


Biema menoleh pada Fikar. "Apa? Kamu sedang tanya apa?"


"Kenapa terus saja melihat Mela seperti itu?"


"Apa maksudmu? Ayo kita segera berangkat ke tempat Mela." Biema mengajak Fikar menuju pelataran parkir karyawan yang terletak di belakang.


"Tatapan itu masih sama. Tetap 'seperti itu'." Fikar menyimpulkan sambil mengikuti atasannya.


"Tatapan apa?"


"Tatapan yang berbinar-binar jika melihat Mela."


"Dia cantik. Bukan aku saja yang mengatakan itu. Kamu juga. Tatapanku adalah bahasa universal seorang laki-laki memandang wanita cantik."


"Kamu pintar menjawab Biema," puji Fikar sambil tergelak.


"Jangan memuji jika kamu bertujuan mencibir kalimat seseorang." Biema tahu pujian Fikar bertujuan mengejeknya. Tawa Fikar semakin kencang, hingga membuat para pegawai yang melintas heran.


"Aku ketahuan." Tawa Fikar mulai mereda. "Aku memang sedang mencibirmu. Bahasa universal kamu bilang? Yang benar saja. Itu hanya alasanmu saja." Biema tidak merespon. Akhirnya mereka sampai di pelataran parkir. Fikar yang memegang kontak mobil berjalan mendahului Biema mendekat ke mobil.


Setelah pintu sudah tidak terkunci, Biema membuka pintu belakang dan masuk. Sementara Fikar berada di depan untuk mengemudi. Mesin mobil menyala. Fikar mengarahkan roda mobil untuk keluar dari perusahaan.


"Bagi orang lain mungkin tatapanmu pada Mela adalah bahasa universal seorang pria yang sedang melihat wanita cantik. Namun bagiku tidak. Tatapan itu adalah tatapan pria yang penuh dengan cinta." Fikar masih membahas soal tatapan Biema pada Mela tadi.


"Kamu tidak lelah membahas soal itu."


"Jangan mengalihkan obrolan ke hal lain. Kau tahu kamu tidak bisa menjawabku," ujar Fikar sambil memainkan kedua alisnya. Merasa menang bisa memojokkan teman dan atasannya yang kadang terlihat angkuh itu.


Biema menghela napas melihat Fikar gigih ingin membuat dirinya bungkam tidak bisa berkata-kata. Dari pantulan kaca di atas kemudi, dia tahu saat ini Fikr sedang melayang tinggi merasa menang.


"Itu memang benar. Aku dan Mela masih menjadi teman yang baik. Lalu kenapa aku harus menatap dia dengan tatapan aneh. Bahkan tatapan yang menunjukkan aku membencinya. Aku memang harus menunjukkan kalau kita adalah sahabat dari kecil yang penuh cinta dan kasih sayang." Jawaban Biema jelas membuat Fikar berdecih. Pria ini licin sekali menjawab pertanyaannya yang menjebak.


"Salut kamu tetap bisa memberi penjelasan soal tuduhanku tadi."


"Jika tadi, aku menolak pujianmu. Sekarang aku menerima pujian darimu. Karena sepertinya sekarang benar-benar dari lubuk hatimu yang paling dalam." Biema tersenyum tipis menunjukkan kemenangannya.