
Paris keluar dari ruang ujian lebih dulu karena berhasil menyelesaikan soal ujian dengan cepat. Maksudnya bukan nomor satu. Hanya bisa masuk dalam lima belas orang yang berhasil menyelesaikan soal lebih dulu dari yang lain. Entah kenapa, siang ini Sandra belum selesai mengerjakan soal dengan cepat seperti tadi.
Ponsel Paris berdering. Ternyata itu Biema. Kaki Paris melangkah seraya menerima panggilan dari pria itu.
"Kamu sudah di depan?" tanya Paris berniat segera ke depan.
"Tidak. Aku masih di kantor."
"Jadi belum berangkat jemput aku, nih?" selidik Paris.
"Maaf Paris. Aku dan Fikar tidak bisa menjemputmu siang ini." Paris menarik lagi langkahnya yang sudah maju. Dia berhenti. Mengurungkan kakinya ingin segera menuju ke luar gerbang.
"Oh, begitu." Terdengar nada kecewa.
"Jangan kecewa begitu, Paris. Maafkan aku." Biema menyadari itu. Dia merasa bersalah. "Kita punya banyak pekerjaan sekarang. Jadi lebih baik kamu ikut Sandra pulang ke rumah mama," ujar Biema. Paris tidak langsung mengiyakan. Dia terdiam karena masih berpikir.
"Aku tidak memaksamu. Hanya memberi saran. Kalau kamu mau pulang ke apartemen, pulang saja. Kalau mau ke rumah bunda, ya kesana saja. Minta tolong sopir rumah mama untuk nganterin kamu." Biema segera memberi Paris penjelasan. Dia takut Paris merasa di paksa untuk mengunjungi orangtuanya.
"Aku akan ikut Sandra pulang." Paris menyebutkan pilihannya.
"Jadi kamu akan ke rumah mama?" tanya Biema antusias. Sepertinya pria ini begitu senang saat Paris memilih menghabiskan siangnya di rumah keluarganya.
"Ya."
"Aku senang." Biema tersenyum. Pria mana yang tidak bahagia saat istrinya mengunjungi orangtuanya. Itu menandakan istrinya juga menyayangi orangtuanya. "Aku janji tidak akan terlambat menjemputmu. Baik-baik di sana, ya Paris. Meski belum terbiasa, cobalah bertahan." Meskipun kegirangan, dia tetap berusaha mengerti soal keadaan Paris yang masih amatir dalam keluarga barunya.
"Iya. Aku tahu. Tenanglah ..." Paris berusaha meyakinkan Biema.
"Oke. Sampai ketemu nanti sore. Mmuach." Setelah Biema menutup ponselnya, Paris termangu di depan jendela kelas.
"Hei, apa itu? Mmuach?" tanya Paris tidak percaya. Senyumnya merekah. "Dasar Biema. Semakin lama semakin menggemaskan." Paris terkikik sendiri. Dia kegirangan mendengar kecupan tiba-tiba dari pria yang jadi pendampingnya.
"Hei." Seseorang sedang menepuk pundaknya. Tubuh Paris berjingkat kaget. Lalu menoleh.
"Oh, Sandra."
"Kenapa cekikikan sendiri? Ada hal yang menyenangkan, ya ... "
"Begitulahh ..." Paris merahasiakannya. Sandra mencebik.
"Kenapa masih di sini?" tegur adik iparnya itu.
"Aku mau ikut kamu pulang ke rumah mama sekarang."
"Tumben." Kening Sandra mengernyit.
"Iya. Biema sedang repot. Fikar juga. Jadi aku mau ikut kamu pulang. Karena malas pulang ke apartemen. Nanti pulang kerja Biema yang jemput.
"Asyik tuh. Mama juga pasti sangat senang kamu ke rumah. Kita bisa ngobrol sepuasnya." Sandra gembira. Paris mengacungkan jempol. "Ayo ke depan." Mereka berdua berjalan beriringan keluar gedung. Karena mobil rumah keluarga Sandra belum muncul. Mereka memilih membeli makanan ringan di mini market seberang gedung sekolah.
Setelah membeli beberapa camilan, mereka duduk di kursi-kursi yang sudah di sediakan pihak minimarket.
"Baik-baik terus sama kak Biema, ya Paris ...," ujar Sandra.
"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu? Ada apa nih ...." Paris menggerakkan dagunya kepada Sandra.
"Enggak. Saat lihat kalian semakin akrab, aku tambah senang. Bahagia. Akhirnya kamu bisa cinta juga sama kak Biema. Saat kalian di jodohkan tanpa aku tahu, aku terkejut. Takut ketemu kamu. Karena aku ngerti kamu enggak cinta sama kakakku. Jadi takut kamu marah pas itu."
