Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pai buatan mama


Mama Biema benar-benar menyukai menantu dan kebun stroberi-nya. Beliau terus saja membahas buah stroberi pada Paris. Membagikan cerita tentang hal paling favorit pada orang lain, menunjukkan kita juga menyukai orang itu.


Panen stroberi ini sungguh menyenangkan. Hingga muncullah ide lomba mengumpulkan buah stroberi. Mama Biema jurinya. Paris dan Sandra mencari di tempat berbeda. Panas kian terik. Peluh meleleh membasahi leher mereka, tapi itu berbayar karena mama membuatkan pie stroberi dari hasil lomba yang di menangkan Paris. Dia memang harus menang.


Tidak terasa waktu mulai merambah sore. Ini di tandai dengan kemunculan Biema yang melihat keseruan mereka membuat pie stroberi bersama di dapur.


"Kamu sudah datang rupanya ...," ujar mama yang mengetahui lebih dulu kemunculan pria ini di dapur.


"Iya, Ma," jawab Biema.


Paris menoleh. Biema tersenyum ke arahnya. Entah kenapa Paris merasa tersipu dengan senyuman Biema barusan. Sampai dia harus menarik kepalanya kembali menunduk untuk melihat hasil pie stroberi yang mertuanya buat.


"Ambilkan piring kecil buat suamimu. Dia harus mencicipi pie stroberi ini," ujar mama. Paris mengangguk. Sandra menunjuk ke rak untuk membantu Paris menemukan piring kecil itu. "Kamu akan merasakan lezatnya pie stroberi ini."


"Aku sudah terlalu sering menikmati pie stroberi mama. Bertahun-tahun. Aku tahu itu lezat," kata Biema.


"Namun kamu belum pernah mencoba pie yang satu ini Biema. Ini pie stroberi spesial," kata mama ber Paris menyodorkan piring kecil ke beliau.


"Spesial? Apa ada bahan baru untuk membuatnya?" tanya Biema heran.


"Ya. Jika dulu mama membuatnya sendirian. Kini mama membuatnya bersama orang spesial. Dia istrimu. Jadi di dalam pie ini ada dua cinta untukmu ..."


"Sandra enggak di sebut?" protes Sandra. Mama tersenyum.


"Iya ... Di dalam sini ada tiga cinta untuk kamu, Biema," ralat mama. "Ada mama, adikmu dan yang paling spesial adalah Paris. Istrimu," ujar beliau sambil menoleh pada Paris saat kalimat terakhir di ucapkan. Berkat itu, dia menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat ke arahnya.


"Itu memang jenis pie yang berbeda." Biema tersenyum. "Begitu spesial jadi jangan sampai terlewatkan," imbuh Biema menanggapi sambil memandang Paris dengan hangat. Melihat ini Paris jadi salah tingkah. Mengkerjap-kerjapkan bola mata karena tatapan itu. Sandra menyenggol lengan iparnya dan tersenyum. Dia tahu mereka berdua sedang saling pandang. Paris menepuk paha Sandra pelan agar diam. Sandra cekikikan.


Setelah mama memotong pie besar itu beberapa bagian, beliau meletakkan satu potong buah pie di atas piring kecil. Lalu dagu mama bergerak menunjuk Biema. Paris mengerti dan membawa piring beserta sendok kue ke Biema yang duduk di meja makan.


"Terima kasih Paris," ujar Biema pelan. Paris hanya mengangguk dan segera kembali ke mama mertua. Mendengar suara Biema barusan, dadanya berdebar-debar. Namun mama justru membawa pie dalam piring kecil lainnya menuju meja Biema. Beliau mengajak dua putrinya untuk gabung dan mengobrol.


"Papa belum pulang, Ma?" tanya Biema yang belum melihat laki-laki paruh baya itu sejak masuk ke dalam rumah.


"Sebentar lagi. Papa bareng asistennya. Jadi mungkin lebih lama," ujar mama. "Sekarang kalian berdua ujian nasional, kan ... Pasti sebentar lagi kamu lulus sekolah, Paris," kata mama.


"Iya Ma," jawab Paris sambil menyendok pie di piringnya.


"Wahh ... itu membahagiakan." Mama gembira. Antusias soal kelulusan Paris bukan hanya pada Biema, tapi juga pada mertua perempuannya. Mereka sangat bahagia melebihi bundanya sendiri. Itu begitu memukau.


