
"Ada berita yang membahagiakan?" tanya Fikar melihat senyuman di bibir Biema. "Sepertinya semua pelerjaan akan segera selesi karena tenagamu begitu penuh hari ini." Meskipun hari ini pekerjaan menumpuk, Biemai tetap tersenyum senang.
"Banyak," sahut Biema masih dengan senyuman di bibirnya. Di mulai dari tadi malam. Hingga detik terakhir berkomunikasi dengan Paris, semuanya selalu membahagiakan.
"Wahh ... bagus itu. Aku yakin pasti ini soal istri kecilmu," tebak Fikar benar. Karena saat ini tidak ada yang membahagiakan Biema selain istrinya itu.
"Ya. Paris. Dia makin menggemaskan." Biema tidak sadar mengatakannya dengan bola mata berbinar-binar. Raut wajahnya gembira laksana bocah.
"Aku ikut gembira mendengar hubungan kalian semakin dekat." Fikar jujur saat mengatakannya.
"Terima kasih. Oh, ya soal itu. Akhirnya kamu menemukannya." Fikar yang menunduk ke arah dokumen di tangannya, mendongak. Menatap Biema beberapa detik.
"Ya. Sesuai dengan perkiraanmu." Fikar tersenyum. Biema ikut tersenyum. "Semua beres. Tinggal lihat apa yang terjadi nanti. Jika mendesak, kamu bisa menggunakan itu."
"Bagus Fikar. Namun kalau bisa, aku tidak perlu menggunakan itu." Biema menghela napas.
Sandra menjemput Paris yang bercengkrama dengan mamanya di bawah. Memintanya mengganti seragamnya dulu dengan baju miliknya. Lalu kembali menghampiri mama.
"Kemana mama?" tanya Sandra kebingungan. Saat itu pembantu rumah lewat. "Mama mana, Bik?"
"Ada di di belakang."
"Terima kasih. Ayo kita balik ke kamar aja. Kita ngobrol berdua di sana," usul Sandra.
"Jangan. Sebaiknya kita ke belakang nyamperin mama," cegah Paris.
"Kamu mau ke belakang? Kemungkinan mama sedang berada di kebun. Di sana panas." Sandra tidak ingin kesana.
"Iya, tapi aku harus menghampiri mama. Enggak sopan aku ke sini, tapi sibuk main sama kamu. Biema pasti enggak suka itu."
"Kak Biema menyuruhmu nemenin, mama?"
"Ya, enggak. Aku kan menantu di rumah ini, San. Enggak sama kaya' dulu lagi. Sudah. Aku mau ke mama." Paris memaksa untuk mendatangi mama mertua. Terpaksa Sandra ikut. Rupanya banyak pohon strawberry di sana. Beliau sedang memanen buah berwarna merah itu.
"Sudah waktunya memanen, ini Ma?" tanya Paris. Beliau menoleh.
"Oh, Paris. Iya. Ini waktunya memanen. Mau ikut mama petik buah stroberi?" tawar beliau. Kepala Paris mengangguk. Dia harus jadi menantu yang baik bukan? Paris mendekat dan berdiri di samping mama mertua. Beliau menyodorkan keranjang kecil yang ternyata sudah di siapkan. Sandra ikut mendekat di sisi lain beliau.
"Tunggu Sandra," cegah mama tiba-tiba membuat Sandra terkejut. Paris jadi ikut terkejut.
"Ada apa, Ma?" tanya Sandra heran.
"Memetik stroberi itu ada tata caranya," jawab mama.
What?! Jika tidak bisa sadar bahwa sekarang dia sedang berada di depan mertuanya, Paris pasti akan langsung berkomentar.
"Lihat ya Paris ... " Tiba-tiba beliau menoleh pada Paris. Bola mata Paris langsung terkumpul pada satu titik inti. Yaitu tangan mertuanya yang memegang buah stroberi yang masih menempel pada dahannya.
"Caranya begini ... Pertama capitlah tangkai stroberi yang akan dipetik menggunakan telunjuk dan jari tengah," ujar mama sambil mempraktekkan. Bola mata Paris menyipit berusaha fokus melihat. "Kemudian, pegang ujung stroberi menggunakan jempol. Gerakan capitan tangan ke arah bawah untuk memetik stroberi dari tangkainya. Nah ... kita dapat buahnya ..." Mama menunjukkan buah stroberi yang besar dan ranum itu. Lalu memasukkan buah itu ke keranjang kecil yang di bawa Paris.
