Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Bertemu lagi



Dengan di temani oleh Sandra, Paris menuju ke ruang guru. Demi mengikuti gadis ini, Sandra menyamakan waktu penyelesaian ujiannya. Setelah melihat Paris berdiri dan menyerahkan lembar jawaban komputer ke pengawas, dia juga segera berdiri dan ikut mengumpulkan kertas ujian. Sebenarnya dia sudah selesai mengerjakan semuanya tadi. Dia hanya menunggu gadis itu selesai dan mengikutinya.


"Sebenarnya ada apa, kamu di panggil di ruang guru?" tanya Sandra segera setelah keluar dari kelas. Paris yang keluar ruang ujian langsung mengecek notifikasi di ponselnya, menengok ke belakang.


"Aku enggak tahu. Sama sekali." Masih terlihat di wajahnya rasa terkejut karena di panggil tadi.


"Kelihatan penting banget sampai harus memotong waktu pengawas untuk melakukan tugasnya. Soal manggil kamu kan bisa nanti saja setelah usai ujian. Hari ini ada dua mata pelajaran yang di ujikan bukan? Mereka bisa kasih tahu kamu untuk ke sana siang nanti. Kalau enggak, ya nunggu jam istirahatlah ... Ini justru di saat pertengahan ikut ujian. Mungkin kalau kamu tadi sudah selesai, mereka memaksamu untuk segera ke ruang guru. Pasti ini adalah sesuatu yang penting." Sandra membuat hipotesa.


Paris mengangkat bahu. "Aku tidak punya dugaan apa-apa soal aku yang di panggil ini. Otakku kosong tentang ini. Nol." Paris melebarkan mata betapa dia juga tidak paham ada apa. Degup jantung Paris terus saja berdetak kencang. Rasa gelisah dan was-was kian membesar.


Kamu enggak apa-apa, Biem? tanya Paris mengkawatirkan pria itu. Tidak ada pesan atau panggilan tidak terjawab dari pria itu di ponselnya.


Melihat Sandra yang tidak membicarakan keluarganya, berarti tidak ada hubungan dengan Biema. Namun apa pria itu aman?


"Tidak ada telepon dari Biema atau mama?" tanya Paris.


"Enggak. Kenapa malah tanya kak Biema?" Sandra heran.


"Mungkin saja ada berita dari Biema atau keluarga mama. Jadi aku di panggil ke kantor." Setelah mengatakan itu, Paris baru sasldar akan sesuatu.


Tidak. Kalau memang ada apa-apa, bukan aku yang akan di hubungi. Melainkan Sandra sebagai keluarganya. Karena di mata orang-orang, aku belum menjadi bagian keluarga mereka. Di depan banyak orang, Biema bukanlah sebagai suami ku.


"Abaikan," ujar Paris saat melihat Sandra mengerutkan kening. Namun gadis itu tetap coba memeriksa notifikasi pesan di ponselnya.


"Sudah aku cek. Tidak ada." Sandra memberitahu.


Bagaimana keluarganya sendiri? Paris melihat ponselnya lagi. Tidak ada panggilan tidak terjawab dari siapa-siapa. Berarti juga bukan tentang keluarga bundanya.


Langkah mereka sampai di depan pintu ruang guru.


"Akhirnya sampai. Dari sini aku enggak bisa ikut kamu masuk. Jadi ini terakhir aku bisa mengantarmu. Kamu bisa segera masuk ke ruang guru." Sandra memberi salam perpisahan sementara.


"Ya." Sebelum masuk, Paris menghela napas panjanv dulu. Kemudian masuk ke ruang guru. Sepi. Hanya dua gelintir guru pembimbing dan orang TU.


"Ada apa?" tanya seorang guru wanita saat melihat Paris menoleh ke kanan dan kiri.


"Saya di suruh ke ruang guru oleh guru pengawas di kelas 2c," ujar Paris mengatakan maksud kedatangannya keruangan ini.


"Nama kamu siapa?"


"Paris Hendarto." Mendengar nama Paris, kedua alis ibu guru ini terangkat. Seperti sedikit terkejut. Paris berusaha mencari arti dari ketekejutan guru di depannya. Kenapa begitu terkejut? Itu aneh.


"Pak! Ini anaknya Bu Aya yang itu, ya?" tanya ibu guru ini pada orang TU yang sedang sibuk di depan komputernya. Bapak itu menengok ke belakang. Mencoba melihat Paris dari balik kacamatanya.


