Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Suasana hati Biema



Paris dan Biema di minta datang ke kediaman keluarga Biema. Ini tidak bisa di tolak. Karena dia juga tidak mau mempermalukan keluarganya sendiri jika nanti tidak mau memenuhi undangan.


Sebelum waktu yang di janjikan Biema mengajak Paris pergi ke butik membeli gaun.


"Aku punya banyak gaun bagus di rumah, kok." Paris tidak mau.


"Enggak harus pulang ke rumah orangtuamu untuk mengambil gaun, kan? Apa kata mereka saat aku mengantarmu pulang hanya untuk mengambil gaun. Aku akan membelikannya untukmu. Masuklah." Biema meminta Paris menuruti kemauannya. Akhirnya Paris masuk ke dalam mobil juga.


Butik ini saran dari Fikar yang sudah mencarikan butik sebelumnya. Biema turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Paris.


"Tidak perlu memperlakukanku seperti ratu. Aku bisa membuka pintu sendiri."


"Aku tahu. Aku merasa perlu melakukannya." Paris menipiskan bibir seraya keluar dari mobil. Lalu mereka berdua masuk ke dalam butik. Di sana mereka di sambut dengan baik oleh pemilik butik. Pemilik sengaja datang ke butiknya demi menyambut kedatangan pria ini yang sudah memberi kabar terlebih dahulu.


"Apa perlu saya pilihkan, Tuan?" tanya pemilik butik.


"Tidak. Terserah istriku saja. Kalian bisa melakukan pekerjaan yang lain," jawab Biema seraya menunjuk Paris dengan dagunya. Dia tidak mau Paris uring-uringan karena merasa di awasi oleh pegawai butik.


Gadis itu mencoba gaun satu persatu. Sementara Biema duduk dengan santai di sofa.


"Bisa tolong bantu aku?" pinta Paris di dalam ruang ganti. Tidak ada jawaban. Biema mendongak. Rupanya pegawai dan pemilik itu tengah memilihkan gaun untuk Paris hingga tidak bisa mendengar. Biema berinisiatif berdiri. Pegawai itu mulai bisa mendengar panggilan Paris dan akan mendekat.


"Biar aku saja," ujar Biema. "Kalian bisa melanjutkan mencari gaun yang cocok untuk istriku."


"Baik Tuan." Biema mulai mendekat ke arah tirai ruang ganti. Tangan Paris keluar dari tirai.


"Tolong masuk, gaun ini sulit sekali," ujar Paris. Namun tidak ada jawaban. "Tolonglah." Biema membuka tirai ruang ganti perlahan. Srek! Nampak gaun Paris masih belum bisa di tutup dengan penuh. Menampakkan bagian tubuh belakang Paris. Gadis itu tidak tahu bahwa yang ada di belakangnya adalah Biema karena menunduk. Dengan cekatan Biema membantu menaikkan resleting.


"Sudah?" tanya Biema pelan. Ini mengejutkan. Paris langsung mendongak dan menoleh ke belakang dengan cepat.


"Kamu?!"


"Ya. Kenapa?"


"Kenapa bagaimana? Kamu tahu kan, aku sedang ganti baju. Kenapa kamu masuk?!" sembur Paris.


"Bukannya kamu yang meminta tolong barusan?"


"Iya, tapi aku minta tolong pada pegawai butik ini."


"Sama saja. Toh, aku juga berhak atas tubuh kamu."


"Apa sih?!" sungut Paris. Paris langsung memutar tubuhnya menghadap Biema. "Apa yang kamu ..."


"Cantik," potong Biema cepat membuat Paris tidak jadi meneruskan kalimatnya. Manik mata Biema menatap Paris takjub.


"Jangan merayuku." Paris menunduk. Menyembunyikan rona merah karena sebutan kata cantik tadi.


"Jadi kamu merasa di rayu?"


"Biema!" seru Paris semakin keras.


"Pakai ini saja. Aku suka. Kamu semakin cantik." Berkali-kali kata cantik keluar dari bibir Biema membuat Paris perlu menenangkan dirinya yang merona. "Tolong bantu dia memakai riasan. Baju yang di pakainya akan aku ambil," ujar Biema kepada pemilik butik.


"Baik, Tuan."


