Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Ayah bangun


Karena keramaian yang tercipta dengan kemunculan Paris dan Biema, tuan Hendarto terbangun. Beliau membuka mata perlahan.


"Ayah ...," ujar Asha yang melihat lebih dulu bola mata tuan Hendarto terbuka. Semuanya menoleh ke ranjang serentak. Bunda dengan cepat mendekat. Ayah memberi kode untuk membantunya duduk. Dengan penuh perhatian, bunda membantu suaminya duduk.


"Tidur saja, Ayah." Biema yang mendekat lebih dulu mencegah. Dia tidak ingin ayah mertua kesusahan. Bibir beliau tersenyum melihat keduanya.


"Aku tidak apa-apa," ujar tuan Hendarto. "Aku sudah sehat." Ayah tidak ingin rebahan saat ada menantunya. Bunda masih dalam diam membantu suaminya. "Biema tidak perlu bantu ayah. Bunda saja sudah mampu." Ayah mencegah Biema yang bermaksud membantu beliau. Bunda memberi kode Biema untuk tidak membantunya.


"Biema enggak apa-apa kok jika ayah enggak duduk. Bukannya Ayah masih kurang sehat," ujar Paris ikut mencegah beliau.


"Kamu tidak ingin ayah sehat?" tanya tuan Hendarto justru memojokkan putrinya. Bibir Paris langsung bungkam tidak jadi meneruskan. Apalagi bunda juga memberi kode untuk Paris diam. Namun tuan Hendarto bukan bermaksud menyerang putrinya dengan kata-kata. Beliau hanya tidak ingin memenuhi keinginan semua orang yang memintanya tetap rebahan sebagai orang sakit.


"Tentu saja Paris ingin Ayah selalu sehat." Biema langsung mengatakan ini untuk Paris. "Dia selalu kepikiran karena ayah jarang sakit. Namun sekarang tiba-tiba saja Ayah terbaring di rumah sakit. Jadi dia sangat cemas," ujar Biema memberi penjelasan. Tanpa di beri kode, pria ini tahu Paris ingin mengatakannya. Ayah melihat Paris yang memilih tidak bicara.


"Iya. Paris itu begitu. Lihat saja, setelah selesai ujian ... dia langsung datang ke sini dengan Biema. Lalu Biema sendiri juga sampai bela-belain mengunjungi Ayah, padahal di kantor lagi sibuk," ujar bunda menambahi. Paris dan Asha sempat terperanjat kaget mendengar bunda membahas ujian. Namun Biema tersenyum sambil menyahuti bunda.


"Saya tidak sibuk. Kebetulan hari ini ambil libur karena kemarin keluar kota," ujar Biema enggan disebut sibuk sambil tersenyum.


"Itu sama saja." Bunda mengedipkan matanya menyuruh Biema untuk mengiyakan saja. Biema tersenyum lagi.


"Jadi Paris masih ujian?" tanya ayah lembut. Pertanyaan lagi soal ujian.


"Iya, Ayah. Paris masih ujian," sahut Paris.


"Semoga dapat nilai bagus." Paris mengangguk. Dia harus tetap berpura-pura bahwa keadaan di sekolah baik-baik saja. "Biema sehat?" tanya ayah.


"Saya sehat Ayah," jawab Biema sopan.


"Sehat itu memang begitu berharga. Jangan sembarangan makan atau justru melewatkan jam makan. Tubuh bisa sakit dan mungkin lama untuk kembali sehat." Biema mengangguk paham saat mendengarkan apa yang di katakan beliau. Ini sebuah wejangan. "Paris, apa kamu masih sering melewatkan makan?" tanya ayah menoleh pada putrinya lagi.


"Enggak. Paris tidak pernah melewatkan jam makan. Apalagi Biema selalu menyiapkan makanan saat jam makan tiba." Paris mengatakannya dengan jujur sambil tersenyum polos pada Biema. Sangat jujur hingga membuat tuan Hendarto mengerutkan kening.


"Jadi Biema selalu menyiapkan makan untukmu?" tanya ayah menatap putrinya lurus. Seakan-akan tidak setuju dengan apa yang di bicarakan putrinya. Bibir gadis ini langsung terdiam menyadari sesuatu.


Aduh. Sepertinya salah ngomong, nih. Paris berdecih dalam hati.


