Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Maju ke arahnya


Ini waktunya menjemput Paris. Namun karena gadis itu sudah bilang untuk tidak menjemputnya, Fikar tidak terburu-buru berangkat. Dia tetap fokus pada pekerjaannya.


Saat ini dia masih mengerjakan pemeriksaan produk textil baru yang akan di luncurkan. Sebenarnya sudah ada bagiannya sendiri yang mengerjakannya, tapi entah kenapa Biema ingin melakukannya. Pria ini seperti akan mengerjakan semua pekerjaan di perusahaan sendiri.


Apa itu hanya pengalihan saja?


Bola mata Biema melirik ke arah arloji yang khas milik seorang pria di pergelangan tangannya. Jam tangan ini menggambarkan tampilan yang elegan dan mewah, serta desain yang tak lekang dimakan waktu. Salah satu produk bagus dari negeri matahari terbit.


Lalu bola mata itu berpindah pada Fikar. Keningnya mengkerut. Ada yang janggal. Sepertinya Biema ingin berbicara tentang sesuatu pada Fikar, tapi dia terlalu angkuh untuk mengutarakannya. Ada yang mencegahnya bertanya lebih dulu.


"Oh, ya. Hari ini aku tidak menjemput Paris pulang sekolah," ujar Fikar tanpa menoleh. Mungkin dia sadar akan kegelisahan Biema sejak tadi. Namun sebenarnya dia memang lupa belum memberitahu atasannya ini. Dan mungkin memang tepat saat inilah waktunya.


"Aku tidak bertanya." Biema menjawab dengan datar. Dia yang tadinya melihat Fikar kini menundukkan pandangan melihat ke arah laptop kerjanya.


"Aku tahu. Aku hanya memberitahumu. Aku lupa harus melaporkan itu padamu." Biema diam dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Dia mencarimu. Kamu enggak pulang?"


"Pulang. Kamu sendiri tahu kita lembur tadi malam. Memeriksa semua produk baru itu agar sesuai dengan yang kita inginkan," jelas Biema.


"Kenapa dia bilang tidak bisa menemukanmu?"


"Aku langsung masuk ke dalam kamar karena lelah," sahut Biema. Tidak banyak ekspresi yang bisa diberikan pria ini. Biema selalu mengatakannya dengan wajah datar. Fikar jadi susah mengerti apa yang sedang di pikirkan Biema saat ini.


Sebenarnya Fikar masih ingin bertanya banyak hal, tapi di urungkannya. Biema sudah menutup jalan untuk perbincangan soal Paris. Jadi Fikar tidak perlu memaksa mendobraknya. Dia membiarkan dirinya penasaran dengan perkiraan jawaban apa yang akan di katakan Biema saat dirinya bertanya.


"Aku juga lupa bilang. Mela akan ke sini ikut langsung melihat produk kita yang baru," imbuh Fikar. Untuk ini dia tidak perlu ragu mengatakannya. Karena ini adalah urusan pekerjaan.


"Siapkan beberapa contoh bahan untuknya."


"Sudah. Aku meminjam dari bagian promosi." Fikar menunjukkan sebuah buku tebal berisi contoh hasil produk. "Kita akan melakukannya di sini, atau kamu mengajak Mela ke tempat lain?"


"Tidak. Aku tidak ingin kemana-mana. Biarkan Mela melihat produk itu di sini."


"Baiklah."


Tok! Tok! Tok!


Selesai mereka berbicara, terdengar suara pintu di ketuk. Kedua pria ini menoleh bersamaan.


"Masuklah," sahut Fikar memberi ijin pada orang di balik pintu untuk masuk. Namun pintu tidak segera di buka.


"Siapa itu?" tanya Biema menyipitkan mata seraya melihat ke arah pintu.


"Aku lihat saja." Fikar beranjak berdiri mendekati pintu. Saat pintu terbuka dan menampakkan seseorang di depan pintu, kedua alis Fikar terangkat.


"Hai," sapa Paris dengan senyum penuh misterinya.


"Kamu?"


"Ada."


"Siapa Fikar?!" tanya Biema yang hanya mendengar bisik-bisik Fikar dengan seseorang itu. Karena Fikar tidak segera mempersilakan orang itu masuk, Biema penasaran.


