
Paris menguap lebar. Dia kelelahan. Itu bukan karena dia mengerjakan sesuatu pagi ini, tapi karena gadis itu menunggu Biema tadi malam.
.
.
.
Tadi malam.
Sengaja Paris menunggu kedatangan pria itu dengan duduk di atas sofa. Menonton tv sambil makan cemilan yang ia beli di minimarket di dekat area gedung apartemen. Keripik kentang, snack rasa jagung, tortilla chip, dan beberapa jenis makanan serupa. Ia membeli dengan agak berlebihan. ***** makannya sengaja di tambah demi misi akan menghadapi pria itu.
Awalnya nonton tv menyenangkan. Bayangkan, gadis ini nonton tv dengan di temani banyak snack di sampingnya. Itu bagaikan nonton bioskop dengan makan popcorn ukuran besar. Apalagi nonton dengan gaya apapun di perbolehkan karena ini di rumah sendiri.
Kepalanya menoleh pada jam dinding. Ini pukul delapan malam. Tidak terasa waktu semakin cepat merambah ke malam hari.
"Kemana itu pria? Kenapa jam delapan belum pulang? Memangnya dia lembur?" gerutu Paris. Dia mulai tidak sabar. Tontonan di tv juga mulai membosankan. Snack di sampingnya mulai berkurang banyak. Dia sudah mengunyah berulang kali hingga dia bisa menyimpan stok senam wajah untuk beberapa hari.
"Oke. Mungkin dia sedang membeli gorengan di jalan. Atau sekedar berhenti menengok ke etalase toko. Melihat-lihat barang yang di pajang dengan kagum, mungkin." Paris memperkuat aura positif untuk dirinya sendiri agar tidak menyerah.
Biasanya pria itu muncul paling lambat jam tujuh lebih. Kemungkinan dia masih di perjalanan memang ada. Paris tidak tahu rintangan apa saja yang di terima seseorang saat perjalanan pulang.
Helaan napas semakin berat karena jam dinding menunjukkan pukul sembilan lebih. Paris tidak sabar, lalu langsung meraih ponsel di depannya. Menekan tombol panggil untuk nama kontak Fikar. Namun setelah menunggu bermenit-menit lamanya, tidak berhasil menghubungkan.
"Baik. Baik. Fikar juga pasti sama dengan Biema. Dia pasti juga mampir melihat-lihat keadaan di jalan raya. Jadi dia tidak mendengar ponselnya berdering." Paris meyakinkan diri sendiri. Dia tidak ingin menyerah menanti Biema muncul untuk menyambutnya dengan banyak pertanyaan.
Waktu berjalan sangat cepat. Dari jam sembilan lebih terakhir Paris melihat jam dinding, hingga sekarang sudah pukul sebelas saja.
"Aargghh!! Kemana sih pria itu. Sialan!" Maki Paris sambil melempar bantal yang ia gunakan ke lantai. Matanya sudah sayu karena lelah. Mungkin lelah ini sudah tercipta sejak kemarin. Saat terjadi pertengkaran. Lalu berlanjut ke tadi pagi. Saat pertama kali dia berangkat sekolah dengan segala kejutan yang di berikan oleh Biema.
Di sekolah dia juga harus berpikir soal musuh baru yang kreatif, yaitu Priski. Memang tidak terlalu masuk di otak, tapi hasil dari menunjukkan foto dia dan Biema saat di depan apartemen, membawa dampak yang dahsyat. Dia langsung down dan sempat menitikkan airmata karena ingin bertemu pria itu.
Belum lagi acara mencari kebenaran isi hatinya. Dia mencintai Biema atau tidak. Dan ... Eng, ing, eng ... Paris mengakui bahwa dia mencintai Biema. Si pria tua tampan itu. Dari hasil pengakuan itu membawa dia pada malam-malam menyebalkan seperti sekarang. Menunggu kedatangan Biema dengan tekad kuat, tapi di patahkan oleh rasa kantuk yang sangat.
Paris kelelahan menunggu Biema yang tidak kunjung pulang. Hingga akhirnya dia berjalan lunglai masuk ke dalam kamar dan merebah sekenanya saja di atas kasur. Asal tidak ketiduran di lantai.