Dia kelepasan bicara. Kepalanya menunduk melihat sorot mata ayahnya. Bunda meringis melihat Paris salah bicara. Asha juga memutar bola matanya mendengar Paris bicara yang tidak perlu di ketahui oleh ayah mertua.


"I-iya," sahut Paris tiba-tiba ragu.


"Saya memang menyiapkan makan untuknya saat dia sibuk belajar Ayah." Mendengar Biema memberi penjelasan, ayah menoleh pada Biema. Aura murka yang tersirat dalam wajah lemah karena masih dalam penyembuhan itu mendadak sirna seketika. Beliau mendengarkan kata-kata menantunya dengan baik. "Karena sekarang musim ujian, saya sengaja melakukan itu. Agar fokus belajarnya tidak berantakan." Biema kembali bicara dengan maksud membela istrinya.


Tuan Hendarto menarik pandangannya dari Biema ke arah putrinya. Paris mengerdipkan matanya berulang kali karena gugup.


"Kan sekarang ujian nasional. Jadi tentu saja aku belajar," bohong Paris.


"Jangan di biasakan. Seharusnya suamimu itu yang kamu siapkan makannya. Bukan justru menyiapkan makan buat kamu," ujar ayah menasehati. Rupanya firasat Paris benar. Dia akan di beri wejangan.


"Iya, Ayah ..." Paris mengangguk mengaku salah.


"Jangan terlalu memanjakan Paris, Biema. Dia juga harus bisa melayani kamu sebagai seorang istri." Tuan Hendarto menasehati menantunya.


"Baik Ayah," sahut Biema patuh.


Kedatangan mereka berdua mengisi ruangan ini penuh dengan nasehat-nasehat dari ayah. Walaupun begitu, Paris tidak jengkel mendengarnya. Jika ayah sudah bisa memberi wejangan, itu menandakan beliau sudah sehat. Buktinya senyuman meluncur dari bibir gadis itu sambil menatap ayahnya lega.


Ayah sudah sembuh. Ini melegakan. Aku tidak perlu khawatir lagi.


"Bun, nanti sore keluarga Biema akan ke sini," ujar Paris memberitahu. Dia tidak ingin keluarganya kerepotan saat orangtua Biema datang. Jadi harus di kasih tahu dulu biar sudah siap.


"Aduh ... enggak usah kesini juga enggak apa-apa, Biem. Ayah ini sudah sembuh. Sudah sehat. Tinggal pemeriksaan sebentar sudah boleh pulang." Nyonya Wardah menepuk lengan menantunya pelan.


"Ayah ini sudah sehat. Tidak perlu ada kunjungan untuk menjenguk lagi," ujar beliau.


"Meskipun Ayah tidak sakit, memang mama dan papa ingin mengunjungi keluarga di sini," ujar Biema bijak.


"Begitu ya ... Ya sudah. Keluargamu boleh datang. Kami akan menerima dengan baik. Meskipun ayah ini tidak suka di jenguk," ujar Ayah memberi ijin.


"Terima kasih," kata Biema menanggapi.


Tiba-tiba pintu kamar di buka oleh seseorang. Semua menoleh ke arah yang sama.


"Ternyata kalian berdua yang datang?" Muncul Arga dengan Rendra yang sedang menunggu di luar.


"Kak Arga," ujar Paris. Gadis ini segera menghamburkan diri ke arah kakaknya. Memeluk Arga dengan erat. Membuat semua yang ada di sana terpana dengan apa yang di lakukan Paris. Bunda dan ayah terkejut dan begitu heran melihat tingkah putrinya. Baik Arga pun sebenarnya terkejut melihat sikap adiknya. Hanya saja dia membiarkan adiknya melakukan itu.


"Hei ... tumben banget kamu manja begini. Di depan ada Biema tuh." Dagu Arga terangkat menunjuk Biema. "Nanti dia cemburu kamu masih nempel ke kakaknya seperti anak kecil begini," ujar Arga berkelakar. Mama menoleh pada menantunya sambil tersenyum. Biema hanya diam.


"Biema enggak bakal cemburu." Paris tidak peduli. Dia masih memeluk kakaknya dengan erat.


"Kenapa enggak bisa? Aku ini pria tampan," ujar Arga.


"Jelas enggak bisa. Dia jauh lebih tampan dari siapapun," puji Paris membuat Asha dan nyonya Wardah menoleh kepada pria ini, sambil tersenyum geli. Biema mengerjapkan mata mendengar dirinya di sebut pria paling tampan. Sungguh pujian yang menyenangkan.