Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Ponsel



"Kamu datang, Paris?" Pria itu menghentikan pekerjaannya dan mendongak. "Duduklah ... Kenapa kamu masih berdiri di sana?" ujar Biema pada Paris yang masih berdiri di dekat pintu. Setelah mendapat ijin, kaki gadis ini melangkah menuju sofa. Lalu menghempaskan punggungnya dengan santai di bahu sofa.


Biema mulai berdiri dan mendekat ke sofa. Dia ikut duduk di sofa.


"Aku tidak menyangka kamu punya keperluan penting, sampai harus menemuiku di tempat kerja. Kita bisa bertemu di apartemen nanti." Biema mengatakannya dengan nada datar seperti biasanya.


"Bukan aku yang punya keperluan, tapi bundaku," bantah Paris.


"Bunda? Ada apa?" Biema mulai melihat Paris dengan serius. Jika itu adalah keperluan mertua, berarti keperluan ini sangatlah penting.


"Hanya suatu hal biasa. Bukan hal yang penting."


"Itu apa?" tanya Biema seraya menunjuk ke tas bekal yang sejak tadi masih berada dalam tangannya.


"Inilah. Inilah keperluanku ke sini. Pesan yang datang dari bunda." Paris mulai meletakkan tas bekal di atas meja. "Sebuah bekal makan siang."


"Bekal makan siang?"


"Ya. Karena mamamu pernah membuatkanku bekal, bunda ikut membuatkanmu bekal. Karena sebuah makanan, ini harus segera di antar ke sini."


"Aku kecewa. Aku pikir itu bekal yang kamu buat sendiri untukku."


Paris tergelak. "Jangan berkhayal. Memangnya kamu enggak di kasih tahu, kalau aku itu enggak bisa masak? Makanya, nikahin orang jangan kayak beli singa dalam karung."


"Kucing dalam karung maksud kamu," ralat Biema.


"Aku tidak suka kucing. Kucing itu manis dan penurut. Aku lebih suka singa. Keren dan kuat," kata Paris asal.


"Singa itu hanya dari luar saja kelihatan kuat dan beringas, tapi sebenarnya dia lemah."


"Kenapa singa lemah? Bukannya dia raja hutan?"


"Karena singa jantan sebenarnya takut pada pasangannya." Paris mengerutkan kening. Biema tersenyum. Dia tahu gadis di depannya tengah kebingungan. Melihat itu Paris tahu pria ini sudah mengerjainya.


"Kamu sedang mengerjaiku, ya?"


"Lebih baik kita makan saja bekal dari bunda."


"Bukan kita, tapi kamu."


"Aku ingin makan siang denganmu," ujar Biema setengah memaksa.


"Kenapa sih? Tinggal makan saja kan bisa."


"Ini bekal untuk dua orang. Tidak mungkin aku bisa menghabiskannya." Biema menunjuk ke arah bekal yang sudah berjejer rapi. Dan perkataan Biema benar. Rupanya bunda sengaja membawakan bekal untuk di makan dua orang. Itu berarti beliau menyuruh Biema makan siang bareng dia.


Bunda ada-ada saja sih.


"Baiklah. Aku ikut makan juga." Sendok juga sudah di sediakan dua buah. Itu memudahkan mereka untuk segera makan.


"Bagamana sekolahmu?"


"Kenapa tanya itu? Mirip orangtua saja," dengkus Paris.


"Aku tidak punya banyak pertanyaan untukmu. Lagipula hari ini tidak ada keributan yang sudah kamu buat, jadi aku tidak bertanya soal itu. Dan ... bukannya aku memang lebih tua darimu."


"Oh, iya aku lupa. Kamu pria tua yang menyukai gadis muda. Hahahaa ..." Paris menertawakan Biema. Mendengar cemoohan ini, Biema tidak banyak bereaksi. Paris tidak suka pria ini tidak terprovokasi. Saat sendok Biema ingin menyendok sayur, Paris mencoba menghalanginya dengan sendok miliknya.


"Ada apa?" tanya Biema heran.


"Silakan ambil kalau kamu bisa," tantang Paris. Dia sedang bosan rupanya. Jadi ingin bermain-main.


"Kamu sedang ingin bermain denganku? Mau memulai pertarungan?" tantang Biema balik. Sepertinya dia mulai mengikuti tingkah Paris yang memang kadang masih kekanak-kanakan.


Lalu terjadilah peperangan mengambil makanan. Hingga tubuh mereka akhirnya harus condong ke depan jika tidak mau kalah. Paris yang menyadari bahwa wajah mereka begitu dekat mengerjap. Sedikit kebingungan bahwa Biema tengah menatapnya dari jarak sedekat ini.


