
Mela ingin berpamitan pada Biema karena dia harus pulang terlebih dahulu. Namun saat mendekat, dia melihat pria ini tengah terpaku pada satu titik. Mela mengikuti satu titik itu. Rupanya itu Paris. Gadis itu sedang bersama dengan seorang pria.
Bola mata Mela kembali melihat ke arah Biema. Cara pandang Biema memang berbeda. Pria itu tengah di bakar api cemburu. Mela bisa melihat itu.
Rupanya Biema memang bersungguh-sungguh memberikan hatinya pada Paris. Aku terlempar jauh dari hatinya. Hmmm ... Aku tersisih oleh bocah. Mela menertawakan dirinya sendiri
Langkah Mela mendekat. Fikar yang pertama mengetahui kehadiran Mela langsung menyapa, "Mela. Ada apa?" tanya Fikar. Sandra menengok ke samping.
"Kak Mela," seru Sandra.
"Hai." Mela berpelukan dengan Sandra. Biema tidak peduli. "Dimana Paris? Bukankah istri Biema itu seharusnya ada di sini?" Pertanyaan Mela membuat Sandra canggung dan takut.
"Ada. Paris ada kok, Kak," jawab Sandra.
"Benarkah? Dia tidak sedang bermain-main bukan?" tanya Mela memanaskan suasana yang sudah sangat panas. Dia yang tahu Paris sedang berbincang dengan seorang pria sengaja bertanya seperti itu.
"Bicaralah yang jelas, Mela. Bermain-main bagaimana?" Fikar ragu saat ini adalah waktu yang tepat untuk bercanda. Saat Biema sedang tersulut api. Maka Fikar segera memberi peringatan pada wanita ini.
"Hmm ... Rupanya Paris bisa juga menemukan pria tampan lainnya, ya ....," ujar Mela dengan senyuman tipis yang membuat semua terkejut. Fikar sampai perlu memberi kode pada Mela untuk tidak membicarakan Paris. Biema melirik. Jika tadi dia enggan, kali ini kalimat wanita itu mengganggunya. Hingga membuatnya merasa perlu meliriknya dengan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Biema menahan kesal.
"Aku mau pamit pulang ke kamu barusan, tapi aku melihat sesuatu yang sebenarnya bukan urusanku," ujar Mela sembari melirik ke arah Paris. "Sepertinya Paris masih sibuk sendiri disana. Mau aku temani?" tawar Mela sengaja memprovokasi Biema.
"Aku bukan tipe pengecut yang hanya bisa menggeram di balik layar, Mela. Berhenti membuatku naik darah. Kamu sudah cukup memprovokasiku untuk segera menghampiri mereka," ujar Biema yang sepertinya paham bahwa Mela sengaja memancingnya.
"Baguslah," ujar Mela dengan tersenyum. "Kalau begitu aku pulang dulu." Mela memeluk Sandra sejenak. "Dah Sandra." Sandra mengangguk. "Semangat Biema. Aku mendukungmu," ujar Mela mengepalkan tangannya memberi semangat.
Biema mendengkus. Lalu membiarkan wanita itu melenggang menuju pintu keluar.
Sementara itu di tempat Paris berada,
"Kamu terlihat dekat dengan Pak Biema." Topik pembicaraan Lei saat ini mulai berubah. Dari cerita biasa seputar game, pesta hari ini, sekarang mulai membahas atasannya. Paris tidak tenang jika membahas Biema.
"Ya, begitulah ...," jawab Paris diplomatis. Jawaban aman.
"Maaf jika aku bertanya. Aku ingin tahu, sebenarnya Pak Biema itu siapa?" Paris tertegun mendengar pertanyaan ini. "Kalian terlihat lebih dekat dari sekedar dia adalah kakak Sandra," imbuh Lei tak di sangka-sangka. Paris menatap Lei dengan tatapan ingin bertanya.
Kenapa Lei ingin tahu? Kenapa Lei bertanya? Menurut Paris ini aneh.
"Aku suaminya." Sebuah suara menjawab pertanyaan Lei. Itu Biema! Pria ini menghampiri Paris tepat di saat Lei bertanya tentang siapa dirinya. Bola mata Paris membeliak sambil terus saja melihat ke arah Biema.
Sepertinya Lei juga terkejut mendengar ini.
"Bapak," ujar Lei mengangguk pada Biema setelah mengatasi keterkejutannya.
"Jika kamu ingin tahu kenapa kita terlihat dekat, itu karena kita adalah suami istri," imbuh Biema memberi ketegasan hubungan mereka berdua. Paris semakin mendelik melihat Biema sembrono mengungkap status mereka. Atau dia justru panik karena Lei akan tahu bahwa dia sudah menikah.
