
Sementara itu, Paris di luar gedung hotel menggerutu terus menerus. Dia menunggu jemputan di teras hotel. Tidak lama muncul mobil keluarganya dari arah luar.
"Ayo pulang," ajak Arga yang muncul dari kaca mobil. Rupanya bukan Angga. Sebenarnya bunda sudah memberitahu bahwa Angga memang tidak bisa menjemput. Gadis ini sengaja merengek pada kakaknya untuk di jemput.
Paris masuk ke dalam mobil dengan wajah di tekuk. Bahkan menutup pintu mobil juga di lakukannya dengan sepenuh tenaga.
Arga hanya menipiskan bibir mendengar suara keras dari pintu mobil.
"Sebaaalll!" teriak Paris mengagetkan. Arga menoleh ke arah adiknya dengan muka terkejut.
"Kenapa tiba-tiba berteriak, Paris?"
"Aku sangat kesal, Kak. Kesaaall sekali." Paris mengatakan kekesalan hatinya dengan berlebihan. Tangannya mengepal dan matanya membulat. Hingga bisa menunjukkan keseluruhan dirinya bahwa saat ini dia begitu marah, sakit hati dan sebal.
"O..." Arga yang sudah tahu ada apa hanya merespon itu. Arga menyalakan mobil dengan tetap mendengar saudara perempuannya berkicau.
"Pokoknya aku harus cerita ke kak Asha. Harus!"
"Ya, ya ... Cerita saja padanya. Dia memang di takdirkan untuk jadi tempat curhat buatmu." Arga menanggapi dengan tenang.
"Aku harus bertemu kak Asha dan menceritakan kejadian barusan, sekarang juga."
"Sekarang juga?" tanya Arga mencoba meyakinkan pendengarannya.
"Iya. Emosiku sudah naik ke ubun-ubun. Jadi aku harus meluapkan semua kekesalan ini dengan bercerita banyak pada kak Asha. Harus sekarang juga." Arga tiba-tiba membelokkan mobilnya dan berhenti di tepi.
"Tidak. Tidak boleh curhat dengan Asha malam ini," cegah Arga. Pria ini mendadak panik.
"Ya harus malam ini dong kak. Emosiku kan naik ke ujung kepala sekarang. Aku sebal dan kesalnya juga sekarang. Jadi ya, aku harus curhat-curhatan sama kak Asha juga sekarang dong."
"Enggak boleh!"
"Kak Arga bilang iya. Aku di ijinkan curhat sama kak Asha. Di rumah kan aku paling cocok curhat sama dia."
"Aku tahu, tapi cari lain waktu untuk curhat ke dia."
"Pelit banget sih. Kak Asha enggak mungkin terbagilah ... Kan hanya curhat saja. Aku enggak akan membuat dia pada situasi kacau seperti dulu, kok."
"Enggak. Sekali enggak, tetap enggak."
"Ih, kenapa sih?!"
"Jangan membantah. Setuju atau tidak akan aku ijinkan curhat-curhatan sama Asha se-la-ma-nya," ancam Arga serius.
Paris mengkerucutkan bibir. Kelakuan kakaknya aneh banget. Curhat saja enggak boleh.
Asal Paris tahu. Bahwasanya Arga mencegah Paris curhat ke istrinya malam ini di karenakan dia ingin minta 'jatah' nanti. Susah payah dia mencoba menidurkan Arash sejak tadi. Hingga waktu berdua untuk malam ini tidak terganggu.
Jika Paris terus memaksa curhat ke Asha, perjuangannya menidurkan Arash akan sia-sia.
Biema akhirnya pulang juga. Masuk ke dalam rumah di sambut oleh adiknya Sandra, yang ternyata belum tidur.
"Kenapa belum tidur, Dra?" tanya Biema.
"Aku cemas."
"Kenapa mencemaskanku. Aku enggak apa-apa kok."
"Bukan. Aku bukan sedang mencemaskan kakak," jawab Sandra tidak di sangka.
"Lalu siapa yang sedang kamu cemaskan?"
"Paris. Aku sedang mencemaskan dia."
"Oh, dia."
"Kakak sudah mengantarkan dia pulang bukan? Dia pulang dengan selamat bukan?" cecar Sandra.
"Kenapa mencemaskan dia sebegitunya, Dra? Dia gadis yang tidak biasa. Tentu saja dia pasti selamat."
"Kak Biema sudah mengantarkan dia pulang, kan?"
"Tidak. Aku tidak mengantarkannya."
"Tidak. Aku tidak meninggalkannya. Dialah yang meninggalkanku."