"Orang yang ingin menemui kamu," ujar Fikar sambil langsung membuka pintu lebar. Biema yang menoleh ke arah pintu karena ingin tahu siapa itu, melebarkan mata samar saat tahu ada Paris di ambang pintu.


"Selamat siang. Aku datang, Biem," ujar Paris.



Sepanjang waktu di sekolah, Paris memikirkan soal menemui Biema. Ini tidak akan usai jika mereka berdua tidak bertemu. Biema tetap menghindar. Sementara Paris terus saja gelisah.


Gosip soal dirinya yang menjadi simpanan om-om beredar dengan cepat. Hingga semua orang yang bertemu dengannya menatapnya dengan tatapan jijik.


"Kamu akan membiarkan semua ini terjadi?" tanya Sandra yang tidak sabar melihat Paris yang bersikap cool saja. Menurutnya Priski sudah sangat, sangat menyebalkan.


"Aku tidak punya banyak waktu mengurusi hal remeh seperti itu, San. Ada hal penting yang harus aku selesaikan," ucap Paris serius. Sampai Sandra pun tertegun. "Aku harus bertemu Biema." Saat mengatakan ini sorot mata Paris begitu yakin. Yakin itulah apa yang harus di lakukannya sekarang. Yaitu mendatangi pria itu di kantornya. Jika Biema memaksa untuk menghindar, dirinya wajib jemput bola. Alias wajib memaksa dia bertemu.


"Kamu ingin bertemu kak Biema?" tanya Sandra. Dia mulai mengikuti alur pembicaraan soal mereka berdua. Dia mengesampingkan masalah gosip yang di buat Priski.


"Ya. Kejelasan soal perasaan kita berdua harus di tuntaskan. Ini tidak boleh lama-lama. Aku lelah memikirkan Biema yang menghindariku."


"Kenapa?" selidik Sandra.


"Aku mencintainya." Raut wajah Sandra takjub mendengar pengakuan itu. "Dia. Kakakmu Biema sudah membuat aku tergantung padanya. Jadi saat dia mengabaikanku, aku terluka. Aku sakit hati," ujar Paris dengan wajah sendu. "Jadi aku putuskan untuk maju ke arahnya." Sandra tersenyum, lalu memeluk sahabatnya. Paris heran.


"Aku bahagia Paris. Sangat bahagia. Sebenarnya aku khawatir dengan pernikahan kalian. Karena aku tahu meski kalian sudah berstatus menikah, tapi sebenarnya kalian masih dalam tahap pengenalan."


"Kamu khawatir? Benarkah?" Paris yang masih di peluk Sandra mengerutkan dahi. "Kamu tidak terlihat seperti itu. Kamu lebih kepada tidak peduli."


Sandra langsung melepas pelukannya. "Mana bisa aku menunjukkan wajah itu saat kamu sendiri sudah panik di jodohkan. Jika aku juga menambahkan rasa khawatir padamu, kamu tidak akan jadi kakak iparku." Sandra protes. "Buatku sih sangat menyenangkan jika kakak iparku adalah sahabatku sendiri. Itu kamu."


"Wow, aku tersanjung. Bukannya kamu ingin kakak iparmu adalah Mela?" sindir Paris keras.


"Ih, Paris bahas itu lagi. Itu kan jaman dahulu kala. Sekarang sih beda." Sandra gemas dan mencubit pinggang Paris dengan gemas. Alhasil membuat Paris berjingkat dan meliukkan tubuhnya karena geli.


Sepulang sekolah, Paris melaksanakan niatnya. Dengan langkah kaki tegas, Paris memasuki gedung perusahaan textil milik keluarga Biema. Sengaja dia datang sendiri ke sini tanpa pengawalan pengasuh Fikar. Dia ingin membuat kehebohan sendiri dengan tidak memberitahu pada 'pengasuh'-nya itu bahwa dirinya muncul di perusahaan.


Biema memang harus di datangi langsung. Apa pria itu tidak tahu kalau aku sudah bertekad pasti akan nekat.


Aku harus mendapatkan kata cinta darinya sekarang juga. Ya. Pria itu memang seharusnya dengan mudah mengatakan aku mencintaimu. Bukannya dia sudah bisa memperlakukanku dengan lembut.


Aku juga harus siap bila ekspektasi tidak sama dengan kenyataan.