Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tidak terduga



Biema yang menoleh ke arah pintu karena ingin tahu siapa itu, melebarkan mata samar saat tahu ada Paris di ambang pintu.


"Selamat siang, Biema. Aku datang," ujar Paris terdengar formal. Namun bukan tujuan gadis ini untuk merencanakannya. Kalimat itu keluar begitu saja lewat bibirnya. Kemungkinan Paris terlalu gugup untuk menghadapi Biema setelah sadar bahwa dirinya mencintai laki-laki itu. Jadi kalimat saat dia bicara terdengar kaku.


Dia berusaha tampak tangguh dengan muncul di depan pintu kantor Biema. Padahal di dalam hatinya dia begitu kacau. Tidak tenang.


Waktu seakan berhenti. Kedua mata mereka bersirobok. Biema dan Paris saling memandang. Memaku dan mengunci keduanya hingga beberapa detik.


Ini pertama kalinya dia bisa melihat wajah pria itu setelah tidak bertemu dengannya dua hari. Ya. Cukup dua hari saja di abaikan Biema, Paris sudah kacau balau.


Gadis ini menelan ludah dengan mengepalkan tangannya. Dia berusaha tidak menangis. Bukan sedih, tapi bahagia. Bahagia sudah bisa melihat wajah pria yang di rindukannya.


Fikar yang masih di tempatnya berdiri, melirik mereka berdua. "Apa Paris boleh masuk, Biem?" tanya Fikar. Sengaja memecah kesunyian diantara mereka. Jika tidak, mereka akan tetap seperti itu.


"Ya," sahut Biema yang langsung membuang muka ke arah lain.


"Masuklah, Paris." Fikar mempersilakan. Kepala gadis ini mengangguk. Kemudian melangkah masuk. Duduk di sofa, dekat tumpukan pekerjaan Fikar.


Fikar mendekati meja. "Aku singkirkan dulu pekerjaanku. Permisi."


"Ah, iya." Paris setuju. Fikar menggeser tumpukan itu agar Paris nyaman.


"Sepertinya aku harus pergi dulu. Silakan mengobrol." Fikar yang tahu diri segera ingin pergi keluar ruangan. Dia tidak ingin terjebak dalam kerumitan obrolan mereka. Namun tidak di sangka, dari balik pintu yang tidak di tutup itu, Mela muncul di ambang pintu.


"Halo, aku datang," sapa Mela tanpa tahu situasi sekarang. Mereka bertiga menoleh serempak ke arah Mela.


Mela! teriak Paris dalam hati. Fikar yang sudah dekat dengan pintu membeliak.


Kenapa Mela datang sekarang? Fikar panik di dalam hati.


"Halo, Fikar," sapa Mela pada Fikar yang pertama di lihatnya.


Kamu tidak tahu situasi, Mela. Kenapa muncul sekarang? Fikar berbicara dengan ekspresinya. Mela hanya melihat saja tanpa mengerti maksud Fikar.


"Kamu datang Mela." Biema menyambut kedatangan wanita dengan sikap sedikit antusias. Berbeda dengan saat kemunculan Paris di awal.


"Ya," sahut Mela mengabaikan Fikar yang berdiri di depannya dengan ekspresi tidak di mengertinya. Lalu berjalan maju dan mendapati Paris di sana. "Kamu di sini Paris?" tanya Mela.


"Ya," sahut Paris datar. Kenapa wanita ini malah muncul di saat aku sudah bersemangat untuk menghakimi pria itu.


Duh! Ini tidak tepat. Mereka tidak jadi berbaikan kalau ada orang lain di sini. Fikar menghela napas dan berbalik. Tidak jadi keluar ruangan demi membuat mereka berbaikan. Jika Mela muncul di sini, dia juga harus menetap.


"Apa ada acara khusus kalian bertiga kumpul?" Mela duduk di samping Paris dengan wajah tidak tahu.


"Bukankah kamu sering melihat kita bertiga?" Fikar ikut bicara. "Lagipula Paris istri Biema. Jadi hal wajar jika ada Biema, ada Paris."


Bagus Fikar, teriak Paris senang. Paris seakan perlu berucap terima kasih pada Fikar karena sudah menegaskan bahwa hubungan dia dan Biema adalah suami istri. Sekarang, ternyata aku bahagia mendengar kata suami istri. Paris tersenyum samar.


"Iya. Aku lupa itu." Mela tersenyum. Meskipun Paris bahagia mendengar pembelaan Fikar, dia masih tidak bersemangat. Momen tepat yang tadi sudah di berikan oleh Fikar kini pupus. "Gimana? Aku bisa melihat produk baru itu?"


