Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Acara makan


Melihat Biema tetap muncul bersama Paris, Fikar heran. Yang dia tahu, pria ini akan mengajaknya pulang karena ada karyawan magang itu dalam tim. Namun entah mengapa, Paris justru muncul dengan kemeja kedodoran yang sepertinya milik Biema.


"Kenapa Paris muncul juga? Bukannya tadi mau mengajak dia pulang?" selidik Fikar pelan.


"Ada sesuatu. Aku tidak bisa melarangnya ikut," jawab Biema datar. Fikar melihat Biema dengan heran. Namun dia mengangguk saja menanggapi jawaban Biema.


"Dia tampak oke juga dengan kemejamu," bisik Fikar menilai selera fashion gadis itu saat ini.


"Tutup mulutmu. Jangan menilai Paris," desis Biema membuat Fikar menoleh cepat padanya. Pujiannya membuat Biema marah. Fikar menggelengkan kepala tidak mengerti.


Paris ikut rombongan Biema menuju resto yang sudah di pesan oleh Fikar. Meski awalnya Paris menolak ikut, nyatanya dia terlihat paling gembira di bandingkan Biema sendiri. Karena apa? Karena dia menemukan Lei yang juga ikut acara ini.


Untung saja dia sudah ganti dengan kemeja Biema. Hingga terlihat lebih trendy daripada sekedar seragam sekolah. Memang terlihat kedodoran, tapi Paris jadi terlihat lebih seksi. Juga menyamarkan dirinya yang masih sekolah di antara para pria dewasa di sekitarnya.


Mereka semua duduk dalam satu meja yang memungkinkan komunikasi berjalan lancar antar orang. Ini juga membuat Lei langsung bicara mengobrol dengan Paris tanpa harus mendekat.


"Kamu ikut juga ternyata," ujar Lei dengan wajah senang karena mendapat kejutan. Dia bisa bertemu lagi dengan Paris.


"Ya. Sepertinya menyenangkan ikut kalian," sahut Paris bohong. Padahal tadi dia menolak. Bahkan sudah membayangkan sofa empuk di depan tv. Dia ingin pulang tadi.


"Pak Biema baik juga mengijinkan kamu ikut acara makan-makan karyawannya," ujar Lei seakan takjub dengan kebaikan Biema. Mungkin karena Paris di anggap hanya sebagai kawan dari adiknya, tapi Biema mau mengikutsertakan Paris dalam kegiatan kantornya.


"Hahaha ... Ya, ya, ya ... Biema, eh, pak Biema memang baik." Paris menimpali. Seandainya kamu tahu bahwa pria itu memaksaku, tapi ya ... akhirnya aku menemukan kesenanganku sendiri. Bertemu kamu. Paris tertawa senang dalam hati.


Paris bisa mengobrol dengan Lei dalam kedamaian, karena Biema sedang tidak ada di sana. Laki-laki itu sedang menjauh dari meja, karena menerima telepon penting.


Fikar yang bertugas mengawasi tahu mereka sedang mengobrol, tapi dia tidak harus bersikap jadi orang jahat melarang mereka mengobrol. Dia hanya memperhatikan dan mendengarkan tanpa langsung memberi titah untuk melarang mereka.


Sesudah menerima telepon, Biema kembali lagi beberapa menit ke tempat duduknya. Fikar berinisiatif memberitahu Paris untuk berhenti mengobrol, tapi terlanjur Biema sudah melihat untuk kedua kalinya, Paris sedang berbicara dengan pria yang sama. Karyawan magang itu, Lei.


"Ehem." Biema mendehem keras agar Paris sadar akan keberadaannya. Benar saja, Paris langsung menoleh ke arahnya dan tersenyum. Sedikit terkejut karena deheman itu lumayan tegas. "Kamu sudah menyelesaikan makananmu?" tanya Biema seraya duduk tepat di sebelah Paris. Lei yang saat itu duduk di seberang Paris memperhatikan.


"Sudah. Aku kelaparan jadi makanan itu cepat ludes," sahut Paris. Seporsi makanan yang di pesan tadi langsung tandas. Ini sudah menjelang malam. Dia harus makan malam.


"Sebaiknya kita segera pulang saja." Tiba-tiba Biema mengajak pulang. Fikar menoleh dengan cepat.


"Pulang? Tiba-tiba? Kenapa?" tanya Paris terkejut.


"Ini sudah malam. Untuk gadis sekolah sepertimu, seharusnya kamu di rumah saja. Aku salah besar sudah mengajakmu ke acara orang dewasa seperti ini."


