Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Sekotak brownies


"Kenapa bohong sama kak Arga, kalau kamu ada di sini?" tanya Paris setelah Biema menutup ponselnya. Pria ini hanya mengedikkan bahu. Jawaban yang tidak jelas membuat Paris menggerutu. "Apaan itu? Kamu enggak jelas."


"Kakakmu mau tanya soal Juna."


"Lalu, hubungannya sama kamu yang bohong apa?" tanya Paris.


"Bukannya Juna kerja sampingan sembunyi-sembunyi? Barusan itu aku menyelamatkannya." Biema menemukan alasan yang bagus.


"Menyelamatkan gimana? Kamu bukan masih marah soal Juna kan?" selidik Paris. Biema menggeleng. "Awas kalau cemburu lagi soal Juna," ancam Paris. Biema menaikkan alisnya tidak mau menjawab.


"Lagi?" tawar Biema tidak melepaskan pelukannya.


"Apa?" tanya Paris mengerjapkan bola matanya tidak mengerti.


"Kita lanjutkan yang tadi," bisik Biema. Paris langsung tegang. Bola matanya berkedip-kedip. Seperti akan menolak. Mendadak gadis itu berinisiatif untuk mencumbu Biema lebih dulu. Namun ternyata hanya sebentar saja. Biema yang tadinya terpejam, kini membuka mata karen tidak lagi merasakan sensasi dingin bibir Paris. "Kenapa berhenti?" tanya Biema heran.


"Besok aku masih ujian," jawab Paris. "Pasti setelah berciuman kamu minta macam-macam."


"Itu besok. Hari ini kamu sudah selesai ujian," uajr Biema berusaha memaksa. Paris melepaskan diri dari lingkaran lengan suaminya.


"Jangan." Paris berdiri dan mengambil gelas minumnya.


"Kenapa?" tanya Biema yang masih duduk di sofa seraya mendongak. Berwajah iba karena di tolak Paris. Gadis ini menipiskan bibirnya melihat suaminya meminta bekas kasihan.


"Kamu akan membuatku lelah. Itu membuatku tidak bisa belajar dan mengerjakan soal," ucap Paris.


"Bukannya kamu sering enggak belajar?" kata Biema mengingatkan bahwa dia pernah mengaku sering enggak belajar meskipun ujian sedang berlangsung.


"Emmm ...." Paris bingung mau bilang apa, ia mengurungkan untuk bicara soal bantahan lainnya.


"Benarkan?" tegas Biema ingin menggugurkan penolakan Paris.


"Soal itu memang benar, tapi ... aku punya alasan lain."


"Kamu enggak sayang ke aku lagi?" pancing Biema.


"Berhenti bicara seperti itu," hardik Paris. "Aku itu sayang kamu. Jangan sembarangan ngomong." Paris mendelik tidak terima.


"Apa?" kejar Biema.


"Aku itu ..." Paris menjeda kalimatnya. Kemudian menghela napas. "Aku itu tidak bisa berkonsentrasi karena memikirkan kejadian itu saat ujian, Biema ... Jadi berhenti mengajakku," desis Paris geram. Matanya melebar dengan menggertakkan gigi menahan kesal. Gadis ini jadi mengaku.


Bibir Biema melukis senyum. Lengannya naik ke bahu sofa. Punggungnya juga bersandar pada badan sofa sambil menatap gadis di depannya dengan berbinar-binar. "Begitukah?" tanya Biema. Kali ini dengan raut wajah menggoda. Pria ini senang.


"Tahan dulu keinginanmu untuk 'itu'. Aku harus lulus. Meskipun bukan terbaik. Minimal luluslah." Paris meneguk minuman di tangannya.


"Istriku sedang bersemangat untuk ujian rupanya," goda Biema.


"Tentu saja. Bagaimana bisa saat seseorang harus belajar buku pelajaran karena besok mau ujian, aku malah kelelahan karena memenuhi hasrat kamu," ujar Paris protes.


"Kamu enggak suka?" tanya Biema dengan mata jahil.


"Ini bukan soal suka dan enggak suka. Issh, kamu ini," gerutu Paris yang merasa tidak akan selesai bahas soal ini.


"Oke. Oke. Maaf." Biema beranjak dari sofa lalu mendekat ke Paris. "Aku boleh peluk kan?" tanya Biema meminta ijin.


"Hanya peluk boleh. Jangan kebablasan," ujar Paris memperingatkan.


"Mandi sana, gih. Dinginkan tubuh kamu." Paris iba juga.


