
"Tidak."
"Jika tidak, biarkan aku menyelesaikannya. Atau kamu enggak masalah jika berstatus enggak lulus?” cecar Arga heran. Karena gadis ini terlihat enggan.
"Bukan. Tunggu aku bicara pada Biema dulu nanti. Mungkin dia bisa mendengarkan aku setelah bisa menyelesaikan masalah di kantor cabang. Dia janji akan pulang malam ini. Setelah itu aku akan bicara dengan Kak Arga lagi. Sekarang Kakak bisa mengantarkan aku pulang. Mungkin Biema sebentar lagi akan sampai. Aku harus berada di rumah saat dia pulang," ujar Paris.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang setelah mengantar Asha ke rumah sakit." Arga setuju. Paris menyeruput lagi minuman dinginnya yang tinggal sedikit. Arga melihat piring istrinya masih penuh.
Setelah semua sudah menyelesaikan makanannya, Arga memboyong istrinya kembali ke rumah sakit. Lalu mengantar adiknya ke apartemen. Gadis ini masih tidak banyak bicara. Ia masih tenang sembari melihat ke luar jendela.
"Jadi Biema belum tahu sama sekali soal kamu di keluarkan dari sekolah ini?" tanya Arga di dalam mobil.
"Belum. Aku menunggu dia pulang dulu dari sana. Aku tidak bisa cerita karena takut fokusnya menangani masalah di kantor terpecah karena aku. Itu bukan hal baik aku rasa."
Arga menoleh ke samping. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Arga khawatir.
"Tidak ada yang baik-baik saja saat dirinya di keluarkan dari sekolah. Bahkan saat sedang mengerjakan ujian negara. Begitu juga aku. Namun aku tentu masih bisa bertahan menerima keputusan itu." Arga mengulurkan tangan mengusap kepala adiknya.
"Aku yakin Biema bisa menyelesaikannya. Jika tidak, aku yang akan maju. Jangan bersikap angkuh tidak mau di tolong kalau memang butuh pertolongan. Aku ini kakakmu. Jangan hanya terbuka pada Asha saja. Aku jadi iri melihatnya," ungkap Arga seraya memicingkan mata. Paris melirik ke samping lalu mencibirkan bibirnya.
Mobil Arga sampai di depan halaman apartemen. Paris turun dari mobil. Namun dia terkejut saat kakaknya ikut turun dari mobil. "Eh, kakak mau kemana?”
"Nganterin kamu masuk," sahut Arga.
"Enggak perlu. Aku bisa masuk sendiri." Paris mengibaskan tangannya. Menolak ide Arga yang akan mengantarkannya sampai ke dalam.
"Ya sudah masuklah. Aku akan melihatmu dari sini," kata Arga tidak jadi ikut masuk.
"Aku masuk. Terima kasih sudah nganterin aku," pamit Paris.
"Ya." Langkah gadis ini berjalan menyusuri lantai gedung apartemen di temani sorot mata Arga yang masih berdiri sambil memperhatikannya dari belakang. Setelah gadis itu tidak terlihat dari luar, Arga mengambil ponsel di saku kemejanya. Menekan papan tuts dan menunggu nada dering berbunyi. "Halo Rendra. Aku punya tugas untukmu." Arga berbicara sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
Paris belum bisa tidur saat Biema masih belum muncul. Tubuhnya bergerak ke sana kemari karena gelisah di dekat sofa. Pria itu tidak memberi kabar selanjutnya. Paris cemas. Tangannya bersedekap. Memeluk dirinya sendiri yang ingin terus bergerak karena rasa cemas dan khawatir mendera.
Berkali-kali kepalanya melongok ke arah pintu. Mungkin saja dia tidak mendengar saat pria itu sudah muncul dari sana. Namun itu hanya khayalannya saja. Pintu masih sepi, tidak ada tanda-tanda akan ada orang datang.
"Aku tidak sabar. Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus meneleponnya," ujar Paris mengambil keputusan segera. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel di atas meja belajar. Saat akan menekan papan panel ponsel dengan tipe super amoled, ada telepon masuk. Itu Biema. "Halo Biema," sapa Paris menggebu.
