Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Paris tahu


Kepala sekolah sudah menunggu Biema di ruangannya.


"Selamat siang Bapak ...," ujar Biema sopan dan ramah.


"Siang, siang. Masuk. Oh bersama istri juga," ujar beliau saat melihat Paris ikut di belakangnya. Ini yang membuat Paris sebenarnya tidak mau ikut. Dia lebih di kenal dengan sebutan istri Biema daripada namanya sendiri. Itu memalukan. Karena bagaimanapun juga dia sudah melanggar peraturan sekolah. Seharusnya dia berdiam diri atau bahkan bersembunyi. Bukan unjuk diri seperti ini.


"Paris. Nama istri saya Paris," ujar Biema yang ingin kepala sekolah hapal dengan nama istrinya.


"Ya. Paris. Dia juga anak saya bukan?" kelakar beliau. Biema tersenyum menanggapi. Paris mengangguk sopan sambil tersenyum juga. "Anda tidak perlu repot-repot datang ke sekolah dan membawa oleh-oleh seperti itu," ujar beliau seraya menggerakkan dagunya menunjuk ke arah sebuah bingkisan yang di bawa Fikar barusan.


"Tidak. Saya tidak repot. Justru saya yang merepotkan Anda. Terima kasih sudah bersedia membantu waktu masalah istri saya itu," ujar Biema. "Juga mengijinkan Paris untuk bisa mengikuti ujian susulan. Terima kasih."


"Saat itu mungkin memang waktunya saya untuk muncul di sini. Orang itu sudah keterlaluan."


"Saya dan Paris juga sudah keliru, Pak."


"Terima kasih sudah mengingatkan saya soal orang dalam itu." Fikar mendengarkan. Melihat raut wajahnya, pria itu mengerti apa yang di bicarakan Biema dengan kepala sekolah. Sementara Paris berpura-pura larut dalam pembicaraan mereka. Padahal gadis ini tidak paham apa yang sedang di bicarakan kedua orang ini.


"Apakah Anda menyelidikinya lagi?" tanya Biema. Jari kepala sekolah Bergerak-gerak di atas lengan sofa. Beliau sedang berpikir.


"Tentu. Saya wajib menyelidikinya. Tim saya sedang melakukannya. Sepertinya ini berhubungan dengan bendahara sekolah."


"Kalau dengan guru BP?" kejar Biema ingin tahu.


"Saya rasa dia hanya bawahan saja. Pengikut setia wakil kepala sekolah. Untuk urusan besar itu, saya rasa dia tidak terlalu ambil bagian. Mendapat bagian pasti ada. Dia orang lama yang tidak beruntung." Ada raut kecewa dan iba di wajah kepala sekolah.


Paris baru paham kalau mereka sedang membicarakan papa Priski.


"Para guru juga berterima kasih sudah di datangkan makanan gratis," ujar kepala sekolah. "Sedikit membuat malu, tapi kita juga suka yang gratis." Tawa kepala sekolah terdengar. Biema tertawa juga. Fikar mengikuti di susul Paris kemudian. "Bagaimana ujiannya tadi?" tanya kepala sekolah tiba-tiba.


"Eh ya ..." Paris kebingungan.


"Pasti bisa kan? Istri orang seperti Pak Biema ini pasti cerdas," seloroh kepala sekolah membuat Paris makin susah ngomong. Biema langsung mengerti kalau Paris tidak bisa mengerjakan soal ujian. Fikar juga mampu membaca situasi.


Aduh. Cerdas apaan ... Bikin bingung ini bapak kepala sekolah. Dasar Biema ganteng. Kenapa juga waktu itu bikin aku lemas? Akunya kan jadi enggak pegang buku sama sekali, rutuk Paris di dalam hati. Setidaknya kan sempat baca walaupun enggak semua. Biema ganteng nih, gara-gara.


"Ya ... begitulah," ucap Paris ngawur dengan senyum terpaksa. Padahal dia sedang meringis di dalam hati tadi.


Meskipun Paris tidak menoleh ke arahnya, Biema tahu rasa tidak nyaman ini dari sana arahnya. Dari samping. Tempat asal istrinya duduk. Dia tahu pasti bahwa Paris sedang mengumpat di dalam hati.



Setelah usai bercengkrama, Biema dan yang lain pamit pergi.


