Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Persiapan


Paris tidak mengerti kenapa ia harus melakukan perawatan diri sekarang. Bukannya itu sudah terlambat. Biasanya ini di lakukan saat menjelang pernikahan. Namun sekarang ia sudah berstatus istri Biema. Juga ... ia tengah mengandung!


"Ikut saja. Lagian melakukan perawatan tidak akan rugi. Kulit kamu juga akan sehat." Asha menepis ketidaksukaan Paris saat harus menjalani perawatan. "Kamu juga akan tambah cantik. Apa Biema tidak akan senang saat istrinya makin cantik ..." goda Asha saat pundak Paris di pijit saat proses creambath.


"Bukankah itu makin berbahaya."


"Bahaya? Bahaya gimana?" tanya Asha bingung.


"Itu ... si Biema."


"Kok Biema? Kan yang makin cantik kamu ... Jadi kemungkinan kamu yang berbahaya karena bisa di liatin banyak pria." Kepala Paris menggeleng kuat.


"Enggak. Itu enggak mempan."


"Lalu?" Asha makin penasaran. Paris tidak segera menjawab. Ia seperti mesti menata diri saat akan menjawab. Asha heran. Saat karyawan salon menjauh setelah meminta ijin mengambil sesuatu, Paris menggerakkan jarinya meminta kakak iparnya mendekat. "Apaan sih? Kok keliatannya horor banget." Asha mendekatkan diri pada Paris.


"Jika aku makin cantik, Biema akan semakin menggila," bisik Paris.


"Menggila? Cemburu berat, gitu?" tebak Asha. Kepala Paris menggeleng. "Lalu apa, dong?" Asha masih tidak paham.


"Dia akan menggila untuk urusan ranjang ..." bisik Paris makin pelan dan memerah. Asha langsung tersenyum merekah. Tangannya menutup bibirnya dengan mata menggoda ke arah Paris.


"Cie ... Ternyata itu toh. Lebih ahli ini ya ... Aku aja yang senior seperti amatiran kalau begini."


"Ihh, kak Asha!" seru Paris malu sekali. Asha tertawa. Menurutnya ini seru sekali.


"Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Bagus. Berarti itu sangat manjur." Asha tidak bisa menghilangkan senyuman gelinya.


"Memangnya kak Arga enggak?" serang Paris.


"Oh, dia ... Sama. Dia begitu juga. Meskipun aku enggak mandi, tapi kakakmu itu ..." Asha jadi membicarakan suaminya. Pembicaraan mereka jadi soal ranjang. Meski wajah dan rona malu ada, akhirnya Paris tersenyum juga.


**


Persiapan di rumah makan sudah siap semuanya tinggal menunggu.


"Memangnya kita mau menghadiri pesta apaan sih Kak?" tanya Paris yang sedang fitting baju.


"Pesta membahagiakan," sahut Asha yang ikut mengamati baju pesta yang di coba adik iparnya.


"Saudara?" tebak Paris yang belum mengerti sebenarnya dia mau kemana.


"Ya. Saudara dekat." Asha masih menjawabnya dengan penuh teka teki. Paris masih ingin bertanya, tapi ia merasa malas. Akhirnya ia diam sambil melihat kakak iparnya.


"Sepertinya kak Asha menyembunyikan sesuatu," tuduh Paris.


Paris bercermin di depan kaca. Ia suka gaun pesta yang di pilihkan Asha.


"Kamu cantik," puji Asha. Paris tersipu.


"Terima kasih, Kakak ..."


"Ayo, kita berangkat," ajak Asha yang membuat Paris ragu.


"Berangkat? Kita tidak menunggu Biema atau kak Arga gitu?" tanya gadis ini bingung.


"Tidak. Mereka akan datang nanti dengan sendirinya." Asha membimbing adik iparnya untuk masuk ke dalam mobil. Meskipun kebingungan terus saja menyerang hatinya, Paris tetap mengikuti apa yang di katakan Asha. Ia percaya.


**


Mobil tiba di sebuah rumah makan yang sudah siap dengan berbagai persiapannya. Asha membantu Paris keluar dari mobil perlahan. Bola mata Paris beredar. Mencari seseorang yang bisa ia temukan. Namun nihil. Tidak ada siapapun di area halaman rumah makan ini.


"Sepi," ujar Paris.


"Tidak mungkin. Bukannya area parkir terlihat penuh?" Asha menunjukkan suasana tempat parkir yang penuh dengan kendaraan. Apa yang dikatakan kakak iparnya tidak salah.


"Apa mungkin ada di dalam?"


"Sepertinya," jawab Asha masih penuh teka-teki. Angga mengikuti langkah kedua majikannya untuk masuk ke dalam rumah makan. Rumah makan utama memang masih jauh dari depan. Mereka harus masih berjalan beberapa menit untuk bisa sampai di sana.


Saat itu kaki mereka sudah tiba di taman yang sudah di sulap jadi tempat pesta. Paris mengerjap.


"Siapa yang punya acara, Kak? Konsepnya bagus dan mirip dengan kesukaanku," kata Paris senang. Asha hanya tersenyum. Saat manik mata gadis ini beredar ke arah taman yang di penuhi kerlap-kerlip lampu, ia menemukan sesuatu. Satu persatu ia mengenali tamu undangan pesta ini. Ternyata mereka teman satu sekolah dengannya.


Kenapa mereka ada di pesta saudaraku? tanya Paris di dalam hati. Apakah mereka mengenal saudaraku? Oh! Apa ini pesta Sandra? Bola mata Paris mencari sosok itu. Tidak ada. Gadis itu tidak ada. Jadi siapa yang punya acara ini? Dia masih penasaran dengan empu pesta ini hingga sosok Lei terlihat olehnya.


Kak Lei?! Kenapa bisa ia ada di sini? Di pesta saudaraku?


"Mau kemana, Paris?" tanya Asha mencegah gadis ini berjalan cepat darinya.


"Aku mau menghampiri seseorang. Aku ingin tahu pesta siapa ini. Juga kenapa Kak Lei bisa ada disini," jawab Paris mengutarakan niatnya. Asha terkejut saat gadis ini menyebut nama mantan kekasihnya itu.


"Tunggu Paris," panggil Asha yang sepertinya di abaikan oleh Paris.


"Jadi kamu tidak mencariku, Paris?" tegur seseorang.


**