Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Paris sebenarnya


Sekitar jam 1, mobil Biema sudah terparkir di sekitar sekolah. Siang ini dia sedang menunggu Paris untuk pulang sekolah. Kepalanya mencoba melihat keluar jendela. Mencari gadis itu muncul dari banyaknya siswa siswi yang berhamburan.


Tidak lama gadis itu muncul. Namun Paris tidak sendiri. Dia bersama Sandra dan beberapa teman laki-lakinya. Biema berpikir gadis itu segera menyadari kedatangannya. Ternyata tidak. Paris berhenti dan mengobrol dengan mereka. Bahkan Sandra juga tidak menyadari ada mobil kakaknya.


"Kenapa dia masih mengobrol dengan mereka," gerutu Biema sambil terus melihat ke arah mereka. Walaupun menggerutu, dia tetap sabar menunggu. Paris disana masih sibuk dorong-dorongan sama temannya di pinggir trotoar. Tidak lupa kadang bibirnya tergelak lepas. Itu sisi Paris yang sebenarnya. Gadis SMA yang sedang bersemi.


Begitu menyenangkan melihat sisi gadis itu yang seperti itu. Bibir Biema tersenyum melihatnya.


Apakah aku sudah mengacaukan bunga yang sedang merekah? gumam Biema sadar bahwa dia memutus kehidupan remaja Paris. Meskipun bukan itu tujuannya menikahinya. Biema menghela napas. Tawa Paris terdengar. Wajah gadis itu begitu ceria. Bibir Biema tersenyum lagi.


Mendadak Biema mengurungkan senyumnya mengembang. Seorang teman laki-laki mendekat dan memainkan ekor rambut Paris yang di ikat. Paris melotot dan memukul lengan cowok itu. Kedua mata Biema menyipit. Melihat cowok itu dengan sorot mata yang tajam.


"Kenapa bocah itu menyentuh Paris ...." Tangan Biema yang memegang kemudi mencengkeram erat. Pria ini geram melihat kejadian barusan.


Tunggu, apakah aneh jika aku jadi cemburu karena anak-anak SMA itu? tanya Biema dalam hati menyadari sikapnya barusan. Kepala Biema menggeleng. Menghapus pikirannya barusan. Namun saat dia melihat lagi Paris sedang bercanda dengan teman laki-lakinya, Biema merasa tidak tenang.


Hhh ... sepertinya aku memang sedang terganggu dengan bocah-bocah itu. Biema pun tersenyum menyadari keadaan hatinya. Tangannya menyentuh tombol panggil pada ponsel, lalu menelepon Paris.


"Cepatlah masuk mobil. Aku sudah sampai dan menunggumu lama."


"Hah? Benarkah?" tanya Paris terkejut. Kepalanya melihat ke sekitar. Mencari dimana sosok Biema berada. Di lihatnya mobil Biema tidak jauh darinya. "Aku melihatmu."


"Kenapa?" tanya Sandra.


"Kakakmu sudah datang. Sudah dari tadi katanya."


"Benarkah? Dimana?" tanya Sandra.


Paris tersenyum. "Reaksimu sama sepertiku. Dia ada di sana." Dengan dagunya Paris menunjuk Biema. Setelah tahu dimana mobil kakaknya, Sandra melambaikan tangan. Mereka berdua pun menghampiri Biema.


"Halo, kakak ..."


"Halo."


"Aku ikut pulang kalian ya? Sopir enggak jemput. Aku bilang ikut kakak saja," ujar Sandra.


"Baiklah. Cepat masuk. Aku ingin segera mengajak Paris ke kantor."


"Hah? Ngapain?" tanya Paris sambil menoleh ke Biema dengan cepat. Dia belum tahu kalau Biema ada acara untuk mengajaknya ke kantor.


"Nanti aku beritahu setelah kita sampai di sana," sahut Biema. Paris mengerutkan dahi mendengar ajakan yang mendadak ini.



"Seingatku, anniversary perusahaan adalah kemarin. Kenapa kita baru persiapan hari ini? Lagipula ini weekend. Aku heran kamu memaksakan diri untuk bekerja," tanya Fikar seraya menyerahkan dokumen yang perlu di tanda tangani ke Biema.


"Ini demi Paris," sahut Biema tenang sambil menerima sodoran Fikar.


"Paris? Apa hubungannya persiapan hari lahir perusahaan dengan istrimu?" tanya Fikar heran. Dia masih berdiri di depan meja kerja Biema.


"Hubungannya adalah ... " Biema mendongak. "Besok adalah hari libur sekolah. Aku ingin Paris hadir di sini sejak awal persiapan pesta. Jika aku mengadakan pesta hari ini, Paris tidak akan bisa mengikuti proses persiapannya dari awal karena dia harus sekolah." Biema menunduk lagi. Membaca dokumen yang perlu di tanda tangani dengan teliti.


