Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kopi pagi


Din! Din! Suara klakson di belakang mereka membuyarkan pikiran Biema. Mereka berdua menoleh ke belakang dan menemukan Arga di sana.


"Kak Arga ... " desis Juna panik.


"Kenapa kemunculannya tepat sekali," kata Biema seakan kecewa. Pria itu turun dari mobil dan mendekati dua pria ini.


"Aku tidak menyangka akan menemukan kalian berdua disini. Sedang apa kalian?" tanya Arga yang merasa mendapat kejutan. Apalagi dia melihat adik iparnya.


"Aku melihat dia kesulitan. Jadi aku mendekat. Aku tidak tahu kenapa dia berada disini." Pandangan Biema beralih kearah Juna yang sudah gelisah.


"Kamu sedang bekerja?" tanya Arga tanpa basa-basi. Juna yang awalnya sedikit menunduk langsung mendongak. Biema melirik. Bocah tengil ini melirik juga pada dirinya. Mungkin mengira bahwa Biema yang melapor pada Arga.


"Eh, itu ..."


"Aku tahu. Mungkin kamu seperti istriku yang punya semangat bekerja yang begitu tinggi, tapi aku harap kamu tinggalkan dulu dunia kerja yang kamu lakukan sekarang. Bukan aku tidak mengijinkan mu, tapi aku yakin kakakmu tidak setuju jika kamu bekerja sekarang. Dia orang paling khawatir ke kamu jika mendengar ini." Juna terdiam mendengar nasihat kakak iparnya. "Berhenti saja dari pekerjaan mu. Kakakmu ingin kamu kuliah daripada bekerja."


"Kuliah juga butuh biaya. Aku ingin bekerja dulu untuk bisa kuliah nanti, Kak."


"Turuti saja apa yang aku bilang. Masuk ke perusahaan ku."


"Bukannya sama saja, itu berarti aku bekerja?" tanya Juna.


"Tidak akan sama. Karena jika begitu, mungkin kakakmu akan setuju karena merasa kamu bisa di awasi."Juna diam tidak menginyakan atau menolak. "Aku akan bicara dengan Asha. Nanti kamu juga bisa kuliah sambil bekerja."


"Bukannya itu akan tampak terlihat aku memanfaatkan keadaan?" Juna kurang setuju soal koneksi orang dalam ini. Dia tidak nyaman.


"Kenapa? Aku ini kan kakakmu. Tentu saja kamu bisa memanfaatkan sebaik mungkin koneksi yang kamu punya." Arga justru mendukungnya.


"Benar. Bekerja dalam satu perusahaan denganmu akan memudahkan kamu memantaunya," ujar Biema memberi dukungan untuk Arga. Juna melirik dengan kesal. Dia tidak suka ini. Biema tahu itu. Makanya dia mendukung Arga. Kepala Arga mengangguk. "Karena kita sudah bertemu bertiga, sebaiknya kita menyempatkan diri untuk duduk bersama untuk sekedar minum kopi atau yang lainnya. Ini momen langka.



Mereka bertiga duduk di outlet makanan. Memesan minuman sambil menikmati pagi yang sibuk.


"Apa kakak enggak sibuk? Ini masih hari aktif bukan?" tanya Juna.


"Tidak apa-apa. Menyempatkan duduk satu meja dengan kalian juga penting. Ada dua saudara iparku berkumpul. Ini momen langka." Arga menyeruput cappucinonya.


"Ayah makin sehat?" tanya Biema.


"Ya."


"Ayah Hendarto sakit?" Juna yang baru mendengar terkejut.


"Ya, tapi sekarang sudah sehat."


"Maaf Kak, keluarga di rumah tidak tahu." Juna merasa tidak enak hati.


"Jangan terlalu di pikirkan. Ayah sudah pulang dari rumah sakit. Jadi keadaannya sudah membaik. Tidak perlu memberitahu ibu dan bapak. Nanti beliau datang menjenguk." Arga tahu sifat mereka. Dengan cepat mereka akan segera berkunjung saat mendengar besan sakit.


"Baik Kak."


"Kabar masalah cabang perusahaan kamu bagaimana, Biem?" Arga lupa bertanya soal itu. Semuanya tenggelam karena sibuk mengurusi soal pengeluaran Paris dari sekolah saat itu. Juna sedikit insecure saat pembicaraan mulai mengarah ke bisnis. Namun segera di tepisnya. Dia masih pelajar. Jauh kiranya berpikir soal pekerjaan yang punya level tinggi seperti mereka.


"Sudah beres. Orang yang menyabotase mesin textil sudah di temukan."