Paris mengangguk-angguk.


"Berarti langkah mama jadi uti sudah dekat, dong," ujar mama mertua senang. Paris menelan ludah. Mama Biema benar-benar akan membahas soal momongan di depan pria ini. Lihatlah. Biema sedang meliriknya dengan senyuman penuh arti.


Kemudian mereka berempat larut dalam kegembiraan. Biema berulang kali tertawa. Hal yang jarang-jarang di perlihatkan Biema. Pria ini begitu menikmati momen kebersamaan bareng mama, adik, dan istrinya.


Setelah puas berbincang segala hal dengan mama dan adiknya, Biema meminta ijin untuk pulang. Beliau membawakan pie stroberi untuknya di bawa pulang.


"Enggak terasa kalian mau pulang. Padahal mama senang tadi bareng menantu mama," ujar Beliau seperti tidak rela Paris pulang.


"Besok-besok Paris main ke sini lagi, Ma." Paris berusaha menjadi pahlawan dengan berinisiatif akan datang berkunjung. Biema menoleh pada gadis itu. Padahal hari ini dia muncul di rumah ini bukan karena ke inginan sendiri. Awalnya adalah ide Biema, lalu dia memutuskan berkunjung.


Biema merangkul pundak Paris.


"Ya. Paris bisa berkunjung sendiri lain waktu. Apalagi jika nantinya anggota keluarga kita bertambah," ujar Biema yang membuat Paris sontak menoleh padanya. Sembari membulatkan bola matanya. "Ya, kan?" Biema justru meminta dukungan. Paris menggerakkan jarinya ke punggung pria ini dan mencubitnya. Sontak Biema menggeliat sambil tersenyum.


Kalian berdua ... Mama ikut gemas saat melihatnya. Sandra menutup bibir menahan senyum.



"Bagamana ujian tadi?" tanya Biema saat mereka berada di dalam mobil.


"Seperti biasa."


"Bisa?"


"Ya begitulah. Itu hanya pertanyaan pilihan ganda. Tinggal silang-silang saja. Beres." Biema tergelak.


"Apapun itu, semoga keberuntunganmu bekerja." Biema mengelus kepala Paris. "Hari ini aku senang," ungkap Biema. Paris menoleh ke samping. Biema terus menerus tersenyum.


"Karena aku?" tebak Paris sangat percaya diri.


"Tentu," jawab Biema tersenyum sambil memiringkan kepalanya melihat Paris. "Karena kamu makin menggemaskan." Wow ... telinga Paris memerah. Walau dia terlihat tenang, hatinya bergolak tidak karuan.


Oh, tidak. Tidak. Jantungku berdebar. Wah, wah, wah ... Biema bikin aku jejeritan.


"Selain itu juga karena kamu mau melakukan kegiatan dengan mama." Jeritan di dalam hati Paris berhenti dan menoleh pada Biema.


"Kamu pikir aku tidak mau?" selidik Paris.


"Aku takut kamu tidak mau. Makanya aku tidak memaksamu ke sana meski aku ingin kamu mengunjungi mama." Tiba-tiba Paris punya keberanian untuk mendekat dan menyandarkan kepalanya pada bahu Biema. Pria ini terkejut.


"Ini memang hal baru dan penuh perjuangan bagiku. Namun jika pria yang aku sayangi menginginkannya, tentu aku akan mengabulkan." Biema tersenyum dan mengelus kepala Paris lagi.


"Terima kasih. Aku juga sayang kamu, Paris."


Mungkin karena kelelahan akibat memanen tadi, gadis ini mengantuk. Dia tidur dengan lelap di samping. Biema tersenyum dan membiarkan gadis ini tertidur hingga sampai di area apartemen. Belum sempat Biema membangunkan, Paris sudah menggeliat. Lalu membuka mata.


"Ini di mana?" tanya Paris. Dia menguap sambil menutupi mulutnya.


"Kita sudah sampai, Paris." Gadis ini menoleh ke kanan dan kiri. Dia menemukan banyak hal yang tidak asing. Mereka benar memang sudah tiba di area parkir apartemen. "Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Biema khawatir.


"Ya." Paris mengangguk.