"Ya. Kita bisa memulai pekerjaan," ujar Biema. Mela tersenyum mengangguk. Pria itu berkata pada Mela seakan tidak menyadari keberadaan Paris di sana. Paris terabaikan. Kening Paris mengernyit. Fikar sudah merasakan ketidaktepatan pada sikap yang di pilih Biema.


"Tunggu," cegah Paris. Mela yang di samping Paris menoleh heran. Tidak banyak pergerakan yang di lakukan Biema. Pria itu hanya menaikkan pandangan. Memindah sedikit fokus dari kertas di atas meja, menjadi ke arah Paris. Fikar tidak menoleh. Dia hanya menghela napas. "Biema. Apa aku keliru, jika berpikir sekarang kamu sedang mengabaikanku?" tanya Paris sambil perlahan berdiri.


Biema menatap lurus. Mela mengerjapkan mata bingung. Fikar akhirnya menoleh pada Paris. Melihat sorot mata Paris yang kesal. Lalu berganti melihat ke Biema. Pria itu masih diam.


"Aku sengaja datang kesini untuk menemuimu. Namun tidak ada respon darimu. Berbeda dengan Mela. Kamu justru langsung menyambut dia yang baru saja datang. Apakah itu benar?" Paris tanpa segan menunjuk Mela di sebelahnya. Mela yang sudah bingung, kini semakin terkejut dengan pencatutan namanya dalam kalimat Paris. Dia yang datang kesini karena suatu pekerjaan, tidak menduga ikut terseret dalam perbincangan panas antara mereka.


"Kamu datang tidak tepat. Saat aku bekerja. Saat aku sedang sibuk. Menurutku itu wajar," jawab Biema datar. Fikar berdecak di dalam hati. Paris tertegun mendengar itu. Sorot mata tajam dan dingin Biema menusuk hatinya.


"Oke, maaf. Namun tidak adakah kata-kata singkat untukku yang sudah datang ke sini?" Paris seakan memohon.


"Aku sudah mempersilakanmu masuk, lalu apa?" tanya Biema yang sangat mengejutkan. Mela sampai membeliakkan mata sekilas dan menatap Paris. Dia tidak tahu permasalahannya, tapi dia tahu mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik. Fikar ikut syok mendengarnya.


"Jadi kamu tidak peduli soal kedatanganku?"


"Bukan kewajibanku untuk memulai pembicaraan denganmu. Kamu sendiri yang memutuskan untuk kesini sekarang. Jadi kamu tidak bisa memaksaku untuk bicara saat aku sibuk." Fikar tahu Biema kadang begitu dingin, tapi saat ini yang di hadapinya adalah Paris. Gadis yang resmi berstatus istrinya. Kalimat dingin barusan terasa sangat kasar.


Mela saja sampai menutup bibirnya karena tidak menyangka kalimat itu bisa keluar dari bibir Biema yang sangat ia kenal lembut. Jika kedua orang yang tidak ada hubungannya saja terkejut, bagaimana dengan orang yang bersangkutan? Mereka berdua menoleh pada Paris walau sebenarnya tidak tega.


"Begitu ...." Fikar berpikir Paris akan meledak-ledak karena marah. Namun di luar dugaan, gadis itu justru melunak. Dia tidak terpancing dengan sikap Biema. "Jadi menurutmu aku yang perlu bicara padamu lebih dulu karena aku yang ingin menemuimu?" tanya Paris dengan nada bicara yang sudah berbeda dengan tadi.


Fikar mengamati. Sepertinya gadis itu bukan melunak. Dia hanya memberi jeda pada dirinya sendiri untuk mengambil lompatan lebih tinggi selanjutnya.


Sepertinya Paris bersiap untuk perang besar. Dia kesini bukan hanya untuk kalah. Dia sudah datang dengan rencana yang matang.


"Oke. Aku akan bicara." Kepala Paris menoleh pada Mela. "Mela, bisakah kamu pergi dari ruangan ini sekarang juga?" pinta Paris yang begitu mengejutkan.


"Aku?" tanya Mela dengan wajah terpinga-pinga.


"Ya. Kamu. Di sini nama Mela jelas hanya kamu. Dan yang aku tahu Mela yang pernah di cintai oleh Biema adalah kamu." Pada saat Paris mengatakan ini, sontak Biema terusik. "Jadi aku tidak mungkin menyuruh orang lain selain kamu." Paris terus menerus memberi kejutan dalam kalimatnya. Biema sampai terperangah. Tidak hanya Biema, kedua orang di sana terkejut.


Paris dalam mode perang sekarang.