Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Gawat



Gawat! pekik Paris di dalam hati.


Gadis ini langsung melihat dengan manik mata melebar panik ke arah bunda dan ayah yang tengah mendengarkan apa yang di bicarakan papa mertua. Semua orang di dalam kamar perawatan ini, yang tahu tentang masalah Paris, langsung berjingkat karena bereaksi atas kalimat tersebut.


Mereka spontan tersentak kaget lalu melihat ke arah papa Biema yang baru saja menyelesaikan bicaranya. Sejurus kemudian berganti menoleh ke bunda dan ayah. Mereka ingin tahu bagaimana respon mereka.


Sementara ini Bunda dan ayah tetap tidak mengeluarkan suara apapun. Meski kening mereka mengerut, merasa ada yang janggal pada kalimat besan. Bisa di pastikan orang tua Paris dan Arga ini masih memerlukan beberapa detik untuk berpikir, soal apa ini?


"Iya, Wardah." Mengejutkan lagi saat mama Biema ikut bicara.


"Mama ingin minum sesuatu?" tawar Sandra secepatnya. Mencoba mengalihkan pembicaraan mamanya yang tiba-tiba menambahi kalimat yang berisi tentang masalah Paris di sekolah. Sebab itulah, mama kebingungan mendengar tawaran putrinya.


Perempuan ini mengerjapkan mata. Walaupun sebenarnya iya, dia mau di suguhi minuman, tapi sungguh aneh jika putrinya yang menawarinya. Karena saat ini mereka hanyalah tamu. "Kamu ini. Mama mau ngomong sama Tante Wardah, kenapa kamu menyela?" gerutu mama membuat Sandra meringis.


"Paris akan ambilkan minuman ya, Ma," ujar Paris langsung berusaha menyambungkan obrolan. Dia paham Sandra berniat membantu menyamarkan apa yang di bicarakan oleh keluarganya.


"Oh, terima kasih Paris sayang ..." Perempuan ini tersenyum senang menantunya baik dan hangat. Bunda masih tidak tahu maksud kedua gadis ini, tapi beliau tersenyum saat putrinya begitu perhatian dengan mertuanya. Dia bangga. Sepertinya ayah Hendarto juga begitu.


"Silakan duduk, Om Yudhis dan Tante," ujar Arga mengikuti langkah Paris.


"Terima kasih Arga ...," sahut papa Biema. Sementara mama Biema menanggapi dengan senyuman. Orang tua Biema pun duduk di sofa. Asha yang tengah menggendong Arash yang tertidur ikut tersenyum dan mempersilakan tamu mereka duduk. Ketenangan mulai ada karena orang tua Biema tidak lagi membahas masalah Paris.


Bunda mengerjapkan mata merasa takjub orang-orang serempak menyambut besannya dengan perlakuan hangat. Namun itu tidak mampu menghindarkannya dari keingintahuan bunda untuk tetap bertanya.


Biema menghela napas.


"Sebentar, sebentar. Yang kamu bicarakan tadi itu apa?" tanya Bunda membuat semuanya terkesiap. Ketenangan tadi langsung buyar. Rupanya beliau mendengar dengan jelas apa yang di katakan orang tua Biema. Semua menoleh dengan wajah tegang. Upaya mereka menyembunyikan masalah Paris di sekolah sepertinya akan kandas.


"Itu. Soal masalah yang baru saja di selesaikan Biema." Mama menambahi lagi. Paris semakin menggigit bibir. Sepertinya kali ini tidak bisa di elakkan lagi.


"Masalah? Masalah apa yang kamu maksud?" tanya Bunda mengejar kalimat mama Biema.


dengan rasa ingin tahu. Juga sedikit gugup mendengar ada masalah. Ayah tidak berkata apa-apa. Namun raut wajah beliau sepertinya juga menunggu jawaban dari orang tua Biema.


Sepertinya sudah waktunya semua terbongkar. Kisah ini pasti akan sampai pada telinga bunda. Mereka akan tahu. Pasti, sesal Paris dalam hati. Semoga semua baik-baik saja.


"Aku bicara soal masalahnya Paris," ujar mama Biema masih belum paham bahwa sesungguhnya mereka semua menyembunyikan masalah Paris dari orang tua gadis ini. Paris yang baru saja berjalan menjauh setelah menyodorkan minuman kini menutup mata sekilas. Bibirnya tertekuk menyadari kebohongan ini mulai terkuak.


