
"Jangan... ” cegah Biema.
"Halo. Kak Arga." Sayang, suara Biema tenggelam karena Paris sudah menelepon kakaknya.
"Ada apa?" Arga saat itu masih menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer.
"Ada perlu. Bukan hal penting, sih." Manik mata Paris melirik ke arah Biema yang tegang melihatnya benar-benar menelepon Arga.
"Jangan," pinta Biema pelan. Memohon gadis ini untuk tidak bicara dengan Arga tentang laki-laki tadi.
"Jika bukan hal penting, enggak perlu menelepon kakak, kan?" tanya Arga yang tidak terlalu mempedulikan apa yang akan di katakan adiknya. Dia tetap melihat tabel-tabel yang di kirim orang keuangan padanya. Paris menatap Biema.
"Buatku memang bukan suatu hal penting, tapi ini sangat penting buat Biema," ujar Paris masih melihat ke arah Biema yang menghela napas sambil melebarkan bola mata lelah. Dia tidak setuju, tapi ini semua memang berasal darinya.
"Biema? Soal apa?" Pertanyaan kali ini menghentikan tangannya sejenak. Itu menunjukkan bahwa dirinya mulai tertarik dengan kalimat adiknya. Paris mengubah ponsel ke mode loud speaker.
"Ya. Dia ingin tahu soal Juna." Biema hanya perlu mendengar gadis ini bicara saja, tanpa perlu melakukan apa-apa.
"Juna? Adik Asha?" tanya Arga heran.
"Benar. Adiknya kak Asha."
"Kenapa ingin tahu soal dia?" Kedua alis Arga mengerut.
"Biema menemukanku bersama Juna saat ia datang ke sekolah ku."
"Kok bisa?"
"Ya. Juna kan sedang kerja paruh waktu mengantar truk makanan ke sekolahku."
"Paruh waktu?"
"Benar. Biema membuat ide mengirim food truck atas namaku ke sekolah. Aku yang awalnya tidak tahu soal ini penasaran. Hingga membuat Juna ..."
"Apa dia sudah ijin ke bapak? Apa Asha tahu soal ini?" tanya Arga beruntun.
"Eh, aku ... enggak tahu soal itu." Mendadak Paris merasa tidak aman.
"Aku akan telepon ke Asha dulu, setelah itu ..." Klik! Tiba-tiba Paris menutup telepon. Biema melihat dengan heran.
"Kenapa langsung di tutup?"
"Aku lupa. Juna bilang jangan tahu kak Asha." Paris baru sadar soal kata-kata iparnya. Biema menjadi sangat lega Paris tidak jadi meneruskan pembicaraan soal Juna ke Arga. Mendengar Arga bisa dengan mudah mengaitkan Juna dengan nama istrinya, itu memperjelas bahwa mereka adalah saudara. Itu berarti Paris jujur saat mengatakan bahwa Juna adalah saudara ipar.
"Untung saja kalian tidak membahas soal Juna.
Memalukan, jika ternyata itu memang adiknya istri Arga." Biema panik juga tadi saat di tantang Paris. Dia akan ketahuan sangat pencemburu di depan Arga. Meskipun Arga tidak pernah ikut berkomentar soal sikap Biema ke adiknya.
"Kenapa kamu baru sadar itu memalukan?" tanya Paris geram. Tangannya bersedekap setelah memasukkan ponsel dalam sakunya sambil melihat ke arah Biema. Pria itu kemudian menyandarkan punggung dan kepalanya pada badan kursi mobil. Menghela napas lega kemudian.
"Kamu itu mudah cemburu ya," tuding Paris. Kali ini suaranya merendah. Tidak lagi tinggi seperti tadi. Karena Biema juga mulai sadar curiganya.
"Kamu pasti akan melakukan itu jika jadi aku." Biema mengatakan itu dengan pelan dan mata tertutup.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu."
"Jadi kamu akan diam saja meskipun aku bersama seorang wanita?" tanya Biema terkejut. Dia langsung menegakkan tubuh mendengar itu. Paris menjeda sejenak. Ia tidak langsung merespon pertanyaan Biema. Ini membuat pria ini gelisah.
"Aku bukan hanya cemburu, tapi aku pasti menghajarnya hingga puas," ujar Paris tegas. Setelah mendengar ini Biema akhirnya terkekeh.
"Kenapa ketawa?"
"Cara penyelesaianmu sungguh ekstrem."