"Syukurlah. Lalu soal pejabat sekolah?" tanya Arga lanjut.


"Oh orang itu. Aku sudah bicarakan dengan kepala sekolah yang punya wewenang untuk mengungkapkan semuanya. Mungkin sebentar lagi, orang licik itu akan menerima akibatnya." Juna mengerutkan kening mendengar pembicaraan serius ini.


"Putrinya masih mengganggu, Paris?"


"Bagus jika semua sudah tidak ada lagi kendala." Ponsel Juna berdering. Rupanya dari tempat ia bekerja. Juna berdiri dan meminta ijin menjauh sejenak. Arga mengangguk.


"Aku dengar kamu cemburu pada Juna," kata Arga membuat Biema melebarkan mata terkejut sekilas barusan. "Paris bilang kamu ingin tau soal dia." Dagu Arga bergerak menunjuk adik iparnya.


"Ehem." Pertanyaan Arga membuatnya kehilangan suara untuk segera menjawab. Ada rasa malu yang tidak bisa di ungkapkan. Juga rasa terkejut saat di tanya soal cemburu. Apalagi pada orang yang ternyata masih di sebut saudara. Arga memperhatikan Biema yang panik mendapat pertanyaan itu. "Bukan cemburu, hanya ingin tahu." Biema sebisa mungkin menyangkal soal itu. Ini agak memalukan baginya.


"Cemburu juga wajar menurutku." Ternyata Arga tidak sedang mencela. Dia justru setuju jika Biema memang sedang cemburu pada Juna. "Karena Juna itu adik istriku, mungkin dia memang punya daya tarik yang tidak bisa di jelaskan seperti Asha. Aku setuju kamu cemburu padanya." Arga serius saat mengatakannya. Bukan sedang mencela dirinya. Bibir Biema tersenyum seraya mendengus pelan.


"Jadi menurutmu aku pantas cemburu padanya?" tanya Biema.


"Tentu saja." Arga tergelak. Juna kembali dari menerima teleponnya.


"Maaf Kak. Aku harus pergi. Orang di tempatku bekerja membutuhkanku sekarang," kata Juna.


"Begitu? Kau harap kamu mengikuti saran ku," ujar Arga.


"Tentu, tapi aku harus menyelesaikan dulu pekerjaan yang sudah aku ambil. Aku wajib bertanggung jawab soal ini, Kak."


"Aku setuju. Setelah itu buat surat pengunduran diri. Kita akan berbincang lagi setelah itu."


"Ya. Terima kasih untuk kopinya dan ... " Bola mata bocah ini bergeser ke arah Biema. "Terima kasih tadi sudah menolongku. Salam untuk Paris," kata Juna pada Biema. "Aku pergi, Kak."


"Ya. Hati-hati." Seiring dengan itu, Fikar juga menelepon. Namun jarinya segera menolak panggilan itu.


"Aku belum memberitahu mama papa soal ayah Hendarto yang sudah sembuh," kata Biema.


"Tidak perlu. Ayah tidak perlu di jenguk lagi. Sekarang beliau bukan orang sakit." Arga mengibaskan tangannya. "Oh, ya kalian berdua punya waktu?"


"Waktu apa?"


"Aku ingin berlibur bersama kalian."


"Harus menunggu Paris selesai ujian," tutur Biema.


"Benar juga. Sebaiknya menunggu dia selesai ujian. Itu waktu bebas baginya. Kita akan berbicara lagi nanti. Sepertinya sekarang kita harus berangkat bekerja." Arga melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya. Biema mengikutinya.


"Benar. Kita harus pergi untuk bekerja." Mereka menyelesaikan pembayaran, lalu pulang untuk melakukan aktifitas bekerja.



"Undangan? Siapa?" tanya Paris yang baru saja keluar dari kamar mandi. Biema sudah muncul di depan menunggu dirinya. Biema langsung menarik tubuh gadis ini untuk dipeluknya.


"Anak teman papa. Acaranya sebentar lagi jam 6."


"Mendadak sekali."


"Tidak. Kemarin sudah ada di meja, aku lupa memberitahu kamu." Paris mengangguk.


"Harum," kata Biema setelah mengendus cekungan leher istrinya.


"Tentu saja. Bukannya aku sudah mandi barusan?"


"Aku ketemu Juna."


"Benarkah? Kalian tidak beradu mulut?" Paris tahu jika mereka berdua mirip kucing dan tikus.


"Sedikit." Paris tergelak. "Aku menemukannya hampir di tampar oleh wakil kepala sekolah."