Fikar melebarkan mata merasa lucu mendengar alasan Biema mengajak Paris pulang. Karena dia tahu bahwa Biema sedang terusik


"Orang dewasa? Kamu? Heh ..." Paris memutar bola matanya dengan enggan sambil mendengkus. Lalu menggelengkan kepalanya tidak terima.


"Di sini sangat jelas bahwa kita semua orang dewasa, sementara kamu masih bocah." Biema mengatakan itu dengan melebarkan satu tangannya menunjukkan pada Paris bahwa apa yang di katakannya adalah benar.


"Bocah katamu?" desis Paris pelan seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Biema. "Kamu itu menyebalkan," bisik Paris memaki Biema kemudian. Bibir Biema tersenyum.


"Sudahlah jangan membantah. Sebaiknya kita pulang karena kamu harus istirahat. Sandra saja sudah istirahat di rumah, tapi kamu masih berkeliaran di sini."


Paris melongo mendengar nasehat Biema dengan komat-kamit dalam hati. Merutuki pria ini. Bukannya ini semua ide kamu sendiri hingga aku sampai di tempat ini.


"Tidak," tandas Biema tegas. Akhirnya Paris memilih menuruti kehendak Biema. Birbirnya di lipat dengan kesal.


Kasak-kusuk keduanya membuat Lei melihat mereka dengan jengah. Rasa penasaran kembali memuncak karena interaksi mereka yang tidak biasa.


Apa sebenarnya hubungan mereka berdua? Aku hanya penasaran, tidak lebih.



Pesta perusahaan ternyata di adakan untuk menyambung erat persaudaraan antar karyawan. Setiap karyawan di harapkan datang bersama keluarganya. Ini memberi ke akraban tidak hanya pada antar pegawai saja, tapi keakraban antar keluarga pegawai juga tercipta.


Keluarga besar Biema muncul di ambang pintu aula ini. Semua karyawan saling menghampiri pemilik perusahaan itu. Mereka begitu berterima kasih pada pemilik yang baik hati. Tidak hanya para karyawan itu, Paris juga ikut senang melihat kedatangan mereka.


"Hai, Parisss!" seru Sandra. Gadis itu mendatangi Paris. Lalu mereka berpelukan seakan sudah lama tidak bertemu. Paris bisa tetap bersikap santai karena ada gadis itu. Sahabatnya. Kemudian Paris mendekat ke arah mertuanya dan mencium tangan keduanya sebagai bentuk hormat sebagai menantu mereka.


"Wahh ... kamu cantik banget, Paris," puji mama Biema sambil melihat gadis ini dengan takjub.


"Terima kasih, Ma," ujar Paris sambil memberikan senyuman.


"Benar, kamu cantik hari ini." Sandra yang menggandeng lengan kakak iparnya ini, ikut memuji.


"Itu memang sudah dari dulu," sahut Paris dengan berbisik di dekat telinga Sandra sambil berlagak sombong. Sandra mencebik. Lalu mereka tertawa bersama. Mama yang melihatnya ikut tersenyum senang.


"Eh, itu kak Biema." Sandra melambai memberitahu kedatangannya. Biema tersenyum. Lelaki itu menghampiri keluarganya.


"Kalian sudah datang rupanya." Biema ikut mencium kedua tangan orangtuanya.


"Kamu tetap melakukan tradisi perusahaan ini sepertinya," ujar papa sambil melihat ke sekitar.


"Itu harus tetap di lakukan, Pa. Demi menjaga harmonisasi antar karyawan. Kita juga kadang harus melibatkan keluarga mereka. Bukankah itu yang selalu di katakan Papa."


"Ya. Itu benar." Papa menepuk bahu putranya. Mereka pun terlibat dengan percakapan. Sampai akhirnya beberapa pejabat perusahaan ikut nimbrung. Sandra menarik lengan Paris mengajaknya menjauh dari sana. Dia tahu bahwa Paris pasti lelah mendengar pembicaraan mereka.


"Kemana?"


"Aku tahu kamu jenuh berada di sekitar orang-orang itu," kata Sandra membuat Paris terkekeh pelan.


"Bagus Sandra. Kamu benar sekali." Paris memberi jempol.


"Kita ngobrol sambil makan ini saja." Sandra memberi ide saat melihat salad buah di atas dessert table.


"Wow, itu memang enak." Manik mata Paris berbinar melihat makanan yang di tawarkan Sandra itu.


Saat itu sepasang suami istri melintasi mereka berdua. Namun mendadak kaki salah satu dari mereka berhenti dan menoleh ke arah Paris dan Sandra. Memiringkan kepala dan mengintip ke arah Paris.


"Paris, ya?" sapanya terdengar ragu.