
"Ya. Kamu. Di sini nama Mela jelas hanya kamu. Dan yang aku tahu Mela yang pernah di cintai oleh Biema adalah kamu." Pada saat Paris mengatakan ini, sontak Biema terusik. Karena Paris sengaja mengatakannya dengan tekanan. "Jadi aku tidak mungkin menyuruh orang lain keluar dari sini selain kamu."
Biema melihat Paris yang mulai kembali terlihat seperti biasanya. Terlihat begitu garang dan brutal.
"Apa maksud semua ini, Biem?" tanya Mela tidak setuju Paris sengaja menyuruhnya pergi. Biema menggeser bola matanya segera karena pengaduan Mela. "Kenapa istrimu menyuruhku pergi? Aku kesini karena suatu pekerjaan. Aku bekerja. Kita sudah sepakat, bahwa aku akan ke sini untuk melihat contoh produk. Dan aku rasa pengusiran barusan tidak termasuk dalam perjanjian."
Wanita ini benar. Dia yang tidak tahu apa-apa jelas tidak terima tiba-tiba saja di usir.
"Ini bukan pengusiran. Aku hanya memintamu pergi. Maaf, jika itu terdengar seperti sebuah usiran bagimu." Paris segera meralat. "Sepertinya dia tidak akan setuju jika aku yang menyuruhnya pergi karena aku tidak punya wewenang di sini," gumam Paris sambil menggelengkan kepala samar.
Mela melihat Paris dengan tidak bersahabat. Fikar memilih hanya duduk dan memperhatikan mereka bertiga. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali melihat.
"Apakah aku masih bisa melanjutkan pekerjaan?" tanya Mela sebagai seorang rekan bisnis. Paris yang berdiri menundukkan pandangan melihat Mela.
Wanita ini tentu punya hak untuk tidak setuju. Mereka bekerja. Sementara aku ...
"Bisa. Kita bisa melanjutkan pekerjaan. Sebaiknya kita bicara dan melakukan pekerjaan di luar." Biema memberi ijin Mela melanjutkan pekerjaan.
"Itu lebih baik." Mela setuju.
Fikar mendelik. Biema memilih melanjutkan pekerjaan di saat Paris sedang dalam mode perang. Pria itu seperti sengaja membuat keadaan semakin panas. Bola mata Fikar langsung melihat Paris. Ingin melihat reaksi apa yang di tunjukkan gadis ini.
"Jadi kamu memilih mengabaikanku dan meneruskan pekerjaanmu?" tanya Paris. Gadis ini yakin saat ini dirinya tampak bodoh. Sekalipun dia adalah istri dari pria disana, orang nomor satu di perusahaan ini, tapi jika memaksa Biema bicara saat laki-laki itu akan menyelesaikan pekerjaan, tentu dirinya akan tampak sangat bodoh dan tidak tahu sopan santun.
"Ya. Ini sebuah pekerjaan. Ayo Fikar." Fikar kebingungan. Dia harus ikut Biema, tapi tidak tega melihat Paris. Sementara Mela sudah berdiri seraya membetulkan letak tasnya. Wanita ini bersiap pergi.
"Aku harus menunggu?" Kening Paris mengerut.
"Jika itu sangat penting, aku rasa kamu bisa menunggu." Setelah mengatakan itu Biema beranjak berdiri dari duduknya. Dia akan meninggalkan Paris yang tertegun.
Aku ditinggalkan? Sialan!
"Justru karena ini penting, Biem! Aku tidak bisa menunggu!" Paris berusaha mendapatkan perhatian pria itu dan memberi waktu untuknya bicara. Namun Biema tetap melangkahkan kaki menuju pintu.
Fikar menoleh ke arah Paris. Kakinya masih belum melangkah. Dia masih melihat gadis ini.
"Kenapa belakangan ini kamu menghindariku?" Pertanyaan ini tidak bisa membuat Biema menetap. Dia tidak peduli. "Jika kamu terus saja menghindariku seperti ini, aku bisa terluka, Biem. Sikap dinginmu itu melukaiku," ujar Paris terdengar getir. Kalimat kedua ternyata mampu membuat Biema menghentikan langkahnya.
Melihat kedua orang ini, Mela jadi iba. Walaupun dia sempat bersikap tidak suka saat mendengar bahwa Biema langsung menikahi gadis ini setelah menyatakan cinta dan mengajaknya menikah. Juga sedikit kesal dengan sikap Paris tadi, tapi saat ini dia terusik ingin membantu. Mereka berdua tampak menyedihkan.