Bibir gadis ini tersenyum. Dia harus tersenyum demi sebiji buah stroberi yang di petik dengan adab memetik buah yang elegan. Mungkin begitu istilahnya. Karena mama melakukannya dengan sepenuh hati.
"Penjelasannya lumayan rumit. Aku sempat pusing," ujar Sandra mengaku. Jujur. Jika mendengarkan dan membaca, Paris juga akan sangat pusing kepala. Namun karena mama mertua berbicara sambil mempraktekkan, itu terlihat indah. Bukan mudah. Indah. Dengan jari-jari lentik beliau, praktek memetik buah stroberi ini terlihat begitu estetis.
"Ih, ni anak mama," ujar mama gemas ke Sandra. Sandra mendekat ke mamanya.
"Mama ribet," rengek Sandra sambil memeluk lengan beliau. Mendengar ini mama menoleh ke Paris. Beliau tersenyum.
"Maaf ya Paris ... Mama sedikit bawel." Beliau jadi merasa bersalah.
"Tidak kok Ma." Paris menenangkan hati mertuanya.
"Karena kata Mang Ali_ tukang kebun rumah, bahwa cara memetik stroberi yang salah bisa merusak tanaman tersebut. Makanya kita harus hati-hati. Kan kasihan tanamannya." Beliau menjelaskan.
Rupanya tindakan mertua yang berlebihan ada tujuan mulia di belakangnya. Awalnya Paris juga terkejut mendengar tata cara memetik buah stroberi ini. Untung saja dia tidak segera memetik buah dengan kasar. Untuk mempercepat proses pemetikan. Itu membuatnya terlihat liar.
"Mama memang pasti akan mendengarkan kata mang Ali. Mama ini penyuka buah stroberi Paris ...," ujar Sandra memberi tahu.
Ternyata begitu. Strawberry lovers.
"Sandra ...," kata mama sedang memperingatkan. Paris bingung. Peringatan soal apa.
"Iya, Ma," sahut Sandra mengerti apa yang di maksud mamanya. Mama ini penyuka buah stroberi Kak Paris ... " Sandra mengulangi kalimatnya. Namun kali ini menyebutnya dengan embel-embel 'kak'. Meski sudah pernah dengar sebutan itu saat Sandra cerita tentang mamanya, tapi mendengar Sandra memanggilnya langsung di depan mertuanya ... itu terdengar asing.
"Mama sengaja menyuruhnya manggil kamu kakak." Mama tahu reaksi Paris. Kepala Paris menoleh pada mertuanya. "Meskipun kamu sahabatnya, kamu itu istri Biema. Kakaknya Sandra. Jadi dia harus memanggil kamu dengan sopan." Sandra tersenyum memamerkan deretan giginya yang bergingsul.
Orang yang menyukai buah stroberi adalah tipe orang yang sopan dan punya tata krama yang baik. Ia tampil cantik dan rapi, enak dipandang. Ia memiki kesan berkelas dan cerdas karena sikapnya yang beradab dan tidak ceroboh. Ia tak pernah lupa mengatakan terima kasih kepada orang yang memuji atau bersikap baik padanya. Sepertinya gambaran itu cocok dengan sosok mama Biema.
"Wow ... buah stroberi-nya besar," ujar Paris baru menyadari. Karena sejak tadi fokusnya pada tata cara memetik.
"Iya ... Ini buah stroberi 'Sagahonoka' namanya. Bibit stroberi yang berasal dari Jepang." Mama Biema menjelaskan. Mendengar nama varietas buah stroberi barusan, Paris sudah menduga bahwa itu berasal dari jepang. Di telinganya, nama itu mirip dengan nama 'konoha'. Jadi dia berpikir mungkin dari jepang.
"Ini juga salah satu buah stroberi yang populer dan banyak dicari sekarang. Bibitnya jadi rebutan," lanjut Mama Biema. "Stroberi ini adalah hasil persilangan dari jenis varietas onishiki dan toyonoka. Cobalah ... Rasanya manis sedikit masam. Segar." mama Biema menyodorkan buah sroberi yang baru saja di petik. Paris mencobanya.
"Mm ... memang segar, Ma. Dalamnya kok putih?" tanya Paris terkejut.
Mama tersenyum senang saat Paris terlihat antusias dengan kebun stroberi-nya. "Benar. Itu ciri ciri buah stroberi jenis ini. Daging buahnya putih di dalam." Beliau selalu menjawab dengan gembira saat Paris melontarkan pertanyaan.