Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tuduhan yang salah


"Tutup mulutmu, Paris. Aku enggak ada urusan sama kamu. Jadi berhenti menggangguku atau kamu tahu akibatnya." Priski mengancam seraya menunjuk ke wajah Paris.


"Aku akan tutup mulut selama kamu melepaskan dia." Paris tetap ngotot akan membela cewek yang sudah berwajah mengiba itu.


"Nih anak bebal juga. Singkirkan dia dulu. Lalu kita bereskan anak ini." Priski memberi perintah dua temannya untuk menyerang Paris. Mereka melepaskan tarikan pada rambut cewek tadi dan mulai mendekati Paris.


Tentunya mereka juga belum tahu siapa Paris. Tanpa persiapan apa-apa mereka mau menyerang Paris. Hanya dengan gerakan singkat saja, Paris sudah bisa melumpuhkan dua gadis itu. Bukan. Paris bukan telah melumpuhkan mereka. Kedua cewek tadi hendak menarik rambut Paris, tapi Paris bisa berkelit. Itu membuat mereka yang akan menyerangnya kehilangan keseimbangan dan membuatnya terjatuh.


Priski mendelik melihat dua temannya terjerembab di atas paving. "A-apa yang kamu lakukan, hah?!" tanya Priski marah. Dia terkejut hingga sempat terbata-bata tadi.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya berusaha menghindar dari serangan mereka." Paris mengatakan itu dengan santai, hingga membuat Priski semakin geram. Dia merasa kesal karena Paris juga tak gentar padanya.


Dua teman Priski meringis sakit karena berguling di atas paving. Priski kebingungan. Lalu dia mendekat dan akan menyerang Paris juga. Namun seperti dua temannya, Paris bisa menghindar dan malah membuat tubuh Priski limbung. Akhirnya gadis itu jatuh juga di atas paving. Paris mengangkat bahunya melihat ketiga cewek tadi meringis.


Paris mendekat ke gadis yang rambutnya sudah berantakan karena di tarik itu. Dia masih duduk meringkuk ketakutan.


"Berdirilah," pinta Paris. Tangannya terulur akan membantu gadis itu berdiri. Namun rupanya gadis itu ragu. "Mereka tidak akan melakukan kekerasan ke kamu. Mereka masih sibuk kesakitan." Akhirnya gadis itu mengangguk dan menerima uluran tangan Paris. Akhirnya dia beranjak berdiri.


"Hei, kamu!" Priski sudah bisa berdiri lagi. "Aku sangat marah padamu. Kamu telah merusak kesenanganku. Padahal kita tidak pernah punya urusan apapun. Tunggu nanti. Aku tidak terima di usik seperti ini. Kamu akan jadi targetku selanjutnya!" Priski marah dengan kemejanya yang jadi kotor. Juga beberapa lecet di tubuhnya.


"Ya. Akan aku tunggu." Mereka bertiga berjalan menjauh dari Paris dengan kesal. Sandra yang tadi berlari dan memanggil Banu si ketua kelas kini terkejut melihat Priski dan kawannya datang menghampirinya.


"Minggir!" teriak Priski sengit.


"Aduh, gawat." Sandra panik. Dia dan Banu pun minggir. "Sepertinya perundungan sudah selesai, Banu."


"Jadi Priski, yang menjadi lawan Paris?" tanya cowok tinggi dengan kacamatanya itu. Sandra mengangguk. "Jika urusannya sama dia, lebih baik bersiap-siap akan ada sidang lanjutan."


"Maksudnya?" tanya Sandra bingung.


"Bilang pada Paris untuk hati-hati." Banu pun pergi meninggalkan mereka. Sementara Sandra kebingungan sendiri. Dia berlari menuju Paris yang masih berbincang dengan korban perisakan.


"Kenapa harus berurusan dengan mereka kalau tahu mereka berbahaya?" tanya Paris sambil menoleh ke arah Sandra yang sudah dekat.


"Aku tidak pernah ingin berurusan dengannya. Aku hanya tidak sengaja saat selfie di lorong yang sepi, tiba-tiba mereka yang muncul dengan rokok di tangannya ... ikut terfoto," jelas gadis itu.


"Selfie di lorong yang sepi? Aneh ..." ujar Paris spontan. Sandra mendelik mendengarnya. "Eh, sorry ..." Paris mengibaskan tangannya ingin menghapus kalimat tadi.


"Tidak apa-apa. Aku memang aneh. Aku tidak punya rasa percaya diri yang tinggi. Namun aku juga suka berfoto. Jadi aku seringkali berfoto di tempat yang sepi karena aku merasa berani."


