Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
D.O



Jadi rasa was-was tadi itu ini? Aku akan di interogasi karena sudah menjadi gadis panggilan seperti berita yang sudah beredar.


Orang itu mengeluarkan satu persatu foto yang berisi gambar diri Paris dan Biema. Paris tidak terkejut. Karena memang cerita hoak inilah yang selalu menghiasi kesehariannya di sekolah.


Wakil kepala sekolah mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan karena ingin melihat foto yang berderet di atas meja. Dari gestur tubuhnya, sepertinya orang itu baru pertama kali melihat foto-foto hasil jepretan penguntit.


Namun sayang beliau tidak mengenal siapa sebenarnya yang ada di dalam foto itu. Foto ini selalu menunjukkan sisi Biema yang tidak menghadap ke kamera. Orang ini tidak mengenali Biema yang ada di dalam foto sama sekali. Mungkin karena tujuannya adalah hanya Paris. Gambar disana selalu menunjukkan wajah gadis ini saja. Hingga fokus yang melihat foto itu sengaja di arahkan hanya pada Paris seorang.


Kenapa mereka iseng sekali membahas ini? Bukankah berita ini belum tentu benar adanya.


Wakil kepala sekolah mungkin sudah benar-benar lupa akan ancaman Biema waktu itu. Dia masih saja mendengarkan apa yang di katakan putrinya. Padahal masalahnya terletak pada putrinya sendiri. Priskilah yang seharusnya duduk dan di interogasi dengan berbagai macam pertanyaan.


"Saya harus membahas tentang ini dengan kamu," ujar kepala sekolah memulai interogasi ini. Paris yang sejak tadi melihat ke arah foto yang ada di atas meja, kini mendongak.


"Darimana Bapak mendapat foto ini?" tanya Paris sedikit menahan kesal. Dia masih bersikap sopan meskipun bertanya dengan nada tegas.


"Kamu, kalau bicara dengan guru itu harus sopan. Cara bicaramu menunjukkan kalau kamu memang bukan anak baik-baik." Entah kenapa guru BP-lah yang menjawab. Paris menggeser bola matanya ke arah orang menyebalkan itu.


Sialan ini orang.


"Kamu ini di beri nasehat, malah melotot," ujar guru BP melihat Paris dengan geram. Padahal Paris sendiri juga geram dengannya. Bola mata wakil kepala sekolah melirik tajam ke samping. Guru BP sadar akan sesuatu. "Ya." Dia langsung paham bahwa sejak tadi bibirnya terus saja bicara dengan panjang melebihi wakil kepala sekolah itu sendiri. Guru BP mundur selangkah dan mempersilakan beliau berbicara.


"Sekolah kami punya komite disiplin yang mempunyai informan sendiri untuk kasus-kasus murid-murid di sini. Jadi kamu tidak perlu bertanya darimana kita dapat foto ini." Wakil kepala sekolajlh menjawab pertanyaan Paris.


Komite disiplin? Huh! Komite itu ada untuk golongan kalian saja. Lagian itu kerjaan putri kamu bukan?


"Kamu sudah mencoreng nama sekolah ini." Wakil kepala sekolah menekankan itu untuk menunjukkan bahwa Paris bersalah.


"Saya membantah tuduhan itu." Semua memandang Paris dengan tatapan terkejut. "Saya membantah karena saya tidak seperti itu. Bukti apa yang menunjukkan bahwa saya sudah mencoreng nama sekolah?" Paris berusaha membela diri.


"Bukankah foto ini sudah bisa menunjukkan kamu siapa?" tuding guru BP nyinyir. Wakil kepala sekolah melirik tajam sekali lagi. Mungkin belum waktunya guru BP berbicara, tapi orang itu sudah bersemangat menyerobot. Kepala guru BP mengangguk. Kembali sadar atas kekeliruannya sudah menyerobot beliau.


"Saya menunjukkan ini sebagai bukti bahwa kamu menyimpang sebagai seorang murid," tunjuk wakil kepala sekolah.


Lucu.


"Jelaskan. Kamu harus menjelaskan itu." Tunjuk wakil kepala sekolah pada foto di atas meja. "Itu bukan tugas ku," kata wakil kepala sekolah mendesis geram.