"Paris?" tanya bunda terkejut. Sesaat beliau menoleh pada punggung putrinya. "Aku tidak tahu masalah apa yang sudah menimpa putriku," kata bunda lambat.


"Benarkah?" tanya Mama Biema terkejut dan heran. Kali ini rasa bingung menyergap kedua orang tua Biema. Kenapa besan mereka terkesan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan? Hingga keduanya perlu saling tukar pandangan guna mempertanyakan topik yang mereka perbincangkan.


"Ya. Aku tidak tahu ada apa karena sibuk mengurusi ayah mereka yang sakit," tutur bunda sambil menoleh pada suaminya. Bola mata papa dan mama Biema mengerjap merasa bingung.


"Ow ... Maaf," ujar mama Biema mulai menyadari sesuatu. Mereka akhirnya memilih tidak mengatakan apa-apa dan diam karena merasa keliru. Kemudian melihat ke Biema dan menyerahkan semuanya.


Melihat ada yang janggal dari sikap semuanya. Kali ini bunda melihat ke arah Paris dan Arga. Beliau yakin mereka berdua pasti tahu. Karena sejak tadi bibir mereka bungkam. Meskipun kedua orangtua kebingungan.


"Ada yang tidak bunda ketahui, anak-anak?" tanya bunda dengan suara tegas. Paris melirik ke kakaknya.


"Ya. Itu bisa di jelaskan," kata Arga tidak langsung mengaku.


"Maaf," ujar seseorang tiba-tiba. Semua yang ada di dalam kamar perawatan menoleh pada asal suara. Dia Biema. Pria itu mengatakan dengan jelas kata maaf tadi. "Saya sebagai suami Paris meminta maaf tidak memberitahu soal masalah Paris, pada bunda dan ayah ..." Sebelum Arga berhasil mengatakan sesuatu, Biema langsung mengambil inisiatif. Dia merasa ini adalah tentang dirinya.


Nyonya Wardah dan tuan Hendarto langsung berganti saling berpandangan. Arga urung hendak mengatakan sesuatu. Dagunya bergerak mempersilakan Biema yang sedang melihatnya, untuk mengungkapkan semua.


"Ada masalah apa, Biema?" tanya ayah lembut. Beliau memilih bertanya dengan tenang. Dada Paris berdegup kencang. Dia takut terjadi sesuatu pada ayah jika mendengarnya. Hanya berharap semua akan baik-baik saja yang bisa ia lakukan sekarang. Karena masalah juga sebenarnya sudah selesai. Meskipun begitu, Paris tetap berdebar tidak tenang. Bibirnya jadi kelu.


Biema menoleh pada Paris. Meminta gadis itu tetap tenang lewat tatapan matanya. Biema tahu apa yang di khawatirkan gadis yang di cintainya itu. Paris mengangguk pelan. Menandakan dia baik-baik saja, sekaligus memberi ijin pada Biema untuk mengatakan semuanya.


"Maaf sudah sengaja menyembunyikan kejadian ini. Sebenarnya Paris di keluarkan dari sekolah saat mengikuti ujian." Biema mengatakan semuanya dengan sangat hati-hati. Arga setuju itu, tapi ia juga tidak tenang. Hal yang paling menakutkan adalah, kesehatan ayah.


"Dikeluarkan?" tanya tuan Hendarto menaikkan alisnya. Bola mata beliau bergetar. Ini pasti sangat mengejutkan. Sejurus kemudian keningnya berkerut. Menandakan beliau berpikir keras.


"Apa maksud kamu dengan di keluarkan, Biema?" tanya bunda tidak mengerti. "Paris sedang ujian. Bagaimana mungkin tiba-tiba dia di keluarkan dari sekolah?" Mama Biema cemas. Tangannya basah. Ini bisa di baca oleh Yudhis suaminya.


"Tidak perlu cemas," lirih beliau. Mama Biema hanya bisa menipiskan bibir mendengar nasehat suaminya. ini sedikit tidak nyaman. "Jangan melakukan apa-apa. Ini wilayah mereka untuk bicara. Kita hanya menonton saja," imbuh papa Biema lagi. Mama Biema makin tidak tenang.