
"Saya wali dari Paris Hendarto," jawab Biema. Guru BP terdiam. Setelan jas yang rapi dan elegan membuat guru BP itu sempat ciut. "Anda memanggil wali murid dari Paris, bukan?" tanya Biema lagi dengan suara sedikit memberi tekanan.
"Y-ya. Saya memang memanggil Anda. S-silakan duduk." Guru BP itu mempersilakan Biema duduk sambil membungkuk. Priski yang melihat itu menekuk wajahnya. Dia tidak setuju guru itu langsung merendah saat melihat pria berjas ini.
"Duduklah Paris," ujar Biema sambil menarik lengan gadis ini pelan. Paris membeliakkan mata karena terkejut. Kepalanya menggeleng. Karena saat ini dirinya sedang di suruh berdiri oleh gurunya. Priski dan kedua temannya melihat ke arah Paris dengan menyatukan dua alis. Bagaimana bisa gadis itu akan duduk jika guru BP sedang menyuruhnya berdiri? "Duduk saja," perintah Biema yang tahu semua orang sedang melihat Paris dengan pandangan tidak setuju.
Guru BP melihat Paris dan Biema bergantian. Entah kenapa aura Biema membuatnya diam dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan saat Fikar tersenyum pada Paris dan juga ikut mempersilakan gadis itu duduk. Dia tahu bahwa Biema tidak akan membiarkan istrinya terus saja berdiri sementara yang lain duduk. Paris pun duduk sesuai perintah Biema.
"Lalu, apa yang akan di bicarakan terkait pemanggilan saya ke sekolah?" tanya Biema. Guru BP yang sejak tadi melihat Paris mulai duduk, kini menoleh pada Biema yang sudah siap di tanyai.
"Emm ..." Guru BP itu mendadak gagu. Fikar yang berdiri di sebelah Biema juga ikut membuatnya tertekan. Dia menoleh ke luar pintu dan mengusap keningnya. Pria paruh baya itu panik. Sepertinya dia menunggu seseorang.
"Katakan saja. Kami sengaja datang di karenakan panggilan Anda, Pak." Fikar tersenyum ramah kepada guru itu.
"Dia sudah membuat aku terluka." Priski dengan lantang mengatakan alasan Paris harus memanggil walinya ke sekolah. Menyerobot guru BP yang tidak segera menjawab. Biema dan Fikar menoleh pada gadis itu. Raut wajah Paris telihat malas dengan ocehan gadis itu. Karena dia tahu pasti kebohongan yang muncul.
"Y-ya. Paris sudah melukai temannya." Guru BP seperti punya amunisi baru untuk menyerang Paris. Bu Aya yang sejak tadi berdiri di dekat pintu terkejut.
"Itu tidak mungkin, Pak," seru Bu Aya spontan. Bola mata guru BP dan Priski melihat ke arah perempuan itu dengan mata mengancam. Paris menoleh pada Bu Aya. Lalu melirik Biema.
"Benarkah?" tanya Biema tenang. Dia tahu ada yang janggal dari penghukuman Paris ini. Bagaimana mungkin perempuan di belakang itu tidak tahu bahwa ada panggilan wali murid sementara dirinya adalah wali kelas.
"Ya. Lihatlah luka-luka ini." Priski menunjukkan lecet-lecet pada tubuhnya. Lalu memaksa teman-temannya ikut menunjukkan luka mereka. Biema menyuruh Fikar meneliti luka itu. Fikar mencondongkan tubuhnya untuk melihat luka pada ketiga gadis. Matanya menyipit. Merasa heran dengan luka yang tidak seberapa itu.
Setelah selesai mencoba melihat luka itu, Fikar mendekat pada Biema. "Itu bukan Paris," bisik Fikar pada Biema. Paris tersenyum mendengar itu.
"Kamu yakin?" tanya Biema. Paris melirik.
"Ya. Karena Paris tidak akan membuat luka sekecil itu jika marah. Itu terlalu ringan," bisik Fikar pada Biema. Menurut Fikar yang tahu kekuatan Paris, gadis-gadis itu tidak akan selamat jika Paris benar-benar melukai mereka.
Paris yang duduk di dekat Biema masih bisa mendengar itu. "Hei ...," desis Paris geram. Dia ingin memprotes kalimat Fikar. Biema melirik Paris lalu mengangguk setuju. Paris melebarkan mata menanyakan maksud anggukan kepala Biema. Namun pria ini hanya mengangkat bahu samar. Bibir Paris menipis melihat tingkah mereka berdua.