"Jika kamu ingin menyelesaikan masalah kamu dengan istrimu, sebaiknya katakan saja. Jangan membuatku tampak seperti pengganggu hubungan kalian," ujar Mela memberi saran. "Aku bisa tunda pekerjaan kita."
"Atau sebaiknya kita pergi dulu. Selagi menunggu Biema menyelesaikan masalahnya." Fikar mengatakan dua kata terakhir dengan geram. Mela mengiyakan. Dia tidak mau melihat mereka berdua bersitegang. Dia memilih pergi.
"Biasa. Pertengkaran suami istri," jawab Fikar santai.
"Biema terlihat sangat aneh. Dia sangat kekanak-kanakan. Aku tidak pernah melihat dia seperti itu." Wanita ini sudah tidak lagi kesal. Mungkin dia tidak ingin ikut-ikutan panas seperti pasangan itu.
"Begitulah cinta. Bisa merubah hati siapa saja," ujar Fikar bagai seorang pujangga.
Di dalam ruangan. Biema masih diam membisu dan membeku mendengar kalimat Paris.
"Jangan mengabaikan aku," ulang Paris. "Mungkin awalnya aku mengira akan biasa saja kamu memilih menghindariku setelah pertengkaran itu. Namun aku salah. Aku justru semakin ingin bertemu denganmu." Perlahan Biema membalikkan tubuhnya. Paris sedang menatapnya sendu.
"Di abaikan kamu dua hari ini saja sudah membuat aku rapuh. Berhenti melukaiku, Biem." Kata-kata Paris membuat pria itu terpana menatapnya. Biema tertegun.
"Aku mengaku. Ya. Aku mulai tergantung padamu. Aku mulai terbiasa denganmu yang selalu ada di sampingku. Aku ... " Paris berdecih. Dia frustasi mengatakan itu semua. Apalgi saat matanya mulai berkaca-kaca. "Aku akui aku mencintaimu. Aku mulai menyadari itu." Airmata mendesak keluar. Membuat Paris beedecih seraya mengusap airmatanya. "Namun, jika kamu ..."
"Berhenti," perintah Biema.
"Jangan seenaknya menyuruhku berhenti, Biem! Jika aku tidak mengatakan ini secepatnya, kamu akan tetap membuatku menunggu. Aku tidak mau itu!" Paris menyeka lagi airmatanya.
"Berhenti menangis Paris."
"Kenapa menyuruhku berhenti menangis, hah?! Bukannya kamu sendiri yang membuatku ..." Dalam sekejap tubuh Paris berada dalam dekapan Biema. Lengan kokohnya sudah mengurung dengan erat.
"Cukup. Cukup, jangan seperti itu lagi," ujar Biema di dekat telinga gadis ini. Dia masih memeluk.
"A-apa ini?" tanya Paris tidak paham. Air matanya masih bertengger di atas pipinya. Karena terkejut dengan perlakuan Biema, Paris membiarkan airmata itu. "Apa ini, Biem?!"
"Terima kasih sudah menyadari perasaanmu. Aku menunggu itu. Menunggu kamu mengatakan mencintaiku."
"Me-menunggu? Kamu ... kamu tidak marah?" tanya Paris terbata-bata.
Biema melepas pelukannya. Biema menyeka air mata di pipi Paris. "Aku tidak mungkin marah ke kamu Paris. Itu tidak mungkin."
"Jadi kamu bersandiwara?!" tanya Paris dengan wajah terluka. "Jadi kamu mengabaikanku itu adalah sebuah sandiwara?" Mata Paris mulai merah. Dia akan menangis lagi. Sepertinya ini akan jadi tangisan yang penuh dendam dan amarah. Paris tertipu. "Kamu membohongiku?" Pertanyaan senada terus saja terlontar.
"Paris ..." Biema merasa Paris akan meledak-ledak lagi.
"Sialan! Kamu sudah membuatku mengatakan aku mencintaimu lebih dulu, Biem! Itu, itu ... Sial!" Raut wajah Paris semakin menunjukkan dia marah. Gadis ini menggigit bibir bawahnya dengan jengkel. Air matanya jatuh. Tangannya menyisir rambut dengan frustasi. "Padahal kata cinta darimu saja aku belum pernah dengar sekalipun, tapi kamu sudah membuatku terpaksa mengatakannya lebih dulu. Aku ..." Paris sampai kehilangan kata-kata saking marahnya. "Kamu .... Arghh!" Paris menunjuk Biema dengan jengkel. Punggung tangan Paris menyeka airmata. Dia mencoba menahan tangis.