
Paris mencebik mendengar tanggapan Biema. Namun kemudian dia memberi arahan pria itu menuju ke tempat makan seafood favoritnya.
Warung tenda. Begitu sebutannya. Warung yang hanya tercipta dari sebuah tenda. Namun tempatnya lumayan luas jika hanya di sebut warung. Berdiri berjajar dengan warung tenda lain yang punya menu bermacam-macam. Letaknya pas di depan sebuah salah satu bank milik negara.
Biema memarkir mobilnya dengan arahan juru parkir di sana. Setelah itu dia mengikuti langkah Paris yang begitu riang. Gadis itu begitu bersemangat untuk turun lebih dulu dari mobil. Biema sangat yakin gadis ini begitu menyukai makanan laut.
Karena sudah menjelang petang, lampu-lampu terlihat sangat bagus di sepanjang taman kota. Biema baru tahu tempat ini sekarang. Pemandangan yang bagus. Pilihan Paris dianggapnya tidak sembarangan.
"Hmmm ...." Paris menghirup aroma bakar kesukaannya. Didepannya sudah ada ikan dengan warna bakar kecoklatan dan hampir gosong. Itu sangat pas dengan seleranya. Biema tersenyum melihat Paris kegirangan. "Kamu juga suka ikan bakar?" tanya Paris saat melihat Biema juga memesan menu yang sama.
"Begitulah," jawab Biema. Paris mengangkat bahu.
"Sebaiknya aku segera makan. Sepertinya air liurku akan menetes jika tidak segera makan."
"Kalau begitu, segeralah makan." Biema mempersilakan Paris untuk makan ikan. Ini tidak di sia-siakan oleh Paris. Dengan makan tanpa memakai sendok, Paris tampak begitu lahap. Gadis ini benar-benar kelaparan. Biema senang melihat Paris tidak mempedulikan image untuk selalu tampil bagus di depannya. Entah karena nyaman atau karena dia tidak peduli.
"Ayo. Kamu juga makan, Biem. Kenapa diam saja?" Paris yang melihat Biema hanya memandanginya, memaksa pria ini untuk segera menyantap makanan lezat di depannya. Biema mengangguk. "Kamu enggak mau makan bukan karena ini bukanlah restoran mewah, kan Biem?" tanya Paris lagi.
"Tidak. Tidak masalah bagiku makan dimana saja. Apalagi makan denganmu," ujar Biema. Paris menarik sudut bibirnya. Kemudian dia bergelut lagi dengan makanannya.
Sementara itu Biema menatap ikan bakar di piringnya. Menatap agak lama, kemudian menyentuh ikan bakar itu dengan ujung jarinya. Dia menelan ludah. Mengambil napas panjang, kemudian mengambil beberapa potong ikan bakar itu. Mengunyah perlahan dan menelannya dengan cepat.
Namun tiba-tiba saja tubuh Biema tergeletak lemah tak berdaya di atas tanah. Paris mendelik seraya menjerit histeris. "Biema!!"
Ponsel Arga di nakas bergetar. Arga yang sedang asyik masyuk dengan istrinya tidak bisa mendengar dering ponsel yang nyaring. Malam ini Arash sedang bepergian bersama utinya. Jadi Arga dan Asha hanya berduaan saja. Waktu berdua ini di manfaatkan Arga untuk menjamah istrinya.
"Sepertinya ponselmu berdering, sayang ...," ujar Asha yang sedang di cumbui oleh Arga.
"Mmm?" Tentu saja Arga tidak mengindahkan apa yang di katakan istrinya. Dia terlampau terlena dengan permainannya. Asha akhirnya kalah. Wanita ini memilih mengabaikan suara dering ponsel. Namun ponsel Arga terus saja berdering tanpa lelah. Memekik dan menjerit lantang meminta respon dari dua orang ini.
"Sayangg ... Berhenti. Ponselmu berdering. Mungkin itu penting." Asha terpaksa menghentikan suaminya berasyik masyuk di atas tubuhnya. Dia merasa telepon kali ini penting. Karena jika tidak, si penelepon akan lelah dan menyerah menelepon ponsel Arga.
"Hhh ... Aku akhirnya kalah oleh dering ponsel menyebalkan," gerutu Arga.
"Sudahlah. Ayo, cepat lihat. Siapa yang meneleponmu itu. Aku bisa menunggu. Namun mungkin orang yang meneleponmu tidak," ujar Asha. Dengan menggerutu, Arga mendekat ke nakas. Masih bertelanjang tentunya. Paris. Ada nama adiknya yang muncul di layar.
