
"Maaf Paris. Dokter tadi bilang keadaan Biema sudah membaik karena bisa bernapas dengan normal." Arga kebingungan dengan desakan Paris.
"Dia tidak membuka matanya sama sekali. Apa itu bisa di sebut normal? Seharusnya dokter bisa lebih teliti saat memeriksanya. Kalau memang dia belum sembuh, usahakan untuk sembuh dong. Jangan bilang sudah sembuh, tapi ..."
"Pa ... ris." Sebuah suara memotong kalimat Paris. Hingga gadis ini menoleh ke belakang dengan cepat. Sebuah tangan mencekal tangannya dengan lemah. Suara Biema juga terdengar masih lemah dan lirih.
"Bie ... Biema." Paris langsung menyentuh tangan Biema yang memaksa mencekal lengannya untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah sadar. Arga dan Asha ikut mendekat. "Kamu tidak apa-apa? Kamu bisa bernapas?Kamu baik-baik saja bukan?" Paris melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Paris ... dia baru sadar. Tenangkan dirimu." Arga menasehati.
"Aku tidak bisa tenang, Kak. Tidak bisa. Bagaimana bisa aku tenang, kalau Biema jadi begini karena aku." Paris mengatakannya dengan emosional.
"Paris ... Aku tidak apa-apa," kata Biema. Asha dan Arga melihat Biema yang berusaha menenangkan Paris. Kali ini Paris berusaha menghempaskan sesak di dada tadi. Mengambil napas panjang. Lalu di hembuskan perlahan. Paris berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Lebih baik, kita tunggu di luar," bisik Asha pada suaminya.
"Baiklah. Biema juga sudah siuman." Asha mengangguk menanggapi suaminya yang setuju dengan ajakannya. "Kita duduk diluar. Kamu bisa panggil kami jika ada perlu." Arga menepuk bahu adiknya pelan.
"Paris tetap tenang. Kita masih menemani di luar. Jangan khawatir." Asha mengikuti suaminya. Suami istri itu berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan.
Paris masih diam sambil mulai duduk di kursi samping ranjang. Dia merasa tertekan.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu tidak bisa makan ikan?" tanya Paris.
"Aku hanya ingin mengikuti kesukaanmu," ujar Biema masih lirih.
"Bodoh. Kamu hampir membuatku jadi pembunuh, tahu." Paris menyeka air matanya.
"Kamu menangis?" tanya Biema yang menyadari airmata barusan. Paris menggeleng.
"Ini hanya debu. Banyak debu di rumah sakit ini." Paris memberi alasan palsu. Biema tersenyum. Kemudian matanya memejam. "Biem ...," sebut Paris yang melihat kelopak mata Biema menutup lagi. Tangan Paris mencoba menggerakkan tubuh pria ini, tapi Biema tidak bereaksi. "Biem ... Buka matamu. Aku masih bicara." Namun pria ini tidak kunjung membuka mata. "Dokter! Dokter!" teriak Paris histeris. Asha dan Arga masuk ke dalam kamar karena teriakan adik mereka.
"Ada apa, Paris?" tanya Arga panik.
"Biema. Dia ..." Paris berdiri dengan panik dan menunjuk ke arah Biema yang terbaring di atas ranjang.
"Paris ... Jangan berisik," ucap Biema mengejutkan. Semuanya menoleh ke arah pria ini dengan cepat.
"Biema! Jadi kamu berpura-pura? Sialan!" maki Paris. Arga dan Asha yang terkejut dengan teriakan Paris, kini malah kebingungan dengan mereka berdua.
"Aku mengantuk, Paris. Biarkan aku beristirahat," ujar Biema lemah. Namun rasa jahilnya sampai ke tulang-tulang Paris. Membuat Paris langsung menjauh dari bibir ranjang.
"Ishh ... Terserah. Aku enggak peduli. Dasar pria tua pengganggu." Paris menggerutu.
"Mereka sedang apa, sih?" tanya Arga yang berdiri melongo melihat mereka berdua.
"Mereka sedang bercanda dengan cara mereka." Asha menimpali.
"Bercanda, ya ... Biema itu suka bercanda juga. Kalau lihat orangnya, dia sepertinya agak kaku. Enggak bisa bercanda." Arga berkomentar.
"Mungkin Biema begitu hanya dengan Paris. Bagaimanapun Paris kan istrinya." Arga mengangguk setuju dengan pendapat Asha. Biema memejamkan mata. Sementara Paris masih mengkerucutkan bibir karena kesal di sofa sudut.
