
Biema membuka mata perlahan.
"Paris ...," ucap Biema terkejut. "Kamu menangis?" Dia tidak menduga bahwa Paris berurai air mata. Tangannya mengusap air mata istrinya. Kepala menggeleng. Meskipun benar air matanya mengalir, tapi Paris tidak bisa menyebutnya menangis. "Maaf aku melakukannya. Aku ingkar janji untuk tidak menyentuhmu." Pria ini tampak menyesal.
"Tidak apa-apa," jawab Paris yang ia sendiri kebingungan mengapa menjawab demikian. Biema kemudian mengecup bibir dan keningnya sekaligus. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping dirinya. Paris menggigit bibir pelan. Sesaat tadi ia seperti sedang bermimpi. Sedang apa ia barusan?
"Benarkah tidak apa-apa?" tanya Biema lagi sambil menengok ke samping. Paris mengangguk pelan.
Pria itu duduk dan menarik selimut di bawah kaki mereka. Membungkus tubuh dirinya dan Paris yang masih polos tanpa apapun.
"Biem ..," ucap Paris pelan. Biema menoleh.
"Ada apa? Kamu ingin minum?" tanya Biema perhatian. Paris berkedip. Tidak menduga mendapat pertanyaan itu.
"Ya," jawabnya cepat. Jawaban yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya sekarang. Namun entah kenapa Paris mengiyakannya.
"Sebentar." Biema menyibak selimut. Paris terkejut melihat tubuh polos Biema. Pria ini mengambil boxer yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Lalu berdiri dan memakainya. kemudian berjalan keluar kamar dengan hanya memakai boxer saja. Paris menelan ludah. Ia yang sedang menoleh ke samping melihat itu semua.
Meskipun sudah terlanjur melihat, Paris masih menyempatkan diri membuang muka ke arah lain. Tangannya bergerak mengusap wajahnya berulang kali. Menatap langit-langit kamar Biema dengan pikiran bermacam-macam.
Tidak lama kemudian Biema masuk lagi ke dalam kamar, sambil membawa minuman untuk Paris di tangannya. Karena tahu pria itu hanya memakai dalaman boxer, Paris tidak segera menoleh.
"Duduklah," pinta Biema. Barus setelah ada perintah ini, Paris bangkit perlahan karena merasa masih ada rasa sakit di bawah sana. Matanya mendelik menyadari bahwa tubuhnya telanjang. Tangannya dengan sigap menarik selimut guna menutupi tubuhnya. Dia panik. "Ini, minumlah," ujar Biema menyodorkan minumannya. Sementara Paris yang masih terkejut melihat dirinya telanjang melihat ke arah Biema cepat dengan wajah tegang. Gadis ini tidak mengambil gelas berisi air di tangannya. "Ada apa? Kamu haus bukan?" tanya Biema heran.
"Biem, barusan kita ngapain?" tanya Paris seakan bangun dari mimpi. Masih. Gadis ini masih seperti tidak menyadari apa yang sudah terjadi barusan.
"Minumlah, kamu pasti kehausan," pinta Biema. Paris menurut dan mengambil gelas berisi air di genggaman Biema. Meminumnya perlahan dengan pikiran tangannya sibuk menahan selimut agar tidak jatuh.
Tangan Biema terulur menyentuh kepala Paris dan mengelusnya. Setelah merasa kerongkongannya sudah basah, Paris menyerahkan kembali gelas itu pada Biema. Pria ini menerima sodoran itu dan meletakkannya di atas nakas.
"Apa yang terjadi barusan?" tanya Paris lagi. Meskipun tadi perhatiannya sudah teralihkan oleh air minum, tapi dia tidak lupa untuk bertanya lagi.
"Kita melakukannya," ujar Biema lembut.
"Kita melakukannya?" tanya Paris lagi. Terlihat di wajahnya dia heran, terkejut dan tidak percaya.
"Ya. Kita melakukannya. Malam pertama kita," bisik Biema membuat telinga Paris memerah. Dia yang tadi menerka-nerka apa yang sudah terjadi barusan, mendadak malu setengah mati saat Biema memperjelas apa yang mereka lakukan barusan.
"A-aku akan kembali ke kamarku," ujar Paris tiba-tiba. Tubuhnya hendak bangkit dengan tangan begitu erat memeluk selimut.
"Tunggu. Kenapa?" tanya Biema menahan tubuh Paris untuk berdiri. Hingga gadis ini kembali duduk di ranjang seperti tadi.
