
"Ini apa, Paris? Mirip sesuatu ..." Sandra justru meneliti. "Tunggu, ini ..." Bola mata Sandra melirik ke arah Paris. Bibir Paris menggeram dengan ekspresi kesal lagi. "Kalian berciuman?" tanya Sandra lambat dan pelan. Kali ini Paris berdecih. "Wow ..." ucap Sandra tersenyum.
"Wow apaan ...," ujar Paris kesal sambil memaksa plester tadi melekat kembali. "Ini plester apaan? Enggak lengket. Biema ambil dari mana, sih!" Paris semakin geram karena plester-nya susah sekali di atur.
Sandra yang melihat mulai terkekeh. Paris panik dan kesal dalam satu waktu.
"Jangan ketawa. Aku lagi sebel nih ..." Gugup tadi hilang berganti dengan rasa sebal.
"Oke, oke. Aku diam." Sandra menghentikan tertawanya tiba-tiba, tapi tidak bisa. Sandra ketawa lagi.
Paris juga ngomel lagi ke plester yang benar-benar menyebalkan. "Ngajak ribut nih plester, ih!" Paris membuang plester itu ke tanah. Lalu menginjak-injaknya dengan sepenuh hati. Sandra semakin ketawa sambil menunjuk ke plester laknat itu. "Biema menyebalkan." Karena ketawa ini orang-orang yang sudah melihat tadi, kini semakin memperhatikan mereka. Terutama si Paris.
"Aduh, Paris ... Aku ketawanya kebablasan, ya ..." Sandra baru sadar. Namun itu hanya akal-akalan Sandra saja untuk meledek Paris. Mata Paris melihat Sandra lurus-lurus. Gadis ini sudah sebal tingkat dewa. Sandra paham. Dia mencoba menghentikan ketawanya. "Jangan pakai plester. Pakai foundation aja."
"Make-up? Aku enggak punya."
"Aku tahu. Kamu mana punya barang seperti itu."
"Kamu punya? Cepat pakaikan."
"Enggak."
"Ih, bikin kecewa."
"Ke sekolah tentu enggak bawa foundation dong, kakak iparr ...," kata Sandra.
"Trus ini bagaimana dong? Biema nih pelakunya. Mana plester enggak bisa nempel lama lagi. Dia pasti ambil plester jaman dahulu kala, nih." Paris ingat lagi sama Biema.
"Aku bawa plester." Sandra mengubek-ubek isi tasnya. "Ini." Sandra menunjukkan plester berwarna merah muda. Mata Paris mendelik.
"Pink? Aku enggak suka pink." Paris meringis.
"Mau kelihatan begitu aja?" tanya Sandra. Paris menggeleng. "Makanya itu ... Pakai aja. Sini tak pasangkan." Paris mendekat. Sandra dengan cekatan memasang plester itu.
"Keren gak?" tanya Paris khawatir.
"Keren." Sandra kasih jempol buat kakak iparnya. "Jadi penasaran nih, kenapa kak Biema bikin cap-nya di situ?" Mereka melangkah lagi masuk ke gedung sekolah. Paris mendesis kesal mendengar rasa pensaran Sandra.
"Awal cerita, aku dengar kak Biema enggak mau nganterin kamu. Dia sengaja menghindar. Bersembunyi. Jadi nyuruh si Fikar buat tugas itu. Itu baru dua hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu kalau enggak salah. Sekarang cerita berbeda. Melompat jauh malah. Aku menemukan jejak kemerahan di leher kamu. Dan ... itu tanda kalian berciuman." Sandra menjabarkan sebuah penjelasan seperti Agatha Christie menjabarkan sebuah trik pembunuhan dalam novelnya.
"Kalian sudah baikan?" Mendengarkan pertanyaan ini dari Sandra mengatakan bahwa dia belum tahu kehebohan di ruang kerja Biema. Fikar berarti menutup mulutnya rapat.
"Ya." Sandra manggut-manggut.
"Kok bisa, stempelnya pas banget nemplok di situ. Hayo ... kalian ngapain aja, nih?" Sandra semakin gemes meledek.
"Ngapain ... Ya, enggak ngapa-ngapain, dong. Kamu mikir apa sih?" tanya Paris berusaha menghindar. Panik. Gugup. Salah tingkah.
"Mikir yang enak-enak." Sandra mengerling lalu ketawa lagi. Akhirnya mereka sampai di depan kelas.
