
Malam ini Biema tidak mengganggu Paris sama sekali. Dia tidak menggunakan tipu daya apapun demi bisa memeluk atau mencium gadis ini. Biema cukup melakukan ciuman di kening seraya berbisik lembut menyuruh Paris belajar.
"Rajin belajar, ya ... Aku benar-benar menunggu kamu segera lulus. Jangan memikirkan banyak hal. Fokus saja pada ujian."
Karena bisikan itu, justru Paris yang ingin di temani. Gadis ini tidak bisa fokus pada buku paketnya. Meskipun itu dengan tujuan hanya untuk melihat, bukan serius membaca isinya dan mempelajarinya. Otaknya selalu berpikir ke arah ciuman dan pelukan Biema. Dua hal seperti menjadi candu bagi Paris sekarang.
"Gila. Sekarang malah aku yang ingin di peluk dan di cium. Ini benar-benar gila," racau Paris di dalam kamarnya. Tangannya mengacak-ngacak rambut karena kesal.
Setiap Paris berangkat sekolah, Biema selalu berdoa dan berharap Paris segera menyelesaikan ujiannya dan lulus tanpa kendala apapun. Pagi ini juga begitu. Biema selalu mengelus kepala gadis itu saat mau keluar dari mobil.
"Semoga sukses mengerjakan soal ujiannya," ucap Biema.
"Yap. Aku masuk dulu," pamit Paris. Biema mengangguk. Bola mata Biema menemukan semua mata para siswi memperhatikannya dan Paris. Biema terdiam sambil memperhatikan gerak-gerik mereka juga. Kemudian melihat ke Paris yang memunggunginya. Gadis itu berjalan dengan santai meskipun banyak mata memandangnya muak.
"Kapan gadis itu membutuhkan aku? Sepertinya dia tidak peduli dengan apa yang sedang di lakukan mereka. Aku senang kamu adalah gadis dengan mental kuat Paris, tapi jika begitu ... aku tidak bisa memamerkan kekuatanku melindungimu. Ya, sudahlah ... Yang penting dia baik-baik saja." Biema menyalakan mesin dan membelokkan kemudi ke arah kanan. Kemudian menjauh dari area gerbang sekolah.
Seperti kemarin, suasana sunyi dan sepi selalu setia melingkupi ruang ujian. Guru pengawas dari sekolah lain pun selalu siap sedia menjadi pengawas. Pergerakan apapun termonitor oleh orang itu. Begitupun suara sekecil apapun menjadi sorotan.
Si anu saja saat menggerakkan pensil dan menimbulkan bunyi, langsung di sorot oleh bola mata di balik kacamatanya. Si itu juga demikian. Tidak sengaja dia menendang pijakan meja karena ingin menggerakkan pantatnya yang sudah panas sejak tadi posenya selalu saja begitu. Itu pun tidak luput dari sorotan beliau.
Suasana sungguh mencekam. Jika kemarin masih bisa bernapas lega karena guru pengawas terlihat ramah, kali ini mereka tertekan dengan wajah guru perempuan yang judes sekali. Dia sangat waspada dengan gerak-gerik mencurigakan dari semua peserta ujian.
Tok! Tok!
Suara pintu di ketuk. Sangat mengganggu. Karena semua siswa dan sisiwi langsung menoleh ke arah pintu hampir serempak. Perhatian mereka terlalihkan sejenak. Guru pengawas yang berdiri di belakang ikut menoleh. Suara itu terlalu keras di bandingkan dengan gerakan anak-anak yang gelisah tadi.
Kaki beliau melangkah ke depan mendekati pintu. Semua menoleh mengikuti pergerakan guru pengawas. Lalu tangan beliau menyentuh pegangan pintu untuk membukakanya.
"Selamat pagi, Bu ..." Terdengar sapaan seorang guru.
Kepala anak-anak ikut miring. Melongok keluar ingin tahu siapa itu yang datang ke kelas mereka. Ternyata seorang guru juga. Momen free ini di manfaatkan mereka bergerilya mencari contekan. Namun dengan tetap menahan suara, agar guru pengawas killer itu tidak mengetahui perbuatan mereka.