"Paris ...," desis Arga yang langsung menyambar ponsel. "Halo, Paris."
"Kak Arga ... Tolong aku ...," ujar Paris di seberang dengan suara serak.
"Ya, Paris. Ada apa?" tanya Arga langsung mode siaga. Asha ikut tegang melihat Arga berwajah serius.
"Biema ... Biema ..."
Arga dan Asha bergegas menuju rumah sakit yang di sebut Paris. Karena mereka tidak di sibukkan oleh baby Arash, mereka berdua cukup cepat tiba di tempat Paris menunggu.
"Paris," sebut Arga yang melihat adiknya sedang duduk sendirian.
"Kamu tidak apa-apa? Bagaimana dengan keadaan Biema sekarang?" tanya Arga seraya menoleh ke dalam ruangan. Paris menggeleng. "Kamu tidak tahu?"
"Aku ... Aku belum berani melihatnya. Aku takut, Kak," ujar Paris.
"Lebih baik kamu yang masuk ke dalam, sayang. Biar Paris bersamaku dulu," ujar Asha seraya menyentuh lengan suaminya.
"Aku lihat dulu keadaan Biema. Tenangkan dulu dirimu disini bersama Asha," kata Arga. Paris mengangguk. Setelah berkata demikian, Arga masuk ke dalam kamar perawatan. Di dalam masih ada dokter yang baru saja selesai menangani Biema. "Bagaimana keadaan dia, dok?" tanya Arga.
"Anda keluarganya?"
"Ya. Saya saudaranya."
"Kondisinya mulai membaik. Pasien sudah bisa bernapas dengan normal."
"Ada apa sebenarnya. Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Arga yang di beritahu Paris di awal bahwa Biema tiba-tiba pingsan.
"Pasien ini punya alergi dengan makanan laut yang sangat parah. Jadi saat menyentuh makanan laut dan bahkan memakannya, pasien mengalami syok anafilaksis. Pada penderita alergi parah, ini bisa menyebabkan kematian bila tidak segera ditangani. Namun tadi sudah saya beri suntikan epinefrin. Jadi pasien bisa segera di selamatkan."
(Anafilaksis adalah reaksi sistem imun parah yang terjadi secara tiba-tiba setelah tubuh terkena alergen atau pemicu alergi)
"Jadi sekarang saudara saya sudah tidak apa-apa?" tanya Arga lagi.
"Ya. Pasien sudah siuman. Napasnya juga sudah normal."
"Syukurlah." Arga bernapas lega. "Kita sekarang bisa melihat kondisi pasien?"
"Silahkan." Arga keluar ruangan. Asha dan Paris langsung menoleh saat suara pintu ruangan di buka terdengar.
"Bagaimana, sayang?" tanya Asha yang memegangi lengan adik iparnya.
"Biema sudah bisa di jenguk."
"Keadaan ... keadaan Biema bagaimana, Kak?" tanya Paris dengan nada cemas yang sangat kental. Juga kalimat yang tersendat-sendat.
"Kata dokter, keadaan Biema sudah normal."
"Benarkah?" tanya Paris senang. Arga mengangguk. Lalu mengajak keduanya masuk ke dalam ruangan perawatan. Dokter dan beberapa perawat bermaksud untuk keluar.
"Terima kasih dokter," ujar Asha seraya membungkuk. Saat Asha dan Arga mengantar dokter dan perawat keluar, Paris memandang tubuh Biema yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Kakinya berjalan perlahan-lahan. Mendekat dan menghampiri ranjang.
"Biem ...," sebut Paris lirih saat sudah berada dekat dengan tubuh pria itu. "Biem ...," panggil Paris lagi. Berharap pria ini membuka matanya sekarang juga. Mata Paris mulai nanar melihat pria itu tidak membuka matanya. Asha dan Arga memperhatikan Paris.
"Kenapa Biema belum bangun, sayang?" bisik Asha cemas seraya memeluk lengan suaminya.
"Aku tidak tahu. Dokter bilang keadaannya sudah normal," sahut Arga masih tetap berbisik.
"Biema ..." Paris terus saja memanggil nama pria ini, tapi kelopak mata itu tetap tidak mau terbuka. "Kak Arga ... " Paris menolehkan kepala pada Arga. "Kenapa Biema enggak membuka matanya? Kakak bilang keadaannya sudah normal, tapi ini apa? Kenapa dia masih belum sadar?" tanya Paris ingin menangis dan marah.