
Sebenarnya dia bertujuan akan melanjutkan meledek Fikar habis-habisan, karena dia tidak bisa menerima panggilan teleponnya dengan alasan sibuk. Namun saat dia melihat sendiri apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang, dia urung meledek.
"Sibuk beneran?" tanya Paris terkejut. Dia memajukan kepalanya melihat sendiri berkas menggunung di depan sebelah kiri. Fikar sengaja meletakkan ponsel yang langsung menyoroti tempat dia berada. Memang Fikar tampak di suatu ruangan dengan setumpuk berkas di depannya. Tampak sebuah ruangan yang pernah di singgahinya. Ruangan yang sepertinya tidak asing baginya.
Belum selesai Paris berpikir soal ruangan yang tidak asing itu_ Fikar menggeser ponselnya, hingga Paris bisa menemukan sosok yang amat sangat di rindukannya di sana. Biema!
Deg, deg, deg. Jantung Paris berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Bertalu dengan keras hingga dia sendiri merasa itu sangat berisik di telinganya. Dia tahu ini karena apa. Pasti karena Biema. Karena pria tua yang tampan.
Biem ... sebut Paris dalam hatinya. Sontak, matanya menjadi nanar.
Pria itu sedang menunduk mengerjakan sesuatu. Entah karena merasa sedang di amati atau hanya sebuah kebetulan saja, Biema mendongak tepat saat Paris sedang memperhatikannya.
Klik! Manik mata Paris menunduk ke bawah segera. Bersamaan dengan tangannya yang menekan tombol berwarna merah.
"Kamu sedang apa?" tegur Biema yang melihat Fikar sibuk dengan ponselnya.
"Ini, aku sedang berbicara dengan ... " Fikar melihat ke arah ponselnya. Dia ingin menunjukkan Paris pada Biema. Namun layar ponsel sudah menghitam. Tidak menampilkan visual apapun. Fikar mengedip-ngedipkan bola matanya bingung.
Kemana gadis itu?
"Dengan siapa?" tanya Biema ingin mendapatkan jawaban dengan segera.
"Paris," jawab Fikar yang kemudian memilih meletakkan ponsel di atas meja. Rupanya sambungan telepon sudah di putus oleh gadis itu. Biema terdiam seketika mendengar nama Paris di sebut.
"Mm ..." Biema mengangguk. Lalu dia menunduk, lanjut memfokuskan diri pada pekerjaannya lagi.
"Dia meneleponku barusan. Memintaku menjemput dari rumah orangtuanya sekarang." Fikar memberitahu. Dia tidak mau sembunyi-sembunyi. Meskipun Paris sendiri kabur dari video call yang sedang berlangsung.
"Ya. Berangkatlah." Biema memberi ijin pada Fikar tanpa menoleh.
"Tidak ada pesan?" tawar Fikar seraya membereskan dokumen.
"Tidak."
"Walau hanya bilang halo?"
"Aku masih bisa bertemu dengannya di apartemen." Ponsel Biema berdering. Pria itu mengambilnya. Melihat layar dan menekan tombol hijau.
"Atau kamu bisa ikut menjemput dia sekarang?" lanjut Fikar memberikan anjuran. Masih. Fikar masih berusaha membujuk. Biema mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan pertanyaan Fikar seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Aku sedang sibuk. Kamu bisa menjemputnya sendiri." Setelah mengatakan itu tanpa menoleh, Biema mendekat ke bibir dinding kaca. Fikar terdiam. Tangannya berhenti merapikan dan melihat Biema sedikit lebih lama.
"Jadi aku benar berangkat menjemput dia sendiri?" tanya Fikar ingin kepastian lagi. Biema melambaikan tangannya bermaksud mengusir Fikar. Menyuruh Fikar untuk segera berangkat.
Pria ini sungguh tidak mau membahas soal antar jemput Paris. Biema bersungguh-sungguh menyerahkan tugas antar jemput padanya. "Baiklah. Aku pergi, Biem. Telepon aku jika kamu berubah pikiran." Fikar melangkah pergi.
Rupanya perbincangan Biema dengan si penelepon hanya sebentar. Biema menurunkan ponsel dari telinganya. Menatap layar ponsel yang menggelap dengan tatapan kosong. Ruangannya menjadi sepi setelah Fikar lenyap.
Setelah beberapa detik, Biema memindahkan pandangan dari ponsel ke luar dinding kaca. Memandang pelataran di bawah. Rupanya Fikar baru saja keluar dari gedung. Dia menyaksikan mobil perusahaan baru saja melaju menuju jalan raya. Fikar benar-benar menunggunya berubah pikiran.