"Meskipun kamu kesal karena aku melakukannya waktu itu dan membuatmu tidak bisa mengerjakan soal dengan baik, aku masih marah sekarang," ujar Biema mulai lagi.


"Darimana tahu kalau aku tidak bisa mengerjakan soal ujian?" tanya Paris dengan wajah menantang.


"Dari ... gerak-gerikmu yang tadi," kata Biema jujur.


"Pria tadi. Pria yang begitu dekat denganmu. Kalian begitu akrab hingga aku seperti tersisihkan." Cara bicara Biema memang masih dewasa, tapi isi dari pembicaraannya justru yang membuat terdengar begitu kekanak-kanakan. Inilah yang dimaksud Fikar. Paris bisa mengubah Biema menjadi bocah jika berurusan dengannya.


"Dia bukan pria. Dia bocah," tukas Paris.


"Dari sisi mana dia bocah?" tanya Biema yang rupanya tidak langsung menghentikan pembicaraan soal Juna.


"Menurutku dia masih bocah karena sengaja ingin membuatmu kepanasan cemburu. Namun ternyata kamu juga sama." Paris akhirnya membuka kata ini. Fikar menggelengkan kepala.


"Apa?" Biema sepertinya tidak suka kata bocah yang di sematkan padanya. Fikar mengerjapkan mata gemas melihat mereka berdua.


"Sebaiknya kita pulang," ajak Paris tidak ingin berdebat di sini. Langkahnya di percepat.


"Tunggu Paris," cegah Biema.


"Bicara di mobil. Jangan di sini. Banyak orang sedang melihat kita." Paris memberi kode. Biema melihat ke sekitar. Benar kata gadis ini. Mereka sedang jadi bahan tontonan. Dia setuju untuk tidak berdebat di sini. Bibir mereka tersenyum merespon sapaan mereka semua yang merasa bahagia mendapat makanan gratis. Fikar ikut mengangguk bersikap sopan pada orang-orang.


Di dekat truk makanan, Juna melihat Paris yang berjalan agak cepat. Di ikuti Biema. Lalu Fikar berjalan di belakang mereka kemudian. Bibir Juna tersenyum melihat mereka berdua.


"Bukannya pria itu lagi cemburu? Kenapa sekarang sepertinya Paris yang lagi marah? Pasti Biema kewalahan menghadapi sifat itu anak." Juna terkekeh pelan.


Akhirnya Paris tiba dulu di mobil. Fikar dengan sigap segera menekan tombol untuk membuka kunci pintu. Meskipun ia belum sampai, dia harus segera membuka pintu untuk istri direkturnya. Jika tidak, Biema makin murka.


Paris duduk dengan pintu mobil yang masih terbuka. Biema berdiri di dekat mobil. Paris akhirnya memilih menggeser pantat untuk memberi duduk pada pria ini.


"Katakan kenapa aku bocah, Paris?" tanya Biema masih bertanya soal itu.


"Kamu mudah sekali cemburu."


"Tidak salah dengan itu. Cemburu itu bukan suatu dosa," kilah Biema.


"Ya. Dosa kamu adalah ... membuat aku tidak belajar membaca buku untuk ujian, tapi malah mengajarkan hal lain." Mata Paris melebar saat mengatakan beberapa kata di akhir kalimat.


"Ehem ... " Biema berdeham. "Soal itu aku mengaku salah. Aku memang membuatmu belajar tentang hal lain." Paris melirik. "Tunggu. Jangan mengalihkan ke hal lain." Paris tersenyum geli di dalam hati. "Kamu punya hutang jawaban padaku. Kenapa aku bocah dan siapa bocah tadi?"


Fikar muncul. Dia tidak jadi masuk mobil saat mereka masih berdebat di dalamnya.


"Dia Juna. Adiknya kak Asha. Puas?" ungkap Paris.


"Asha? Istrinya Arga?" tanya Biema seakan tidak percaya.


"Memangnya kamu kenal berapa Asha?" selidik Paris membuat Biema merasa di sudutkan. Senjata makan tuan. Bermaksud curiga, tapi justru membuat dirinya di curigai.


"Jangan bercanda. Aku hanya mengenal Asha istri kakakmu. Tidak ada yang lain," pungkas Biema. "Jadi dia benar adik Asha?"


"Masih enggak percaya? Aku teleponin kakak. Biar kak Arga juga jelasin," ujar Paris seraya bersiap menekan ponsel untuk menghubungi kakaknya.