
"Ya. Aku rasa ada seseorang yang iseng," ujar Paris dengan geraman yang tertahan. Sandra melihat ke arah Paris. Dia yakin saat ini sahabatnya akan segera meledak. Ini sungguh berbahaya. Banu pun pergi meninggalkan mereka.
"Tenanglah, Paris." Sandra langsung menasehati. Padahal Paris masih hanya menggeram saja.
"Aku belum melakukan apa-apa," ujar Paris seraya melebarkan mata untuk memprotes Sandra.
"Paham, tapi aku tahu kamu akan melakukan sesuatu." Sandra tahu siapa Paris. Gadis ini mengangkat bahu tidak peduli.
"Itu pasti. Aku belum pernah bikin onar dengan anak-anak sini, tapi mereka sudah melakukan keisengan seperti ini," ujar Paris geram.
"Lebih baik abaikan saja. Toh kamu enggak begitu. Kamu gadis baik-baik kok." Sandra berusaha menenangkan sahabat sekaligus kakak iparnya ini. "Itu hanya tulisan."
"Entahlah. Aku bisa diam atau enggak nanti." Paris mengepalkan tangannya erat-erat. Sandra menghela napas.
Setelah dari kantin, Paris ingin ke toilet. Dia menyuruh Sandra lebih dulu kembali ke kelas karena hampir saja bel istirahat usai berdentang.
"Ke kelas aja dulu. Aku mau ke toilet," kata Paris.
"Benar nih, aku tinggal?" tanya Sandra ragu.
"Ya. Sebentar lagi masuk soalnya. Daripada kita berdua kena semprot, lebih baik kamu yang jadi pengirim pesan kalau guru pembimbing nyari aku."
"Oke. Aku ke kelas ya ..." Paris mengangguk. Setelah Sandra pergi untuk kembali ke kelas, Paris membelokkan langkahnya untuk menuju ke toilet yang berada di sebelah kanan. Dengan setengah berlari Paris menuju toilet.
Bel berdentang setelah Sandra sampai di kelas. Sangat beruntung. Beberapa menit kemudian, guru pembimbing pun muncul. Banu menoleh padanya dengan menggerakkan dagunya. Menanyakan keberadaan Paris. Sandra hanya menunjuk ke luar kelas.
Saat guru mengabsen, tentu saja beliau mencari Paris yang tidak ada di sebelahnya. Sandra memberitahu bahwa gadis itu sedang ke toilet.
Saat nama Paris di sebut tadi, Sandra sempat menangkap tatapan aneh dari beberapa orang. Gadis ini mencoba memperhatikan, memang mereka sedang melihat ke arah bangkunya dengan wajah ingin tahu. Ada apa?
Mungkin saat pelajaran di mulai mereka berhenti memandang seperti tadi, tapi saat guru pembimbing menyelesaikan jam mengajarnya dan keluar menuju ke kantor, pandangan mereka kembali seperti tadi. Apalagi Paris tidak muncul.
"Paris kemana, San?" tanya Banu si ketua kelas langsung saat guru keluar.
"Di toilet."
"Di toilet lama banget."
"Sembelit ya," ledek teman cowok yang lain cekikikan. Sandra hanya melirik tajam.
"Iya. Mungkin dia pusing dan ke UKS. Soalnya tadi dia mengeluh sakit," ujar Sandra bohong. Memang gadis itu sedang tidak mood dan sedikit low battery. Namun bukan sakit, itu karena hari ini ada sesuatu antara dia dan Biema.
"Sudah lihat obrolan di grup chat sekolah?" tanya Banu.
"Enggak. Kenapa?" tanya Sandra heran.
"Ada cerita soal Paris yang beredar saat ini."
"Cerita soal Paris?" Sandra agak terkejut.
"Lihat saja sendiri deh." Banu kembali ke bangkunya. Sandra membuka grup chat dan menemukan obrolan terbaru. Muncul sebuah image yang membuatnya melebarkan mata.
Sandra tidak bisa menghubungi Paris.karena Paris memberikan ponsel padanya. Jadi ponsel Paris ada di tangannya. Sandra mulai panik dan cemas. Bukan hanya karena guru pembimbing tadi mencarinya, tapi juga karena gosip di grup chat sekolah. Soal Paris sebagai cewek panggilan.
