
Air mata Paris yang sejak tadi ditahan kini meluap. Memaksa keluar tanpa terkendali lagi. Suasana malam kian menambah kegundahan hati gadis ini. Tanpa sengaja tangisan itu mengatakan langsung soal kerinduannya pada Biema. Pun pada rasa sedihnya terhadap masalah yang sedang menimpanya.
Gadis ini sedang butuh sandaran yang akan meredakan perasaan sedih di hatinya. Dan itu ada pada Biema yang dicintainya. Namun saat ini pria itu tengah berurusan dengan masalah juga.
Mungkin, dia bisa bersikap egois dengan mengatakan semuanya. Memaksa pria itu mengutamakan dirinya daripada pekerjaan dengan tidak pergi ke kantor cabang bersama Fikar. Namun rasa sayang Paris lebih pada Biema lebih besar. Hingga gadis ini sanggup membuang egonya demi membuat pria itu tidak terlalu banyak berpikir.
Setelah tangisannya tumpah ruah sekitar hampir satu jam, sekarang dia sudah mampu bernapas dengan normal. Meskipun sesenggukan kecil sisa tangisan masih ada.
Ingus keluar dari lubang hidungnya yang memerah. Dia butuh tisu untuk menyekanya. Tubuhnya berdiri mencari tisu di atas meja belajar.
Sroott!!
Paris membuang ingus itu dengan keras di atas tisu. Lalu melempar tisu kotor itu ke arah tempat sampah di pojok kamar. Malam makin sunyi. Jam di dinding menunjukkan
pukul 00.04.
Saat ini sudah waktunya untuk tidur. Namun Paris masih berkutat dengan kesedihan dan kerinduannya. Paris duduk lagi di atas ranjang empuknya. Tangannya sesekali menyeka sisa air mata. Akhirnya ia berencana akan menelepon Arga. Jika Biema masih sibuk menangani masalah di kantor, itu berarti dia masih belum bisa di ganggu. Jadi tibalah waktu meminta bantuan pada kakaknya.
"Tunggu. Jam segini, apa kak Arga masih bangun?" cegah Paris untuk jarinya sendiri. Dia diam sejenak. Berdiskusi dengan dirinya sendiri. "Tidak apa-apa. Coba saja. Jika beruntung, kak Asha yang pasti menjawab. Lalu dia akan membangunkan kak Arga. Oke. Aku telepon dia sekarang.” Paris mendekatkan ponsel di telinganya. Menunggu orang di seberang sana menerima panggilan teleponnya.
Paris beruntung. Suara perempuan terdengar di seberang. "Ya, Paris." Itu suara Asha.
"Kak Asha belum tidur?” tanya Paris terkejut sendiri bahwa masih ada yang menerima panggilan teleponnya. Padahal sebelumnya berharap ada yang mengangkat panggilannya.
"Belum. Arash belum tidur."
Paris menghembuskan napas kuat-kuat dari hidung. Tergelak sedikit membayangkan bayi itu pada waktu ini masih membuka matanya lebar-lebar. "Jadi kak Asha masih menemani Arash yang belum tidur?"
"Ya. Arash akan menangis jika tidak di temani."
"Jadi kak Arga yang tidur nyenyak, nih ...," tebak Paris yakin.
"Enggak. Dia sedang bermain dengan Arash." Dugaan Paris soal kakaknya masih tidur ternyata salah. ”Bayi itu masih membuka matanya lebar-lebar sejak tadi. Jadi Arga mencoba mengajaknya bermain," ujar Asha menjelaskan sambil menoleh sekilas ke arah suaminya yang tiduran di samping Arash di atas ranjang. "Ada yang ingin di bicarakan?” tanya Asha pengertian. Dia tahu bukan kebiasaan Paris menelepon pada jam orang tidur. Apabila gadis itu melakukannya, itu berarti dia sedang butuh sesuatu.
"Ya." Paris pasrah. Dia tidak lagi bersikap angkuh tidak mau di tolong. Dia butuh pertolongan kakaknya.
"Oke. Aku akan kasih handphone-nya ke Arga, ya ..." Mendengar namanya di sebut, Arga menoleh. Menaikkan dagu untuk bertanya. "Paris ...," bisik Asha tidak ingin terdengar oleh gadis itu. Asha menyerahkan ponsel di tangannya. Arga menerima ponsel itu. Posisinya menjaga Arash di gantikan oleh istrinya.