Biema menegakkan tubuh untuk lepas dari pelukan Paris. "Ya. Aku memang harus mandi." Biema juga yakin akan itu. Lalu ia menuju ke kamar mandi demi menidurkan hasratnya.


"Nanti malam kita ke rumah bunda ya.lihat ayah," teriak Paris sebelum pria itu berhasil masuk ke dalam kamar mandi.


"Ya. Kita harus kesana."



Seperti yang sudah di rencanakan, petang ini Paris dan Biema berangkat untuk menjenguk ayah yang sudah berada di rumah. Mendadak mobil belok ke arah lain. Paris mengerutkan kening.


"Kita mau kemana? Bukannya jalan rumah bunda itu lurus?" tanya Paris heran.


"Aku mau beli sesuatu," sambut Biema. Paris melongok ke jendela. Memperhatikan kemana Biema membawanya pergi. Rupa-rupanya pria ini mengajaknya ke sebuah outlet.


"Brownis?" gumam Paris. Matanya berkedip. Sama. Seseorang pernah ke sini dengannya dulu. Ini tempat dia dan Lei membeli brownis buat bunda. Langkah Paris lambat saat keluar dari mobil. Suatu kebetulan yang membuatnya ingat lagi soal pria itu.


"Ya. Kamu pernah kesini dengan seseorang?" tegur Biema yang membuat gadis ini terkejut. Namun Paris segera tersenyum menetralisir kekagetannya barusan. Biema tahu bola mata Paris menerawang sebentar tadi. Itu berarti ada momen yang Paris kenang barusan.


Biema paham itu momen yang membuatnya kesal. Jadi dia enggan berpikir lebih jauh lagi. "Bunda paling senang brownies, kan?" kata Biema seakan sudah tahu segalanya soal bunda. Dia mencoba mengalihkan sendiri pembicaraan soal dengan siapa Paris kesini.


"Iya. Bunda sangat suka brownies," ujar Paris setelah menghela napas pelan. Mereka masuk ke outlet.


"Bantu pilih ya." Biema membimbing gadis ini menuju ke etalase.


"Kok tahu bunda suka brownies?" tanya Paris sembari membungkuk sedikit saat melihat bermacam-macam brownis di etalase.


"Tahu saja."


Tubuh gadis ini tegak dan menoleh ke arah Biema. "Kamu cari informasi ya?" tuduh Paris. Biema tersenyum tipis.


"Buat perempuan yang sudah melahirkan gadis cantik sepertimu, aku memang harus mencari informasi. Aku wajib tahu apa yang benar-benar di sukainya." Mendengar kata cantik dari bibir Biema, mendadak Paris merasa wajahnya panas. Ia jadi tersipu. Padahal Juna juga sempat memujinya cantik, tapi gadis ini tidak merasakan hal seperti ini. "Kenapa dengan wajah kamu?" tanya Biema heran wajah gadis ini memerah.


"tidak," jawab Paris sambil membuang muka.


"Kamu tersipu juga saat aku bilang cantik," ujar Biema seraya mencubit pipi istrinya gemas. Dia tahu rupanya. Bibir Paris manyun. Biema tersenyum. Setelah berhasil memilih brownis, mereka sekalian membeli sekeranjang buah untuk ayah.


Mobil milik Biema masuk ke dalam halaman rumah keluarga Hendarto. Paris keluar dari mobil, lalu di ikuti Biema kemudian. Biema membuka pintu belakang untuk membawa keranjang buah dan sekotak brownis.


Asha membuka pintu saat mereka mengetuk.


"Paris!" seru Asha merasa mendapat kejutan adik iparnya datang.


"Halo, Kak Asha," sapa Paris lalu memeluk tubuh kakak iparnya. Biema mengangguk saat Asha melihat ke arahnya.


"Ayo masuk," aja Asha. "Bun, putri kecil kesayangan Bunda sudah datang nih ..." seru Asha memberitahu. Bunda yang sedang duduk di sofa ruang tengah dengan Arash menoleh.


"Halo Bun ...," sapa Paris yang langsung menghambur ke dalam pelukan beliau. Arash yang duduk di tempat duduk khusus bayi melihat ke arah Paris. Merasa asing karena lama tidak jumpa.


"Hmmm ... anak bunda," ujar nyonya Wardah gemas. Setelah melepas pelukan Paris, beliau melihat Biema. Menyambut tangan Biema yang menyodorkan sekotak brownies dan buah. "Aduh, brownies. Paris ingat Bunda rupanya," ujar beliau sambil tersenyum. "Terima kasih ya ..."