Sandra sedang menunduk melihat foto Paris dan seseorang, ketika temannya datang menghampirinya, "San, bener enggak sih Paris kayak gitu?" tanya teman satu kelas yang sepertinya sudah sejak tadi ingin bertanya. Mereka juga penasaran.
"Jelas tidak," jawab Sandra yakin.
"Foto itu berarti palsu?"
"Mungkin." Karena Sandra seperti menemukan sesuatu di dalam foto itu, dia menjadi ragu bilang itu palsu.
"Kenapa kamu ragu?" tanya mereka ikut meragu.
"Bukan begitu. Aku yakin sekali Paris bukan gadis seperti itu. Kalau soal foto itu aku juga enggak paham. Entah itu palsu atau asli."
Paris, kenapa kamu tidak balik ke kelas? Kamu kemana? Ada berita yang lebih heboh dari sekedar keisengan itu.
Beberapa menit Paris masuk dalam toilet, samar-samar dia mendengar suara cewek-cewek sedang mengobrol.
"Hihihi ... pasti Paris syok lihat tulisan itu."
"Kenapa harus bercanda begitu, sih?"
"Bercanda? Enggak. Aku enggak bercanda. Kita lihat sendiri itu anak lagi jalan sama om-om."
"Kali aja memang om-nya dia."
"Masa iya, om-nya pegang-pegang pipi. Secara sekarang Paris itu gadis remaja. Iya kalau anak kecil."
"Benar juga."
"Saat aku tanya esoknya ke yang lain, ternyata dia ijin enggak masuk sekolah karena sakit saat itu. Tepat saat kita mergokin dia sama om itu."
"Jadi dia pura-pura sakit untuk bisa jalan sama pria itu?"
"Nah benar."
"Waduh, dia itu sudah level tinggi soal begituan kali ..."
"Yap. Maksudku ke arah sana."
Brak! Paris membuka pintu toilet dengan keras. Kepala ketiga cewek ini langsung menoleh ke pintu toilet yang terbuka.
"K-kamu?" tanya mereka terkejut. Mereka tidak menyangka akan ada si empu nama yang di bicarakan. Saat mereka berbicara tentang Paris, gadis ini justru ada di dalam toilet.
"Jadi kalian yang menempel kertas pada punggungku?" tanya Paris.
"I-iya. Memangnya kenapa?" tanya salah satu dari mereka memberanikan diri.
"Justru akulah yang ingin bertanya. Kenapa kalian melakukan hal konyol itu?" tanya Paris sengit.
"Kamu takut ketahuan guru ya, kalau kamu itu cewek panggilan?" ujar yang lain.
"Cewek panggilan?!" Paris menggeram. Kakinya melangkah ke depan ingin meraih dan meremukkan mereka.
"Akkh!!" Mereka merasa ketakutan karena Paris benar-benar ingin menghajar mereka. Namun Paris bukan benar-benar ingin menghajar. Sungguh tidak masuk akal menghajar mereka yang bisanya ngomong saja. Paris pantang seperti itu. Si jago berkelahi ini hanya menggertak mereka.
"Aku bisa saja menghajar kalian di sini, tapi aku masih waras. Jadi tolong jaga otak kalian untuk tidak berpikir macam-macam tentang aku."
"Kita enggak berpikir macam-macam, kok," bela salah satu dari mereka.
"Benar. Soal kamu yang jadi cewek panggilan adalah fakta." Paris mengerutkan kening.
"Apanya yang fakta? Memangnya kalian tahu sendiri kalau aku seperti itu, hah?!"
"Ada buktinya kok! Nih!" Cewek yang sejak tadi mengutak-atik ponsel, kini menunjukkan sebuah image yang di unggah lewat sebuah aplikasi chat. Grup sekolah ini.
Biema, batin Paris.
Itu foto dirinya dan Biema di depan gedung apartemen. Wajah Biema tidak terlalu terlihat dengan jelas karena sudutnya. Hanya terlihat bulu-bulu halus di dagu Biema yang memperlihatkan bahwa yang sedang bersama Paris adalah seorang pria dewasa. Namun Paris tahu itu adalah Biema.
Tiba-tiba Paris merasa matanya panas. Ada sesuatu yang membuatnya sesak. Perasaan aneh yang mendesak air matanya menggenang. Paris ingin menangis.
Cewek-cewek tadi memperhatikan Paris yang mendadak beku. Mereka tahu Paris ingin menangis. Menurut mereka itu wajar. Karena ini adalah aib. Siapa saja pasti syok berat saat aibnya terbuka.