Dasar Biema. Aku jadi bahan ledekan si Sandra nih. Biasanya kan nih anak enggak berani meledek aku. Awas kamu nanti.
"Jadi bener ya, Paris? Kalau kamu itu cewek panggilan," cegat seorang teman di depan pintu kelas.
Paris melihat cewek itu dengan menyipit. Lalu menoleh ke samping.
"Lagi? Ini gosip lama atau ada gosip baru, sih?" tanya Paris ke Sandra di sampingnya. Dia yang jarang baca chat grup sekolah tidak paham. Dan lagi sejak tadi malam dia tidak membuka ponselnya.
"Enggak nyangka aja kalau kamu anaknya begitu." Cewek tadi langsung memberi tanggapan dengan wajah nyinyir.
"Aku belum jawab iya atau enggak. Kok kamu sudah kasih tanggapan? Lebih baik dari awal aja menghakimi. Pakai tanya-tanya segala." Paris langsung nge-gas. Bel masuk berdentang.
"Ih," cibir cewek itu lalu pergi.
"Aku mau bahas soal itu. Aku sudah kirim screenshot ke kamu. Ada foto up date terbaru kamu dan kak Biema." Sandra memberitahu Paris dengan berbisik.
"Sialan." Ini umpatan Paris kesekian kalinya. "Heran juga, foto hanya berdua saja sudah heboh. Mana arahnya ke cewek panggilan lagi. Mereka haus gosip ya? Foto enggak dosa begini sudah bisa jadi gosip seluruh sekolah. Belum tahu lagi kalau aku sudah kawin sama Biema. Bisa pingsan mereka."
"Hussshh ... Jangan keras-keras Paris. Kalau seluruh sekolah tahu kamu sudah berstatus nikah, apa kata mereka? Kamu semakin repot nantinya." Sandra memarahi Paris. Bola mata Paris lihat kanan dan kiri. Jikalau beneran.ada yang nguping.
"Sebal juga hanya foto begitu sudah mampu menggerakkan massa buat ngomongin orang. Priski memang te-o-pe." Paris mengacungkan jempolnya dengan gemas.
"Mereka enggak cuma bahas foto kamu yang berdua sama kakak. Mereka juga lihat jam yang tertera di foto sebelah kiri. Pukul 23.00. Itu jam sebelas malam. Mereka berpikir berita yang Priski buat itu beneran. Karena jam segitu kamu masuk sebuah apartemen seorang pria."
"Kenapa mereka enggak mikir itu mungkin saja apartemen milik saudaranya gitu," tanya Paris heran.
"Namanya juga gosip. Mikirnya yang aneh-aneh dong, biar tambah sip."
Sebelas malam? Sekitar jam segitu sih aku sudah sibuk meluk si Biema. Eh, salah. Sepertinya itu saat Biema masih ngomong soal benih, keperkasaan dan sebagainya itu. Atau ... jangan-jangan jam segitu saat Biema menciumi leherku? Jadi berasa banget bibir Biema di leherku. Aduh, kenapa jadi merinding.
Paris membuat ekspresi yang berganti-ganti ketika berpikir saat-saat berdua bersama Biema tadi malam. Tanpa sadar tangannya pun bergerak menyentuh leher berplester tersebut. Sandra meringis melihat ekspresi kakak iparnya. Dari ekspresi meremehkan, terkejut, merona dan terakhir ini nih yang membuat Sandra langsung memukul Paris pelan.
"Bayangin apaan sih, jadi mirip orang mesum. Senyum-senyum sendirinya beda lagi," tegur Sandra.
Aku lagi bayangin di mesumin kakak kamu, Sandra, jawab Paris dalam hati. Meski Sandra adalah sahabatnya, tapi karena Sandra juga adiknya Biema, untuk cerita soal itu Paris jadi tidak nyaman.
"Hahahaha ..." Paris hanya jawab dengan tertawa. Ponsel Paris berbunyi. Ada pesan masuk.
"Lagi ngapain?" Ternyata yang lagi di pikirin Paris. Biema.
"Lagi mikirin kamu yang mesumin aku." Tanpa pikir panjang Paris membalas pesan dengan cepat. Klik. Terkirim.
"Siapa?" tanya Sandra.
"Biema." Eh? Tunggu. Aku tadi kirim pesan apaan ya? Paris merasa ada yang salah. Dia segera buka ponsel. Melihat dengan cepat pesan yang dikirimnya tadi. Paris membaca ulang pesan yang di kirimnya.
"Lagi mikirin kamu yang mesumin aku."
Apa?!