"Kamu bisa pulang bersama Asha. Tidur di rumah bunda. Biar aku yang jaga Biema di sini." Arga memberi tawaran untuk adiknya. Paris melirik pada Biema yang tengah terlelap.
"Tidak. Biar aku yang menjaganya." Paris berinisiatif menjaga pria ini. Kalau biasanya dia akan memilih pulang, tapi kali ini ada hal yang enggan di tinggalkannya. Semacam sebuah tanggung jawab.
"Tidak apa-apa. Tidak mungkin aku pulang sementara dia terbaring di sini." Paris menggerakkan dagunya menunjuk ke arah tubuh Biema.
"Baiklah kalau begitu." Arga mengikuti keinginanadiknya.
"Apa yang di perlukan kamu? Kita akan pulang dan membawakan yang kamu butuhkan," tawar Asha. "Mungkin selimut atau apa ..."
"Tidak perlu. Aku sudah membawa jaket. Aku bisa menyelimuti diriku dengan itu."
"Kamu yakin?" Asha khawatir.
"Ya. Aku bisa bertahan dengan itu." Paris mengangguk tegas. Meyakinkan kedua kakaknya bahwa dia baik-baik saja meskipun hanya berbekal jaket.
Selepas kedua kakaknya pergi, Paris mendekat ke pinggir ranjang. Dia letakkan kepalanya di atas ranjang dengan berbantal lengannya. Menatap wajah Biema yang sedang terlelap.
"Kita berdua aneh, ya ... Kita di jodohkan dengan paksaan. Aku membencimu karena mengiyakan perjodohan itu, tapi kini .. aku duduk di sampingmu menemanimu atas keinginanku sendiri. Kamu juga bersikap baik padaku." Paris menyentuh permukaan pelipis Biema. Mengelus pelan di sana. "Ini adalah lonjakan tinggi dalam hidupku. Dari siswi sekolah, lalu menjadi istri pria tua yang tampan sepertimu. Memangnya kamu itu siapa? Orang yang baru aku kenal dan langsung berniat menikahiku. Tingkat kepedeanmu setinggi gunung." Paris memainkan jari jemari di atas permukaan kulit Biema. Kemudian dia ikut terlelap.
Biema membuka mata. Dia tidak tidur. Hanya berpura-pura tidur. Dia lakukan itu karena tiba-tiba ingin memeluk Paris.
Setelah istirahat dua hari di rumah sakit. Biena sudah di perbolehkan pulang. Fikar sengaja menjemput dengan mobil kantor. Mobil milik Biema sendiri sudah di pulangkan.
"Selamat pagi, Tuan." Sapaan Fikar terdengar dengan gaya formal.
"Pagi Fikar." Paris menyahuti sapaan Fikar.
"Pagi," sahut Biema datar.
"Sekarang pulang ke rumah nyonya besar, apa apartemenmu, Biem?" tanya Fikar.
"Ke apartemenku saja."
"Baiklah. Kita berangkat pulang." Dengan langkah masih pelan, Biema berjalan keluar dari kamar perawatan. "Aku bantu jalan, Biem ...," ujar Fikar bermaksud berbaik hati membantu atasannya.
Namun Biema segera menepis tangan Fikar. "Tidak." Fikar mengerjap melihat tangannya di tepis Biema. Padahal langkah pria itu masih belum sempurna benar.
"Tidak apa-apa. Aku biasa memapah orang sakit." Fikar kembali berusaha membantu Biema jalan.
"Tidak," tolak Biema. Kali ini dengan geraman tertahan. Apalagi sorot mata Biema memandangnya tajam.
"Kamu sungguh-sungguh tidak mau di bantu? Tubuhmu agak gontai." Fikar khawatir. Namun Biema justru menyodorkan raut wajah bermusuhan. Paris melihat keduanya dengan wajah tidak mengerti. Padahal Fikar sudah bersedia membantu, tapi kenapa Biema terus saja menolaknya?
"Biar aku saja, Fik. Aku yang akan memapah Biema untuk jalan." Paris berinisiatif karena dia merasa jika tidak segera di tengahi, mereka masih akan lama sampai di rumah. Biema segera berwajah cerah.
Fikar menipiskan bibir. Pria itu hanya ingin di sentuh Paris. Tujuan dia adalah Paris mau membantunya memapah tubuhnya. Dengan begitu mereka semakin dekat. Dimana lengan Biema mulai melingkar di pinggul Paris. Biema ingin memeluk Paris.
Jika Biema langsung memeluknya, mungkin Paris akan menggerutu. Namun karena kondisi tubuh Biema yang masih lemah, pelukan itu tidak terlalu kentara. Biema sengaja melakukannya.
Dasar Biema ..., cibir Fikar dalam hati.