
"Sebelum aku berada di ruangan ini, sepertinya aku sudah kalah oleh gadis itu. Paris. Gadis muda yang bersemangat. Berani mengambil langkah menikah muda denganmu yang belum tentu mencintainya." Mela mengatakan dengan sungguh-sungguh.
Biema mendengkus mendengar kalimat Mela.
"Siapa bilang aku tidak mencintainya ..." ujar Biema.
"Kamu ... benar-benar mencintainya?" tanya Mela seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Jangan bertanya yang aneh-aneh lagi, Mela. Kamu lupa dengan ancamanku?" Biema menyipitkan matanya.
"Tidak, tidak Biema. Bukan begitu." Mela menggerakkan kelima jarinya.
"Ya. Aku mencintainya," jawab Biema tegas. Mela menghela napas.
"Jujur, aku kecewa kamu bisa menghilangkan aku dari hatimu begitu cepat. Karena aku sempat berpikir kamu tidak akan begitu mudah membuangku dari hatimu."
"Siapapun bisa berubah dengan cepat, Mel."
"Begitu ya ... Baiklah. Sebaiknya kita membahas pekerjaan. Jika tidak, aku masih akan bertanya banyak hal padamu. Terutama soal Paris." Mela lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah berkas.
Paris bergerak menjauh dari ruang baca dengan geram. Dia sangat kesal. Walaupun tadi dia sudah bertingkah kuat, tapi sebenarnya itu hanya sandiwara.
Tadi, dia merasa ada yang sakit. Itu seonggok hati miliknya. Tidak seperti saat mendengar bahwa Biema pernah mengajak Mela menikah di kantornya. Dia memang sempat marah dan uring-uringan. Namun saat bertemu kakaknya, Arga, semua marahnya menguap. Bukan hilang, tapi hanya menguap saja. Hanya saja bisa di bilang tidak berbekas.
Sepertinya kali ini tidak sama. Dia merasa sakit. Bara yang menyala saat menghadapi Mela tadi hanya sesaat. Jadi Biema mengajak Mela menikah itu bukan cerita lama? Kali ini Paris merasa tubuhnya lunglai dan ingin segera masuk kamar.
Beruntung dia segera melesat ke dalam kamar tidur. Kalau tidak, sebutir airmata jatuh dalam perjalanan tadi. Dan bisa saja penghuni rumah menemukannya. Sesampai di kamar, Paris segera menutup pintu. Menghapus butiran airmata, lalu duduk di atas ranjang.
"Sialan! Kenapa harus sakit hati, sih! Memangnya Biema itu siapa, sudah bikin aku nangis? Dia itu pria yang berumur ...." Paris menghitung dengan jarinya. "Berumur 8 tahun lebih tua dari aku. Dia itu pria tua, bukan?" Paris mengomel di dalam kamar. "Mana ada pria tua yang bisa mempesona di depan gadis belia seperti aku." Paris bersidekap. Menekuk wajahnya karena sebal.
Bruk! Paris menjatuhkan badannya di atas ranjang dengan kesal.
"Biema menyebalkan. Dia pria tua yang menyebalkan." Paris masih mengomel. Bola matanya melihat langit-langit kamar. Menerawang. "Walau menyebalkan, sebenarnya dia peduli padaku ..." Paris menyadari itu.
"Tapi ... apa sikap pedulinya itu benar-benar dari hatinya? Kalau dia menikahiku karena kecewa di tolak Mela, bukannya sekarang dia mencoba bersikap baik karena berusaha membuang Mela dari hatinya?" Paris meraih guling di sampingnya. Memeluknya dan menenggelamkan wajahnya.
"Pelarian. Namanya di jadikan pelarian itu bukan hanya tidak keren, tapi juga sedikit menyakitkan." Paris menatap lurus ke depan. Namun fokusnya ke hal yang lain.
"Aku yakin, Biema sedang berpura-pura mempedulikanku." Paris mengangguk sendiri. Suasana hatinya mendadak jadi sendu. "Kenapa berpikir seperti itu membuatku sedih? Apa aku mulai suka pada pria tua yang tampan itu, ya?" Paris termangu. Kemudiam memejamkan mata. Perlahan dia pun terlelap.
Paris menggeliat di atas ranjang. Matanya bergerak-gerak pelan. Kemudian terbuka sempurna setelah tertatih-tatih tadi.
Aku bangun. Sepertinya ketiduran tadi. Paris bangkit dari tidurnya. Kemudian duduk sambil menguap. Merentangkan tangan merasakan enaknya tulangnya saat melakukan peregangan.
"Kamu sudah bangun, Paris?" tegur suara khas milik Biema. Paris yang tidak menyangka ada pria itu di dalam kamar berjingkat.
