Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Melihat Sandra


"Kamu menungguku sayang?" tanya Biema yang melihat Paris celingukan. Paris menipiskan bibir seraya menghela napas. Biema mendekat dan mengusap lengan istrinya dengan sayang.


"Aku pikir kamu enggak jadi menjemputku," ujar Paris sempat khawatir.


"Enggak mungkin. Aku akan tetap usahakan untuk bisa menjemputmu. Selamat atas kelulusannya."


"Itu sudah bisa di tebak," bohong Paris. Padahal sejak tadi ia khawatir soal itu. Sekarang ia bis berlagak karena sudah tahu bahwa ia lulus sekolah.


"Benar. Aku tahu itu." Bola mata Biema mengedar ke penjuru sekolah. Dimana sejak tadi memang banyak siswa siswi yang sedang bersenang-senang karena sudah lulus sekolah. Mungkin mereka akan melakukan konvoi seperti yang dikatakan Fikar. "Mau pulang sekarang?" tawar Paris. Istrinya mengangguk. Biema memberikan lengannya untuk di peluk. Paris tersenyum dan memeluknya.


Paris masih memandangi teman-temannya yang bersiap-siap melakukan perayaan dengan konvoi.


"Sandra kemana? Kok enggak muncul?" tanya Biema yang menyadari adiknya tidak muncul.


"Ada. Sama anak-anak."


"Apa dia mau ikut perayaan barusan?" selidik Biema yang sudah curiga.


"Enggak. Mungkin hanya berkumpul di rumah teman buat merayain kelulusannya," sahut Paris menjawab dengan alami. Padahal dia sedang menyembunyikan adik iparnya dari kejaran kakaknya.


Mobil pun melaju menuju apartemen.


...****************...


Mobil yang tadinya berjalan cepat kini hanya mampu berjalan melambat. Terpaksa semuanya berjalan melambat karena jalanan di penuhi konvoi anak sekolah.


"Konvoi mereka menghambat," kata Biema menghela napas.


"Ya. Mereka begitu senang karena sudah lulus," sahut Paris. Gadis ini terus saja melihat mereka. "Mungkin saat inilah yang di tunggu mereka. Masa bersenang-senang di sekolah untuk terakhir kalinya. Waktu yang tepat untuk mengukir kenangan yang bisa di kenang." Biema menoleh.


"Apa kamu juga menantikannya?" tanya Biema yang sebenarnya ingin bertanya sejak tadi.


"Entahlah. Mungkin iya. Karena dengan melihat mereka saja aku ikut senang, apalagi dengan ikut konvoi yang sebenarnya." Tanpa di sadari senyum sedih Paris terlukis di bibirnya. Biema melihat itu. "Tentu saja aku tidak akan ikut-ikutan karena keadaanku sekarang, Biem ..." Paris tergelak sambil menoleh ke arah suaminya.


"Maaf. Karena sekarang kamu hamil, kamu tidak bisa ikut peryataan kelulusan seperti mereka," ujar Biema lagi-lagi merasa bersalah.


"Hei ... kenapa meminta maaf? Jangan mengatakan hal seperti itu. Bayi kita akan ikut sedih jika mendengar kamu bicara seolah menyesal karena sudah membuatnya tinggal di dalam perutku, Biema sayang ..." Paris mencubit pipi pria ini. "Jangan bicara yang menyedihkan. Sudah. Aku enggak apa-apa kok." Paris melebarkan senyuman.


Saat itu Sandra yang ikut konvoi melintas. Paris terkejut. Bukannya karena gadis itu masuk dalam grup konvoi, tapi karena ada Biema di sampingnya.


"Biem ... " panggil Paris sambil memegangi pipi pria ini. Paris mengusahakan agar pria ini tidak melihat ke depan. Dimana adik perempuannya sedang duduk di atas motor dengan kemeja putihnya sudah penuh dengan pilox warna warni. Tampilan yang tentu saja akan di tentang oleh Biema. Apalagi duduk dengan seorang cowok.


"Ada apa Paris?" tanya Biema heran.


"Ya. Tentu saja. Atau kamu masih ingin makan siang di luar?"


"Ya. Aku mau makan siang dulu."


"Baiklah. Kita akan makan siang dulu." Biema menepuk pipi istrinya dengan lembut. Setelah itu, kepalanya bergerak hendak melihat ke depan.


"Jangan," cegah Paris menahan Biema menoleh ke depan.


"Jangan? Kenapa?" tanya Biema heran. "Aku akan lihat ke depan jika mungkin kendaraan di depan kita jalan, kita juga akan jalan."


"Belum kok, belum. Konvoi itu masih membuat kita terjebak macet," sahut Paris sambil sesekali melirik ke arah Sandra di depan sana.


"Benarkah?" tanya Biema yang ingin melihat.


"Biem ..." Tiba-tiba saja Paris mendaratkan ciuman di atas bibir Biema. Ini membuat pria ini terkejut dengan ciuman dadakan ini.


"Kamu menginginkanku?" tanya Biema menggoda istrinya. Dia salah paham. Paris melakukannya karena ingin Biema tidak tahu bahwa adiknya ada di barisan konvoi itu.


"Oh itu ..." Paris kebingungan menjawab godaan Biema.


"Aku tidak tahu kamu seberani itu menciumku di dalam keramaian ini." Biema tidak bisa lagi di tahan. Pria ini sudah bisa lepas dari pegangan tangan Paris yang mulai lelah. Bola mata Biema melihat lurus ke depan. Saat itulah ia melihat dengan jelas siapa gadis yang duduk di atas motor besar itu.


Mampus kamu, San. Aku tidak bisa menahan Biema untuk tidak melihat ke depan.


"Itu Sandra?" tanya Biema mengerutkan keningnya. Paris menyerah dan memilih bersandar pada bahu kursi mobil dan melihat ke arah lain. "Paris ... itu Sandra kan?" tanya Biema lagi karena pertanyaannya tidak di jawab.


"Yang mana?" tanya Paris berpura-pura.


"Di depan sana. Di atas motor para murid yang berkonvoi itu," tunjuk Biema dengan kaku. Paris hanya perlu bersikap seolah baru melihat Sandra.


"Ah, itu ... ya."


"Aku yakin itu Sandra. Aku harus menghentikannya untuk tidak ikut konvoi." Biema mulai bergerak untuk beraksi.


Mampus kamu.


.......


.......