"Aku memang marah sama kamu waktu itu tahu," desis Paris.
"Jika sekarang hubungan kalian semakin dekat, itu berita membahagiakan. Apalagi mama. Mama begitu bahagia saat aku ceritakan tentang kalian berdua. Mama sampai titip pesan, 'bilang sama Paris, cepat dapat momongan ya, Begitu ... Aku lupa beritahu kamu," ujar Sandra santai. Dia tidak tahu dampaknya buat Paris.
"Uhuk! Uhuk!" Sandra terkejut melihat Paris. Ia segera mengambil botol air dan menyodorkannya. Glek! Glek! Paris meneguk air dengan cepat. Sedikit sakit di tenggorokan, tapi itu tidak akan lama.
"Kenapa mama bilang begitu? Kamu pasti ngomong yang aneh-aneh ini," tuduh Paris sambil menunjuk Sandra dengan roti sandwich rasa cokelat yang di pegangnya dengan geram.
"Enggak. Aku hanya bilang, 'Ma, di leher kak Paris ada bekas kemerahan. Mereka sudah berciuman sekarang," sahut Sandra polos.
Paris mendelik.
"Hei! Kenapa kamu bilang begitu sama mama, hah?! Jangan aneh-aneh." Paris langsung histeris.
"Aku enggak aneh-aneh. Aku kan bilang sesuai kenyataan Paris."
"Pakai filter dong. Aku malu tahu ..." Paris gemas.
Sandra tergelak. "Kenapa ... Mama pasti mengerti, kok. Mama kan sudah punya anak gede."
"Ih ... kamu ini." Paris geregetan. Sandra terbahak-bahak.
Masih terngiang di kepala Paris soal pesan yang di titipkan itu. Gimana malunya dia jika ketemu mama Biema.
Cepat dapat momongan? Busyet.
Munculnya mama Biema yang menyambutnya di ruang tengah, menaikkan indikator rasa malu pada diri Paris.
"Sini, aku bawa tasnya ke atas. Paris ngobrol dulu sama mama," kata Sandra melepaskan tas ransel yang dari punggung gadis ini. Paris mengikuti saja kemauan adik iparnya.
"Keadaan kalian berdua bagaimana?" tanya mama sambil mengajak Paris duduk di sofa. Maksudnya dia dan Biema.
"Baik, Ma."
"Pasti sangat baik sekali, ya ..." Senyum mama Biema membuat gadis ini canggung. Apalagi saat Paris menemukan bola mata beliau melirik ke arah plester yang menempel rapi pada lehernya. Gadis ini semakin kikuk sekaligus malu. Karena setelah melihat ke plester di lehernya, mama Biema tersenyum penuh arti. Pasti mama mertua sedang memikirkan perkara jejak merah itu.
Awas kau Sandraaa ...
"Biema sudah enggak lagi ketemu, Mela kan?" tanya beliau di luar dugaan.
"Masih. Masih ketemu."
"Masih ketemu?" tanya beliau terkejut. Raut wajahnya mulai serius.
"Iya. Mela kan kerjasama dengan perusahaan kak Biema, Ma. Ketemunya jarang sih. Cuma, ya ... kadang ketemu." Paris menjelaskan seadanya.
"Tapi Biema enggak yang gimana-gimana gitu kan?" tanya mertua ini membingungkan. Alis Paris menyatu.
"Maksudnya, Ma? Gimana-gimana yang gimana, ya Ma?" tanya Paris ribet. Dia bingung.
Mama Biema tergelak. "Menantu mama lucu. Enggak ... Mungkin saja ketemu sama Mela terus dia jadi berubah, begitu. Mama khawatir."
Paris mengerti apa yang di maksud mertuanya. Perempuan yang sudah melahirkan Biema ini tahu soal hati putranya yang sempat tertambat pada Mela dan ingin menikahinya.
"Enggak kok, Ma. Kak Biema sudah enggak peduli lagi ke Mela."
"Syukurlah. Sepertinya Biema memang sudah fokusnya ke kamu saja ini ...." Paris tersenyum kaku di ledekin mertuanya. "Biema lama enggak hubungi mama, tiba-tiba saja telepon tadi. Lalu bilang kalau mama harus bersiap-siap. Sempat bingung juga ada acara apa. Ternyata ... istrinya mau berkunjung ke sini." Mama mertua tergelak. "Dia juga bilang ... titip Paris, ya Ma. Jangan di apa-apain. Memangnya mama ini kanibal, mau apa-apain kamu. Dasar Biema. Sebegitunya khawatir sama kamu." Mama semangat bercerita.