"Sejak kapan kamu ada di sini?" selidik Paris.
"Sejak kelopak matamu bergerak-gerak untuk membuka mata," jelas Biema. Berarti itu sejak tadi. Berarti pria ini melihatnya tengah menguap dengan lebar. Spontan tangan Paris menutupi mulutnya. "Ya. Aku melihatmu menguap begitu lebar tadi." Biema tersenyum jahil.
Issh ... Pria tua ini selalu saja berwajah jahil. Tidak merasa kalau sudah menyakitiku apa? Huh! Menyebalkan.
"Aku mau mengajakmu pulang tadi. Ternyata saat aku kembali ke sini, kamu tertidur dengan pulas. Sangat nyaman. Aku tidak tega membangunkannya," ujar Biema.
"Ya. Aku lelah. Sangat lelah. Setelah mengeluarkan banyak energi, aku merasa begiiitu lelah." Paris mengucapkan kata lelah berulang kali dan hiperbola.
"Ah, wanita itu. Aku cukup puas sudah mencelanya tadi."
"Aku rasa kamu belum puas kalau belum bisa menghajarnya," sindir Biema dengan senyum.
"Ya. Kalau bisa."
"Kita pulang sekarang?" tanya Biema. Paris menoleh ke luar jendela. Langit mulai menggelap. Ternyata sudah sore. Se-lelah itukah dirinya hingga tidurnya cukup lama?
"Ya, tapi aku ingin mandi dulu. Kamu sudah mandi?" tanya Paris beranjak berdiri. Tidak ada maksud apapun dalam pertanyaan gadis ini. Dia hanya sekedar bertanya sambil lalu. Namun melihat kilat jahil di mata Biema, Paris mulai sadar bahwa dia salah bicara. "Maksudku, jika kamu belum mandi, mandilah. Aku bisa menunggu giliran setelah kamu selesai mandi." Paris langsung meralat kalimatnya dengan cepat.
"Oh, aku pikir aku salah mendengar."
"Memangnya apa yang kamu dengar?" gumam Paris sambil menggerutu.
"Aku pikir kamu mengajakku mandi bersama," sahut Biema dengan tampang polos. Seakan kalimat itu biasa di dengar Paris.
"Aarggh ... hentikan kalimat mesummu, Biema. Isshh ... Aku akan mandi. Terserah kamu belum mandi atau sudah." Paris segera melesat menuju ke kamar mandi. Biema tersenyum geli. Menyenangkan sekali melihat Paris menggerutu dengan imut itu.
Biema terdiam sambil memandangi ranjang agak lama. Dia ... melihat airmata Paris saat gadis itu tertidur tadi.
Gadis itu menangis?
Saat ini bukan hanya Paris yang ragu. Biema juga di landa kebingungan soal perasaan gadis itu. Mereka sama-sama merasa belum mendapatkan arti cinta sesungguhnya.
Soal Paris ... Aku tidak tahu tentang perasaannya. Kadang dia begitu takut kehilangan, kadang dia juga bersikap datar seperti enggan. Kadang dia marah karena aku dekat dengan Mela. Kadang dia juga bersikap tidak peduli. Soal Paris ... Aku masih tidak tahu.
Volkswagen Golf GTI berwarna hitam mengkilat milik Biema menjauh dari pelataran rumah orangtuanya menuju apartemen miliknya.
"Kamu tidak lapar?" tanya Biema.
"Ya. Aku sangat lapar."
"Malam ini kita makan apa?"
"Hmmm ... aku mau makan ikan bakar."
"Kamu suka ikan bakar?"
"Ya. Sangat suka."
"Dimana kamu biasa membelinya?"
"Tidak perlu mencari tempat yang biasa aku datangi. Kamu bisa mengajakku ke tempat ikan bakar yang kamu tahu."
"Jangan. Karena ini pertama kalinya kamu mau aku ajak makan di luar, aku harus merayakannya." Bibir Paris menipis mendengar kalimat Biema yang terdengar seperti ejekan baginya. "Dimana, tempat ikan bakar yang kamu suka?" tanya Biema lagi.
"Di warung tenda."
"Warung ... tenda?" ujar Biema mengeja.
"Sepertinya kamu sedang terheran-heran aku makan di warung tenda," ujar Paris seraya menyipitkan mata melihat Biema di sampingnya. "Kamu pasti enggak pernah makan di tempat biasa seperti itu. Lupa, kalau kamu itu 'orang besar'." Paris menambahkan cemoohan di sana.
"Jangan menilai setiap kalimatku dengan pikiran salah Paris. Tidak semua yang aku katakan punya arti yang sama dengan apa yang kamu pikirkan. Aku bukan terheran-heran. Dan aku juga bukan mengejek tempat favorit kamu itu." Biema menanggapi dengan tenang.