"Kita enggak boleh main-main soal itu. Jika benar kamu itu milikku, kamu enggak boleh dekat dengan perempuan mana pun," ujar Paris sadis.
"Tentu saja. Memangnya kamu bisa seenaknya mau dekat dengan banyak perempuan?" Manik mata Paris melotot. Biema menggeleng.
"Enggak. Aku enggak begitu, sayang ..." Biema mengelus lembut kepala istrinya.
"Itu bagus," sahut Paris puas. Spontan tangan Biema mencengkeram lembut tengkuk Paris dan mendekatkan wajahnya.
"Jangan di sini," cegah Paris yang tahu Biema mau melakukan apa. Bola mata Biema menatap gadis ini begitu dekat. "Jangan melakukan itu di sini. Mereka melihat kita," desis Paris. Di luar mobil beberapa anak menyoroti mereka karena jendela mobil tidak di tutup.
"Tanggung." Setelah mengatakan itu Biema langsung mencium bibir istrinya seraya menekan tombol jendela agar menutup. Menciumnya dengan lembut hingga beberapa detik lalu melepasnya.
Paris mengerjapkan bola mata dan mengambil napas.
"Aku terbawa suasana," ujar Biema cuek seperti bocah tengil. Paris menipiskan bibir kesal melihat Biema dengan santai saat sudah melakukannya. Beberapa anak sekolah yang sempat melihat adegan barusan, terlihat syok.
"Eh, Fikar mana?" Paris celingukan mencari sosok bawahan suaminya. Biema juga ikut menoleh ke depan lalu keluar mobil.
"Mana itu orang?" gumam Biema geram. Dia tidak sadar bahwa pria itu memilih menjauh karena dia berdebat soal Juna dengan Paris.
Sementara itu di dalam halaman sekolah.
"Kakak mana?" tanya Sandra yang melihat Fikar muncul lagi. Kali ini dia tidak sendiri, tapi bersama beberapa temannya.
"Ada. Disana," jawab Fikar kurang jelas. Sandra mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun dia tidak menemukan batang hidung kedua kakaknya itu.
"Enggak ada." Sandra yakin akan indra penglihatannya. Fikar mengambil piring sekali pakai. Dia berencana ikut makan gratis di sini.
"Mereka ada di dalam mobil." Fikar mulai mengambil makanan yang tersedia.
"Lagi ngapain?" tanya Sandra heran. Karena Fikar memilih terpisah dari Biema.
"Ngapain lagi kalau enggak bertengkar."
"Apa? Kenapa kamu enggak tetap di sana buat jadi penengah?" Sandra menjadi panik.
"Kamu tahulah mereka bagaimana. Enggak mungkin aku yang hanya jadi bawahan ini berani ikut campur."
"Bukan. Setidaknya tetap di sana jaga mereka berdua." Sandra menunjuk ke arah mobil.
"Maaf, nona Sandra. Saya manusia. Saya juga bisa lapar. Saya butuh asupan gizi untuk tenaga saya," ujar Fikar memelas. Sandra mencebik gemas. Juna melihat mereka.
"Lagi makan ni, Abang?" tanya Juna ramah pada Fikar. Fikar mendongak.
"Oh, ya. Lapar." Fikar mengelus perutnya yang tidak gembul. "Ini untuk menambah gizi biar tidak ambruk."
"Aku pikir jadi orang kantoran enak. Bisa kerja santai. Beda sama kita yang kudu kerja lebih keras untuk dapat uang lebih." Juna berpendapat.
"Kamu salah ... Siapa nama kamu?" tanya Fikar lupa nama adik Asha ini.
"Juna."
"Ya, Juna. Kamu salah. Kerja kantoran enggak jauh beda sama kerja seperti kamu ini. Perbedaannya hanya tempat sama baju yang di pakai. Isinya ya tetap aja stress sama frustasi. Kerja itu ya, gitu. Kudu semangat. Kudu lebih keras kerjanya kalau mau ingin dapat lebih." Fikar mengatakannya dengan tingkah bagai senior bijak. Juna mengangguk.
"Memangnya kamu stress terus kerja sama kak Biema?" tanya Sandra sengaja. Juna mengerjap. Dia berusaha mengatakan sesuatu.
"Iya. Aku stress terus karena kakakmu terus saja melakukan hal-hal seenaknya sendiri. Apalagi ada hubungannya sama Paris. Dia ..."
"Jadi kamu merasa begitu karena menjadi bawahanku?" tegur Biema.