"Emm ... Aku tidak tahu, tapi aku memang harus kembali ke sana," sahut Paris kebingungan menjawab. Bola matanya bergerak ke sana kemari ingin menghindar dari tatapan Biema. Terdengar helaan napas pelan dari pria ini.
"Kamu marah?" tanya Biema seraya mendekatkan tubuhnya pada gadis ini lirih. Ada rasa sakit dan kecewa yang tersirat dari suaranya. Lalu memegang dagu Paris dan memaksanya menoleh kepadanya. Paris terpaksa menatap Biema. "Kamu marah karena aku ingkar janji dan melakukannya sekarang?" tanya Biema menatapnya hangat. Paris diam dengan bola matanya bergetar. "Maaf. Aku minta maaf Paris. Aku ...."
"Lalu?" kejar Biema. Dia harus mendapat jawabannya sekarang. Rasa janggal yang tidak nyaman ini harus lenyap.
"Aku ... Aku ... malu," ungkap Paris akhirnya. Biema mengerjap. Tidak menduga itu adalah jawaban Paris. Sejurus kemudian pria ini memeluknya.
"Maafkan aku," kata Biema terdengar begitu lega.
"Aku enggak marah," sahut Paris lagi.
"Meskipun kamu enggak marah, aku harus minta maaf. Aku sudah ingkar. Aku kalah oleh keinginanku sendiri." Biema semakin memeluk erat tubuh istrinya. Paris diam dan membalas pelukan itu kemudian.
Andai kata ada yang bertanya, apa kamu terkejut? Jelas jawaban Paris adalah iya. Bahkan dirinya sempat kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya baginya.
Akhirnya Paris urung kembali ke kamarnya. Biema meminta dia tidur. Paris menurut. Dengan usapan lembut di kepala Paris, dia akhirnya terlelap. Karena lelah Biema tertidur kemudian sambil memeluk tubuh Paris.
Paris merasa aneh pagi ini. Dia merasa tubuhnya sakit semua. Terutama di pinggang. Apalagi tubuh bagian bawahnya. Sesekali ia mendesis pelan merasa perih. Matanya memejam sebentar lalu menggeleng keras.
"Akhh ... pikiran ini tidak bisa jernih. Ingatan semalam selalu terlintas," ujar Paris geregetan. Dirinya terlihat masih syok memikirkan kejadian tadi malam. Tidak menyangka dan tidak menduga malam itu dengan cepat akan di laluinya.
Mungkin ini terbilang terlambat bagi pasangan yang sudah menikah, tapi bagi dirinya ini terasa begitu cepat. Bahkan itu terjadi sebelum dia lulus sekolah. Sangat di luar dugaan. Paris menggelengkan kepala berulang kali.
"Ughh..." Paris mendesis gwramdi depan meja dapur. Mendadak sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Bukan lagi pelukan mengambang seperti biasanya. Kali ini pelukan itu benar-benar erat melingkar di perutnya. Paris terkesiap dan menoleh ke samping.
"Selamat pagi Paris," sapa Biema sambil menyusupkan ciuman lembut di pundaknya. Paris memejamkan mata sejenak. "Aku pikir kamu kembali ke kamarmu," lanjut pria ini. Paris mulai membuka mata. Menggeleng pelan menjawab pertanyaan Biema.
"Tidak." Biema mencium pucuk kepala Paris. Kemudian merunduk menyandarkan kepala pada bahunya. Menikmati aroma tubuh gadis yang kini menjadi seorang wanita seutuhnya untuknya. Aroma tubuh yang campur baur menjadi satu dengan aroma miliknya. "Bukannya kamu harus berangkat kerja hari ini?" tanya Paris sambil membiarkan pria ini
melakukan itu.
"Aku seperti tidak ingin berangkat kerja."
"Tidak bisa. Semua pasti akan mencarimu. Terutama Fikar."
"Benar. Pria itu sudah sejak tadi pagi membunyikan ponselku," ujar Biema sambil mendengus lucu. Tiba-tiba Paris mendesis sakit membuat Biema melepas pelukannya karena terkejut. "Paris. Kamu kenapa?" tanya Biema dengan wajah cemas.
"Pinggangku sakit," ujar Paris meringis.
"Sakit?" tanya Biema sambil mengelus pinggang Paris. Dia mengangguk. "Ayo duduk," ajak Biema membimbing gadis ini duduk di kursi makan. Karena merasa tidak kuat duduk dengan tegak, Paris menyandarkan kepalanya di atas meja hingga tubuhnya merunduk. Biema dengan telaten mengelus dan memijitnya perlahan.