Kasak-kusuk mereka sepertinya tidak di dengar oleh pengawas. Beliau terlalu larut dalam perbincangan sambil berbicara pelan.
Deg, deg, deg. Kenapa aku berdebar dan gelisah, ya ...
Melihat percakapan rahasia yang di lakukan guru pengawas dengan seorang guru di ambang pintu, jantung Paris mendadak berdetak kencang. Ada hal yang membuatnya cemas. Padahal dia tidak bisa mendengar sama sekali apa yang sedang di bicarakan dua guru itu.
Sementara itu hampir semua murid di kelas ini gembira saat mendapat kesempatan langka dalam ujian nasional ini. Yaitu saat guru pengawas tidak sedang melakukan tugasnya. Beliau justru berbincang di dekat pintu. Anak-anak gencar membuat kehebohan yang sunyi. Mereka saling tukar jawaban dan contekan dengan isyarat kode mulut, mata, dan tangan tanpa mengeluarkan suara. Mereka layaknya mata-mata yang canggih. Mampu mengerti apa yang di maksud kawannya tanpa mendengar suara apapun dari bibirnya.
Sandra saat itu sedang melihat ke sekeliling. Terusik juga karena teman-temannya yang kasak kusuk. Dia menemukan Paris yang tengah fokusĀ memperhatikan dua guru tadi. Dia mengikuti apa yang di lakukan iparnya. Menurutnya saat ini dua guru itu hanya bicara, tapi kenapa wajah Paris terlihat cemas.
"Baiklah ...," ujar guru pengawas mengakhiri perbincangan. Plok! Plok! Tepukan tangan yang keras mengagetkan seisi kelas.
"Ayo, ayo, anak-anak. Jangan mencontek," tegas guru pembimbing. Semua kehebohan yang sunyi tadi menjadi sedikit bergemuruh. "Kalian tidak tahu berapa persen jawaban teman kalian yang di contek adalah benar. Kalian akan merasa rugi jika hanya mengandalkan hasil otak orang lain. Karena orang pintar juga belum tentu benar jawabannya. Bisa saja hari ini dia tidak pintar karena tadi pagi tidak sarapan." Guru pengawas dari sekolah lain itu berdiri di depan kelas. "Emm ... Paris Hendarto."
Deg!
Tiba-tiba saja nama itu di sebut membuat Paris yang duduk di tengah-tengah terkejut. Bersamaan dengan itu Sandra juga ikut menoleh padanya. Di susul teman-teman satu kelas ikut menyoroti Paris.
Detak jantung Paris yang sejak tadi berdetak kencang, kini makin membuatnya was-was. Ada apa dengan namanya yang di sebut?
"Siapa yang bernama Paris Hendarto?" tanya guru pengawas. Semua menoleh pada Paris. Gadis ini perlahan mengangkat tangan.
"Saya. Saya Paris." Guru itu memandang Paris beberapa detik.
"Kamu sudah selesai mengerjakan soal ujian?" tanya guru itu ramah.
"Tinggal soal essai, Bu."
"Baik. Selesaikan segera lalu ke ruang guru."
"Ke ruang guru?" tanya Paris mengulangi pertanyaan guru pengawas itu. Dia ingin tahu apa yang di dengarnya itu benar.
"Ya. Ayo, yang lainnya fokus. Fokus mengerjakan ujian. Seharusnya kalian bisa selesai dengan cepat. Bukankah saya sudah memberi kalian waktu free tadi." Rupanya pengawas ini tahu keributan yang sunyi tadi. "Itu bonus di ujian nasional ini. Jadi segera selesaikan lebih cepat daripada biasanya."
Kenapa aku harus ke ruang guru? Ada apa? Apakah ada berita buruk? Dari rumah atau Biema?
Dugaan-dugaan yang melintas, membuatnya semakin tidak bisa fokus mengerjakan soal ujian. Sandra ikut melihat Paris dengan raut wajah cemas. Dia juga ingin tahu itu tentang apa.
Semoga itu berita baik, harap Sandra dari dalam hati.