"Bukannya kamu bisa menyuruhnya tidak masuk sekolah?"


"Bolos? Dia pasti tidak mau."


"Bukan itu intinya. Aku ingin dia ikut terlibat dalam proses persiapan pesta karena aku akan memperkenalkannya sebagai istriku nantinya. Paris harus tahu bagaimana situasi perusahaan ini."


"Jadi sebentar lagi kamu akan mengumumkan soal status kalian?" tanya Fikar. Biema mengangguk tanpa menoleh. "Apa kamu sudah bicarakan ini dengan Paris?" selidik Fikar.


"Belum. Aku belum mengatakan soal ini pada Paris."


"Aku rasa sebaiknya kalian bicarakan dulu. Bukan aku ingin menghalangimu untuk mempublikasikan Paris sebagai istrimu. Aku tidak punya hak atas itu. Namun ... melihat kalian berdua yang menikah karena perjodohan, aku rasa sedikit berbeda dengan kebanyakan pasangan menikah."


Biema yang sejak tadi menundukkan pandangan pada dokumen, kini mendongak lagi. "Apa maksudmu?"


"Mungkin kamu lupa kalau kalian berdua menikah tanpa ada cinta. Yang aku tahu seperti itu. Lagipula gadis itu masih sekolah." Alis Biema mengerut mendengar Fikar bicara. "Kamu juga belum tahu dengan pasti soal perasaan Paris sesungguhnya. Apakah dia setuju akan hal ini? Soal status kalian maksudku."


"Aku bukan akan mengumumkan pernikahanku saat pesta perusahaan. Aku hanya memperkenalkan Paris sebagai kekasihku pada karyawanku."


Fikar mengangguk. "Aku sempat khawatir."


Bibir Biema diam. Otaknya berputar memikirkan apa yang di katakan Fikar barusan.


"Kamu benar. Aku belum mendapat kepastian soal perasaannya padaku." Biema sadar hubungan mereka memang semakin dekat, tapi tidak ada kepastian yang bisa di jadikan jaminan bahwa Paris sudah mencintainya. "Lalu dimana dia sekarang?"


"Aku rasa dia ada di lorong." Biema menyerahkan dokumen pada Fikar. "Dia bilang ingin melihat-lihat."


"Aku akan menemaninya berkeliling."



Sementara itu bola mata Paris melihat ke kanan dan kiri. Dimana beberapa orang tampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Dia sudah tidak berada di lorong. Kakinya mengajaknya berkeliling. Hari ini di perusahaan Biema sedang ada persiapan pesta anniversary. Perusahaan ini akan merayakan hari lahirnya. Atas ijin Biema, Fikar sudah menunjuk beberapa orang yang menjadi tim persiapan pesta. Bukan sebuah pesta besar, tapi penting.


"Paris ...," tegur seseorang. Paris membalikkan badan ke asal suara.


"Ah, Kak Lei." Paris mendapat kejutan dengan kemunculan pria ini.


"Lagi ngapain? Kok muncul di perusahaan ini?" Lei menoleh ke kanan kiri melihat siapa gerangan yang sedang bersama gadis ini sekarang. Lalu melihat ke Paris lagi.


"Iya. Mau bantuin buat persiapan anniversary-nya perusahaan ini." Paris menunjuk ke orang-orang di belakangnya yang sibuk. Dia sudah di beritahu Biema soal pesta perusahaan ini.


"Ooh ... Kamu dekat banget sama Sandra, ya ... Sampai bantuin di perusahaan keluarganya juga. Apalagi kamu masih berseragam. Pasti pulang sekolah langsung ke sini." Lei menunjuk Paris yang masih memakai seragam lengkap dengan tas ransel dan sepatu.


"Iya. Hahaha ... Mumpung weekend. Sekalian main."


"Mmm ... Mainnya oke juga ke sebuah perusahaan. Paris memang unik." Bibir Paris mengukir senyum atas pujian Lei. Menurutnya barusan adalah pujian. Itu yang terpikir olehnya. "Melihat seragam itu, jadi ingat sekolah. Bagaimana keadaan sekolah kita? Apakah sama seperti dulu?" tanya Lei.


"Ya. Semuanya tetap sama seperti saat Kak Lei masih sekolah."


"Berarti kenangan tentang sekolah dulu masih bisa di lihat ya ... " Paris mengangguk. "Kamu juga tidak berubah. Masih sama. Tetap ... manis seperti dulu."


Manis? Mendengar ini Paris tersipu. Namun dia mencoba tenang.


Biema yang sedang mencari Paris melihat gadis ini. Namun dia tidak jadi memanggil saat melihat Paris sedang bersama seseorang dan tersenyum tersipu. Biema merasa asing dengan senyuman Paris yang tidak biasa. Gadis itu tidak pernah tersenyum seperti itu padanya.