"Ya sudah. Sebaiknya kita segera pergi. Sepertinya bel masuk sudah berdentang. Nama kamu?" tanya Paris.


"Bella."



Paris berdiri dengan wajah bingung. Mendadak saja dia dipanggil guru bp saat baru masuk kelas tadi. Dia yang merasa tidak sedang membuat rusuh, tidak berpikir macam-macam.


Pasti gadis yang di rundung mereka, mengadu pada guru BP. Paris bersikap tenang.


"Duduklah ... " Mereka bertiga pun duduk berjajar di depan guru BP.


Kenapa mereka di suruh duduk, sementara aku berdiri? tanya Paris dalam hati. Merasa aneh dengan perlakuan tidak adil ini.


Brak! Guru bp menghentakkan stik panjang berbahan bambu ke atas meja. Paris pun berjingkat kaget. Apalagi mereka bertiga yang duduk tepat di depan guru BP.


"Apa yang kamu lakukan Paris?!" bentaknya marah. Paris yang mengira dirinya bukan orang yang melakukan kesalahan terkejut. Dia terdiam. Bingung mendengar pertanyaan dari gurunya. "Jawab Paris!"


"Saya ... tidak melakukan apa-apa," jawab Paris akhirnya. Walaupun menjawab dengan lambat, dia mulai bisa mengatasi rasa bingungnya. Rasa ingin tahu kenapa justru dia yang di interogasi, coba di abaikannya dahulu. Sekarang dia harus menjawab setiap pertanyaan guru BP dengan tepat.


"Bagaimana bisa kamu menjawab tidak melakukan apa-apa. Lihatlah ketiga temanmu itu." Kali ini guru bp menunjuk ke arah tiga cewek tadi. Paris menoleh. Mengikuti arahan telunjuk guru bp. Mereka bertiga. Priski dan kawan-kawannya. Setelah melihat mereka bertiga sebentar, Paris kembali menoleh pada guru di depannya. Menyipitkan mata. Merengut. Heran.


"Ada apa dengan mereka, Pak?" tanya Paris tanpa sadar. Karena menurut Paris, mereka bertiga tidak kenapa kenapa. Memang ada lecet di dahi, siku dan tumit. Namun itu juga hanya goresan yang tidak dalam. Mungkin itu karena mereka terjatuh tadi di atas paving saat akan menyerangnya.


Lantas tujuan dari pertanyaan guru BP ini sangatlah aneh.


"Kok bisa balik tanya sama saya ada apa? Kamu kan yang menyerang mereka?" Langsung bola mata Paris membeliak mendengar tuduhan itu. Kepalanya langsung menoleh pada Priski dan kawannya, lalu menoleh ke depan lagi ke arah guru BP.


"Menyerang? Menyerang bagaimana, Pak?"


"Priski bilang kamu sedang menindas dia dan dua temannya."


"Apa? Saya tidak melakukan apa-apa, Pak. Justru mereka bertiga yang sedang melakukan hal yang buruk." Paris tentu saja tidak terima. Dengan lantang dia mengatakan kebenaran. "Dia sedang menindas seorang siswa bernama Bella. Lalu saya yang membubarkan mereka bertiga ini." Guru Bp menoleh pada Priski.


"Jadi ... kamu bilang aku berbohong? Aku?" Priski memasang wajah mengiba. Lalu sesenggukan kecil terdengar seraya menyeka hidungnya yang sepertinya tiba-tiba berair. Paris melihat semua ekspresi di buat-buat gadis itu. Hingga guru BP merasa kasihan.


Apa-apaan, dia ...


"Lihatlah. Priski tidak mungkin merundung kamu yang terlihat seperti lebih kuat darinya." Paris menoleh ke arah guru BP dengan mata menyipit geli...


Lebih kuat? Ngaco nih? Meskipun iya, tapi orang ini sungguh tidak masuk akal.


Cewek ini berpengalaman soal mempermainkan perasaan polos para guru. Namun sepertinya itu bukan polos. Mereka semua bodoh. Dungu. Bagaimana bisa tangisan palsu itu di anggap nyata? Paris berdecih dalam hati.


Lawanku bukan orang biasa. Sepertinya aku akan kalah. Aku tidak peduli. Cewek itu memang orang jahat. Aku tidak akan mengalah pada orang jahat.


"Apakah wakil kepala sekolah sudah datang?" tanya guru BP pada guru olahraga.


"Belum. Beliau masih ada rapat di dinas pendidikan bersama kepala sekolah."