"Ada apa Paris?" tanya Arga langsung. Tubuhnya bangkit dari tiduran sekaligus menjauh dari Asha dan Arash.
"Kakak bisa menolongku?” Suara Paris lemah dan serak karena tangisan tadi.
"Pasti, jika kamu mengijinkan. Aku menunggu keputusan itu," ujar Arga yang memang sejak tadi siap dengan permintaan dari adiknya untuk menyelesaikan masalah. "Bagaimana dengan Biema? Kamu bilang ingin bicara dengannya dulu."
"Biema masih belum bisa di ajak bicara soal sekolahku. Dia masih menangani masalah di kantor. Sepertinya sedikit berat karena dia tidak bisa pulang tadi malam," jelas Paris berusaha tetap tenang dalam berbicara.
Jadi Biema masih berada di luar daerah? tangkap Arga setelah mendapat penjelasan dari adiknya. Arga tahu adiknya hanya berusaha terdengar baik-baik saja. Jika tadi malam Biema tidak bisa pulang, bisa di pastikan adiknya menangis. Jadi sekarang dia tidak dalam keadaan baik.
"Jadi kamu meminta ku menyelesaikan masalahmu?"
"Baiklah. Besok tetap di rumah saat aku berusaha menyelesaikannya."
"Baik Kak. Terima kasih," ujar Paris.
Karena rasa sedih yang begitu mendalam, Paris sudah membuka mata meskipun langit belum terlalu terang. Selain matanya sembab, kepalanya masih terasa pusing karena terus menerus menangis. Langkahnya gontai saat menuju pintu keluar. Namun ia memaksakan diri untuk menuju pantry.
Sesampainya di sana, tangannya menyentuh teko yang ada di atas dispenser, lalu menuangkannya ke gelas bersih yang bersandar pada rak gelas berbentuk pohon dengan cabang yang banyak. Meneguknya perlahan. Hingga tenggorokannya basah. Kepalanya menoleh pada jendela. Tangannya menyingkap gorden yang menutupi jendela di pantry ini. Matahari masih malu dan bersembunyi.
Kakinya kembali ke dalam kamar sambil membawa segelas air. Setelah meneguk, gelas itu di letakkan di atas nakas. Digantikan dengan ponsel yang kini berada di dalam genggamannya. Tubuhnya merunduk untuk duduk di atas ranjang.
Dia ingin menghubungi kakaknya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nada tunggu masih berlangsung saat terdengar ada telepon lain masuk.
"Halo," ujar Paris dengan suara masih serak.
"Selamat pagi, Paris." Terdengar suara yang membuatnya membuka mata dengan lebar. Paris terkejut. Dengan cepat tangannya menjauhkan ponsel dari telinganya. Ada nama Biema di layar.
"Pagi Biem," balas Paris segera. Rupanya Biema tengah berusaha menghubunginya.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Biema penuh perhatian.
"Sedikit," ujar Paris ingin jujur, tapi mengurungkan niatnya.
"Aku di sini tidak bisa tidur nyenyak. Aku jadi kepikiran ingin cepat pulang dan bertemu denganmu."
"Aku juga," balas Paris lirih.
"Kamu tidak apa-apa? Suaramu terdengar tidak bersemangat." Sepertinya Biema menyadari.
"Aku memang sedang tidak bersemangat."
"Ada masalah?” tanya Biema lembut. Paris melipat bibirnya. Mencoba tidak menangis.
"Sedikit."
"Tentang apa? Kamu bisa cerita." Paris menelan ludah sebentar. Tiba-tiba saja tenggorokannya sangat kering. Padahal sejak tadi ia sudah meneguk air putih. "Apakah ini tentang sekolah?" tebak Biema membuat dada Paris bergemuruh. Dia senang dan juga terkejut. Paris menggenggam erat tangannya.
"Ya. Tentang sekolah Biema," jawab Paris menggebu. Dia ingin segera mengutarakan semua pada Biema. "Aku ingin bercerita banyak padamu," kata Paris dengan tergesa-gesa. Seakan waktu ini adalah satu-satunya bagi dirinya untuk mengatakan pada pria ini.
"Tenangkan dirimu. Aku akan mendengarkan dengan baik," ujar Biema yang membuat Paris merasa damai.
"Ya." Paris merasa ruang bernapas di dalam rongga paru-parunya tidak lagi sempit seperti tadi. Ada lega yang mencuat sedikit.