
Menunggu hari pengumuman kelulusan terasa sangat lama bagi Paris. Dengan kehamilan yang kian bertambah hari ia juga mengalami hal wajar bagi ibu hamil. Yaitu semacam mual dan muntah yang kadang menyiksa. Mood tidak baik yang muncul tiba-tiba. Semuanya kadang melelahkan juga.
Sore ini ia tengah duduk di sofa sambil menonton tv. Mama dan papa Biema sedang ada acara di luar, jadi sekarang ia sedang sendirian. Mungkin ada beberapa pembantu yang berseliweran di sekitarnya untuk bersih-bersih, tapi itu tentu saja tidak membuatnya bersemangat.
Ia melihat Sandra muncul dengan dress warna coklat. Dengan tas samping berukuran kecil, ia tampak manis.
"Mau jalan, San?" tanya Paris. Sandra yang sedang membetulkan flat shoes-nya masih menunduk. Ia belum menjawab pertanyaan Paris. Baru setelah selesai dengan sepatunya, Sandra mendongak.
"Ya," jawabnya senang. "Mama masih lama sepertinya. Aku akan pulang sebelum mama pulang nanti. Sudah ya ... aku berangkat. "Da-da Pariss ..." Setelah melambai, gadis itu melangkah menuju ke pintu luar. Mendadak wajah Paris muram. Lalu menghela napas. Tangannya mengambil ponsel di sampingnya dan mengabaikan tv menyala tanpa ada penontonnya.
Paris mengutak-atik ponselnya tanpa tujuan. Semuanya hanya jalan untuk mengalihkan pikirannya yang sempat sedih karena iri melihat kebebasan Sandra. Mungkin Biema tidak pernah secara langsung membatasi geraknya, tapi tanpa sadar dirinya sendiri mempunyai aturan-aturan. Dimana ia tidak boleh keluar seenaknya karena sudah punya suami.
Biema yang sebenernya ingin mendekat ke arah istrinya, berhenti melihat wajah muram itu. Dia melihat saat Paris melihat Sandra akan pergi. Ia sudah pulang sejak sore tadi.
Apa aku membuatnya melewati masa mudanya yang indah? Mungkin ia ingin keluar dengan bebas bersama teman-temannya seperti Sandra.
Biema mendekat pelan. Lalu memeluk istrinya. Paris terperanjat sekilas kemudian menepuk lembut pipi suaminya. Jambang halus di pipi pria ini terasa di pipinya.
"Kamu menyesal?" tanya Biema tiba-tiba. Ini membuat Paris terkejut dan menoleh cepat. Melepaskan tangan pada pipi suaminya.
"Apa maksud kamu?" tanya Paris sambil menatap lurus suaminya.
"Soal kamu menikah muda." Biema mulai duduk di samping istrinya. Memeluk tubuh Paris yang terasa mulai penuh dari samping.
"Apa-apaan itu? Memangnya enggak ada topik lain?" Paris menggerutu.
"Bukan begitu. Aku takut keputusanku menikahimu, membuat kamu melewatkan masa muda yang bahagia. Aku ... merasa sudah melakukannya." Biema mengendus lembut rambut Paris.
"Jangan di tanya lagi soal itu. Jelas saja kamu pasti sudah membuat aku enggak bisa melewati masa muda seperti seharusnya. Kamu itu jahat," kata Paris. "Kamu yang minta bahas beginian. Jadi sekalian saja aku ngomong banyak. Ya. Kamu itu bikin aku enggak bisa main kesana kemari seenaknya." Paris bersidekap sambil melihat ke depan. Membiarkan Biema mengendusi rambut harumnya.
"Hhh ... Biema." Paris menghela napas dan melepaskan tangannya yang dilipat tadi. "Kenapa sih selalu saja bahas soal kita menikah muda, kita menikah dengan di jodohkan?" tanya Paris kesal.
"Kamu marah?" tanya Biema yang entah kenapa jadi sensitif.
"Enggak, tapi aku protes. Bahas itu kadang bikin aku kesel juga. Seperti kita sedang melakukan kesalahan. Terutama kamu. Kami itu enggak sedang bikin salah kok," kata Paris. Biema seperti sedang labil. Kadang sangat sensitif dan kadang juga normal. Sepertinya pria ini kena sindrome couvade. Mungkin tidak terlalu sama. Karena Biema cemas bukan hanya soal kehamilan, tapi soal kejiwaan sang istri.
"Aku lihat kamu bermuka muram saat lihat Sandra tadi. Aku tahu kamu pasti merasa tertekan karena enggak bisa sebebas dia," ujar Biema membahas awal mulai ia membahas ini.
"Aku memang tidak bisa sebebas Sandra dengan pergi ke sana kemari dengan seenaknya, tapi kan aku bisa bersenang-senang denganmu."
"Kamu mau?" tanya Biema membuat Paris ketawa.
"Kok tanya gitu? Jelas maulah. Kamu kan suamiku tercinta," sahut Paris dengan wajah bangga. Biema tersenyum. "Ih, kenapa jadi kamu yang menggemaskan." Paris mencubit pipi Biema dengan gemas.
"Aku menggemaskan? Wow. Jarang sekali ada orang bilang aku menggemaskan." Biema mengelus dagunya yang berbulu halus.
"Secara harfiah sih memang enggak mungkin. Kamunya kan gede. Tinggi. Pake banyak bulu juga di sana sini." Paris menunjuk bulu-bulu halus di wajah dan tangan Biema.
"Masa sih, perempuan enggak bakal gemas lihat pria seperti ku?" tanya Biema.
"Siapa? Siapa yang gemas melihatmu? Mela? Atau ada lagi yang lain, hah? Yang aku enggak tahu," kata Paris yang hawa bahagianya tadi, mendadak menjadi suram dan gelap. Biema tergelak. Lalu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Enggak tahu. Aku enggak peduli. Yang paling penting adalah kamu. Istriku. Aku enggak peduli soal mereka." Biema berbisik di dekat telinga. Paris menipiskan bibir. Kemudian menghela napas. "Kita keluar jalan-jalan?" tawar Biema dengan wajah ceria.
"Baiklah," sambut Paris gembira.
...****************...