Biema kembali duduk di sofa. Sementara Paris berbincang dengan pemilik butik dengan sesekali menoleh pada Biema. Mungkin wanita itu memberi tahu bahwa mereka di minta Biema untuk merias dirinya. Mungkin awalnya Paris akan menolak, tapi akhirnya gadis itu mau juga.


Helaan napas terdengar dari bibir Biema. Pria ini juga perlu menenangkan degup jantungnya. Sesungguhnya dia juga berdebar melihat Paris dengan setengah pakaian terbuka. Apalagi saat gadis itu memutar tubuhnya untuk menghadap ke arahnya. Kata cantik yang dia lontarkan bukan godaan atau rayuan. Itu murni meluncur dari bibirnya begitu saja.


...----------------...



...----------------...


Sepanjang perjalanan menuju rumah orangtuanya, Biema tidak henti melirik ke samping. Ke arah Paris. Gadis ini terlihat cantik dan feminin.


"Berhenti melihatku terus Biema," sembur Paris. "Apa kamu tidak capek melirik ke samping terus? Fokusmu harusnya ke depan. Ke arah jalanan. Bukan ke aku." Paris menggerutu.


"Aku belum bisa melewatkan penampilanmu sekarang. Jika boleh, aku akan terus bilang bahwa malam ini kamu begitu cantik."


"Jangan membual. Aku tidak bahagia saat kamu bilang cantik." Bohong. Jelas Paris berbohong. Dia saja terus merona saat Biema menatapnya. Hanya saja egonya besar. "Karena percuma kamu bilang cantik saat aku berdandan. Jika semuanya sudah aku tinggalkan, aku akan jadi jelek. Jadi berhenti berkata aku cantik."


Biema tersenyum. Jadi itu alasan gadis ini enggan di bilang cantik. Masuk akal juga.


Mereka sampai di halaman rumah keluarga Biema. Entah kenapa Paris jadi deg-degan. Itu tidak biasa. Biasanya dia juga bersikap seenaknya.


"Tunggu," cegah Paris sambil memegang lengan Biema. Bola mata Biema menoleh ke tangan Paris. Ini sentuhan fisik pertama yang di lakukan gadis ini padanya. Biema berusaha tenang.


"Kenapa?" tanya Biema heran. Gadis ini jadi bergelagat aneh.


"Di dalam banyak keluargamu?" tanya Paris yang melihat banyak mobil di halaman rumah Biema. Itu berarti akan banyak keluarga Biema di sana.


"Tentu. Jika mama mengundang, berarti ada acara keluarga. Kenapa tanya itu?"


"Emmm ... aku mendadak jadi ... gugup." Paris mengaku sambil melihat ke arah lain. Gadis ini benar-benar nervous. Ini pertama kalinya dia datang ke rumah keluarga Biema dalam suatu acara keluarga. Biema menyentuh tangan Paris yang memegang lengannya. Di luar dugaan Paris tidak menepisnya. Gadis itu justru diam sambil mendengarkan kata-katanya.


"Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu di cemaskan."


"Sebentar." Paris melepaskan pegangan Biema pada tangannya. Jika Paris tahu, ada raut wajah kecewa sesaat yang terlihat pada Biema. Namun sayang Paris sibuk membuka clucth bag berwarna hitam miliknya. Jadi tidak bisa menemukan rasa kecewa yang di rasakan Biema. "Aku harus bercermin dulu ... " Karena gugup, Paris tidak bisa segera membuka clucth bag-nya.


"Berhenti Paris." Biema menghentikan tangan Paris yang belum bisa membuka clucth bag-nya. "Tidak perlu bercermin. Jika aku bilang kamu sudah sempurna, kamu memang akan terlihat sempurna di mata semua orang," ucap Biema meyakinkan. "Ayo. Pegang tanganku. Kita harus segera masuk."


Paris diam sambil melihat telapak tangan Biema yang terbuka. Perlahan Paris memberikan tangannya pada Biema. Tanpa perlu menunggu lagi, Biema segera menggenggam tangan Paris.


"Ayo kita masuk ke dalam." Paris mengangguk dengan ragu. Mereka pun melangkah masuk. Bibir Biema terus saja tersenyum. Malam ini Paris begitu cantik. Itu membuat hatinya berbunga-bunga. Apalagi saat ini tangan Paris berada dalam genggamannya. Biema merasa gembira dan bahagia.