"Nama kamu siapa?"


"Paris, Pak," ulang Paris.


"Hmmm ... Ya, ya. Mungkin benar. Yang itu. Anak didik Bu Aya. Kalau wajahnya saya ndak hapal, Bu. Kalau namanya benar. Namanya Paris Hendarto. Begitu yang tertulis." Orang TU itu meletakkan kacamatanya kembali dengan tepat. Lalu ibu guru di depan Paris, kembali melihat ke arahnya. Setelah tadi menengok ke belakang mendengarkan orang TU bicara.


Ada apa? Soal apa?


"Baik, Bu." Paris mengangguk. Kemudian berjalan menuju ruang wakil kepala sekolah.


Wakil kepala sekolah? Paris merasa sekujur tubuhnya gatal-gatal. Dia merasa tidak senang.


Apalagi samar-samar mendengar perbincangan guru-guru di belakangnya.


"Dia kan anak yang katanya itu ya, Bu?" tanya ibu guru di depan Paris tadi, pada guru lain yang baru mendekat dan melihat Paris yang mulai berjalan keluar.


"Iya. Yang katanya Priski anak pak wakil kepala sekolah itu, kan?"


"Benar."


Priski. Berarti apa yang aku pikirkan itu benar. Cewek itu menjadi provokator dan pencipta hoak. Sialan itu anak.


Paris ganti tujuan ke ruang wakil kepala sekolah yang letaknya di samping ruang guru.


Ada seorang guru. "Permisi ... Saya Paris Hendarto. Saya ..."


"Oh kamu. Duduk dulu di sofa. Akan aku beritahu beliau bahwa kamu sudah datang." Rupanya kedatangan Paris sudah di tunggu-tunggu. Masih teringat dengan jelas pada sosok pria paruh baya dengan jabatan ini. Bukankah wakil kepala sekolah adalah papa Priski? Bibir Paris berkedut kesal. Dia makin yakin ini berkaitan dengan Priski. Dan jika berhubungan dengan gadis itu, bukankah itu perkara dirinya yang di anggap sebagai gadis panggilan?


Masa mereka bakal membahas soal gosip itu? Sungguh tidak masuk akal jika orang-orang tua dan berpendidikan ini percaya begitu saja soal gosip itu. Meskipun yang menyebarkan adalah putrinya sendiri.


Paris berdesis kesal.


Saat itu muncul bapak wakil kepala sekolah. Itu benar. Paris bertemu lagi dengan orang ini. Papa Priski. Beliau duduk di sofa di temani guru bp dan dua guru yang lain.


Orang ini lagi ... Lalu kenapa kalii ini mereka datang keroyokan, dengkus Paris dalam hati.


"Kamu Paris?" tanya wakil kepala sekolah. Paris mengangguk dengan mata sedikit memicing. Dia heran bahwa orangtua ini bertanya siapa dia. Seingat dia, orang ini tahu siapa dirinya.


"Ya," jawab Paris. Guru bp mendekat.


"Dia yang waktu itu di laporkan oleh putri Bapak kepada saya," bisik guru Bp. Paris memperhatikan raut wajah wakil kepala sekolah berubah. Yang tadinya merasa tidak kenal sama sekali. Hanya sebuah tatapan formal seorang guru dan muridnya, kini tatapan wakil kepala sekolah menjadi lebih fokus. beliau meneliti. Kemungkinan mulai mencoba menemukan siapa wajah di balik seragam SMA ini. Entah akhirnya tahu atau justru tidak ingat sama sekali. Beliau tersenyum.


Kemungkinan ingat dengan wajah hanya 20 persen. Namun untuk mengingat bahwa wajah itu bernama Paris mungkin sulit. Ketika mendengar bahwa dia adalah gadis yang sempat di laporkan oleh putrinya, jelas beliau sangat hapal.


"Kamu lagi rupanya."


Orang ini mulai ingat, desis Paris.


"Baiklah kita akan memulai beberapa pertanyaan." Guru BP menyerahkan amplop yang sejak tadi di bawanya.


Amplop apa itu? Paris memicingkan mata berusaha menebak isi amplop besar itu. Namun dia tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui apa itu. Seorang guru mengeluarkan isi dari amplop yang besar itu.


Sebuah foto.


Hhh ... ternyata sesuai dugaan. Mereka akan membahas fotoku dengan Biema. Sepenting itukah mengurusi gosip tidak penting itu?