Meskipun dia terlihat tidak peduli, sebenarnya dia mendengar semua perkataan Fikar tadi. Biema mendesah. Lalu kembali duduk ke kursi kerjanya.
Klik! Paris tanpa sadar mematikan video call-nya. Gadis ini sungguh tidak sanggup melihat pria itu. Dia merasa tidak mampu untuk melihatnya. Hatinya berteriak menginginkan bertemu. Pria itu. Pria yang sedang duduk dengan wajah serius karena pekerjaan tadi.
"Kok di matikan? Sepertinya tadi Biema, ya?" Asha yang sempat melongok ke layar ponsel Paris, jadi ikut menemukan sosok pria itu.
"Hmm," jawab Paris samar.
"Hei, kamu kan bisa sekalian ngomong sama dia minta jemput. Kenapa malah di putus video call-nya?"
Paris menelan ludah. Dia menahan untuk tidak membuat airmatanya jatuh. Barang setetes pun. Lagi-lagi dia ingin menangis. Sialan! Pria itu sialan!
"Iya. Kepencet," jawab Paris setelah mampu menahan lajunya air mata ke atas pipinya. Semakin dia mengakui bahwa ada cinta di hatinya, Paris semakin merasa tidak mampu untuk melihat sosok itu. Ada ketakutan bahwa pria itu tidak ingin bertemu dengannya. Biema marah. Itu yang di sadarinya. Dia yakin yang melandasi sikap Biema sekarang adalah pertengkaran mereka. Soal pertanyaan tentang perasaannya.
Sebuah penantian yang lama berbuah manis. Fikar akhirnya muncul. Setelah memberitahu bahwa dirinya sampai di blok rumah orangtua Paris, gadis ini segera berpamitan pulang dan keluar gerbang. Asha sengaja mengantar adik iparnya di depan gerbang. Makanya dia bisa melihat Biema tadi.
"Selamat sore," ujar Fikar menyapa Asha yang berdiri di sebelah Paris. Dia tahu bahwa perempuan ini adalah istri pewaris tahta mall terbesar. Kakak ipar Paris. Cinderella sesungguhnya.
"Ya. Selamat sore. Mau menjemput Paris, ya?" Asha menyapa dengan ramah.
"Iya."
"Kok Biema enggak ikut ya?" Seperti Sandra. Asha juga mempertanyakan itu. Namun berbeda dengan gadis itu, Asha tahu ada apa. Dia hanya memancing obrolan soal Biema dengan orang paling dekat di tempat kerja itu. Jika begitu, kurang lebih pria ini paham apa yang sedang di lakukan pria itu sampai menyerahkan tugas antar jemput istrinya kepada orang lain. Begitu pikir Asha.
"Iya. Pak Biema sedang sibuk." Berbeda dengan menghadapi Sandra. Fikar memilih gaya semi formal dengan wanita ini.
"Mmm ... Berarti Paris harus maklum ya, jika Biema enggak bisa antar jemput dia." Asha menoleh pada Paris dengan senyuman penuh arti. Paris hanya melirik.
"Ya ... Begitulah."
"Tapi hanya hari ini saja kan dia enggak antar jemput adikku?"
"Hah?" Fikar menoleh pada Paris. Meminta bantuan jawaban. Namun Paris hanya diam.
"Enggak mungkin kan Biema terus-terusan menyuruh orang lain untuk jemput dia. Bukannya Paris itu istrinya?" kejar Asha.
"Benar, benar. Itu benar." Fikar mengangguk-anggukkan kepala setuju.
"Kalau bundanya tahu, atau mama Biema sendiri tahu bahwa Paris tidak di jemput olehnya, gimana ya ..." Paris menghela napas. Geli juga mendengar Asha yang biasanya tidak bersikap begitu. Jadi aneh saat mendengarnya. Fikar melirik Paris lagi.
"Sudah. Ayo pulang," ajak Paris.
"Ya." Fikar merasa harus bersyukur merasa terlepas dari pertanyaan kakak ipar Paris.
"Titip salam buat Biema dari keluarga Paris ya ..." imbuh Asha.
"Iya. Akan saya sampaikan."
"Aku pulang, Kak." Mereka berpelukan.
"Selamat berjuang," bisik Asha. Paris mengangguk. Dia bertekad menggali lebih jauh soal perasaan Biema padanya dengan bersikap terbuka. Kemungkinan dia akan tancap gas untuk segera bertanya.
Aku harus segera mencari tahu soal perasaan Biema padaku. Jika dengan terbuka mengenai perasaanku aku mendapat kabar buruk, aku siap. Paris mencoba rela.
Tidak. Aku tidak siap. Awas saja kalau menyakitiku dengan berpura-pura ya, ralat Paris dengan menggeram.