Guru BP terkejut. "Ah, iya Pak. Iya. Akan saya jelaskan padanya," kata guru BP gugup. Lalu guru itu menoleh pada Paris dan berbicara, "Foto ini asli. Bukan rekayasa. Coba saja kamu tanyakan pada pakar telematika. Foto ini sudah di pastikan asli." Guru BP menegaskan keaslian foto itu. Paris menghela napas. Kemungkinan foto itu asli adalah seratus persen. Karena bisa saja Priski sengaja menyewa mata-mata dan memotretnya. Bukankah itu sangat mungkin? Apalagi di gabungkan dengan kecurigaannya pada seorang pria yang dirasa sedang mengikutinya saat itu. Foto ini benar adanya.


"Walaupun foto ini asli, apakah Bapak tidak perlu melakukan penyelidikan lagi?" tanya Paris. "Karena ada banyak kemungkinan yang terjadi di dalam foto itu. Saya memang berada di sana. Di hotel itu. Namun bukan berarti saya sedang melakukan hal yang Anda katakan menyimpang. Saya hanya makan. Makan siang." Paris berusaha menjelaskan. "Tuduhan yang beredar di sekolah itu adalah salah. Siapa saja yang membuat berita itu adalah pembohong."


"Mungkin kasus yang pertama kami keliru, tapi sepertinya kali ini kita benar. Kamu bersalah." Yang di maksud orang ini adalah saat Paris di laporkan menyerang Priski dan membuat gadis itu terluka. Ternyata mereka mundur dan tidak memperpanjang kasus itu. Kasus itu jelas palsu. Jadi mereka memilih mundur daripada akan celaka seperti yang sudah Biema katakan.


"Ada satu hal lagi yang membuat kami selaku pihak sekolah memaksa kamu menghentikan ujian tiba-tiba," kata wakil kepala sekolah.


Satu hal lagi?


"Tentang status pernikahan kamu."


Deg!


Paris membeku.


"Kami menemukan status kamu sekarang adalah menikah. Bagaimana dengan itu? Seorang siswi yang masih berstatus pelajar sudah tercantum dalam catatan sipil negara bahwa sudah menikah." Wakil kepala sekolah terlihat berwajah menang. Paris terdiam. Dia tidak lagi bisa membantah ataupun mengelak. Meski bibirnya melakukan itu, bukti dalam catatan sipil mengatakan kebenarannya. Dia bersalah.


"Dengan sangat menyesal, saya katakan bahwa kamu di keluarkan dari sekolah dan tidak bisa mengikuti ujian negara." Wakil kepala sekolah memutuskan.


Drop out?


Paris terbungkam oleh penemuan status dirinya yang sekarang. Matanya menunduk ke bawah dengan gelisah. Jika tuduhan yang di lemparkan Priski padanya waktu itu adalah bohong dan palsu. Dia masih bisa membela diri dan membantah. Namun kali ini tidak bisa seperti itu. Ini tidak sama. Karena apa yang di katakan wakil kepala sekolah adalah nyata. Bukti catatan sipil sudah menjadi bukti kuat akan pernikahannya.


"Silakan kamu kembali ke kelas mengambil tas dan boleh pulang. Ujianmu berhenti di sini." Wakil kepala sekolah menambahi. Paris menelan ludah.


Hanya begini saja? Padahal dia sudah sampai di sini dan tinggal beberapa hari saja menjadi murid sekolah ini. Namun itu kandas karena status menikahnya. Paris berdiri. Meski lemas karena syok, dia berusaha membungkuk untuk pamit keluar ruangan. Berusaha tetap bersikap sopan.


"Terima kasih," ujar Paris singkat dan berjalan menuju pintu keluar. Tubuhnya terasa lemas, tapi dia berusaha berjalan dengan tegak. Tidak ingin orang lain tahu soal kesedihannya. Saat keluar dari ruangan, dia tidak menemukan Sandra di luar ruangan. Mungkin ujian kedua sudah di mulai dan kemungkinan sebentar lagi akan selesai.