"Paris juga sudah menghina guru BP dengan sadar. Itu suatu bukti bahwa dia adalah siswa berkelakuan buruk. Jadi harus menyangkal bagaimana lagi?" Priski sungguh-sungguh ingin Paris di hukum. Dia bahkan lebih vokal daripada guru itu sendiri.
"Kamu sudah menghinanya Paris?" tanya Biema lembut sambil menoleh pada gadis itu.
"Ya. Dia mengatakan seperti itu dengan wajah angkuh. Dia sengaja melakukannya untuk menghina pak guru." Priski langsung menyerobot.
"Maaf, saya perhatikan ... Sejak tadi, gadis ini lebih banyak bicara daripada Anda sebagai seorang guru. Apakah Anda bawahan gadis ini?" tanya Fikar menyadarkan pada guru itu bahwa harga diri seorang guru sedang di injak-injak oleh seorang siswa.
"A-apa maksud Anda?" tanya guru itu gugup. Priski melirik guru itu dengan galak. Sepertinya memang ada permainan di antara mereka. Kemungkinan guru itu memang bawahan seseorang di balik gadis ini.
Saat itu beberapa orang berada di luar ruangan. Bu Aya yang berada di dekat pintu langsung menyapa.
"Selamat siang, Pak." Bu Aya menundukkan kepala saat menyapa.
"Siang," sahut pria itu. Semua menoleh ke arah pintu serentak. Priski tersenyum menang saat melihat orang itu datang.
"Ah, Bapak sudah pulang," ujar guru BP yang langsung berdiri tegak menyambut seseorang di depan pintu. Seorang pria paruh baya dengan seragam safari melangkah masuk ke dalam ruangan dengan dua orang di belakangnya. Setelah berdiri tegak, guru BP segera mendekat ke pintu. Merendahkan tubuhnya untuk menghormati orang dengan wajah kaku itu.
"Apa aku datang terlambat?" tanya beliau.
"Tidak, Pak. Ini masih berlangsung." Guru BP mengikuti langkah pria itu dan mempersilakannya duduk di kursi tempatnya tadi duduk.
Biema dan Fikar melihat pria itu hingga dia duduk. Siapa orang tua ini?
Kepala pria ini menoleh sedikit ke samping saat guru BP membisikkan sesuatu padanya. Biema menyipitkan mata melihatnya. Paris dan Fikar juga melihat ke arah mereka. Dia mengangguk samar. Kemudian melihat ke arah Biema. "Saya wakil kepala sekolah." Beliau memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Biema menyambut uluran tangan tersebut. Fikar mendekat menunjukkan kartu nama milik Biema. Wakil kepala sekolah menerimanya. Direktur perusahaan textil.
"Jadi Anda adalah wali murid dari siswa ini?" tanya beliau setelah membaca kartu nama itu.
"Ya," jawab Biema.
Sepertinya orang ini sangat hati-hati. Dia tidak langsung memberi pertanyaan seperti guru BP tadi. Bola matanya meneliti dengan benar siap yang sedang dia ajak bicara. Dengan penampilan Biema saat ini, dia memang terlihat tidak bisa di remehkan. Apalagi dia sudah membaca kartu nama yang tadi sudah di berikan padanya. Wakil kepala sekolah merasa tidak boleh gegabah.
"Jika Paris terbukti memang bersalah melukai siswi itu, silakan hukum dia sesuai dengan peraturan yang ada. Namun jika saya menemukan bukti bahwa Paris hanya sebagai korban kebohongan oleh orang-orang yang ingin mencelakai dia, saya pastikan orang itu akan menanggung akibatnya lebih dari sekedar membuktikan dia bersalah. Dia akan menderita." Biema langsung memberi ancaman tanpa peduli apa yang sedang di pikirkan oleh wakil kepala sekolah di depannya.
Guru BP menelan ludah. Tubuhnya semakin merapat ke arah kursi dimana wakil kepala sekolah duduk. Fikar menarik ujung bibirnya. Merasa ancaman Biema pasti langsung teoat sasaran. Priski menyipitkan mata seraya menekuk wajahnya. Dua kawannya sepertinya panik mendengar ancaman Biema.