"Hm? Apa maksudnya?"
"Dia pergi pulang sendiri tadi."
"Bukannya mama menyuruh kakak mengantarkan Paris?"
"Aku sudah mencegahnya pulang sendiri karena aku sudah berjanji pada mama, tapi ... gadis itu tetap ingin pulang sendiri. Ya sudah. Aku biarkan dia berjalan keluar restoran sendiri."
"Apa dia marah?" tanya Sandra yang sebenarnya sudah tahu.
"Ya. Dia sangat marah," sahut Biema enteng.
Gawat!
Paris mengunci mulutnya sendiri untuk tidak berbicara. Dia memprotes sikap bunda tadi malam. Sarapan pagi pun dia tidak muncul di meja makan.
"Kenapa Paris tidak turun untuk sarapan, Bun?" tanya Asha yang sedang menyuapi Arash.
"Bunda kurang tahu."
"Mungkin sedang ngambek soal tadi malam," sahut Arga.
"Ayah sudah bilang pada bundamu untuk tidak melakukan itu." Ayah Hendarto seperti merasa bersalah mengikuti ide istrinya.
"Ah, ayah ... Bunda tidak sedang melakukan suatu hal yang membahayakan, kok." Nyonya Wardah mengibaskan tangannya. Setelah mendengar ini, Asha melihat ke arah pintu. Berharap gadis itu muncul untuk ikut sarapan pagi. Namun hingga sarapan berakhirpun, gadis itu tidak muncul.
Rupanya Paris tidak mau sarapan dan segera berangkat sekolah dengan meminta Angga yang mengantar. Dia memilih tidak bertemu dengan keluarganya.
"Sandra! Berhenti di situ!" teriak Paris setelah melihat punggung temannya. Sandra terperanjat kaget dengan suara Paris yang menggelegar pagi ini. Dia sudah menduga, tapi coba berharap hal lain.
"Halo Paris. Selamat pagi ...," sapa Sandra setelah membalikkan tubuhnya. Namun raut wajah Paris begitu mendung hingga membuat senyum Sandra lenyap.
"Kenapa tadi malam kamu juga ikut-ikutan pulang meninggalkanku?"
"Maaf Paris. Aku hanya mengikuti perintah mama," ujar Sandra memelas.
"Setidaknya kamu memberitahuku bahwa kalian akan pergi meninggalkanku."
"Bukannya ada kak Biema yang bertugas memberitahumu bahwa kita sudah pulang?" tanya Sandra yang lupa bahwa kemarahan Paris pagi ini juga ada nama pria itu di dalamnya.
"Ya. Berkat adanya Biema, aku semakin marah dengan semuanya termasuk kamu," tunjuk Paris geram.
"Aduh, Paris ... Jangan marah dong." Sandra langsung menyentuh lengan temannya. Paris menekuk wajahnya.
"Aku kesal dengan bundaku, kamu dan dia ... Biema!"
"Iya maaf. Jangan marah dong ...," rengek Sandra. Paris memasang wajah judes.
"Jangan tarik-tarik lenganku! Ih, kamu ini berat tahu ..." Paris berusaha melepaskan pegangan tangan Sandra pada lengannya. Karena berusaha keras untuk lepas dari Sandra, tak sengaja lengan Paris mengenai tubuh seseorang. Merasa telah melukai seseorang, Paris panik. "Maaf," ujar Paris merasa bersalah sambil langsung menunduk meminta maaf.
"Aku tidak apa-apa, Paris ..." Suara yang begitu khas. Paris sangat hapal. Saat mendongak, ada wajah Lei di sana.
Ah, dia.
"Aku tidak sengaja."
"Iya aku tahu. Rupanya Paris pagi-pagi sudah bersemangat. Aku duluan Paris," kata Lei meninggalkan senyum dan pergi melewati mereka berdua. Paris terdiam.
"Paris, Paris ...," tegur Sandra.
"Ya?"
"Syukurlah. Kamu berkurang marahnya." Sandra lega.
"Enggak! Aku masih jengkel. Belikan aku makanan. Karena pagi ini aku melewatkan sarapan pagi. Rasa kesal yang memuncak karena acara tidak jelas tadi malam membuatku malas untuk sarapan."
"Oke! Aku akan membelikanmu sarapan." Sandra memilih menuruti keinginan sahabatnya daripada melihat Paris marah padanya. Sandra lega. Paris hanya marah karena di tinggalkan. Itu berarti gadis ini belum tahu tujuan makan malam itu. Tujuan sebenarnya yang tidak di ketahui Biema dan Paris.