"Biem ...," desis Paris. Biema tidak peduli.
"Kakak tidak perlu seperti itu," ujar Paris merasa telah menempatkan Lei pada posisi salah. Biema melirik tajam.
"Terima kasih sudah memahami status kita sekarang. Jadi aku tidak perlu lagi mengatakan banyak hal." Setelah mengatakan itu, Biema menolehkan kepala pada Paris sekarang. Tiba-tiba pria ini mengulurkan tangannya. Menyentuh pipi Paris dan menatapnya. Lei sempat melebarkan mata melihat itu.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Paris dengan suara lirih seraya melirik ke arah jari Biema. Dia gugup.
"Wajahmu pucat, apa kamu lelah?" tanya Biema tanpa mempedulikan desis terkejut dari bibir Paris. "Sebaiknya kamu beristirahat. Kita bisa pulang lebih awal dari pesta." Lengan Biema langsung meraih pinggang Paris. Lalu menoleh pada Lei yang berdiri disana. Seakan menunjukkan bahwa gadis di sebelahnya adalah miliknya. "Maaf, aku bisa mengajak istriku pergi? Dia tidak sehat. Kami harus pulang."
"Ya. Silakan, Pak," ujar Lei mempersilakan. Biema menurunkan lengannya dari pinggang Paris. Berganti dengan menggenggam jari jemari gadis itu dan mengajaknya pergi. Meninggalkan Lei yang menatap punggung mereka berdua seraya bergumam, "Kamu sudah menjadi milik orang, Paris? Bukan hanya menjadi kekasihnya, tapi sudah menjadi istrinya. Ini begitu mengejutkan buatku. Semoga berbahagia, Paris ..."
Sandra dan Fikar yang melihat Biema menghampiri Paris, masih berdiri dengan tegang melihatnya. Apalagi saat Biema menarik lengan Paris dan membawanya keluar tempat pesta.
"Apakah akan ada perang?" tanya Sandra cemas.
"Entah. Jika itu Biema yang dulu, tidak akan ada masalah. Namun sekarang Biema jadi lebih mirip bocah kecil juga jika berurusan dengan Paris," ujar Fikar. Mereka hanya bisa berharap semua baik-baik saja.
"Kita mau kemana, Biema?" tanya Paris heran Biema benar-benar membawanya keluar dari tempat pesta.
"Istirahat. Kamu perlu beristirahat. Sepertinya aku juga perlu beristirahat," sahut Biema tanpa menoleh ke belakang.
"Istirahat?" Paris heran. Apakah Biema benar-benar mengira dirinya sedang sakit? Tepat di depan ruang kerja Biema, mereka berhenti. Biema membuka pintu dan mengajak Paris masuk. Tangannya masih tetap di pegang pria ini.
"Duduklah," perintah Biema seraya melepaskan tangan Paris. Gadis ini pun duduk sambil mengusap tangannya. Bibirnya di tekuk karena tingkah Biema.
Paris melirik memperhatikan Biema. Pria itu menuju dipenser air di sudut ruangan. Meneguk air dan menghembuskan napas dengan kasar. Untung saja gelas di tangannya tidak di lempar ke atas lantai.
Setelah itu, Biema mendekat ke meja kerjanya dan membuka jas. Kemudian meletakkan di atas bahu kursi.
"Tadi itu apa, Biem? Pucat? Sakit? Kamu sedang bermain drama?" tanya Paris.
"Kenapa? Apa kamu ingin aku terang-terangan marah dan berkata dengan kasar pada karyawanku untuk tidak mendekatimu?" Biema yang semula memunggunginya, kini balikkan badan dan menghadap padanya. Dia mengatakan itu dengan raut wajah serius. Paris yang tadinya ingin memprotes Biema yang sembrono membuka status mereka, terdiam.
Biema marah. Paris mengerjapkan mata. Saat ini bola mata Biema tengah menatapnya dingin.
"Ada yang perlu kamu katakan padaku?" tanya Biema setelah beberapa detik keheningan tercipta di antara mereka.
"Soal apa?" Paris tidak paham apa yang di maksud Biema. Namun dia tidak menggunakan nada sengit seperti biasanya.
"Dia. Karyawan magangku. Lei," ujar Biema membuat Paris berdebar. Dia tidak tenang. "Aku baru tahu kalau Lei itu adalah mantanmu." Paris memandang Biema dengan terperangah.
Biema tahu?