Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Menemani Paris


"Lalu kenapa enggak cerita?" sesal Sandra. "Jika begini kamu sendiri yang susah."


"Aku sudah enggak apa-apa. Bukannya tadi aku bilang kalau kak Arga mau menyelesaikan semuanya." Paris mencoba menenangkan. "Jadi sekarang aku merasa lebih tenang."


"Oke. Mulut bisa bicara, tapi sepertinya ekspresi mu tidak. Kamu terlihat sedih." Telunjuk Sandra mengarah ke wajah iparnya.


"Begitu ya ..." Paris mencebikkan bibirnya. Mencibir dirinya sendiri.


"Memang begitu. Sulit banget sih ngaku kalau lagi sedih." Sekarang Paris tersenyum tipis. "Kalau kak Arga tahu, berarti keluarga juga sudah tahu soal menikah ini jadi kendala ujian di sekolah?" Paris menggeleng. "Jadi?" Sandra menghentikan tangannya yang memegang snack.


"Hanya kak Arga dan kak Asha yang tahu. Bunda enggak tahu soal ini."


"Jadi kamu juga enggak bilang ke bunda?” tanya Sandra mengernyitkan dahinya.


Paris mengangguk. "Aku enggak bisa kasih tahu, karena sekarang ayah sedang sakit. Kasihan bunda jika di tambah dengan masalah ini," tutur Paris yang membuat Sandra makin kaget dan mengiba.


"Ayah Hendarto sakit?" Sandra terkejut.


"Ya. Tepat saat aku di keluarkan dari sekolah."


"Maaf Paris, aku baru dengar soal itu." Sandra menggenggam tangan Paris. "Sini aku peluk." Lengan Sandra melebar. Agar dapat membuat sahabatnya ini bisa membagi kesedihannya. Paris tersenyum tipis tanpa mendekat untuk menyambut pelukan Sandra.


Karena Paris diam saja tidak menyambutnya, dengan tidak sabar Sandra menarik tubuh Paris dan memeluknya sendiri. "Maaf aku enggak tahu semuanya. Itu karena kamu juga enggak cerita." Berkali-kali Sandra protes soal itu.


Sandra tidak bisa membayangkan bagaimana keruhnya hati Paris dengan banyak hal yang membuatnya sedih. Itu pun datang bertubi-tubi. Tanpa sadar air mata Sandra meleleh. Dia jadi ikut bersedih.


"Kamu menangis?" tanya Paris terkejut. Dia yang merasakan bahunya basah, langsung menjauhkan tubuh Sandra. Menyelisik ke arah wajah gadis itu. Bibir Sandra tersenyum sedih sembari mengangguk. "Kenapa menangis, sih?" Paris mengusap air mata yang meleleh pada pipi Sandra itu. "Aku kan jadi pengen nangis juga," seru Paris.


"Jangan. Jangan ikut-ikutan!" Sandra panik. Dia segera menyeka sendiri air matanya. "Kamu mungkin sudah banyak menangis. Karena masalah di sekolah. Karena ayah Hendarto sakit. Juga karena kak Biema enggak bisa menemani saat kamu sedang bersedih. Biar sekarang aku aja yang menangis. Jangan kamu," cegah Sandra terdengar konyol. Paris jadi tersenyum geli. Lalu memeluk Sandra lagi sebentar. Hanya melepas gemas karena tingkah gadis ini.


"Iya. Aku enggak akan menangis." Sandra menenangkan dirinya sejenak.


"Oke, sekarang lebih baik kita makan snack." Sandra menyodorkan snack dan juga roti isi yang ia bawa. Paris mengambilnya dan duduk bersandar. Menyamankan tubuhnya agar tidak tegang. Sandra mengikutinya. Tangan satunya yang menganggur mengambil remote tv. Mengganti channel. Dan akhirnya menemukan yang di sukainya. "Lebih baik kita lihat ini. Lucu." Sebuah film kartun Mr. Bean muncul. Paris mengangguk setuju.


"Soal aku, jangan kasih tahu mama, ya ...," pinta Paris.


"Kenapa?"


"Sudah turuti saja."


"Kalau ke kak Biema?" tanya Sandra sambil menoleh ke samping.


"Ke dia jangan juga. Biar aku sendiri yang kasih tahu. Namun aku sudah bilang ke kak Arga untuk menyelesaikannya sebelum Biema pulang."


"Jadi kamu tetap ingin sembunyi dari kakak?"


"Untuk sekarang iya. Supaya dia juga bisa menyelesaikan masalah di kantor dengan cepat."


"Jadi kapan kak Biema pulang?"


"Sepertinya besok baru pulang."


"Aku menginap ya. Aku akan telepon mama." Sandra antusias.


"Boleh."


"Asyiiikk!" Sandra gembira. "Kenapa enggak bilang dari kemarin aja. Jadi kita bisa bermalam bersama. Mumpung kak Biema enggak ada. Kamu juga jadi punya teman, kan ..." Sandra merasa seharusnya dia bisa menemani Paris lebih awal.