"Leganya bisa mendengar suaramu, Paris ...," ujar suara Biema di seberang. Bibir Paris tersenyum tanpa suara. Tubuh Paris yang semula tegang kini terasa ringan. Dia duduk di atas ranjang.
"Aku harap kamu tidak marah, Paris." Suara Biema terdengar khawatir di sana.
"Marah? Marah soal apa?" tanya Paris bingung. Ada firasat tidak baik. Namun dia tidak mau menerka-nerka.
"Masalah disini belum selesai. Aku masih harus menyelesaikannya. Aku belum bisa pulang malam ini." Biema mengatakannya dengan takut. Raut wajah senang mendengar suara Biema tadi hilang. Paris terpaku mendengar kalimat pria ini. "Aku tidak bisa memenuhi janji untuk segera pulang." Biema benar-benar merasa bersalah. Ini pertama kalinya dia jauh dari Paris dan tidak berada di rumah saat larut malam. "Paris ...," tegur Biema karena suara di seberang hening.
Setelah berhasil menelan ludah dan menetralkan perasaan sedihnya, Paris bicara, "Ya. Aku masih disini. Tidak apa-apa. Kamu bisa pulang besok setelah masalah selesai." Tangannya menggenggam ponsel itu kuat-kuat.
"Aku yakin kamu pasti kesal aku tidak menepati janji. Kamu pasti menungguku." Biema mengatakannya dengan nada sedih yang kentara.
"Ya. Sekarang aku sedang menunggumu pulang. Aku memang kesal, tapi aku bukan orang bodoh yang memaksamu untuk segera pulang sementara masalah belum tuntas di sana. Aku mengerti," ujar Paris mengaku. Dia tidak berbohong soal dirinya sedang menunggu dan kesal karena Biema tidak jadi pulang. Namun soal dia mengerti, itu bohong. Dia tidak benar-benar mengerti.
"Aku jadi ingin memelukmu," ujar Biema yang membuat Paris menelan ludah lagi. Menahan rasa tercekat di tenggorokan karena saat ini ia ingin menangis. Ia yang sedang butuh sharing soal masalah di sekolah, jadi begitu sedih tatkala pria yang di nantinya berhalangan pulang karena masalah belum rampung. Tangannya semakin erat menggenggam. Matanya nanar.
"Ini sudah malam. Lebih baik kita tidur saja." Paris mengambil inisiatif mengakhiri pembicaraan. Dia tidak ingin air matanya jatuh saat masih bicara dengan Biema.
"Oh, iya. Kamu besok masih ujian, kan?"
"Ah ... ya," jawab Paris sedikit tersendat saat Biema membahas ujian sekolah.
"Padahal aku masih ingin bicara banyak padamu, tapi memang kamu seharusnya tidur untuk beristirahat. Jadi besok bisa mengikuti ujian dengan otak yang fresh. Aku akan minta tolong sopir rumah mama menjemputmu."
"T-tidak perlu. Aku akan berangkat sendiri," tolak Paris terburu-buru. Hingga dia terbata-bata saat mengatakannya.
"Jangan Paris. Biar Sandra sekalian menjemputmu. Kalian bisa berangkat bersama."
"Baiklah." Paris tidak bisa membantah.
"Kalau begitu selamat beristirahat Paris. Sekali lagi maaf, aku enggak ada di rumah malam ini."
"Aku bisa maafkan, karena ini soal pekerjaan. Namun tidak jika itu urusan lain," desis Paris. Berusaha bercanda dengan air mata yang sudah berada di ujung mata.
Dari suara yang di dengar Paris dari ponsel yang ia pegang, Biema terdengar sedang tergelak pelan mendengar ucapannya. "Aku paham. Aku mengerti. Aku tidak akan macam-macam. Terima kasih Paris ... Selamat tidur. Mimpi yang indah tentang kita ..."
”Ya," sahut Paris lirih. Biema menutup sambungan teleponnya. Bersamaan dengan itu, air mata Paris langsung meleleh seketika. Ia tidak lagi menahan diri. Kepalanya menunduk dengan gigi menggigit bibir bawah. Paris mennagis.
Gadis ini begitu sedih. Padahal dia sangat ingin bertemu dengan Biema. Menceritakan segala yang di alaminya di sekolah tadi. Namun keadaan berkata lain. Dia masih tidak bisa bertemu dengan pria itu sampai sekarang.