Paginya dia menemukan dirinya begitu buruk rupa saat tidak sengaja bercermin. Mulutnya menguap lebar. Dia menemukan bawah matanya berkantung. Seingat Paris, dirinya masuk ke dalam kamarnya sendiri sekitar pukul setengah dua belasan.
Kepalanya menoleh ke pintu kamar Biema. "Kemana kamu? Kenapa tidak muncul tadi malam? Sengaja menghindariku, ya ...," gerutu Paris kesal. Dia yakin Biema sudah menyusun rencana untuk tidak bisa bertatap muka dengannya. Jadi intinya Biema sengaja menjauh.
"Sekarang bukan waktunya mikirin dia. Aku harus mandi dan makan. Itu untuk memulihkan tenagaku yang hilang sia-sia tadi malam." Paris bergegas menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia menyadari sesuatu. Sikat gigi pria itu tidak ada di sana. "Mungkin saja dia tidak lagi suka meletakkan sikat gigi di sini. Kebiasaan seringkali berubah." Paris mengangkat bahu memberitahu dirinya itu bukan hal aneh.
Namun rasa penasarannya lebih besar tentang ini. Paris mempercepat ritual mandinya dan segera keluar dari kamar mandi. Kakinya melangkah cepat menuju rak sepatu di dekat pintu masuk. Dia menemukan kebenaran tadi malam. Kenapa dia tidak bisa menemukan Biema. Sekarang, sepatu hitam untuk kerja yang biasa laki-laki itu pakai tidak ada. Kemungkinan besar Biema tidak pulang tadi malam.
"Jadi aku melakukan hal sia-sia? Menunggunya dengan tekad kuat dan menggebu-gebu, ternyata dia tidak pulang. Biema selangkah lebih maju di depan untuk menghindariku. Ini sedikit ... Tidak. Ini sangat sakit. Lagi." Paris merasakan ada denyutan perih di dalam tubuhnya. Tepatnya di hatinya.
Gadis ini menelan salivanya sendiri. Menahan tangis yang akan merebak. Menekuk kedua tumitnya dan menatap rak sepatu dengan pandangan kosong.
Setelah beberapa menit termangu di depan rak sepatu, tubuhnya berdiri dan menjauh dari sana. Menuju dapur untuk memasak sesuatu. Mie. Mie instan. Hanya itu yang terpikir olehnya saat ini. Memasak mie itu sangatlah mudah dan praktis.
Ponselnya berdering. Nama Fikar di sana.
"Sudah siap?" tanya Fikar lebih terdengar sangat akrab di banding biasanya. Dia lupa. Kini ada 'pengasuh' yang setia dan tepat waktu dalam melakukan pekerjaannya. Paris mendongak ke atas, ke arah jam dinding yang bertengger di sana.
Ini memang waktunya Fikar muncul.
"Sebentar. Aku akan turun sepuluh menit lagi." Setelah memutus sambungan telepon dari Fikar, Paris bergegas mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
Fikar sedikit terkejut melihat Paris yang masuk lewat pintu depan. Biasanya gadis itu duduk di kursi belakang.
"Kamu tahu dimana Biema sekarang?" tanya Paris langsung saat sudah duduk. Menoleh ke Fikar dan menatapnya lurus.
"Biema? Tentu saja dia ada di apartemen kalian."
"Aku tidak bisa bertemu dengannya. Bahkan tadi malam aku yakin dia tidak pulang." Fikar melirik. "Dan aku yakin kamu tahu dimana dia."
"Aku tidak lagi mengantarnya pulang. Dia pulang sendiri kemarin. Kita berpisah saat pulang kerja." Fikar menyalakan mesin. Lalu menjalankan mobil menuju tempat sarapan mereka.
"Hh ... Apa dia masih marah padaku?"
"Aku tidak tahu."
"Bantu aku menemui Biema."
"Kenapa repot repot meminta bantuanku? Bukannya kamu bisa menelepon ponselnya?"
"Itu benar, tapi aku takut dia tidak menerima teleponku. Melihat dia yang sengaja menghindariku, aku yakin dia tidak akan mengangkat teleponku." Saat berkata ini, Paris membuat raut wajah sedih. Namun bibirnya tersenyum. Senyum kepedihan. "Pulang sekolah nanti, jangan jemput aku."
"Mau kemana?"
"Biema tidak menyuruhmu bertanya bukan?" balas Paris. Fikar mengangguk. "Bagus. Jadi jangan tanya."