"Iya. Maaf. Aku pikir Biema langsung pulang, jadi aku menunggunya. Rupanya enggak bisa pulang tadi malam." Paris menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya ... Bilang aja." Paris membiarkan Sandra menelepon mamanya. Dia sendiri melihat ke depan. Ke arah televisi yang menyala. Mencoba menikmati film kartun Mr. Bean yang tengah beraksi. Perasaannya sedikit plong. Berbeda saat dia sendirian kemarin. Saat sedih, manusia memang butuh teman. Biarpun tidka bisa menyelesaikan masalah, tapi bisa meredakan rasa sedih yang ada. Apalagi itu orang yang cocok sama kita.


Malam menjelang tiba. Sandra mengerutkan kening saat mengetahui kalau kamar tidur Paris dan kakaknya terpisah.


"Kamar kalian terpisah?" tanya Sandra sedikit terkejut. Kenyataan ini memang baru dia ketahui.


"Ya." Meskipun seperti ketangkap basah, Paris bersikap tenang.


"Jadi selama ini kalian enggak satu kamar?" Raut wajah Sandra masih terheran-heran. Paris hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Sandra. "Apa mama tahu?" selidik Sandra. Saat bilang ini Paris sedikit panik.


"Jangan bilang mama," ancam Paris sambil membulatkan bola matanya.


"Jadi mama enggak tahu, ya ... Pantesan kalian tampak aneh saat di suruh menginap satu kamar di rumah mama." Sandra ingat kejadian itu. "Kalian kan sudah menikah sah. Kenapa enggak satu kamar saja."


"Aku masih sekolah. Aku enggak bisa satu kamar dengan seorang pria. Apalagi kita menikah bukan karena cinta. Hanya karena di jodohkan saja. Mengikuti keinginan bundaku yang waktu itu pincang karena kakinya terkilir. Hanya itu," tegas Paris.


"Benar, enggak ada cinta ke kak Biema?" ledek Sandra sambil menyenggol lengan gadis ini. Paris mengedipkan bola matanya merasa salah tingkah. "Nanti aku bilang ke kak Biema, lhooo ..."


"Eh, kenapa bawa-bawa Biema?" Paris sedikit panik.


"Memangnya kenapa? Bukannya kita sedang bicara tentang seorang pria? Kita sedang bicara kalau kamu enggak cinta sama seorang pria yang jadi suami kamu. Bukannya begitu?" Paris menipiskan bibir. "Tapi aku heran. Jika enggak cinta, kenapa bahkan ada cerita soal jejak kemerahan itu ya ..."


"Stop! Stop! Cukup. Oke. Aku memang cinta sama kakak kamu. Puas?" Paris lebih malu jika bahas itu. Sandra ketawa. Lalu memeluk tubuh gadis ini dengan erat sambil ketawa.


"Jadi ... Sahabatku kini benar-benar jatuh cinta ke seorang pria?"


"Ya ... Begitulah ...," ujar Paris lambat-lambat.


"Pasti tadi malam kamu kesepian sekali, ya ..," kata Sandra.


"Sangat."


"Tapi malam ini, enggak. Kamu akan aku temani." Sandra melepas pelukannya dan memamerkan senyumannya.


"Benar." Paris iku tersenyum.



Sandra menguap. Ini pertama kalinya dia menginap di sini. Kepalanya menoleh ke samping. Tidak ada tubuh Paris di sana. Sepertinya gadis itu sudah lebih dulu bangun. Sandra kembali menguap. Punggung tangannya mengucek-ucek matanya yang masih sulit beradaptasi dengan pagi. Kemudian turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Mereka bertemu di pintu. Paris yang mau masuk ke dalam kamar, terkejut melihat Sandra di balik pintu.


"Eh, kamu sudah bangun ... Barusan aja aku mau bangunin kamu." Paris langsung mengatakan maksudnya.


"Iya. Aku mau mandi."


"Ya sudah. Handuk dan perlengkapan mandi baru sudah aku siapkan di dalam sana. Silakan pakai sepuasnya," ujar Paris. Sandra hanya menganggukkan kepala dengan sesekali masih menguap lebar. Paris masuk untuk membereskan kasur yang berantakan. Setelah itu kembali menuju pantry.


Sebagai tuan rumah, dia harus memperlakukan tamu sebaik mungkin. Apalagi ini tamu spesial, yaitu adik iparnya. Gadis itu akan berangkat ke sekolah. Jadi Paris juga menyiapkan sarapan pagi ala kadarnya di meja makan. Karena tidak mungkin ia membiarkan Sandra kelaparan untu berangkat ke sekolah. Apalagi ini waktunya ujian.


Ponsel di saku celemek yang di pakainya berdering. Kak Arga. Dengan cepat, Paris menerima panggilan itu.


"Ya, Kak."


"Paris, hari ini sebaiknya kamu berangkat ke sekolah," ujar Arga di seberang memberi perintah.