Berangsur Paris menjauhkan wajahnya. Namun Biema tiba-tiba menahan lengannya. Hingga tubuhnya tidak bisa menjauh.


"Apa?" tanya Paris. Namun pria itu diam. Ini semakin menjadi momen panik dan gugup bagi Paris. "Lepaskan tanganku. Kita sedang makan, Biem," desis Paris. Pria ini masih diam. Akhirnya Paris memilih menatap lurus ke arah Biema. "Memangnya kamu ingin menciumku?" tanya Paris dengan kesal. Sengaja dia berkata begitu untuk membuat Biema menjauh.


"Ya," jawab Biema pelan dan serius. Jawaban ini membuat bola mata Paris membeliak. Dia tertegun mendengar jawaban dari pria ini. Meskipun dia sendiri yang menanyakan itu, tapi dia tidak menduga bahwa Biema akan menjawabnya dengan serius.


"Biema, aku ..." Tiba-tiba pintu terbuka dan Mela masuk. Paris dan Biema menoleh bersamaan. "Ada apa di sini?" tanya Mela tertegun.



Beberapa menit sebelum Mela masuk.


Fikar menutup pintu ruangan Biema setelah gadis itu masuk. Dia tahu bahwa dirinya tidak boleh berada di sana. Meskipun mereka berdua berlabel menjadi suami istri karena terpaksa, bukan berarti Fikar seenaknya bergabung dengan mereka.


Dia memilih kembali ke ruangannya sendiri. Bersamaan dengan itu, muncul Mela yang entah kenapa kembali.


Mela! Kenapa dia kembali lagi? Bukannya tadi Biema bilang urusan dengan dia sudah selesai?


"Hei Fikar," sapa Mela seperti biasa ramah dan manis.


"Ada perlu?" tanya Fikar heran.


"Ya. Aku harus menandatangani surat perjanjian kerjasama tadi."


"Bukannya sudah selesai?"


"Benar. Namun, ponselku ke tinggalan di dalam."


"Di dalam?" tanya Fikar was-was. Mela mengangguk.


"Biema masih di dalam ruangan bukan?" Mela menunjuk pintu ruangan Biema.


"Ya, tapi ... apa tidak ketinggalan di tempat lain? Mungkin saja kamu lupa meletakkannya di suatu tempat selain ruangan Biema."


"Emm ... aku rasa, aku hanya datang ke ruangan Biema pagi tadi hingga barusan. Jadi aku yakin ponselku pasti ketinggalan di sana."


"Apakah sudah kamu hubungi nomor kamu? Untuk mengantisipasi. Mungkin saja Biema akan menerima dan dia bermaksud menyimpannya hingga kamu datang nanti."


"Kamu lupa kalau ponselku di dalam Fikar?" tanya Mela heran. Betapa bodohnya Fikar. Karena panik dia sampai harus berpikir dengan dangkal.


"Ah, iya ya ... Hahaha."


"Emmm ... kamu ini. Kalau ponselku ketinggalan, jelas aku tidak bisa menghubungi bukan?"


"Aku akan mencoba menghubungi lewat ponselku."


"Tidak perlu. Tidak apa-apa. Dia bilang ini saatnya makan siang. Jadi jika aku kembali dia pasti tidak sedang sibuk," ujar Mela dengan terus melangkah hendak masuk ke dalam ruangan Biema.


"Tunggu, Mela!" cegah Fikar panik. Namun perempuan itu sudah memegang pegangan pintu dan membukanya. "Aku tidak tahu ...," desah Fikar.


"Biema, aku ..." Tiba-tiba pintu terbuka dan Mela masuk. Paris dan Biema yang masih berdekatan menoleh bersamaan. Bola mata Mela melirik ke arah Paris yang masih duduk di sofa sambil mencondongkan tubuh ke depan. Tubuh mereka sangat dekat. "Paris?" tanya Mela tercengang keheranan.


Paris memaksa Biema melepas tangannya. Biema pun melepas pegangannya. Tubuh gadis ini pun menjadi tegak kembali. Lalu memamerkan deretan giginya, "Hmmm ... ya."


"Kenapa kalian bisa berdua di sini?"  tanya Mela terkejut.


"Aku tidak sendiri," sahut Paris sekenanya saja.


"Sama Sandra? Mana?" Wanita ini sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari adik Biema. Namun tidak ada. "Kok Sandra enggak ada? Kamu ke sini-nya bareng Sandra, kan?" tanya Mela berusaha memberi alasan yang tepat bagi kemunculan gadis ini disini. Maksud dia ingin memastikan sendiri bahwa alasan itulah yang pasti membawa Paris. Bukan dengan alasan lain.