Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pembelaan Biema



Melihat keabsenan Sandra di ruang tengah tadi, kemungkinan gadis itu belum keluar dari kamarnya. Biema menemani Paris hingga di depan meja dapur.


"Paris ... bantu mama dan bibi ya?" rayu mama Biema. "Kamu ngapain ikutan ke sini?" tanya beliau menatap putranya dengan heran.


"Aku sedang mengawal Paris," ujar Biema terdengar asal. Namun memang itu tujuan dia ikut ke dapur. Mama terlihat heran dengan jawaban putranya. "Jika mama menyuruhnya memasak, aku takut semua orang tidak akan bisa sarapan pagi ini." Sontak Paris mendelik mendengar Biema mengatakan itu. Meski kenyataannya adalah iya. Namun jika di katakan dengan terbuka seperti itu, Biema seperti akan membuka aibnya.


Mama Biema melirik ke arah Paris yang langsung tersenyum.


"Paris tidak bisa memasak. Mungkin jika hanya mie instan dia bisa, tapi jika harus memasak masakan yang sulit tentu tidak bisa." Sekali lagi Paris mendelik mendengar penjelasan pria ini pada mamanya.


Sialan! Jadi maksud dia mau menemani aku itu membuka aibku? Ini sih sama saja dengan mengatakan langsung pada keluarganya, 'Maaf, saya tidak bisa membantu Anda karena saya tidak bisa memasak apapun'. Paris berdecih dalam hati.


"Apalagi harus memasak untuk orang banyak. Saat ini kan banyak keluarga mama yang datang. Itu artinya mama mau menyiksa Paris jika memaksanya membantu memasak hari ini." Kalimat Biema membuat Paris terkejut.


Pria ini bukan sedang membuka aibnya. Memang awalnya terkesan begitu. Namun sesungguhnya Biema hendak meloloskannya dari kewajiban menantu membantu mertuanya memasak di dapur.


"Hei ... Apa yang kamu katakan? Menyiksa? Memangnya kamu pikir mama ini tidak punya hati nurani? Ngomong kok sembarangan." Mama jadi canggung Biema mengatakan itu semua. "Mama hanya ingin mengakrabkan diri sama menantu mama. Kamu ini ..." Mama Biema memukul lengan putranya pelan dan geregetan.


"Mama pikir Paris seperti bundanya yang pandai memasak? Jadi mama ingin pamer sama keluarga mama?" tanya Biema santai.


Jadi begitu? Paris merasa bersalah. Impian mertuanya kandas sudah.


"Anak tidak selalu menuruni bakat orangtua, Ma. Sandra saja belum tentu pintar memasak, atau menjahit seperti bakat mama," bela Biema. "Lagipula, seharusnya sejak awal mama memberi Paris tes masak dulu kalau memang nyari menantu yang bisa memasak."


"Aduh kamu itu terus saja memberi mama pidato. Sudah. Kamu ajak Paris berbincang saja sana," usir mama Biema membuat Paris lega tapi juga canggung.


"Ayo Paris, kita ke taman belakang saja," ajak Biema tanpa rasa bersalah. Paris bingung. Mau tetap di sana atau ikut Biema.


"Ikut saja Paris," ujar mama Biema menyuruh Paris ikut ajakan Biema. Tangan Biema langsung menyentuh jari-jari Paris dan membawa gadis ini pergi dari dapur.


"Tuan muda seperti tidak ingin melepas nona Paris, Nyonya ..." ujar bibi pembantu.


"Sepertinya begitu. Syukurlah. Dia tidak harus terus saja menunggu cinta dari wanita itu." Mama terlihat lega melihat Biema membela Paris.


...----------------...



...----------------...


Sementara itu, Paris yang di bawa Biema keluar dari dapur merasa tidak nyaman. "Memangnya enggak apa-apa Biem, aku enggak bantu di dapur?" tanya Paris masih kepikiran.


"Kenapa? Kamu mau balik ke dapur?"


"Enggak sih ..." Paris menggeleng kuat. Tentu saja tidak.


"Maka dari itu lebih baik kita jalan-jalan saja di sini." Biema memberi ide.


"Kenapa kamu sengaja kasih tahu mama, kalau aku enggak bisa masak? Bukannya itu bisa jadi nilai minus buatku di depan keluargamu." Paris mulai membahas sikap Biema tadi yang begitu terbuka.


"Nilai minus ya ... Kalau sejak awal, mama mencari menantu yang bisa masak, seharusnya mama nyari koki. Bukan gadis SMA seperti kamu."


Benar juga sih. Dalam hati Paris membenarkan.


"Memangnya aku singa apa? Apaan sih?" gerutu Paris kesal. Pria ini tidak menjawab, dia malah duduk di dudukan beton di dekat pohon sembari menarik tangan Paris yang ternyata masih di pegangnya. Gadis itu tidak sadar akan ini. Pekikan Paris terdengar dari bibirnya saat tubuhnya terhuyung jatuh menimpa Biema. Biema langsung menangkap tubuh itu. "Hei!"


"Enggak sadar ya, sejak tadi kita berpegangan tangan?" Senyum jahil Biema mengembang. Paris menarik tangannya dari pegangan Biema. Lalu pindah duduk di atas beton. Dia lupa kalau masih berpegangan tangan. Paris akhirnya terduduk di samping Biema.


"Apakah Mela pernah ke sini?" tanya Paris tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?" Sebenarnya Paris juga tidak paham kenapa tiba-tiba dia menanyakan tentang Mela.


"Hanya ingin tahu. Bukankah dia dulu tetangga kalian?"


"Bukannya kamu enggak ingin tahu."


"Kalau enggak minat menjawab, tidak perlu." Paris rupanya bukan orang yang sabar. Biema tersenyum.


"Karena dia tetanggaku, jelas iya."


"Mamamu pasti sangat mengenal Mela." Biema melirik Paris yang melihat lurus ke depan. Ada sesuatu yang tersembunyi di raut wajahnya. Mungkin sedikit rasa cemas.


"Tidak seberapa." Biema berusaha membuat Paris merasa tenang. "Jangan memikirkan soal Mela. Dia itu hanya orang yang pernah jadi tetanggaku."


"Juga orang yang pernah di ajak menikah olehmu," imbuh Paris cepat. Biema terdiam.


"Maaf, jika itu membuatmu tidak nyaman. Namun itu sudah masa lalu, Paris. Kamu ..."


"Kakk! Ayo sarapan!" teriak Sandra dari pintu belakang.


"Suara Sandra. Sebaiknya kita segera ke sana. Ayo, Biem," ajak Paris.


Kamu meragukanku.


Biema berdiri dan mengikuti langkah kaki Paris. Lalu mereka sarapan pagi dengan keluarga mama Biema yang ramai. Ruang makan kali ini begitu penuh. Sandra harus menghilang dulu karena dia harus berangkat sekolah. Ijin tidak masuk sekolah sudah di titipkan ke Sandra.


Setelah selesai sarapan, Paris di perkenankan untuk bersantai. Gadis ini bersantai dengan rebahan di kamar Biema. Pria itu masih belum pulang dari mengantar Sandra. Ponsel Biema berdering. Paris hanya menoleh sebentar kemudian merebah lagi.


Ingatan dia kali ini terpaku pada saat Biema sedang mendekatinya dan memeluknya. Pada saat pria itu mengatakan dengan kalimat menggebu tentang menginginkan dirinya. Wajah Paris memerah. Tangannya menutupi wajahnya. Kemudian mengusap-usapnya dan menghela napas.


Aarrggh! Paris menggeram dengan pelan. Kenapa jadi ingat kejadian itu. Ini memalukan. Paris merentangkan kedua lengannya seraya menatap langit-langit kamar.


Memang tidak keren jika aku hanya sebagai pelarian saja. Namun ... pria itu bukan tidak keren. Dia keren. Tampan, tinggi, dan manly.


Ponsel di atas nakas berdering terus menerus. Paris menghela napas dan berdiri. Kemudian mendekat karena mengira itu penting. Jika terus saja berdering bukankah ada keperluan penting.


Kepala Paris menunduk membaca di layar siapa yang menelepon Biema berulang-ulang. Mela! Paris berusaha melihat lagi. Mendekatkan kepala sekali lagi untuk membaca dengan jelas siapa yang menelepon. Ternyata benar. Itu Mela.


Dering berhenti berganti dengan chat yang muncul di layar.


"Aku sedang menuju ke rumahmu. Ada pembicaraan penting. Sekalian ingin bertemu dengan mamamu."


Dia akan kesini?


Jantung Paris berdetak kencang. Ternyata akan bertemu dengan wanita itu membuat Paris gugup juga. Ini sangat di luar dugaan.